Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 61


__ADS_3

Usia kandungan Aulia memasuki bulan ke tiga, Sean begitu sangat senang saat mengikuti Aulia kontrol kandungan walaupun tidak mengerti gambar dan penjelasan Dokter, tapi Sean senang sebentar lagi akan punya adik.


Sekarang Aulia sudah jarang mual dan muntah di pagi hari kecuali mencium sesuatu yang sangat mengganggu barulah dia merasa mual. Online shop nya pun tetap berjalan lancar, meskipun suaminya belum mengetahuinya sampai detik ini. Aulia merasa tidak perlu memberitahukan suaminya karena tidak mengganggu kegiatannya sehari-hari.


Hari ini saat Aulia sibuk dengan orderannya, dia baru menyadari kalau dari tadi tidak mendengar suara Sean yang cerewet seperti biasanya, Aulia pun mencari Sean ke kamarnya dan terlihat Sean sedang tidur. Saat Aulia hendak keluar kamar dia menyempatkan diri untuk mendekati anaknya dan mengelus pipi Sean, di situlah Aulia sadar kalau ternyata anaknya sedang demam suhu badannya terasa sangat panas. Aulia pun bergegas mencari obat penurun panas dan langsung meminumkannya ke Sean, setelahnya mengompres Sean.


Setelah satu jam berlalu suhu tubuh Sean masih terasa panas dan belum ada perubahan bahkan Sean mulai mengigau dan menggigil membuat Aulia panik. Aulia langsung memesan taksi online dan menggendong Sean menuju taksi saat taksi itu tiba, tanpa memikirkan kandungannya. Saat tiba di rumah sakit Aulia langsung menuju UGD dan Sean langsung di tangani oleh Dokter anak langganannya yaitu Dokter Arkan.


Saat menunggu Sean di periksa, hp Aulia terus bersuara menandakan kalau ada aktivitas di dalamnya, dengan cepat Aulia mengganti dengan mode silent saat melihat ternyata customernya yang menghubungi. Aulia tidak bisa berpikir jernih bahkan tidak juga berfikir untuk menghubungi suaminya sangking paniknya.


" Bagaimana Dok keadaan sean?" Tanya Aulia saat Dokter Arkan selesai memeriksa Sean.


" Sean terkena gejala tipes, dia harus di rawat mba, untuk melihat perkembangannya"


" Baiklah Dok apapun itu demi kesembuhan Sean" Ucap Aulia memandangi anaknya sendu.


" Mba Aulia bisa mengurus ruangan Sean di depan, Mba Aulia jangan terlalu khawatir keadaan Sean akan segera membaik dia anak yang kuat" Dokter Arkan mencoba menenangkan Aulia yang terlihat khawatir.


" Terimakasih Dok" Dan di balas senyuman oleh Dokter Arkan, Dokter yang sudah menjadi langganan Sean sejak lahir, Dokter tampan dan ramah yang usianya sama seperti Dzaky.


Saat hendak mengurus surat-surat rawat inap Sean, Aulia merasakan kram pada perut bagian bawahnya, Aulia mencari tempat duduk untuk mencoba menahan sakit yang datang.


" Dedek yang kuat sayang, kita harus mengurus Abang Sean dulu. Kasihan abang dek!" Ucap Aulia sambil berdoa semoga di berikan kekuatan.


Aulia mengabaikan rasa sakit yang datang karena merasa masih bisa di tahannya, untuk mengurus administrasi Sean.


Di rumah Dzaky yang baru pulang kerja merasa heran karena tidak menemukan keberadaan Aulia dan Sean di rumah. Dzaky mencoba menghubungi Aulia namun tidak ada jawaban, malahan hpnya tidak bisa hubungi setelah beberapa kali tersambung dan akhirnya hanya operator yang menjawab nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Dzaky semakin panik saat menghubungi beberapa nomor orang yang biasanya menjadi tempat bermain Aulia dan Sean yang mengatakan tidak mengetahui keberadaan anak dan istrinya.


Dan Dzaky memutuskan untuk menghubungi Tara, padahal dia tau istri dan anaknya tidak mungkin berada di rumah Tara karena saat perjalanan pulang Dzaky melewati rumah Tara yang terlihat sepi.


" Hallo assalamualaikum Tar?"


" Waalaikumsalam KY, ada apa?"


" Kamu lihat Aulia dan Sean nggak?"


" Enggak, Kenapa memangnya?"


" Mereka nggak ada di rumah, aku hubungi malah nggak aktif nomornya Aulia" Ucap Dzaky panik.


" Yasudah aku kesana, jangan khawatir mungkin mereka pergi beli sesuatu" Ucap Tara yang langsung menyambar kunci yang tadi dia gantung, bahkan Amira belum mengetahui kalau suaminya pulang dan pergi lagi karena dia sedang mandi.


Di rumah sakit, Aulia yang sudah berada di kamar rawat inap Sean baru teringat dengan suaminya dan ingin menghubungi suaminya, namun pada saat melihat hpnya sudah mati. Aulia bergegas mencari pinjaman charger kepada para suster yang jaga, saat mendapatkannya Aulia langsung mengaktifkan hpnya saat daya hp sudah sedikit terisi sambil mencharger Aulia menghubungi suaminya.


" Assalamualaikum yah?"


" Waalaikumsalam, bunda di mana? dari tadi ayah hubungi tapi nomor bunda nggak aktif" Tanya Dzaky tanpa ba-bi-bu.


" Maaf yah, bunda di rumah sakit....." perkataan Aulia terpotong oleh Dzaky.


" Siapa yang sakit? bunda sakit? Koq baru menghubungi ayah?"


" Dengerin dulu yah! jangan panik"


" Bagaimana ayah nggak panik mendengar kalian di rumah sakit! Siapa yang sakit?" Ucap Dzaky tidak sabar.


" Sean yah yang sakit, tadi sangking paniknya bunda nggak kefikiran ngasih kabar ke ayah"

__ADS_1


" Ya sudah ayah langsung kesana, Apa yang mau di bawa?"


" Tolong bawakan pakaian ganti bunda dan Sean, juga vitamin bunda"


" Ya sudah ayah siapkan dan langsung ke sana" Dzaky pun langsung menyiapkan semua yang istrinya pinta, tidak lupa dia membawakan susu ibu hamil untuk istrinya. Tara yang sudah berada di sana dan mendengar kalau Aulia di rumah sakit ikut khawatir walaupun Dzaky telah menjelaskan bahwa Sean yang sakit dan Tara meminta untuk ikut Dzaky ke rumah sakit, dia harus melihat sendiri keadaan wanita yang ada di fikirannya itu baik-baik saja.


Tidak lupa mereka mampir membeli makanan dan buah untuk Aulia atas saran Tara.


Sampai di rumah sakit Tara bergegas menuju resepsionis menanyakan kamar yang tadi Dzaky beritahu nama ruangan tempat Sean di rawat dan meninggalkan Dzaky dengan barang yang tadi di bawanya, membuat Dzaky harus bertanya lagi kepada suster yang berjaga di resepsionis.


Tara langsung masuk saat menemukan ruangan yang di maksud.


" Ul kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Tara saat melihat Aulia sedang duduk di sofa sambil mengelus perutnya.


Aulia pun heran, perasaan tadi yang ul hubungi ayah kenapa malah kak Tara yang datang, pikir Aulia. " Ul nggak apa-apa kak, Sean yang sakit. Kak Dzaky mana kak?"


" Alhamdulillah kamu nggak apa-apa, Dzaky tadi sedang mengambil barang yang tadi kamu minta. Ini kakak bawakan makanan pasti ul belum makan"


Terdengar pintu di buka dan terlihatlah Dzaky dengan tas yang yang berisi barang yang istrinya minta.


" Bunda, Abang sakit apa sayang?" Tanya Dzaky begitu masuk ke dalam ruangan Sean dan mendekati Aulia, menyerahkan tas yang di bawanya.


" Abang terkena gejala tipes yah, bunda ganti baju dulu yah" Aulia langsung masuk ke dalam kamar mandi.


" Main tinggal aja kamu Tar" Kesal Dzaky yang di tinggal Tara, karena harus menanyakan kembali ruangan Sean.


" Maaf aku panik Dzak, kefikiran Sean" Ucap Tara beralasan padahal tadi dia tidak menanyakan keadaan Sean saat tiba.


" Terimakasih Tar, sebaiknya kamu pulang kasihan Amira sendiri di rumah ini sudah mau Maghrib"


" Baiklah, nanti malam aku ke sini lagi" Tara langsung pulang dengan kesal karena di usir Dzaky.


" Kenapa bunda nggak bilang kalau Abang sakit dan di bawa kesini?" Tanya Dzaky begitu melihat istrinya.


" Maaf yah bunda panik, jadi nggak kefikiran buat nelfon ayah"


" Bagaimana Abang?"


" Alhamdulillah sudah lumayan turun panasnya, Dokter Arkan tadi sore sudah periksa abang lagi dan sudah minum obat Abang langsung tidur"


" Bunda ke sini naik apa?"


" Naik taksi online yah"


" Bunda pasti belum makan, tadi ayah beli nasi ikan bakar kesukaan bunda" Dzaky membuka bungkusan yang tadi Tara bawa.


" Iya, ayah mandi dulu sana sebentar lagi Maghrib" Dzaky langsung mandi sementara Aulia makan.


Selesai makan dan sholat berjamaah sepasang suami istri itu duduk berdekatan di sofa sambil berpegangan tangan.


" Susunya di minum bunda, pasti tadi bunda gendong Abang kesini? Abang sudah berat nda...ingat ada adek bayi di perut bunda, bunda sudah nggak bisa sembarang gendong Abang. Harusnya bunda telpon ayah tadi" Ucap Dzaky sambil mengelus perut istrinya yang sudah sedikit membuncit.


" Namanya juga panik yah, enggak kepikiran lagi"


" Lain kali harus ingat ada dia di sini"


" Iya" Aulia pun langsung meminum susu yang di buat suaminya untuk menghentikan Omelan suaminya.

__ADS_1


Terdengar suara Sean memanggil bundanya. Aulia reflek bangun dari duduknya membuat perutnya kembali kram, Aulia menghentikan pergerakannya untuk menahan perutnya yang sakit.


" Bunda kenapa? sakit perutnya?" saat melihat istrinya diam dan memegang perutnya.


Aulia hanya bisa diam dan membuang nafas perlahan untuk menghilangkan sakit pada perutnya. " Ini pasti karena bunda gendong Abang!"


Aulia berjalan perlahan menuju ranjang Sean karena Sean terus memanggil namanya.


" Ia bang, bunda di sini" Dzaky pun langsung mengikuti istrinya.


" Bunda.....badan Abang nggak enak" Ucap Sean lemah.


" Ia, Abang masih sakit nanti obatnya di minum lagi yah?"


" Ia bunda... Abang mau minum" Dzaky dengan sigap mengambil minum dan memberikannya ke Sean.


" Abang mau apa lagi? Makan mau?" Tanya Dzaky.


" Enggak yah, mulut Abang nggak enak"


Terdengar bunyi salam dari arah pintu dan terlihat Tara dan Amira dengan bingkisan di tangannya.


" Eh jagoan papa sakit, gimana sudah baikan?"


" Belum masih nggak enak pa.."


" Sebentar lagi Sean sehat, Sean kan anak yang kuat" Ucap Amira, Sean hanya tersenyum.


Setelah sedikit memakan kue, Aulia langsung memberikan Sean obat dan Sean langsung tidur.


" Sakit apa Sean mba Aulia?"


" Gejala tipes mba..."


" Semoga Sean cepat sembuh"


" Amiin, terimakasih mba sudah jenguk Sean"


" Sean sudah seperti anak kami, kami juga khawatir setelah tau Sean sakit"


Sedikit mengobrol Tara dan Amira pulang karena jam berkunjung sudah habis. Aulia meringkuk di sofa setelah mereka pulang, sebenarnya dari tadi Aulia menahan nyeri pada perutnya.


" Bunda... perutnya sakit" Tanya Dzaky sambil meletakkan kepala Aulia di pangkuannya.


" Sedikit yah"


" Jangan bilang sedikit, kalau sakit bilang sakit! Mumpung di rumah sakit kita bisa langsung periksa" Dzaky sedikit kesal melihat Aulia keras kepala.


" Sudahlah yah ini nggak apa-apa, sebaiknya ayah istirahat"


" Bagaimana bisa ayah istirahat sementara bunda nahan sakit"


" Sebentar lagi juga baikan yah"


" Sini ayah elusin" Dengan perlahan dan penuh perhatian Dzaky mengelus perut istrinya. " Adek sayang baik-baik yah di dalam, Abang Sean sedang sakit jadi jangan nakal di perut bunda, kasihan bunda capek banget hari ini" Perlahan Aulia tertidur dan dzaky tersenyum sambil menghadiahkan kecupan di kepala istrinya, Dzaky pun ikut tertidur karena lelah.


like

__ADS_1


like readers....


__ADS_2