Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 70


__ADS_3

Dzaky tidak masuk kantor, menemani Aulia bedrest di rumah sakit. Dia tidak izin dengan Tara sebagai pimpinan di wilayahnya, Dzaky hanya mengabari Bagas. Tara pun tidak akan berani mempermasalahkan itu, Karena Dzaky tidak masuk demi menjaga Aulia yang berada di rumah sakit.


" Yah?"


" Emm..."


" Ayah tidak ke kantor?"


" Tidak"


" Bunda tidak apa-apa di tinggal"


" Kasihan Sean tidak ada yang mengurusnya kalau aku kerja"


" Oh..." Aulia mengira, Dzaky tidak kerja karena harus mengurus dirinya. Ternyata karena Sean, ada gurat kekecewaan di wajah Aulia.


Siang hari Bagas sekeluarga menjenguk Aulia, tapi tidak bisa lama karena mereka membawa bayi.


Dzaky menjalankan tugasnya sebagai suami dan ayah yang baik, begitu telaten mengurus Aulia yang tidak boleh banyak bergerak. Jadi bergantung dengan suaminya.


Aulia perlahan turun dari tempat tidur.


" Mau kemana?" Ucap Dzaky mendekat.


" Bunda mau ke kamar mandi" Dzaky sigap memapah dan memegang tiang infus.


" Sudah ayah di luar saja, bunda mau pipis"


" Biar aku bantu" Dzaky dapat melihat Aulia kesusahan menurunkan celana yang di kenakannya, infus ditangan Aulia Menghambat pergerakannya.


" Tidak usah yah!" Saat Dzaky menurunkan celana Aulia.


" Sudah, cepatlah aku menunggu di sini. Kamu tidak bisa mengerjakannya sendiri"


Aulia pun langsung pipis, dia sadar tidak bisa melakukannya sendiri. Setelah selesai, Dzaky kembali menaikkan celana dal** Aulia dan memapahnya untuk kembali tidur.


" Terimakasih yah" Dzaky tidak menanggapi.


*


Malamnya, Sean sudah tertidur di sofa sedangkan Dzaky baru kembali dari luar. Ternyata Dzaky keluar membeli makanan, Styrofoam yang berisikan mi goreng dengan bau yang sangat enak dan asap yang masih mengepul. Aulia yang mencium bau enak yang berasal dari makanan yang Dzaky pegang, langsung menaikan ranjangnya. Aulia sudah makan saat petugas mengantarkan untuk pasien, tapi sungguh saat ini dia sedang menelan ludah saat Dzaky memasukkan mi kedalam mulutnya menggunakan sumpit, beberapa kali Aulia menelan ludah.


Pura-pura tidak melihat Dzaky, tapi Dzaky melirik ke arah Aulia yang tampak tergoda dengan makanan yang di pegangnya, Dzaky mendekati Aulia.


" Kamu mau?" Tanya dzaky, Aulia menggeleng.


Kalau biasanya dia akan mengatakan mau, tapi kali ini dia tidak bisa mengatakan itu. Hubungan mereka tidak sedekat dulu.


" Bukalah mulutmu, jangan sampai nanti saat lahir bayimu akan mengences" Ucap Dzaky, mengarahkan sumpit yang berisi mi kedalam mulut Aulia. Aulia kali ini tidak menolak karena dia sangat menginginkannya.


" Sudah, sudah cukup! bunda kenyang" Kata Aulia.


" Bagaimana tidak kenyang! semuanya kamu habiskan"


" Maaf" Ucap Aulia sambil tersenyum kikuk. " Ayah bisa membelinya lagi"


" Aku sudah kenyang"


" Tapi semua bunda yang menghabiskan, dari tadi ayah belum makan"


" Aku mengantuk, tidak lapar lagi. Sudah tidurlah" Ucap Dzaky setelah memberikan Aulia minum, dia segera menurunkan tempat tidur"


" Yah?"


" Ya" Dzaky yang hendak menuju sofa berhenti.


" Bisakah malam ini kita tidur berdua?"


" Sudah tidurlah, aku akan tidur bersama Sean. Kasihan kalau dia harus tidur sendiri"


" Iya...."


Aulia gelisah, dia tidak bisa tidur dengan perlahan menolak balikan posisi tidurnya. Dzaky terbangun karena mendengar suara ranjang Aulia.

__ADS_1


" Kenapa?"


" Maaf, kalau bunda sudah membuat ayah bangun. Tidurlah lagi"


" Kamu kenapa?" Dzaky mendekati Aulia.


Ternyata Aulia tidak menemukan posisi tidur yang nyaman, di tambah lagi seluruh badannya terasa pegal.


" Kenapa?" ulang Dzaky.


" Badan bunda pegal semua dan bunda merasa sesak"


Dzaky menaikkan sedikit tempat tidur Aulia dan mulai memijit badannya.


" Tidak usah yah, ayah tidur lagi saja" Dzaky tidak memperdulikan ucapan Aulia, Dzaky tetap memijat seluruh badan Aulia sampai Aulia tertidur.


" Adek baik-baik di dalam sayang, jangan buat bunda susah" Dzaky dapat melihat kalau kaki Aulia bengkak. " Ya Allah, perasaan saat hamil Sean kakinya tidak bengkak. Kenapa sekarang bengkak?" Dzaky berbicara sendiri.


Setelah melihat Aulia tidur, Dzaky menghentikan kegiatan memijat Aulia. Dzaky sedikit membungkuk untuk mencium perut Aulia, kegiatan yang sudah lama tidak dilakukannya.


Seperti biasa, pagi ini Dzaky bangun untuk melakukan sholat subuh di mushola rumah sakit. Setelah membersihkan diri dia akan membantu Aulia membersihkan diri dan menggantikan baju Aulia.


Saat mengganti pakaian Aulia, Dzaky sempat tertegun melihat Buki* kemb** yang sudah lama tak di sentuhnya.


Walaupun tubuh Aulia terlihat lebih berisi, tapi tetap terlihat seksi di mata Dzaky. Apalagi kulit mulus putih Aulia terpampang nyata di depannya, membuat si batang tegang, Aulia yang menyadari tatapan Dzaky langsung mengambil tangan Dzaky dan meletakkannya di Buki* kemba*nya yang terlihat Mon**k.


Dzaky yang sudah di penuhi gairah langsung meremasnya, Aulia pun tak kalah bergairah. Mungkin karena mereka sudah lama tidak melakukannya, membuat mereka terbawa suasana apalagi hormon ibu hamil.


Aulia langsung meraih tengkuk suaminya dan langsung menyatukan bibi* mereka. Saling melum**, Tangan Dzaky pun terus melakukan tugasnya seakan lupa dengan permasalahan mereka. Kegiatan itu hampir 10 menit berlangsung, bibi* Dzaky pun sudah turun ke lehe* mulus Aulia dan sudah membuat beberapa tato. Sampai Aulia merasakan kontraksi pada perutnya dan merintih, menyadarkan Dzaky atas kegiatannya.


" Kenapa?" Ucap Dzaky panik.


" Perut bunda terasa mulas, ya Allah jangan sampai melahirkan sekarang!" ucap Aulia.


Dzaky langsung memakaikan Aulia baju dan memencet tombol darurat. Suster masuk dengan tergesa-gesa dan langsung memeriksa Aulia, suster langsung menghubungi Dokter Fatma mengatakan keadaan yang terjadi.


Suster menyuntikkan obat ke dalam infus Aulia dengan perintah Dokter Fatma.


" Sudah berkurang sus"


" Sebentar lagi Dokter Fatma tiba"


" Terimakasih sus"


" Sama-sama" Suster pun pamit, setelah melihat kondisi Aulia membaik.


" Maaf, aku..."


" Ayah jangan minta maaf, ini bukan kesalahan!" Dzaky langsung menghampiri Sean yang terbangun.


Setelah Dokter Fatma memeriksa keadaan Aulia dan tidak apa-apa. Dzaky seharian terlihat menghindari Aulia, ada saja kegiatan yang dilakukannya bersama Sean.


Begitupun saat malam tiba, dia hanya mendekati Aulia jika Aulia butuh bantuan.


Handphone Aulia berdering, terlihat nama Adi di layarnya. Tanpa menunggu lama Aulia langsung menerima panggilan Adi.


" Assalamualaikum dek?"


" Waalaikumsalam" Jawab Adi sambil menangis.


" Kamu kenapa dek?" ucap Aulia panik, Dzaky seketika mengangkat kepalanya saat bermain dengan Sean mendengar nada panik Aulia.


" Mba......."


" Adi, kamu jangan becanda! Ada apa?"


" Mba, ibu......"


" Iya, ibu kenapa?"


" Ibu......Ibu......Sudah tiada mba....." Terdengar tangis Adi semangat kencang.


Aulia terdiam shock dan langsung memastikan berharap apa yang tadi di dengarnya itu salah.

__ADS_1


" Adi, kamu jangan becanda!"


" Adi serius mba.... Barusan ibu pergi mba......"


Bagai di sambar petir, Aulia langsung menutup mulutnya dan menangis.


" Kenapa? Ada apa dengan adi?" Dzaky langsung mengambil hp yang masih berada di telinga Aulia, karena Aulia hanya diam saja saat di tanya.


" Assalamualaikum, Kenapa di?"


" Waalaikumsalam kak"


" Kamu kenapa nangis?"


" Ibu sudah tidak ada kak...."


" Innalilahi wa innailaihi rojiun, kapan?"


" Habis magrib tadi kak.."


" Yasudah kamu yang tenang, kakak akan kesana. Kak firman sudah di kabari?"


" Sudah, sekarang lagi di jalan"


" Kakak siap-siap dulu"


Aulia langsung turun dari tempat tidur, bergegas ingin keluar. Tidak menyadari jarum infus tertarik dan terlepas, tangannya mengeluarkan darah.


" Kamu mau kemana?" ucap Dzaky sambil menyuruh Aulia untuk tenang.


" Ibu yah...ibu sudah tidak ada" Aulia menangis histeris.


" Iya kakak tau, tapi kamu harus ingat kondisi kamu dan kandungan kamu Aulia!"


" Bunda tidak perduli, bunda mau ketemu ibu...." Aulia memberontak dalam pelukan Dzaky, tidak lupa Dzaky memencet tombol darurat.


Tidak lama Dokter Fatma datang.


" Ada apa ini? kamu tenang Aulia, kasihan bayi yang ada dalam kandunganmu!" ucap Dokter sambil ikut menenangkan Aulia.


" Bun....ibu saya sudah tiada, saya mau menemui ibu saya Bun....."


" Innalilahi wa innailaihi rojiun, bunda ikut berduka. Tapi kamu tenangin diri kamu dulu" Aulia yang masih menangis sudah sedikit terlihat tenang, Aulia memeluk Dokter Fatma.


" Bun, Aulia mohon izinkan Aulia untuk pergi menemui ibu...."


" Huft...bunda akan periksa kamu dulu, kamu harus tenang dulu, baru bisa kamu pergi. Kamu tidak boleh pergi kalau tensi dan detak jantung kamu tinggi"


Sean terlihat terdiam, dia belum menyadari apa yang terjadi. Duduk dan kembali sibuk dengan mainannya.


Dokter Fatma mulai memeriksa Aulia dan Dzaky setia di samping Aulia, dia juga terpukul mendengar berita itu. Mertua yang baik dan selalu membimbingnya pergi untuk selamanya.


" Tensi kamu tinggi Aulia, detak jantung kamu juga tidak beraturan"


" Saya mohon Bun, walaupun bunda tidak mengizinkan Aulia pergi. Aulia tetap pergi!"


" Baiklah, bunda akan memberikan kamu obat. Terutama obat penguat kandungan, kamu harus meminumnya. Bunda berharap kamu tidak pergi, tapi sepertinya kamu tidak akan mendengarkannya"


Sekarang mereka sudah di dalam mobil, menuju ke kampung tempat dimana ibu Aulia tinggal.


Dzaky memandang Aulia yang sedang menatap kosong kearah jendela.


" Kamu yang sabar.....kamu harus kuat untuk anak yang ada dalam kandunganmu dan juga untuk Sean"


" Berarti kak Dzaky sudah tidak termasuk dalam penyemangat ku" ucap Aulia dalam hati.


Aulia kembali menangis, mengingat tidak ada lagi orang yang akan selalu ada di setiap keadaannya. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang ini, dia sudah seperti kehilangan semangat dan sandaran hidup. Kalau dulu dia punya suaminya, tapi sekarang dia sudah akan berpisah saat bayinya lahir.


like


like


like

__ADS_1


__ADS_2