Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 49


__ADS_3

" Hallo assalamualaikum tar?" saat terdengar sambungan teleponnya diangkat.


" Waalaikumsalam , Kanapa Dzak?"


" Aku boleh minta tolong nggak tar? kamu lagi sibuk?"


" Nggak, Kenapa? ada yang bisa aku bantu Dzak?"


" Aulia lagi sakit di rumah, cuma ada Sean. Tolong bawa dia kerumah sakit tar. Bisa?"


" Yaudah aku langsung kesana sekarang." Tara Dangan sigap langsung menuju ke mobilnya.


" Makasih ya tar. Tolong ya Tar."


" Iya kamu tenang aja, Nggak usah khawatir di sana."


" Iya, Kabarin aku langsung nanti setelah kamu bawa Aulia."


" iya nanti langsung aku hubungi Kamu."


" sekali lagi terimakasih tar. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Tara langsung memacu mobilnya menuju rumah dzaky. Sampai disana Tara langsung mengetuk pintu dan mengucap salam.


"Assalamualaikum...ul?" Beberapa kali Tara melakukan hal yang sama dan diketukan ke empat pintu di buka. Sean yang membuka pintu Tara pun langsung menanyakan keberadaan Aulia.


" Assalamualaikum Sean."


" Waalaikumsalam om."


" Bunda mana nak?"


" Bunda lagi sakit di kamar om. Lagi bobok."


" Ow...di mana bunda bobok? om di suruh sama ayah Sean buat bawa bunda periksa kenrumah sakit."


" Ayo om.." Sean menarik tangan Tara untuk mengikutinya. Sampai di kamar Sean ingin mengajak Tara masuk namun tangannya langsung di tahan Tara. Tara dapat melihat Aulia sedang tidur membelakanginya tidak menggunakan hijab rambutnya tergerai. " Rambutnya masih sama hitam kecoklatan dan mengkilat." ucap Tara dalam hati yang masih mengagumi rambut mantan kekasihnya dulu.


" Sean bangunin bunda, om Tara tunggu di depan ya?."


" Ya om."


Sean membangunkan bundanya dengan memamnggil dan menggoyangkan bahunya.


" Bunda, bangun ada om Tara di depan."


" Bunda....."


" Ya dek, kenapa?"

__ADS_1


" Ada om Tara di depan."


" Ngapain?"


" Ngapain ya? lupa adek nda."


Dengan perlahan Aulia bangun, mengambil hijab yang tergantung dan segera memakainya. Dengan tertatih dan berpegang pada dinding rumah Aulia menuju teras depan, dapat di lihatnya Tara sedang duduk bersandar. Dengan memantapkan hati Aulia memanggil Tara.


" Pak Tara?" Tara langsung menoleh kearah orang yang memanggilnya.


" Kamu sakit ul?" Tara dapat melihat wajah putih pucat Aulia dari dekat.


dengan mengehelah nafas mengingat panggilan itu Aulia langsung menyahut.


" Ia sedikit tidak enak badan pak." Kali ini Tara yang menghela nafas karena panggilan Aulia kepadanya yang masih menggunakan pak. Tara sudah meminta Aulia untuk memanggilnya seperti dulu bahkan Dzaky pun tidak mempermasalahkan kalau Aulia memanggil Tara dengan sebutan kakak. tapi Aulia sendiri yang tidak mau dengan alasan merasa canggung untuk memanggil Tara dengan panggilan kakak. tapi Tara tidak ingin mempermasalahkan itu sekarang. Membawa Aulia ke rumah sakit jauh lebih penting.


" Dzaky meminta aku untuk membawa mu kerumah sakit ul."


" Nggak perlu pak, saya sudah enakan cuma butuh istirahat lebih banyak."


Tak berapa lama Aulia limbung, dunia seakan berputar untuk Aulia. Dengan secepat kilat Tara menahan tubuh aulia yang hampir terjatuh.


" Saya tidak apa-apa pak." Aulia Segera melepaskan pegangan tangan Tara pada lengannya.


" Apanya yang nggak apa-apa ul? kamu hampir saja jatuh kalau kakak nggak memegang mu." Segera Tara menggiring Aulia masuk kedalam mobil tanpa ingin mendengar perkataan Aulia. Setelah Aulia duduk Tara kembali kerumah untuk membawa Sean yang sedang asyik dengan mainannya dan mengunci seluruh pintu rumah.


Setelah masuk kembali kedalam mobil dan mendudukkan Sean di kursi belakang, Tara langsung membawa Aulia menuju rumah sakit tanpa. Di sepanjang jalan Aulia masih menolak untuk di bawa kerumah sakit tapi Tara menghiraukannya.


Sampai di rumah sakit, Tara memapah Aulia menuju ruang periksa dokter umum. Aulia sempat menolak Tara untuk memapahnya tapi Aulia hampir terjatuh saat mencoba untuk berjalan sendiri.


Setelah memeriksa Aulia, Dokter menghampiri Tara dan berkata.


" Istri bapak darah rendah dan gejala tifus, tidak perlu dirawat saya akan meresepkan obat, bapak bisa tebus di apotek depan."


" Iya buk."


" Ganteng sekali, namanya siapa?" Bu Dokter terkesima melihat seannyang tampan.


" Sean Dokter." Jawab Sean, selain pintar dan tamapan, Sean termasuk anak yang ramah dan sopan membuat banyak orang menyukainya.


" Pintarnya. Barapa tahun umurnya?"


" 3 tahun."


" Anak bapak tampan sekali dan juga ramah. Ini resepnya semoga cepat sembuh ya Bu. Ibu beruntung mempunyai suami baik dan anak yang tampan." Aulia tidak ingin menyangkalnya karena sedang tidak bertenaga sementara Tara ada perasaan senang dan hangat di dalam dadanya seakan Sean itu adalah anaknya saat dokter memuji Sean.


Saat mengantre obat di apotek, Tara menelpon Dzaky untuk memberitahukan keadaan Aulia, tapi tidak diangkat boleh Dzaky, mungkin sedang sibuk fikir Tara. Setelah mengambil obat mereka berhenti di restoran. Tara membungkus beberapa makanan untuk Aulia bawa pulang.


Setibanya di rumah Tara membawa masuk Aulia dan memindahkan makanan kedalam tempatnya dan memberi Sean makan karena Sean mengatakan kalau dia lapar. Setelah itu Tara melakukan panggilan lagi ke Dzaky.


" Assalamualaikum tar, maaf tadi hp di dalam tas. Jadi bagaimana keadaan Aulia tar?"

__ADS_1


" Aulia darah rendah sama gejala tifus Dzak. sekarang dia lagi di kamar istirahat."


" Terimakasih tar, Sean mana?"


Tara langsung memberikan hpnya kepada Sean.


" Assalamualaikum dek"


" Waalaikumsalam yah."


" Adek lagi ngapain?"


" Adek lagi makan yah, adek laper cuma tadi pagi makan terus makan jajan aja, untung ada om Tara yang beliin adek ayam ciken."


" Bilang terimakasih ke om Tara dek, yaudah adek makan yang banyak kasihkan hpnya ke om Tara lagi." Sean pun langsung memberikan hp itu ke Tara kembali.


" Sekali lagi terimakasih tar."


" Iya kamu kayak sama siapa aja. Kita kan sudah kayak saudara Dzak."


" Boleh aku minta tolong sekali lagi tar?"


" Apa selama aku bisa bantu aku bantu."


" Aku kefikiran Aulia kalau dia harus di rumah sendiri. Bisa nggak kamu sama mba Amira nginep dirumah sampai Aulia sembuh sampai aku pulang."


" Ya bisa nanti selepas magrib aku kesini sama Amira."


"Terimakasih kasinh banyak Tara, kalau nggak ada kamu aku nggak tau harus minta tolong kesiapa lagi. Bagas lagi repot sama bayinya."


" Iya santai aja Dzak."


" Yaudah aoessalamualaikum tar."


" Waalaikumsalam."


Malamnya Tara datang bersama istrinya. Amira membawa banyak makanan untuk Sean dan Aulia.


Tara sibuk bermain dengan Sean setelah mereka makan. sementara Amira menemani Aulia di kamarnya aulia.


" Terimakasih mba, aku masih bisa sendiri mba, aku sudah membuat pak Tara Sama mba Amira repot kayak gini aku nggak enak."


" Nggak apa-apa mba, kita ini sudah seperti keluarga jadi nggak ada yang namanya merepotkan."


" Sekali lagi terima kasih mba." Tak berapa lama ponsel Aulia berdering terlihat ayah tersayang menelpon, Amira pun segera meninggalkan kamar untuk memberi privasi kepada Dzaky dan Aulia yang melepas rindu dan berbagi cerita.


" Assalamualaikum nda."


" Waalaikumsalam yah." Dengan suara lemah Aulia menjawab panggilan telepon Dzaky.


" Gimana nda keadaannya?" Tanya Dzaky dengan nada khawatir.

__ADS_1


" Alhamdulillah sudah mendingan yah."


" Syukurlah nda, ayah nggak tenang di sini."


__ADS_2