Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 74


__ADS_3

Brengse* " Tara? Kalian lagi ngapain?" Ucap Dzaky marah, mendengar suara yang menjawab sambungan teleponnya adalah orang yang di yakini Dzaky tengah berselingkuh dengan istrinya. Keyakinan Dzaky bertambah saat yang menerima panggilannya Tara, di jam selarut ini mereka diam-diam bersama, di saat orang-orang sudah terlelap tidur.


Tadinya Dzaky menelepon untuk memastikan Aulia baik-baik saja, karena pikirannya selalu tertuju pada istrinya. Kalau menghubungi siang hari, pasti Aulia akan meminta Sean yang menerima panggilannya.


" Ternyata ini yang menyebabkan aku memikirkannya, dasar perempuan murahan! Kalian berdua brengse*" Batin Dzaky.


" Kenapa? Aku lagi bersilaturahmi dan mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya ibu Aulia"


" Memang kalian! Jam berapa ini? Bisa-bisanya kalian berselingkuh di rumah ibu!" Dzaky geram.


" Kami tidak berselingkuh! jangan menuduh kami lagi. Aulia sudah cukup menderita dengan tuduhan mu dan sekarang ibunya meninggal. Apa kamu akan terus menyakitinya?"


" Apa namanya kalau bukan berselingkuh! Diam-diam bertemu di belakang ku! Kamu yang membuat kami saling menyakiti!" Bentak Dzaky.


" Terserah, bukannya ku dengar, kamu akan menceraikan Aulia setelah di melahirkan nanti?" Tara memancing.


" Itu bukan urusanmu! sekarang dia masih istri ku, dan kamu tidak berhak mendekatinya"


" Kak mana?" Terdengar suara Aulia menyeret kakinya, Pasti dia merasakan kesakitan pikir Tara.


Tara langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan meletakkan hp Aulia ke tempat semula.


Dzaky pun mendengar suara yang dua hari ini tak di dengarnya, tapi selalu terngiang dalam memori otaknya.


Otaknya langsung berpikiran buruk, Dzaky langsung membanting handphone yang sudah di putus panggilannya oleh Tara secara sepihak.


" Kalian!!!! Dzaky menatap hp yang terlihat sudah tidak akan bisa hidup lagi dari bentuknya.


" Maaf, tadi kakak mencari dulu " Tara memapah Aulia untuk duduk. " Kakak ambil minum dulu"


Tara memberikan minum setelah Aulia memasukkan obat kedalam mulutnya.


Tak selang berapa lama, Istri kak Firman bangun, dia ingin mengambil minum.


" Ul! kamu Kenapa?" istri kak Firman terlihat cemas melihat Aulia meringis memegang perutnya, dan melirik Tara.


" Aulia kram perutnya mba, Tadi dia makan dan tersedak. Kebetulan saya lewat" Tara menjelaskan tanpa di minta saat melihat tatapan istri kak Firman yang terlihat meminta penjelasan.


" Biar saya yang urus Aulia" Istri kak Bian terlihat tidak senang dengan keberadaan Tara, dia memang tidak mengenal Tara. Baru ini melihat Tara dan seperti ada yang mencurigakan dari sikapnya.


" Saya permisi, saya akan kembali tidur"


" Ya, terimakasih"


" Ayo ul, kamu harus banyak istirahat! Ini sudah bulannya. Kenapa tidak membangunkan mba, kalau butuh apa-apa"


" Ul lapar cuma mau makan, eh tersedak. Mungkin karena terlalu lama batuk membuat perut ul kram"


" Dia ngapain?"

__ADS_1


" Kak Tara, maksud mba?"


" Iya, jam segini berkeliaran. Apa sengaja nunggu kamu keluar kamar?"


" Kak Tara cuma mau minum, ketemu ul di dapur yang sedang sakit. Makanya dia langsung bantuin ambilin ul minum" Aulia tidak mungkin menceritakan kecurigaannya.


" Oh....Mba hanya....Ah sudahlah. Lain kali kalau butuh apa-apa ul harus bangunin mba!"


" Ya mba....."


Paginya Dzaky bangun dengan sempoyongan, dia tidak tidur semalaman, tidur setelah sholat subuh.


Kepalanya pusing, tapi dia harus tetap masuk kerja, mengingat besok dia akan izin selama dua hari.


Dzaky duduk di meja makan sambil melamun, memikirkan apa yang terjadi antara Aulia dan Tara semalam.


" Ya Allah.....apa yang harus hamba lakukan? Hamba sudah mulai melupakan kejadian itu dan berjanji kepada almh ibu untuk menjaga Aulia, tapi dia berkhianat! Hamba harus bagaimana!" Teriak Dzaky sambil membanting gelas yang ada di hadapannya.


Di kantor Dzaky sudah tidak fokus bekerja, pikirannya selalu kepada Aulia yang sedang bersama Tara.


" Dzak, Lo Kenapa? gue lihat dari pagi Lo diem aja, kayak nggak bersemangat gitu?" Bagas datang ke ruangan Dzaky.


Dzaky sebenarnya mau cerita, tapi rasanya tidak pantas menceritakan aib keluarga sendiri ke orang lain.


" Nggak ada apa-apa...."


" Eh, Lo tau berita terbaru nggak?"


" Kurang ajar Lo...." Ucap Bagas sambil melempar pulpen di tangannya ke arah Dzaky, Dzaky dengan cepat menghindar.


" Memang bener! kamu seperti tukang sayur yang sudah terkontaminasi ibu-ibu rumpi" Haha.... Dzaky masih dengan tawanya.


" Gue beneran Dzak, berita terbaru itu tentang pak Tara!"


Dzaky langsung terdiam. " Apa mungkin tentang perselingkuhannya dengan Aulia?" Batin Dzaky bertanya.


" Berita apa sic gas...?" Dzaky seolah tidak perduli, padahal dalam hati sudah mau mati penasaran.


" Pak Tara pisah sama buk Amira"


" Yang bener kamu?" Tanya Dzaky masih dengan santainya sambil sok sibuk menyusun berkas.


" Iya.....Sudah hampir 3 bulan pisah katanya"


" Kamu tau dari mana? jangan nyebar berita yang tidak benar Gas!" Dzaky mulai mengarahkan pandangannya ke laptopnya, tapi pikirannya melayang.


" Insyaallah ini berita bener, kata Sinta sudah tiga kali arisan ibu kepala tidak datang, membuat pembukuan arisan acak kadul, berantakan! apalagi biasanya Bu Amira yang menyiapkan makanan."


" Mungkin ada urusan keluarga.."

__ADS_1


" Lo sudah seperti pak Tara"


" Maksudnya?"


" Beberapa Minggu yang lalu, ibu-ibu datang kerumah pak Tara menanyakan kabar Bu Amira. Lo tau jawaban pak Tara saat di tanya?"


" Ya mana aku tau Gas!"


" Nah, persis"


" Jangan muter-muter Gas! yang samalah yang persis lah"


" Jawabannya pak Tara itu, ya sama seperti jawaban Lo!"


" Intinya Gas!"


" Pak Tara bilang, Bu Amira ada urusan keluarga. Saat ditanya berapa lama, dan ibu-ibu meminta pak Tara untuk menghubungi Bu Amira, menanyakan bagaimana kelanjutan kegiatan mereka, karena Ibu-ibu tidak ada yang bisa menghubungi Bu amira. Termasuk Sinta yang biasanya selalu bertukar kabar sekarang Bu Amira hilang tanpa jejak. Jawaban pak Tara bikin geleng-geleng kepala"


" Apa jawabannya yang bikin ibu-ibu geleng-geleng kepala?"


" Nanti saya tanyakan kepada Mira, semua kegiatan ibu-ibu tolong di handle dulu sama ibu-ibu. kan ibu-ibu jadi bingung"


" Dimananya yang bikin geleng-geleng kepala, jawaban Tara betul"


" Iya ya!"


" Sudah sana kembali bekerja, ganggu saja" Bagas pergi sambil garuk-garuk kepala.


Dzaky diam, memikirkan Tara yang akan berpisah dengan Amira. Itu berarti Tara serius mendekati Aulia. Dokumen yang Dzaky pegang di lemparnya begitu saja, Dzaky pergi meninggalkan setumpuk pekerjaan yang sedang minta di koreksi.


Jalan dengan setengah berlari melewati orang-orang yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Tidak semua karyawan menyukai Dzaky, ada saja orang yang iri melihat Dzaky.


" Mau kemana tuc si Dzaky?" Tanya salah satu karyawan.


" Mungkin lagi ada urusan penting" Jawab yang lain.


" Enak bener jadi Dzaky, bisa libur sesukanya"


" Iya, mentang-mentang Deket sama pak kepala. jadi bisa libur seenaknya" Si julid Berbicara.


" Mungkin lagu urgen, kan bininya lagi hamil besar. Siapa tau bininya mau lahiran"


" Iya bener, sudah lebih baik kita kerja"


like


like

__ADS_1


like


__ADS_2