Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 50


__ADS_3

" Ayah harus fokus di sana,bunda disini sudah ada mba Amira."


" Ya nda, ayah sangat berterimakasih kepada mereka. Klatau ada apa-apa segera hubungi ayah jangan sering disimpen sendiri, kalau Sean nggak bilang bunda sakit ayah nggak tau nda."


" iya yah.."


" Janji?."


" Janji.".


" Yasudah bunda tidur istirahat, Sean tidur sama Tara?."


" Iya yah."


" Emmmuach assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Tak berapa lama Amira masuk setelah mengetahui Aulia sudah tidak teleponan lagi dengan suaminya.


" Mba Aulia sekarang istirahat, aku akan tidur di sini bersama mba, nggak apa-apa kan?."


" Nggak apa-apa mba, justru aku sangat berterimakasih atas semua kebaikan pak Tara dan mba Amira."


" Nggak usah sungkan kita ini sudah seperti keluarga."


Merekapun tertidur setelah mengobrol sebentar.


Tengah malam Aulia bangun untuk mengambil air minum, karena biasanya sebelum tidur dia menyiapkan di dalam kamar. Dia lupa karena lagi sakit sementara Amira tidak tau kebiasaanya yang sering minum di malam hari.


Berjalan menuju dapur Aulia mencium aroma masakan dan terlihat Tara sedang mengaduk isi wajan dengan ahlinya.


" Aulia? kenapa bangun, butuh sesuatu? gimana sudah enakan?" Tanya Tara yang melihat Aulia berdiri di dekat dapur.


" Oh...itu saya haus pak, saya mau ambil air minum. Alhamdulillah sudah, Pak Tara lapar?" untung saja Aulia keluar menggunakan hijab


" Oh ini..Sean lapar dan aku lihat di rice cooker banyak nasi, Jadi aku memutuskan untuk memasak nasi goreng."


" Iya tadi pagi saya hanya memasak nasi. dan belum sempat dimakan." ucap Aulia sambil mengambil minum dan langsung meminum nya.


" Kamu mau ul? tadi kamu makan tidak terlalu banyak."


" Nggak usah pak, saya akan melihat Sean." Aulia mengindar dari Tara dan ingin melihat anaknya.


" Sean?" Panggil Aulia anaknya yang sedang asyik menonton kartun yang setiap hari di ulang-ulang.


" Bunda? Sini bunda nonton sama adek" Ajak Sean Aulia untuk duduk di sofa bersamanya.


" Adek lapar? tumben!"


" Iya adek lapar nda. Yeeey sudah jadi om?" Sean melihat Tara membawa 2 piring nasi goreng yang masih mengepul.


" Iya, ini untuk Sean." Tara menyerahkan sepiring nasi ke Sean.


" Kamu beneran nggak mau ul?"

__ADS_1


" Terimakasih pak nggak usah."


Tapi Tara dapat melihat Aulia menelan ludah, lantas Tara kembali kedapur mengambil satu piring lagi untuk Aulia.


" ini, aku tau kamu lapar."


Aulia tadi hendak menolaknya tapi Tara memaksa.


" Gimnaa enak nggak nasi goreng masakan om?"


" Enak om, Sean suka."


" Gimana ul?"


" Enak."


Mereka menikmati nasi goreng dengan satu telur ceplok diatasnya sambil menonton kartun kesukaan Sean. Setelah menghabiskan nasi goreng perlahan Sean tertidur dengan kepala di atas paha bundanya dan kakinya diatas paha Tara.


Tara menoleh ke arah Aulia dan Sean, mungkin beginilah kegiatannya kalau saja dia mempunyai anak fikir Tara. Ada rasa iri dalam hati Tara mengingat inilah yang Dzaky lewati bersama keluarganya. Seandainya dulu dia yang menikah dengan Aulia.


" Ul?."


" Ya?" Aulia menoleh kearah Tara.


" Kamu bahagia?." Tanya Tara kembali melihat kearah TV.


" Alhamdulillah bahagia pak."


" Seandainya dulu..."


" Jangan bahas masa lalu pak...Ki.." ucapan Aulia langsung di potong Tara.


" Jadi bapak meminta imbalan untuk kebaikan bapak hati ini?"


" Kalau tidak seperti itu kami tidak akan mau menyetujuinya."


" Baiklah." Aulia ingin menggendong Sean dan membawanya kekamar tapi di cegah Tara dan Tara tanpa sengaja memegang tangan Aulia.Mereka terdiam untuk beberapa saat. Untungnya Aulia cepat sadar.


" Saya istirahat dulu kak."


" Iya ul." Tara tersenyum mendengar Aulia memanggilnya kakak lagi.


Aulia kembali kekamar dengan memegang dadanya jantungnya berdetak cepat merasakan sesuatu yang aneh.


Bohong jika Aulia sudah tidak ada rasa dengan Tara.


"Cinta pertama memang sulit di lupakan kata Aulia dalam hati. Apasic yang kamu pikirkan Aulia! kamu tidak lihat ada mba Amira dan kak Dzaky!." Aulia berperang dalam hati. Dia tidak bisa memungkiri ada perasaan lain dari hatinya untuk Tara.


Keesokan paginya Amira membeli sarapan untuk mereka makan. Karena Tara akan berangkat ke kantor sementara Amira akan tetap tinggal bersama Aulia.


" Kakak pergi dulu assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


" Sean, nanti siang kita main lagi." Sean pun langsung meloncat ke dalam gendongan Tara.

__ADS_1


" Oke om." emmmuach Sean mencium Tara. Tara terdiam merasakan beginilah kalau dia mempunyai anak. Sementara Amira yang melihat hanya tersenyum melihat kedekatan mereka.


" om pergi dulu emmmuach."


Amira dan Sean melambaikan tangan ke arah Tara sementara Aulia di dalam.


" Kak Tara sudah berangkat mba?" Tanya aulia saat melihat Amira masuk bersama Sean. Amira langsung mengernyitkan dahi mendengar Aulia memanggil suaminya dengan sebutan kak.


Aulia pun yang menyadari kesalahannya memanggil Tara kak langsung membenarkan perkataannya.


" Maksud aku kak mba, maaf."


" Nggak apa-apa kamu panggil kak Tara kak. Supaya kita lebih dekat seperti keluarga memang agak aneh kalau kamu panggil dia pak." ucap Amira dengan tertawa renyah.


Hari ini Aulia membantu Amira memasak di dapur, hanya sekedar membantu karena Amira belum memperbolehkan Aulia terlalu lelah.


" Kamu pasti kenal kak Tara jauh sebelum kami kenal, kak Tara itu orangnya mudah akrab." Enatah kenapa mereka membahas Tara.


" Iya mba." Aulia hanya menjawab singkat takut salah jawab.


" Kamu tau kami akrab tidak butuh waktu lama."


" Bunda........?" Untung Sean memanggil, menghentikan obrolan yang menegangkan bagi Aulia.


" Iya dek.."


" Ayah kapan sic pulangnya nda, lama sekali."


" Insyaallah besok ayah pulang, tadikan ayah sudah telepon mau pulang besok."


" iya...tapi..."


" Kan ada om Tara dan juga Tante di sini! Sini main sama Tante."


Siang harinya Tara pulang, dia sangat bersemangat pulang kerumah Dzaky.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam." Jawab semua penghuni rumah.


" Om sudah pulang? ayo kita main."


" Adek! biar om istirahat dulu biar makan dulu."


" Nggak apa-apa ul, ayo Sean kita main. Tapi om cuci tangan dulu.."


"Kamu lihat Aulia, kka Tara begitu menyukai anak-anak."


" Mba yang sabar." Amira hanya menanggapinya dengan senyuman.


" Om biar makan dulu," Aulia mengajak Sean untuk pergi ke kamar. Sementara Amira melayani Tara makan. Mereka makan dengan diam. Tidak biasanya kak Tara diam begini fikir Amira.


Setelah makan dan sholat, Tara kembali memanggil Sean yang berada dalam kamar Aulia.


" Sean...."

__ADS_1


"Sean.."


Beberapa kali Tara memanggil namun tidak ada jawaban. Tara memberanikan membuka pintu. Dan dia melihat Aulia sedang tidur bersama Sean, Tara mendekati ranjang tempat anak dan ibu itu tidur dan melihat Meraka, betapa dia sangat menginginkan Aulia. Dengan perlahan dia mencium kepala Aulia yang tertutup hijab dan keluar dengan cepat dari kamar takut Aulia menyadarinya. Setelah menutup pintu Tara memegang dadanya dan menghela nafas lega seperti pencuri yang berhasil membawa kabur barang berharga. Amira yang selesai sholat mendekati Tara yang sedang minum air di dapur namun Tara langsung berpamitan untuk pergi bekerja lagi. Amira pun hanya bengong melihat Tara yang pergi tanpa meminta tangannya untuk di cium seperti biasanya.


__ADS_2