
Setelah beberapa hari menunggu namun tidak juga melahirkan, ibu meminta izin pulang karena Adi sedang sakit dan juga sudah 2 Minggu lebih ibu tinggal di kediaman Dzaky dan Aulia. ibu hanya berpesan akan datang kembali apa bila Adi telah sembuh dan berharap dapat menyaksikan dan menemani anaknya melahirkan, namun apabila ibu tidak bisa datang tepat waktu ibu mendoakan Aulia semoga di lancarkan persalinannya di sehatkan ibu dan anaknya. doa ibu pasti yang terbaik untuk anak-anaknya.
Hari ini setelah kepulangan ibu, aulia merasa kesepian karena di hampir dua Minggu itu Aulia selalu ditemani sang ibu. Dzaky yang melihatnya hanya bisa menemani dan mendukung semua yang dilakukan Aulia. semua perlengkapan melahirkan sudah disiapkan didalam koper, mereka tidak menyiapkan kamar bayi hanya box bayi yang ditambahkan didalam kamar mereka.Sore hari Aulia merasakan sakit pada perut bagian bawahnya dia fikir itu tanda-tanda akan melahirkan jadi Aulia memutuskan untuk menelepon Dzaky. Dzaky yang baru pulang dari kantor dengan panik dan terburu-buru langsung membawa Aulia ke rumah sakit tempat mereka memeriksakan kandungan. Disana stelah Aulia di periksa ternyata belum ada tanda-tanda akan melahirkan belum ada pembukaan dan dokter pun meminta Aulia untuk pulang sampai tanda-tanda melahirkan sebenarnya datang.
"adek adek....bunda sama ayah dikerjain" ucap Dzaky di perjalanan pulang dari rumah sakit
"bunda fikir adek sudah mau keluar ternyata adek masih betah di dalam perut bunda."
"nyaman ya dek didalam perut bunda? keluar dong....sudah waktunya ini sayang, ayah sama bunda sudah nggak sabar mau ketemu adek."
Sudah dua hari terlewati belum juga ada tanda-tanda Aulia akan melahirkan.
Malam ini Aulia merasakan bagian perut bawahnya kembali sakit namun Aulia mengabaikannya mungkin seperti yang kemarin karena tekanan bayi pikirnya. Sampai pagi datang dan dzaki berangkat kerja Aulia masih merasakan sakitnya hanya sesekali mengeluh sakit dengan keadaannya sekarang yang sudah tidak bisa banyak bergerak bahkan memasak saja Dzaky yang melakukannya.
Siang hari Dzaky menelfon tidak bisa pulang karena sedang banyak kerjaan dia berpesan agar menelponnya jika terjadi sesuatu dan Aulia mengiyakan pesan sang suami padahal sekarang Aulia sedang merasakan sakit perut dan hanya bisa tidur meringkuk memegang perutnya.
"ya Allah sakitnya, adek gak lagi becandain bundakan sayang? adek bener mau keluar? Tapi ayah lagi sibuk kita tunggu ayah pulang ya nak" Aulia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan secara kasar agar meredakan sakit perut yang kian melilit sembari berdoa semoga dimudahkan melahirkan anaknya.
Selepas magrib Dzaky baru pulang, dia melihat lampu rumah belum ada yang dinyalakan, Dzaky berfikir Aulia mungkin lupa menyalahkan lampu.
Dzaky menyalakan semua lampu dan mencari keberadaan istrinya, dan menemukannya sedang terbaring membelakangi pintu Dzaky pun langsung menghampiri istrinya.
"Bun, bunda?" Dzaky menggoyangkan pelan pundak istrinya, "ya Allah Bun, bunda kenapa ?" Dzaky terkejut melihat Aulia yang berkeringat sampai baju yang dikenakannya basah.
" ayah sudah pu...Lang.. ssstt?" suara Aulia terbata menahan sakit.
" bunda kenapa? perutnya sakit? ganti baju dulu nanti masuk angin" Dzaky membantu Aulia untuk mengganti bajunya dan terlihat jelas wajah Aulia yang putih pucat dengan keringat dingin yang sudah membasahi rambutnya.
__ADS_1
" perut bunda sakit."
" kenapa nggak telfon ayah si nda.....? kan ayah sudah bilang kalau ada apa-apa langsung hubungin ayah, ayo kita langsung ke rumah sakit, ayah akan telfon dokter Fatma." cerocos Dzaky bercampur panik melihat keadaan istrinya.
" ayah bersihin badan dulu bunda masih bi.....sa nunggu." ucap Aulia terbata saat sakit menyerang. Dzaky menelfon dokter dan langsung membersihkan diri secara kilat.
Dzaky perlahan memapah Aulia masuk kedalam mobil jika kuat dia akan menggendong istrinya karena tidak sanggup melihat Aulia yang merintih memegang perutnya yang terlihat akan jatuh akan tetapi berat Aulia yang dua kali lipat dari berat sebelum hamil membuat Dzaky harus berfikir dua kali jika harus menggendong istrinya bukannya sampai ke mobil yang ada mereka akan terjatuh berdua.
Di dalam mobil Dzaky memacu kencang mobilnya sesekali memegang perut Aulia dan berbicara dengan anak mereka yang sebentar lagi akan melihat dunia jika berhenti di lampu merah.
"adek sudah mau keluar sayang? sebentar lagi kita sampai jangan buat bunda sakit ya nak! langsung keluar kalau sudah di rumah sakit." Dzaky yang tidak tega melihat Aulia yang hanya memegang perutnya sambil sesekali meringis menahan sakit.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah sakit dan langsung di bawa ke ruang bersalin tak lupa Dzaky mengeluarkan koper yang belum sempat dikeluarkan sewaktu ke Rumah Sakit tempo hari.
Diruang bersalin Aulia sudah mengganti bajunya dengan baju pasien dibantu sang suami. Mereka masih menunggu dokter Fatma yang sedang dalam perjalanan karena hari ini dokter Fatma tidak buka praktek.
" subhanallah sakiiiit dok" rintih Aulia saat jari tangan dokter mulai memeriksa pembukaan.
" kita periksa dulu ya Bu...?"
Dzaky benar-benar tidak tega mendengar rintihan Aulia, sebenarnya Dzaky menginginkan Aulia untuk melakukan operasi secar saja mengingat bayi mereka yang terbilang besar dan Aulia termasuk orang yang tidak tahan sakit, tetapi Aulia menginginkan melahirkan normal dan tingkat kesembuhannya lebih cepat dibandingkan operasi sesar.
" sudah pembukaan lima Bu, sudah sejak kapan mulai terasa mulasnya Bu?"
"se...jak se...ma...lam dok" jawab Aulia terbata menahan sakit.
" kita tunggu saja mudah-mudahan cepat bertambah pembukaannya, sekarang jam ....." dokter sambil melihat jam yang tergantung karena dia sendiri lupa menggunakan jam tangan sangking terburu-buru mengingat Aulia pasien dengan berat bayi tergolong besar yang akan dilahirkan secara normal.
__ADS_1
" jam 8, kalau masih bisa berjalan dan berjongkok coba dilakukan ya Bu, kalau terjadi apa-apa langsung tekan tombol merah yang ada di belakang ranjang". dokter menjelaskan.
" bunda kok nggak bilang tadi malam sudah sakit sayang?" tanya Dzaky yang menyesal tidak mengetahui keadaan istrinya.
" Bun...da fikir kayak ke...marin sak...kit biasa." berkata sambil memejamkan mata menikmati rasa sakit tak terucap.
" adek...cepat keluar sayang, bunda sudah kesakitan......." mencium perut Aulia sambil sesekali mengelus merasakan pergerakan calon anak mereka.
" yah bantu bunda berdiri."
"bunda masih sanggup?" melihat istrinya lemas dan pucat tetapi masih meminta untuk berdiri.
" masih yah, supaya dedek cepat keluar" sedang tidak merasa sakit Aulia akan terlihat biasa tetapi itu hanya sebentar.
Dengan dibantu Dzaky, Aulia berdiri sesekali berjalan sambil meremas baju suaminya apabila sakit perut melilit seperti ada yang menusuk- nusuk.
" Kita telfon ibu sama mama sayang ?" tanya Dzaky yang mengingat mereka belum memberi kabar kekeluarga.
" ja...Ngan du.....lu yah... nanti me...re...ka kha...watir."
mengingat hari sudah malam Aulia tidak ingin membuat keluarganya khawatir, seandainya tau pun mereka tidak bisa langsung kemari hanya menambah beban pikiran mereka, itu yang ada dibenak Aulia.
like
like
like
__ADS_1
like