
Setelah sebutan mama dan papa di sematkan kepada Tara dan Amira, mereka jadi sering mengajak Sean keluar rumah terkadang membeli mainan atau sekedar membeli es krim.
Aulia sebenarnya keberatan karena mulai merasa kesepian Sean yang sering bersama mereka namun Dzaky senang bisa membuat sahabatnya bisa merasakan menjadi seorang ayah walaupun bukan darah dagingnya karena Tara sering curhat kalau dia sangat menginginkan seorang anak.
Karena sering kesepian akhirnya Aulia browsing suplaiyer baju murah dan berkualitas dia akan mencoba untuk berjualan online yang banyak dilakukan oleh ibu-ibu yang tetap dirumah untuk menghasilkan uang.
Sudah satu Minggu Sean jarang di rumah membuat Aulia dan Dzaky mempunyai banyak waktu untuk berduaan. Terkadang di waktu istirahat Dzaky pulang meminta haknya sebagai suami, Aulia pun melayaninya dengan senang hati karena selain dapat pahala itu salah satu trik agar suami tidak mendua, terpenuhinya nafkah batin.
Hari ini Tara mengantarkan Sean pulang setelah puas di rumah Tara.
" Assalamualaikum bunda....." Teriak Sean saat melihat bundanya sedang menyiram bunga.
" Waalaikumsalam sayang. Adek kok jam segini baru pulang?"
" Maaf ul, Sean tadi ketiduran di rumah jadi kasian mau bawa dia pulang." Tara yang menjawab pertanyaan Aulia.
" Sean masuk dulu ya? ada yang mau bunda omongin sama papa Tara." mendengar itu hati Tara berbunga-bunga.
Setelah melihat Sean masuk, Aulia mendekati Tara.
" Kak aku nggak marah kakak dan mba Amira bawa Sean, tapi tolong jangan terlalu sering dan terlalu lama. Aku kesepian kalau Sean nggak di rumah."
" O...maaf ul, maaf karena tidak melihat situasi. Kamu juga sendirian, kakak janji nggak akan bawa Sean terlalu sering dan terlalu lama. Jujur semenjak ada Sean hidup kakak lebih bewarna."
" Iya kak."
" Assalamualaikum, kakak pulang dulu."
" Waalaikumsalam." Dan Aulia langsung menemui anaknya.
" Dek...." Panggil Aulia.
" Ya bund?"
" Adek jangan terlalu sering ikut papa Tara, bunda jadi sendirian. Nanti kalau bunda di culik siapa yang nolongin bunda?."
Sean terlihat berfikir.
" Oke bunda, adek nggak akan sering-sering ikut papa, adek akan jaga bunda dirumah."
" Pinter..." Mereka pun berpelukan
Tak berapa lama.
" Eh pelukan koq nggak ajak ayah?" Dzaky langsung mendekati ibu dan anak yang sedang berpelukan dan ikut memeluk erat mereka.
" Ayah bau.....!" ucap Sean Sam menghindar dari pelukan ayah. Dzaky mengendus bau badannya.
" Hehe...iya, tadi ayah lagi bantuin pembersihan mesin, bau oli."
" Sana ayah mandi dulu." Aulia mendorong suaminya untuk segera mandi.
Setelah teguran Aulia, Tara mulai jarang membawa Sean pergi tapi Tara malah sering datang kerumah bermain dengan Sean walaupun di jam kerja, membuat Aulia jadi serba salah Karena merasa tidak enak dengan keberadaan Tara sementara Dzaky suaminya sedang bekerja.
Aulia sibuk dengan hp karena mendapat beberapa orderan pakaian.
" Alhamdulillah, walaupun masih sedikit tapi sudah mulai menunjukkan hasil." Ucap Aulia sambil terus memandangi hpnya.
" Eh kenapa senyum-senyum sama hp?" kata Tara
" Ini aku dapat orderan baju kak."
" Kamu buka online shop?"
" Iya kak. Eh kakak kesini mau ngapain?" saat Aulia menyadari keberadaan Tara di dapur.
__ADS_1
" Kakak mau minta minum haus."
Aulia segera mengambilkannya
" Kak?"
"Ya?"
" Emm sebenarnya aku nggak enak kalau kakak kesini lagi nggak ada ayahnya Sean nanti muncul fitnah."
" Kamu nggak usah dengerin orang yang penting kita nggak ngapa-ngapain. Lagian kakak kesini dengan izin Dzaky ul."
Aulia hanya tersenyum kaku, dia bisa apa kalau Dzaky sudah mengizinkan. Mungkin nanti dia perlu bicara ke suaminya.
Saat sebelum tidur Aulia mengutarakan masalah Tara.
" Yah?."
" Ya nda?."
" Yah, bunda nggak enak kalau kak Tara sering kerumah di saat ayah nggak ada. nanti kalau muncul fitnah bagaimana?"
" Ayah percaya sama Tara, dia bukan orang yang seperti itu. Ayah juga nggak akan percaya sama omongan orang selagi ayah nggak melihatnya langsung."
" Tapi yah!."
" Sudah nggak usah di pikirin. Bagaimana kalau kita buat adek untuk Sean, sudah rajin tapi kok belum jadi...? kayaknya harus lebih rajin atau kita perlu buat program hamil nda? kita Konsul ke dokter Fatma."
" Sedikasinya aja yah, konsulnya nanti kalau sudah satu tahun nggak jadi."
" Kita mulai."
" Ayah nih ." Aulia memukul lengan Dzaky malu-malu saat posisi Dzaky sudah di atas Aulia.
Dengan sedikit memberikan ****** pada dada dan leher istrinya Dzaky melancarkan tugas utamanya menebar bibit kecebong dengan berbagai gaya.
" Apa? Maaf nda ayah akan lebih pelan lagi. Ayah terlalu bersemangat. " ucap Dzaky sambil melum** bib** Aulia.
Setelah penyatuan yang begitu nik*** terasa, mereka kembali tidur setelah membersihkan diri.
Pagi harinya Aulia bangun dengan kepala terasa berat namun dia tetap melakukan tugasnya memasak dan membersihkan rumah di bantu suaminya.
" Bunda kenapa?" Tanya Dzaky saat Aulia duduk sambil memegangi kepalanya.
" Sedikit pusing yah."
" Ya sudah sisanya biar ayah yang lanjutin."
Dzaky membereskan pekerjaan istrinya yang belum selesai dan langsung membangunkan Sean dan memintanya untuk mandi sementara Aulia tiduran di sofa depan tv.
Setelah selesai semua Dzaky bersiap untuk pergi kekantor.
" nda?"
" Ya yah."
" Ayah kerja dulu, kalau ada apa-apa segera telpon ayah. Atau nggak kita ke rumah sakit dulu."
" Nggak usah cuma pusing, ayah kerja aja." kata Aulia sambil bangun untuk duduk di bantu suaminya.
" Ayah pergi dulu, dek jagain bunda ya?" kata Dzaky sambil mencium kening istrinya.
" Iya yah."
" Assalamualaikum."
__ADS_1
" Waalaikumsalam."
Siang harinya Tara baru pulang dari meeting diluar, dia meminta supirnya untuk mengantarkannya ke rumah Dzaky.
" Bob kita berhenti di depan rumah Dzaky."
" Bukannya pak Dzaky di kantor pak?" tanya si supir bingung melihat bossnya mau kerumah Dzaky yang dia tau Dzaky berada di kantor."
" Iya."
Dan tidak ada pertanyaan lagi dari si supir walaupun begitu banyak pertanyaan di dalam kepalanya untuk bossnya. Terlalu kepo itu tidak baik fikir si supir tersenyum sendiri saat melihat bossnya sudah turun dan membawa beberapa kantong kresek.
" Assalamualaikum...."
" Waalaikumsalam, papa...." pelukan hangat Tara terima dari Sean. Inilah yang membuat Tara sangat menyayangi Sean dia begitu menyenangkan hati.
" Ini papa bawa apa?" Menunjukkan kantong yang tadi dia bawa.
" Apa ini pa?"
" Buka aja."
Mata Sean langsung berbinar bahagia. " Terimakasih kasih papa...ini mainan yang lagi viral di toktok. Yey yeyeyeye."
" Sean suka?"
" Suka.... Sekali."
" Bunda mana sayang?" tanya Tara yang tidak melihat keberadaan Aulia. Biasanya Aulia akan keluar untuk sekedar menyapanya.
" Bunda lagi sakit pa.."
" Sakit apa?"
" Kepalanya pusing."
" Sekarang bunda dimana?"
" Itu" Tunjuk Sean ke ruang tv sementara matanya tetap fokus pada mainan pemberian Tara.
Tara langsung masuk mendekati Aulia yang duduk sambil memijat keningnya.
" kamu sakit ul?"
" Eh kak Tara?" Aulia kaget melihat keberadaan Tara dirumahnya
" Kamu sakit?" ulang Tara
"Iya sedikit pusing." Aulia menjauh dari Tara
" Ayo kakak antar ke rumah sakit."
" Nggak usah bentar lagi juga sembuh."
" Ul?" Tara menggenggam Tara Aulia, Aulia langsung menarik paksa tangannya
" Kak jangan melewati batas."
" Jujur kakak masih cinta dan sayang sama kamu."
" Kak kita sudah memiliki pasangan masing-masing!." ucap Aulia kesal.
" Apa salahnya kalau Kakak cinta dan menyayangi kamu?"
" Salah lah kak! kita ini sudah punya pasangan tidak sedang sendiri seperti dulu."
__ADS_1
" Kakak tidak berniat memiliki mu, rasa ini biar kakak yang rasakan. Kakak hanya ingin tahu, apakah kamu masih memiliki perasaan yang sama?"
" Jelas..." kata-kata Aulia terpotong saat mendengar bunyi ketukan sepatu yang terbentur lantai. Mereka saling melihat.