
Aulia mengerti setiap kata yang Dzaky ucapkan, badannya melemas. Bagai tertusuk paku besar hati Aulia mendengar setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.
Aulia terduduk di pinggir ranjang, sungguh perkataan suaminya menggores luka sampai ke titik terdalam hatinya.
Dzaky, setelah berkata seperti itu, dia keluar dari kamar meninggalkan Aulia yang diam dengan tatapan kosong, tapi air mata keluar deras membasahi pipi dan menetes di perut besarnya, membasahi baju daster yang di kenakannya.
Dia menemui Sean, anak yang di abaikannya beberapa hari ini.
" Ayah......." Panggil Sean. " Ayah sudah sembuh? Kata bunda ayah lagi nggak enak badan"
" Iya" Jawaban singkat tanpa di pikirkan, karena pikirannya kini sedang tertuju pada Aulia. Dzaky merasa bersalah telah mengucapkan kata yang pastinya sangat menyakitkan bagi istri tersayangnya itu. Dia tidak meragukan anak yang Aulia kandung itu adalah anaknya, karena hatinya mengatakan bahwa itu darah dagingnya.
Rasa bersalah Dzaky kian menjadi saat melihat Aulia keluar dari kamar dengan tatapan kosong, mengelus perut besarnya. Ingin rasanya Dzaky memeluk erat istri yang di rindukannya itu, tapi Dzaky teringat akan kata-kata Tara yang mengatakan iya, kalau bayi yang Aulia kandung itu anaknya. Artinya mereka pernah melakukannya, tanpa bukti Dzaky yang di penuhi emosi percaya semua perkataan Tara.
***
Waktu berlalu begitu cepat, usia kandungan Aulia sudah memasuki usia hampir 8 bulan. Hari ini jadwal Aulia kontrol tapi Dzaky seperti tidak perduli, padahal Aulia sudah melemparkan pertanyaan.
" Yah, hari ini jadwal cek kandungan"
" Yeay....kita mau lihat dedek bayi yah?"
" Em...Kita di rumah saja bang, ayah masih ada yang harus di kerjakan"
" Tapi....." Wajah Sean nampak kecewa.
" Nanti bunda bawa foto dedek bayinya ok? Abang harus jaga ayah" Aulia tidak mungkin membawa Sean sendiri, dia akan kerepotan.
Pada saat kontrol bulan lalu, Dzaky masih mengantar Aulia kontrol itu karena Sean demam, jadi sekalian memeriksakan Sean. Tapi kali ini Dzaky merasa tidak punya alasan untuk mengantar Aulia kontrol, walaupun dia ingin.
" Iya bunda...." Sean menurut karena Dzaky menjanjikan akan membelikannya eskrim.
Dengan hati kecewa Aulia memesan taksi online. Dzaky hanya melirik, sungguh sebenarnya dia tidak tega melihat istrinya dengan perut besar pergi seorang diri di malam hari. Tapi rasa benci mengalahkan rasa simpatinya.
Saat taksi yang Aulia pesan datang, dia masih sempat melihat kebelakang berharap Dzaky menghentikannya dan mau mengantarnya. Tapi semua hanya harapan yang tidak mungkin terwujud, dengan wajah kecewa Aulia melangkah masuk ke dalam taksi. Dzaky hanya mengintip di balik hordeng sungguh dia berharap Aulia baik-baik saja Sampai kembali ke rumah.
*
Aulia sudah masuk ke dalam ruangan Dokter Fatma.
" Aulia? pak Dzaky mana?" Tanya Dokter penasaran melihat Aulia masuk sendirian.
" Masih ada kerjaan yang tidak bisa di tinggal Bun" Untung Dokter Fatma bukan orang yang kepo.
" Baiklah langsung aja"
Selesai pemeriksaan dan mengambil resep Dokter, Aulia tidak langsung pulang dia memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah kafe, tempat anak-anak muda nongkrong. Aulia butuh tempat untuk melepaskan rasa lelah atas suasana rumah yang sudah tidak nyaman lagi, hanya ada aura dingin dan dia bosan diacuhkan oleh suaminya. Dia butuh perhatian di saat hamil besar seperti sekarang. Aulia melihat jarum jam yang menunjukkan angka 9, Aulia mengeluarkan hpnya dan mencari nama ibunya. Untuk sesaat Aulia terdiam mendengar suara dari seberang, namun dia benar-benar butuh tempat berbagi dan itu hanya ibunya
" Hallo assalamualaikum"
" Hallo ul? kamu di sana? Aulia?"
__ADS_1
" Em... Waalaikumsalam Bu"
" Kirain ibu kamu salah pencet, nggak biasanya jam segini kamu nelpon?"
Lama ul terdiam
"Ul...Ada apa nak?" Ibu menangkap ada yang salah dengan anaknya. Dan benar terdengar suara Aulia menangis.
" Ul?"
" Ibu......." Aulia menangis, dia menutup sebagian wajahnya dengan hijab yang di gunakannya. Dia tidak ingin orang lain tau kalau saat ini dia sedang menangis.
" Ya ul, ada apa nak?"
" Bu......"
" Ada apa ul? Jangan buat ibu khawatir!"
" Bu.......ul......."
" Ya kamu kenapa!" Ibu sudah mendesak.
" Ul dengan kak Dzaky sedang bertengkar Bu...." masih dengan menangis.
" Pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa nak...." ibu sedikit lega, tadinya ibu berfikir telah terjadi hal mengkhawatirkan ternyata hanya permasalahan biasa.
" Tapi.......ini bukan pertengkaran biasa Bu.... kak Dzaky menuduh ul berselingkuh dengan kak Tara" keluar sudah apa yang selama ini Aulia simpan.
" Itulah masalahnya Bu....kak Dzaky menuduh Aulia berselingkuh dan mengandung anak kak Tara Bu!" Hijab Aulia sudah basah dengan air mata dan cairan yang keluar dari hidungnya.
" Astaghfirullah ul.....kenapa sampai bisa terjadi seperti itu...."
Aulia pun menceritakan semua permasalahan yang terjadi, dari awal mula sampai keadaan yang sekarang Aulia jalani.
" Ibu hanya bisa berdoa dan berharap semua akan kembali seperti semula" Ibu ikut menangis, membayangkan anak perempuan satu-satunya mengalami masa sulit di saat hamil besar di tambah lagi suaminya meragukan kehamilannya.
" Ya Bu......"
Mereka pun mengakhiri sambungan teleponnya, karena hari sudah malam. Di tempat ibu, ibu belum bisa tidur, masih terus memikirkan Aulia. Sementara Aulia bergegas pulang, bahkan makanan yang tadi dipesannya tidak di sentuh sama sekali hanya jus alpukat yang habis tak bersisa karena menangis membuat tenggorokan Aulia kering, Aulia pulang dengan taksi online yang tadi diminta untuk menunggunya, dengan menambah bayaran.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 saat Aulia tiba di rumah, dengan kunci cadangan Aulia membuka pintu dengan perlahan. Tidak ingin membangunkan orang rumah yang Aulia pikir pasti sudah tidur.
" Dari mana saja kamu?" Terdengar suara Dzaky yang sedang duduk di ruang tamu dengan keadaan lampu mati.
" Ayah?" Aulia kaget saat pertama melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
" Apa kamu diam-diam bertemu dengan laki-laki bereng*** itu? atau malah kamu memeriksakan kandungan di temani olehnya!" ucap Dzaky sinis.
" Ayah, maaf kalau bunda pulang selarut ini, bunda tadi berhenti di restoran dulu karena lapar"
" Alasan!" Bentak Dzaky. " Kamu memang wanita murahan!"
__ADS_1
" Ayah jangan kelewatan, bunda bukan wanita murahan!" Ucap Aulia yang sudah menangis.
" Lalu apa? pergi bersama laki-laki dan pulang selarut in! Apa itu bukan wanita murahan!"
" Bunda tidak pergi dengan laki-laki yah" Perut Aulia terasa sakit, sedangkan Dzaky langsung pergi meninggalkan Aulia yang memegangi perutnya.
Merasa berkurang sakitnya, Aulia masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju dan meletakkan tas yang tadi di bawanya. Terlihat Dzaky yang sudah tertidur, padahal Dzaky hanya pura-pura tidur.
Selesai mengganti baju, Aulia pergi ke kamar Sean untuk tidur. Setelah pertengkaran itu Aulia tidur di kamar Sean, karena melihat Dzaky yang sepertinya tidak suka melihatnya Aulia tidur di sampingnya.
Saat malam tiba, Aulia merasakan sakit perut bagian bawah. Dia menuju dapur untuk mengambil air minum supaya bisa mengurangi sakit perutnya, tapi saat di dapur Aulia merasakan seperti ada yang keluar dari bagian intinya. Ternyata itu darah segar yang mengalir sampai ke kaki bengkak Aulia, di kehamilan ini Aulia mengalami pembengkakan pada kedua kakinya. Dengan tertatih dan panik Aulia menuju kamar tempat Dzaky tidur untuk mengambil hijab dan tas yang berisikan dompet, Aulia berharap masih ada taksi online yang bisa mengantarkannya.
Dengan perlahan Aulia memakai hijab dan mengambil tas, tapi tas yang di tariknya menyenggol benda di sebelahnya, mengakibatkan benda itu jatuh dan menimbulkan suara.
Dzaky yang mendengarnya langsung bangun, menyangka kalau itu adalah maling. Tapi yang dilihat Dzaky adalah istrinya yang sedang memegangi perut dan tas yang terlihat panik.
" Mau kemana lagi kamu? malam-malam begini!"
Aulia diam menahan sakit.
" Dasar wanita murahan! sudah bertemu tadi, sekarang diam-diam mau Keluar lagi! Tenang saja setelah anak itu lahir aku akan menceraikan mu! kamu tidak perlu mengendap-endap untuk keluar menemuinya" Ucap Dzaky dengan suara tinggi.
" Yah.....ssst" Aulia menahan sakit sebelum melanjutkan kalimatnya. " Bunda mau ke rumah sakit"
Dzaky menghidupkan lampu kamar, dapat terlihat jelas Aulia dengan daster sebatas betis dengan hijab yang besar sedang menahan sakit. Mata Dzaky tertuju pada kaki dan lantai putih yang sudah berlumuran darah.
" Kamu kenapa?" Dzaky panik Langsung mendekati Aulia.
" Yah, bunda mohon biarkan bunda pergi kerumah sakit! Bunda hampir tidak kuat. Bunda takut terjadi apa-apa dengan kandungan, bunda" Ucap Aulia yang hendak melangkah pergi. Akan tetapi Dzaky langsung menggendong Aulia, tidak lupa Dzaky menyambar kunci yang ada di atas meja.
" Kenapa tidak bilang dari tadi!" Sekarang Dzaky panik melihat wajah pucat Aulia dan darah yang tidak berhenti keluar, tangan Dzaky pun penuh darah karena menggendong Aulia sampai ke mobil.
Aulia hanya bisa diam, menikmati rasa sakit yang semakin menjadi.
Dzaky menggenggam tangan Aulia, biar bagaimanapun Dzaky mencintai Aulia tidak bisa melihat Aulia kesakitan.
" Sabar nda....sebentar lagi kita sampai" Aulia terperanjat mendengar kata bunda yang keluar dari mulut suaminya, kata yang sudah lama tidak di dengarnya dari mulut Dzaky.
Perlahan tangan Dzaky pindah mengelus perut Aulia.
" Yang kuat ya dek.....bunda sama ayah menantikan adek. Adek harus bertahan!"
Aulia menangis terharu, mendengar semua yang Dzaky ucapkan.
" Sakit nda? tahan ya.....nggak lama lagi sampai. Ya Tuhan kenapa jauh sekali!" Omel Dzaky.
like
like
like
__ADS_1
like