
Keesokan harinya dengan sedikit rasa mual, Aulia tetap membuatkan suaminya sarapan walaupun Dzaky sempat tidak mengizinkan istrinya untuk masak tapi Aulia bersikeras tetap membuatnya, dengan alasan jika Dzaky tidak sarapan dirumah belum tentu nanti suaminya sempat sarapan karena acaranya pagi.
Setelah sarapan Dzaky telah siap dengan koper kecil di tangannya, ada perasaan kesal kenapa harus dia yang dikirim tapi ya sudahlah mungkin ini rezeki dedek bayi yang belum lahir. Dengan perasaan berat Aulia melepaskan kepergian suaminya sementara Sean masih dalam keadaan setengah sadar dalam gendongan Aulia. Tadinya Sean di gendong oleh Dzaky karena Dzaky sudah di jemput supir kantor akhirnya Sean di gendong Aulia walaupun Dzaky sempat ingin membangunkan Sean karena tidak tega melihat Aulia yang sedang hamil muda menggendong beban berat namun Aulia meyakinkan bahwa setelah Dzaky pergi dia akan langsung meletakan Sean di kamar.
Kini Dzaky sedang melamun di dalam mobil sementara si sopir kantor mencuri pandang ke arah Dzaky.
" Mas Dzaky koq nggak semangat gitu? apa mas lagi nggak enak badan?"
Huft Dzaky membuang nafas kesal
" Nggak, Alhamdulillah saya sehat bang, cuma kepikiran orang rumah aja."
" Oh...bukannya istri mas Dzaky sedang hamil muda ya?"
" Iya, itulah yang jadi pikiran saya. Setiap pagi dia selalu muntah dan anak saya Sean selalu manja setiap bangun pagi tadi saja dia minta gendong. Saya takut badannya yang sudah berat akan berpengaruh pada kehamilannya yang masih muda dan pasti istri saya sangat kerepotan."
" Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa mas, kenapa mas Dzaky berangkat sendiri? nggak ada temennya apa mas?"
" Kata Tara cuma butuh satu perwakilan bang."
Sopir kantor itu tampak berfikir, (apakah ini akal bulus pak Tara untuk mendekati istrinya mas Dzaky, karena kejadian yang terakhir itu Bobby sangat mendengar jelas ungkapan hati pak Tara walaupun di tolak oleh istri mas Dzaky tapi tidak menutup kemungkinan jika selalu ada kesempatan disitu ada jalan kalau sudah ada jalan pasti rencana pak Tara bisa sampai tujuan.) begitu pemikiran Bobby sambil mengangguk-anggukkan kepala.
" Kamu kenapa bang?"
" Emmm...begini mas, apa pak Tara kenal dekat dengan istri mas Dzaky?"
" Lumayan dekat karena pak Tara sering mengajak Sean main atau keluar jalan-jalan. Kenapa bang?"
__ADS_1
" Nggak apa-apa sic mas, cuma kalau nggak ada hubungan saudara sebaiknya jangan terlalu dekat."
Dzaky berkerut dahi mendengar perkataan bang Bobby dan Dzaky langsung tertawa.
" Ha...bang Bobby ini. Mereka nggak akan mungkin ada rasa bang, soalnya kami sudah seperti saudara."
Si sopir hanya diam, tidak mungkin mengatakan sesuatu tanpa bukti pasti mas Dzaky tidak akan percaya. Yang penting dia sudah mengingatkan mas Dzaky fikir si sopir.
Setelah mengantar Dzaky ke bandara Bobby langsung pulang menuju kantor.
Setelah Dzaky pergi Amira langsung mendatangi Aulia dia beralasan akan menemani dan membantu Aulia atas permintaan Dzaky, Aulia pun menerima Amira dengan senang hati karena kondisinya yang masih sering mual membuat dia lebih banyak berbaring. Amira yang menemani Sean bermain sangat membantu Aulia apalagi jika siang hari Tara akan datang untuk mengajak Sean bermain juga.
Malam ini Tara dan Amira menginap di rumah Dzaky, mereka sudah meminta izin Dzaky. Dzaky dengan senang hati memperbolehkan mereka menginap karena Aulia dan Sean ada yang menemani jadi dia tidak perlu terlalu menghawatirkan Istri dan anaknya.
Hampir setiap hari di tengah malam semenjak hamil Aulia akan terbangun karena lapar, biasanya akan ada suaminya yang menemani tapi malam ini dia akan bangun sendiri dan biasanya Amira akan tidur dengannya entah kenapa Amira memilih untuk tidur bersama Sean dan Tara di kamarnya Sean.
Aulia langsung menuju dapur dan alangkah terkejutnya Aulia saat melihat Tara sedang menggoreng ayam dan telah tersaji sayur sawi di atas meja makan.
" Kak Tara ngapain? Kakak laper?"
Tara tersenyum, matanya yang sipit dan giginya yang rapi membuat siapa pun yang melihatnya pasti terpesona, itulah mengapa dulu banyak perempuan yang menyukai Tara, selain mudah bergaul Tara juga memiliki wajah dan tubuh yang sempurna sebagai seorang laki-laki dan senyuman itu yang pernah membuat Aulia tergila-gila tapi itu dulu.
" Kakak buatin kamu makanan yang sehat, ada ayam goreng dan sayuran. Kata Dzaky kamu hampir setiap malam minta makan dan kakak yakin pasti malam ini juga makanya kakak masak ternyata pas banget kan? semua sudah siap untuk di makan."
" Aulia nggak lapar kak, Aulia bangun cuma mau ambil minum." Kata Aulia, karena dia tidak ingin terlalu dekat dengan Tara bagaimana pun mereka pernah punya rasa. Bohong jika rasa itu benar-benar hilang, kalau terus bertemu tidak menutup kemungkinan rasa itu akan tumbuh semakin besar walaupun Aulia yakin nama Dzaky tidak akan tergeser oleh siapapun dalam hatinya tapi yang namnya setan itu selalu muncul saat dua orang yang bukan muhrimnya berdekatan.
" Kamu jangan bohong ul?" Tara mendekati Aulia yang berbalik hendak meninggalkan dapur.
__ADS_1
" Benar ul cuma haus kak." Jeng jeng....nama manja itu terucap oleh Aulia membuat Tara semakin yakin bahwa masih tertinggal rasa untuknya di hati Aulia.
" Kamu nggak bisa bohong ul, perut kamu bunyi dari tadi, kamu fikir kakak nggak denger." Tara semakin mendekatkan dirinya ke Aulia dan Aulia terus mundur sampai pinggangnya menyentuh pinggiran meja makan.
" Kak jangan mendekat, kalau mba Amira melihat ini pasti akan terjadi kesalahpahaman!" Aulia mendorong Tara
" kalau kamu nggak mau begini terus, kamu harus makan."
Aulia pun menyetujuinya selain untuk menghindari posisi mereka yang sangat dekat Aulia juga sangat lapar dia tidak mungkin membiarkan anaknya kelaparan.
" Nah begini kan enak, makan yang banyak. Pasti dedek bayi juga lapar."
" Kak jangan begini, Kakak bisa tinggalkan ul sendiri."
" Kakak akan menemani kamu makan."
" Nanti mba Amira bangun dan salah faham kak! ul nggak mau hubungan kita jadi rusak gara-gara hal ini."
" Kamu tenang aja, Amira nggak pernah bangun malem."
Padahal Amira mendengar setiap pembicaraan mereka di balik ruangan lainnya, karena Amira yang melihat suaminya tidak ada di tempat tidur berniat untuk menyusul mencarinya dan dia malah mendengar Tara sedang mengobrol dengan Aulia. Air mata Amira jatuh tanpa bisa di tahannya, memang dia menyetujui untuk membantu mendekatkan suaminya dengan Aulia namun dia tidak menyangka bisa sesakit ini, Terluka tapi tak berdarah. Amira memutuskan untuk kembali kekamar Sean dia merasa tidak sanggup untuk berdiri lebih lama lagi dan mendengarkan perkataan suaminya yang begitu manis untuk perempuan lain sementara sudah lama dia tidak di perlakukan dengan baik oleh Tara.
Aulia mempercepat makannya, dia ingin cepat pergi dari hadapan Tara yang terus menatapnya intens.
Setelah menemani Aulia makan dan memastikan Aulia baik-baik saja Tara kembali ke kamar Sean, dia melihat Amira yang tidur membelakanginya, Tara berfikir Amira sedang tidur dan tidak mengetahui apa yang dilakukannya malam ini. Padahal Amira sedang menghapus setiap air mata yang jatuh tanpa bisa menahannya, Amira menangis dalam diam.
Likenya ya readers ku tercinta
__ADS_1
πππππππ