Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 59


__ADS_3

Setelah Tara selesai menemani Aulia dan seperti biasa memastikan Aulia masuk ke dalam kamarnya Tara juga langsung masuk ke dalam kamar Sean, di sana terlihat Amira yang sedang duduk di pinggir ranjang membelakangi pintu.


" Kenapa terbangun mir? Kamu memerlukan sesuatu?"


Tapi Amira tetap diam dan terlihat bahunya terguncang dan mulai mengeluarkan suara tangisan.


" Kamu kenapa?" Tara mendekati Amira dan benar Amira sedang menangis. " Kamu kenapa?" Tara bertanya sekali lagi sambil memegang bahu istrinya.


" Kak........Kenapa harus kakak ceritakan kekurangan Mira kepada Aulia, apa harus sampai seperti itu?"


Sekarang Tara yang terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Tara merasa bersalah dan dia tidak tahu bahwa Amira mengetahui itu dan apa lagi yang istrinya itu ketahui? sungguh dia tidak bermaksud menceritakan kepada Aulia.


" Kenapa kakak diam! Kakak tidak perlu mengatakan tentang kekurangan Mira kepada orang yang menjadi saingan Mira kak!" Ucap Amira kesal.


" Maafkan kakak" Kata Tara sambil memeluk istrinya dan itu membuat bahu Amira terguncang lebih kencang karena menahan suara tangisnya agar tidak membangunkan Sean yang sedang tertidur.


Tara dan Amira pun tertidur sambil saling memeluk, hal yang sudah lama tidak mereka lakukan karena selama ini sering tidur terpisah dan walaupun tidur dalam satu ranjang yang sama Tara akan menciptakan jarak di antara mereka dengan tidur membelakangi Amira.


Pagi hari seperti biasa Amira telah menyiapkan semua yang mereka butuhkan, kecuali membangunkan Aulia. Ada rasa benci Amira terhadap Aulia atas kejadian semalam apalagi Aulia sudah mengetahui kekurangannya, itu seperti menjatuhkan harga dirinya walaupun karena kejadian itu Tara lebih lembut memperlakukannya dan Amira yakin itu karena rasa bersalah Tara.


Aulia keluar kamar dengan wajah lebih cerah tidak seperti kemarin yang terlihat pucat.


" Bagaimana hari ini masih mual dan muntah ul?" Tanya Tara.


" Alhamdulillah sudah berkurang" Aulia mendekati Sean dan mengecupnya seperti biasa. " Abang lagi makan apa sayang? mama masak apa?"


" Udang dan cumi crispy Bun, enak"


" Terimakasih sama mama bang, sudah masakin Abang"


" Terimakasih mama......."


" Ia sayang" Jawab Amira sambil tersenyum kearah Sean.


" Langsung sarapan aja ul" Kata Tara


" Iya kak"


Mereka makan dengan diam hanya sesekali menanggapi ocehan Sean.


Setelah Tara pergi, Amira langsung membersihkan semua sisa mereka makan.


" Mba, biar Aulia aja yang beresin"


" Mba istirahat aja" Sebisa mungkin Amira memendam rasa benci dalam dirinya karena kalau pun dia marah tidak ada gunanya hanya memperburuk keadaan dan membuat Tara malah pergi darinya.

__ADS_1


***


Hari ini Dzaky akan pulang, Aulia dan Sean sudah sangat kangen dengan Dzaky berbeda dengan Tara yang tidak menyukai kepulangan Dzaky karena dia akan pulang kerumah dan tidak ada lagi waktu bersama dengan Aulia. Sementara Amira juga merasa senang itu artinya dia tidak akan melihat perhatian Tara untuk Aulia yang membuat hatinya sakit.


" Nda, hari ini ayah pulangkan?"


" Iya, katanya tadi sudah dijalan bang"


" Abang sudah rindu....sekali sama ayah nda"


" Bunda juga"


Tara dan Amira hanya mendengarkan percakapan ibu dan anak itu tanpa ingin ikut ngobrol.


Tak berapa lama terdengar salam dari luar, Sean langsung berlari keluar karena mengenal suara siapa itu.


" Ayah........."


" Abang ayah kangen banget" anak dan ayah itu saling berpelukan melepas rindu.


" Ya....bunda di cuekin Nic"


" Ayah juga kangen bunda dan adek" Dzaky langsung memeluk dan mengelus perut istrinya lama.


" Eh maaf lupa kalau ada kalian"


" Tau...yang lagi kangen tapi biarkan kami pulang dulu" Kata Amira dengan senyum. Dia sudah tidak tahan ingin pulang. Amira bisa melihat kilat cemburu di mata Tara, dia tidak ingin Tara berubah menjadi seperti sebelumnya dingin. Karena setelah kejadian malam itu hubungan mereka mulai menghangat, Amira tidak peduli walaupun itu hanya rasa bersalah setidaknya dia bisa mulai membuat Tara menginginkannya.


" Ayo masuk ada sedikit oleh-oleh untuk kalian"


" Bagaimana KY lancar?" Tanya Tara


" Alhamdulillah lancar Tar"


" Ya sudah kami langsung pulang ya? Sean mama sama papa pulang dulu ya? besok kita main lagi"


" Ok ma..."


" Terimakasih sudah menjaga keluargaku Tar ini jangan lupa di bawa" Dzaky memeluk Tara, sangat bersyukur memiliki sahabat rasa keluarga seperti Tara jadi dia bisa tenang meninggalkan anak daan istrinya dan memberikan bungkusan yang tadi di bawanya.


" Terimakasih juga, keluargamu juga keluargaku" Entah apa maksud Tara hanya Tara dan Amira yang tahu dan juga Allah. " Istirahatlah, karena besok tidak ada libur" Ucap Tara menggoda Dzaky.


" Iya....Maaf sudah mengganggu weekend kalian"


" Tidak ada kata maaf untuk keluarga, kami pulang dulu"

__ADS_1


Setelah Tara dan Amira, Dzaky langsung bermain dengan Sean dan menciumi perut istrinya dan diikuti oleh Sean.


" Dedek kangen ayah kan?"


" Iya yah adek bayi kangen ayah" Kata Sean mengikuti drama sang ayah.


" Baiklah nanti malam ayah tengok ya?"


" Abang juga mau ikut tengok adek bayi yah" Sean meloncat senang karena akan melihat adiknya.


" Emm itu...Apa ya? Abang nggak bisa karena Abang masih kecil" Ucap Dzaky sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Aulia langsung memukul lengan suaminya kesal karena telah berbicara sembarangan di depan anaknya.


" Ayah kebiasaan ngomong sembarangan, Sean mana tau yang kayak gitu" bisik Aulia.


Dzaky hanya nyengir. " Bang ayo kita main keluar" ajak Dzaky mengalihkan pikiran Sean yang ingin melihat adiknya. Namun Sean hanya diam cemberut.


" Abang mau lihat adik! ayah mau lihat adik sendirian! ayah jahat!" ucap Sean dan mulai menangis. Dzaky jadi kelimpungan melihat Sean menangis di tambah lagi Aulia sudah memandang marah kearahnya.


" Emm Sean mau lihat dedek bayi?"


" Ayah jangan mulai deh" Kata Aulia yang tidak ingin suaminya menjanjikan hal yang tidak mungkin.


" Dengarkan dulu nda...Abang kan mau lihat adik bayi?" Dan Sean langsung mengangguk semangat. " Kalau Sean mau lihat adik bayi nanti pas kita ketempat Bu dokter kita bisa lihat adik bayi." Sean nampak berfikir.


" Tapi ayah mau lihat adik bayinya nanti malam?" Kata Sean masih ingin melihat adik bayi.


" Itu.... lihat nya dalam mimpi bang....kan adek bayinya masih dalam perut, lihatnya cuma bisa pake alatnya buk dokter sayang..."


" O.....baiklah nanti malam Sean akan tidur sama bunda biar bisa ikut mimpi lihat adik bayi " Kata Sean tersenyum senang.


" Kalau mimpi, di kamar Abang juga bisa mimpi adik bayi nggak harus tidur sama bunda" Dzaky beralasan, bisa gagal kegiatan mereka kalau ada Sean di kamarnya pikir Dzaky.


" Iya Abang boleh tidur di kamar bunda" Kata Aulia menggoda Dzaky.


" Terimakasih bunda" Jawab Sean sambil memeluk bundanya.


" Bunda......" Ucap Dzaky memelas, dan hanya di tanggapi dengan tertawa oleh Aulia.


like


like


like

__ADS_1


__ADS_2