Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 46


__ADS_3

Dari perkenalan singkat Antara Aulia dan Amira itu, mereka sekarang lebih dekat dan Amira banyak mengenal orang sekitar berkat Aulia. Seperti hari ini Amira meminta Aulia untuk menemaninya untuk mencari peralatan dapur yang ia butuhkan. Sebenarnya Aulia sudah menolak secara halus, jujur dia tidak mau terlalu dekat dengan orang dari masa lalunya namun Dzaky mendukung kedekatan mereka, Dzaky malah senang kalau Amira dan Aulia bersahabat seperti dirinya dan Tara.


" Mba kayaknya aku nggak bisa nemenin mbak belanja, Sean kayaknya nggak mau keluar." alasan Aulia.


" Kita coba dulu nanti kalau Sean rewel kita langsung pulang mba, aku nggak tau harus ngajak siapa lagi Sinta juga lagi hamil besar kalau aku ngajak dia yang ada dia mbrojol di jalan."


" Aku izin ayahnya Sean dulu ya mba?"


" iya mba."


Aulia langsung menghubungi suaminya untuk meminta izin, Aulia berharap Dzaky akan melarangnya.


" Assalamualaikum yah,"


" Waalaikumsalam nda, kenapa nda? Sean rewel?"


" Nggak yah, emm mba Amira mau minta bunda nemenin dia belanja tapi bunda takut Sean rewel."


Terdengar sautan dari hp Dzaky tetapi bukan Dzaky yang ngomong.


" Nggak apa-apa Aulia temenin aja Amira belanja, nanti kalau Sean rewel kami yang akan menjemput kalian." Kata Tara.


" Nah nda, kamu dengar sendiri kan Tara yang akan menjemput kalau Sean rewel, ayah lagi sama Tara nda. Temenin aja mba Amira."


" Baiklah yah." Dengan berat hati Aulia menemani Amira belanja.


Dengan diantar sopir kantor mereka menuju tempat belanja peralatan yang di butuhkan Amira. Setelah belanja Amira meminta Aulia menemaninya ke mall ada yang perlu Amira beli.


" Nggak usah mba, Sean sudah punya di rumah."


" Nggak apa-apa yang di rumahkan kalian yang beli kalau yang ini khusus aku yang beliin buat Sean ya kan sayang?"


Mereka berbelanja sambil mendorong stroller Sean.


" Kita duduk disana yuk mba?"


" Baiklah, tapi...kita mau ngapain disini mba? apa nggak langsung pulang aja?"


" ini kan sudah waktunya makan siang, kita tunggu Kak Tara sama suami kamu, katanya mereka akan menyusul kemari."


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Tara dan Dzaky tiba, masih dengan kemeja dan celana dasar khas pegawai kantoran. Sean langsung turun dari stroller menuju ketempat ayahnya berjalan dan Dzaky langsung menyambut Sean dengan menggendongnya tinggi-tinggi.


Tara melihat keakraban ayah dan anak itu, ada rasa iri di hatinya. Dia sudah punya segalanya namun hanya anak yang belum dia miliki.


" Sean sudah makan sayang?"


" Belum yah, kata bunda nunggu ayah sama om Tara dulu baru boleh makan."

__ADS_1


" Ayo sekarang om sama ayah Sean sudah datang kita pesan semua yang Sean suka." kata Tara sambil mengambil alih Sean dari gendongan Dzaky.


" Horeeee boleh makan es krim yang banyak kan om?"


" Emmm kalau itu kamu harus izin bunda dulu." Saat mengatakan kata bunda ada perasaan hangat yang Tara rasakan, seandainya dia dan Aulia saat itu menikah mungkin Sean adalah anaknya fikir Tara. Tetapi Tara langsung tersenyum merasa aneh dengan pemikirannya.


Mereka masuk kedalam restoran dan memesan makanan termasuk semua makanan yang Sean inginkan.


" Mba Amira, yang Sean katakan jangan di ikuti semua mba, dia memang suka makanan manis."


" Nggak apa-apa mba, kak Tara memang begitu dia suka anak-anak lagian Sean nggak tiap hari kan makan makanan manis sayangi"


" Nggak Tante, bunda malah kalau Sean makan makanan manis terlalu banyak."


" Hari ini aja Sean boleh banyak makan makanan manis, om yang traktir."


" kamu ini tar, masih pinter kalau ngambil hati orang termasuk anak-anak." kata Dzaky.


Mereka pun makan sambil menggoda Sean. Ada kecanggungan di hati Aulia, dia belum siap dekat dengan Tara. Apa lagi sekarang aura Tara jauh lebih menarik di bandingkan dulu.


Setelah makan Tara membayar semua tagihan restoran, Tara dan Dzaky langsung mengantar para istri pulang terlebih dahulu baru mereka kembali lagi ke kantor.


Beberapa Minggu ini Aulia selalu berhasil menolak ajakan Amira karena Sean sedang tidak enak badan sering rewel.


Tapi kali ini Aulia tidak bisa menolak acara masak-memasak dirumah Amira, ibu-ibu yang suaminya kerja di sana hadir untuk membantu acara rutin mereka yaitu acara keakraban keluarga PT BUMN dalam wilayah mereka. Seperti pertemuan sebelumnya Santi juga belum bisa berkumpul karena kandungannya sudah memasuki usia 9 bulan sudah tidak bisa banyak bergerak.


" Biasanya mba, cuma masakan kampung." Kata Aulia merendah.


Siang itu sebelum makan siang Tara sudah pulang kerumah.


" Lho kakak koq sudah pulang?"


" Laper dek, gara-gara tadi nggak sarapan. Kakak sudah gemetaran nahan lapar."


" Makanya kalau disuruh sarapan jangan kabur."


" Iya tadi nggak sempet lagi dek..."


" Sini adek siapin."


Aulia yang berada tidak jauh dari sana, entah kenapa mendengar panggilan adek dia jadi mengingat masa lalu, Tara dulu juga memanggilnya adek.


" Kak, kakak tau nggak siapa yang masak?"


" Nggak tau dek. Ibu-ibu yang masak kan?"


" Kakak makan sampai habis banyak itu masakan Mba Aulia kak."

__ADS_1


" Iya? enak."


" Cuma gitu aja? Di puji kek kak."


" Mba Amira jangan begitu aku jadi nggak enak. Biasa aja."


" Mba Aulia selalu begitu, nggak mau di puji."


Mereka pun diam, Tara yang melihat Sean bermain mobil-mobilan menghampirinya.


" Sean main apa nak?"


" Main mobilan om,"


" Sean suka?"


" Suka om."


" Kalau suka besok om beliin lagi asal Sean ssering main kerumah om." Sejak Dzaky sering mengajak Sean ke rumah Tara, Tara banyak membeli mainan untuk Sean agar betah saat di tinggal Dzaky dan Tara mengobrol.


" oke, besok Sean kesini lagi."


Mereka terlihat sangat akrab. Seperti ayah dan anak yang sedang bermain bersama.


" Kamu tau mba, kak Tara itu sangat suka dengan anak-anak." Aulia mengingat kalau Tara dulu senang sekali bermain dengan Bisma dan alin keponakannya anak dari kak Bian. " Tapi sayang kami belum di karuniai anak" ucap Amira sendu, mereka berbicara sambil berbisik takut di dengar ibu-ibu yang lain.


" Mba yang sabar, aku juga dulu lama dapetnya mba. Semoga sebentar lagi mba dipercaya untuk memiliki anak oleh Allah."


" Terimakasih mba Aulia. Saya seperti mendapatkan keluarga sejak kenal mba Aulia dan mba Sinta."


" Aku juga dulu disini cuma kenal sam Sinta, dia orangnya baik."


" Kata kak Tara, dulu dia dan kak Dzaky pertama masuk kerja dikirim ke kampungnya mba Aulia makannya kenal mba Aulia."


"Ia."


" Pasti dulu banyak yang suka sama kak Tara. Dia kan orang mudah akrab mudah bergaul."


" Iya."


" Dulu pertama kami di jodohkan kak Tara meminta kami untuk tunangan dulu."


"Mba dijodohkan dengan pak Tara?"


" Iya pertama dia di pindahkan dari tempat mba, ibu kami menjodohkan kami, dulu kak tara tidak langsung menerima tapi juga tidak menolak mba, makanya kami bertunangan terlebih dahulu."


Tara pun berpamitan kembali bekerja setelah bermain dengan Sean. Saat berpamitan kepada istrinya Tara sempat melirik Aulia tapi Aulia hanya menunduk tidak berani melihat kearah Tara.

__ADS_1


__ADS_2