Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 65


__ADS_3

" Bunda, tidak usah siapin ayah sarapan. Pasti bunda capek karena sudah kasih bekal ayah semalam, perutnya tidak nyeri lagi kan? Maafin ayah terlalu semangat"


Mereka sedang berada di meja makan setelah sholat subuh, Aulia ingin menyiapkan sarapan tapi di larang oleh suaminya. Semalam setelah pembekalan Aulia sedikit merasakan nyeri pada perutnya, membuat Dzaky panik.


" Sudah tidak nyeri lagi yah, mungkin karena sudah semakin besar jadi sesak saat melakukan, mengakibatkan nyeri"


" Maafkan ayah ya sayang, kamu harus jadi anak sehat dan kuat. Maafkan ayah juga yang nanti tidak bisa menemani adek kontrol" Ucap dzaky sambil berjongkok di depan perut istrinya dan merasakan pergerakan bayinya yang terlihat menonjol di sana sini. " Adek sepertinya lebih aktif dari Abang Sean ya nda? baru usia segini pergerakannya sudah sesering ini" Dzaky meletakkan kedua tangannya di atas perut istrinya"


" Ia yah dan juga lebih besar, padahal Sean dulu lahir besar tapi usia segini belum sebesar ini"


" Sepertinya nanti bunda harus tanya, apa harus diet? Takutnya besar seperti Sean. Ayah tidak mau, dedek bayi nyangkut di jalan lahir seperti Sean, ngeri lihatnya nda serasa mau putus kepala Sean saat di tarik. Apalagi bunda, yang harus ekstra tenaga. Pokoknya ayah tidak mau kejadian Sean terulang lagi"


" Insyaallah tidak yah, asalkan ada ayah bunda kuat. Ini jadinya ayah mau sarapan apa? Masih lama lho yah, jam tujuh kan Bobby jemput?"


" Bunda duduk manis, biar ayah yang masak" Dzaky menggoreng ayam yang sudah Aulia siapkan dengan bumbu di dalam kulkas, menggoreng tempe dan membuat sambal bawang. Dzaky pun telah menyiapkan susu untuk istrinya.


" Ayah memang yang terbaik"


" Ayah memang yang terbaik karena di samping ayah ada perempuan yang lebih baik lagi"


Mereka pun makan dengan lahap, Aulia sudah tidak sering bangun malam untuk makan. Aulia mencoba untuk diet sehat karena setiap sudah makan sekarang perutnya terasa sesak apalagi langsung di bawa tidur. Sean belum bangun, seperti biasa Dzaky akan mencium kening anaknya sebelum pergi.


Setelah Dzaky pergi Aulia jarang di rumah, terkadang bermain kerumah Sinta atau terkadang pergi berbelanja. Aulia memang sengaja menghindari Tara yang sering ke rumah saat Dzaky tidak ada, Aulia selalu ingat pesan ibunya.


Hari inipun tiba jadwal Aulia untuk melakukan kontrol kandungan, sengaja dia tidak memberitahukan Tara. Tapi siapa sangka Tara sudah siap menjemput Aulia.


" Assalamualaikum"


" Waalaikumsalam, Kak"


" Sudah siap? ayo berangkat" Lama Aulia terdiam di depan pintu. " Kenapa ul?"


" Aulia berangkat sendiri saja kak"


" Jangan begitu ul, Dzaky sudah menitipkan kalian sama kakak"


" Em...mba Amira mana kak?"


" Tadi dia pergi beli sesuatu sama Bobby, katanya dia langsung ke rumah sakit"


" Oh...ya sudah hayok"


" Ayo jagoan papa, kita berangkat"


Aulia memilih duduk di belakang, sementara Sean di samping Tara.


Mereka sedang duduk mengantre dan menunggu Amira.


" Kak, mba Amira koq belum tiba?"


" Mungkin macet atau dia harus beli sesuatu"


" Nanti kakak tunggu di luar saja ya?"

__ADS_1


" Ul, kakak pengen ikut! kakak mau lihat USG bayi dalam kandungan. Kakak janji tidak akan macam-macam, fokus kakak sama layar monitor dan Sean. Kalau kakak tidak ikut siapa yang akan menjaga sean?"


" Nanti kalau mba Amira datang dia tidak tau dimana ruangannya kak!"


" Kan ada handphone ul..."


" Baiklah" Terdengar suster memanggil nama Aulia.


" Ibu Aulia Hasanah?..."


" Ya mba" Jawab ul.


Mereka langsung masuk, Dokter Fatma sedikit kaget pasalnya bukan Dzaky yang menemani Aulia.


" Assalamualaikum Dok"


" Waalaikumsalam, bagaimana Aulia, sehat?"


" Alhamdulillah Bun, sehat"


" Ini....siapa? koq saya baru lihat"


" Emm.." Aulia bingung harus menjawab apa.


" Kakaknya Aulia Dok" Jawab Tara cepat, melihat kebingungan di mata Aulia. Sambil menyalami sang Dokter.


" O...Saya baru lihat" Ucap dokter sambil menerima uluran tangan Tara.


" Pak Dzaky kemana?"


" Biasa Bu, Ada tugas keluar kota. Besok Bunda jadi berangkat keluar kota?" Tanya Aulia.


" Iya, beberapa Minggu. Saya menunggu kamu periksa Aulia, baru berangkat" Mereka sekarang lebih akrab karena Aulia sudah menjadi pasien Dokter Fatma sejak hamil Sean.


" Terimakasih Bun, saya pikir kalau bunda perginya masih lama. Suami saya minta untuk kontrol ulang karena dia penasaran sama jenis kelamin yang ini Bun"


" Bulan depan saja bilang ke pak Dzaky"


Dokter pun mempersilahkan Aulia untuk naik keranjang dan suster langsung mengoleskan jel diperut Aulia.


" Alhamdulillah bayinya sehat"


" Bun, AAP saya harus diet"


" Kenapa diet?"


" Di kehamilan ini saya merasa perut saya lebih besar dari hamil Sean, saya takut kalau bayinya besar sama dengan kejadian Sean sebelumnya" Sementara Tara begitu takjub melihat bayi yang tergambar di dalam layar monitor, Tara sampai tidak berkedip.


" Di kehamilan kedua memang perut terlihat lebih besar, selain telah terjadi pelebaran dan kerena ini bayi yang cantik"


" Maksud bunda?"


" Bayi kalian perempuan Aulia"

__ADS_1


" Alhamdulillah.....Ayah Sean pasti sangat senang" Ucap Aulia terharu, begitu juga dengan Sean dia melompat kegirangan di gendongan Tara karena akan memiliki adik cantik seperti Kia adik Baim.


" Beratnya juga masih tergolong normal, kamu tidak usah diet cukup menjaga asupan gizinya"


" Terimakasih Bun"


" Sama-sama"


Dokter pun langsung memberi resep ke Tara untuk diambil di apotek. Tara yang melakukan pembayaran, padahal Aulia sudah menolaknya.


Saat mengambil resep Dokter, Tara melihat Poto USG bayi Aulia yang tadi di ambilnya saat membayar. Aulia tidak menyadarinya.


" Kak, mba Amira koq belum tiba. Sudah Kakak hubungi belum? takut terjadi apa-apa"


" Tadi sudah kakak telepon, Amira bilang dia sudah di rumah, sakit perut katanya. Amira minta maaf tidak bisa nemenin kamu, ul" alasan Tara, padahal dia sama sekali tidak mengatakan apapun perihal Aulia yang ingin di temani kontrol kandungan.


" Tidak apa-apa kak, yang penting tidak terjadi sesuatu dengan mba Amira"


Mereka langsung pulang, sepanjang perjalanan Aulia dan Tara mendengar Sean yang selalu mengatakan bahagia. Mereka begitu bahagia. Dua butir air mata haru Tara lolos membasahi pipinya, ini rasanya memiliki keluarga utuh dengan seorang anak di dalamnya di tambah lagi sedang menunggu kehadiran anggota keluarga satu lagi, inilah yang Dzaky rasakan. Maafkan aku Dzak, aku iri melihat mu memiliki keluarga yang sangat bahagia, maafkan aku juga yang ingin memilikinya. Dzak mulai hari ini, aku putuskan untuk memiliki keluarga mu. Ucap Tara dalam hati.


Kali ini Tara dan Amira tidak menginap di rumah Dzaky seperti biasa, jika Dzaky pergi tugas keluar kota. Aulia yang minta, dengan alasan dia tidak membutuhkan teman karena kondisinya yang sangat baik, tidak merasakan mual dan muntah lagi dan Aulia juga ingat pesan ibunya untuk tidak terlalu dekat dengan Tara.


" Assalamualaikum yah"


" Waalaikumsalam nda...Sean mana?"


" Sudah tidur, sepulang dari rumah sakit dia langsung tidur"


" Bagaimana tadi, kontrolnya? Tara dan Amira jadi nemenin bunda kan?" Ucap Dzaky dengan semangat.


" Em...jadi yah" Ucap Aulia berbohong, dia tidak mungkin mengatakan kalau hanya Tara yang menemaninya.


" Terus nda...sudah tau jenis kelaminnya" Dzaky begitu penasaran.


" Bayinya seperti bunda"


" Maksud bunda cewek?"


" Ya"


" Alhamdulillah ya Allah, Sean pasti sangat senang"


" Iya yah, dia begitu semangat. Sepanjang jalan bercerita dia akan pamer ke teman-temannya, terutama sama Baim" Ucap Aulia tersenyum. Dzaky pun tak kalah senangnya, dia menciumi layar hpnya berkata itu ciuman untuk istri dan bayi yang masih meringkuk nyaman di dalam peru istrinya, membuat Aulia begitu bahagia.


Besoknya Aulia sedang memasak di dapur dia tidak mendengar seseorang telah berdiri di belakangnya dengan tatapan cinta.


like


like


like


like

__ADS_1


__ADS_2