
"Sakit nda? tahan ya.....nggak lama lagi sampai. Ya Tuhan kenapa jauh sekali!" Omel Dzaky. Dzaky mengira kalau Aulia menangis karena sakit yang dirasakannya, padahal karena Aulia terharu menerima perhatian Dzaky yang selama ini tidak di dapatkannya.
Kalau boleh menghentikan waktu, mungkin Aulia akan melakukanya sekarang. Waktu berhenti di saat Dzaky suaminya memberikan perhatian dan rasa sayangnya.
Perjalanan yang biasanya terasa dekat, sekarang terasa sangat jauh di kala panik dan khawatir menjadi satu.
" Ya Allah nda....kenapa bisa pendarahan?" Dzaky mengarahkan pandangannya pada daster istrinya yang sudah basah oleh darah.
" Nggak tau.....yah, tiba-tiba perut bunda sakit dan mengeluarkan darah" Ucap Aulia sambil mengepalkan tangannya menahan sakit.
Dzaky menyadari sedikit banyak pasti karena ucapannya hari ini yang melukai hati Aulia, membuat Aulia setres.
Tiba di rumah sakit, Dzaky memarkirkan mobil dengan sembarang. Dzaky langsung menggendong Aulia sambil memanggil suster. Suster yang berjaga pun sigap. Melihat ada orang berteriak dan menggendong istrinya, suster langsung berlari membawa kursi roda.
Aulia sudah berada di ruang UGD, sementara Dzaky menunggu di luar.
Dzaky teringat dengan Sean anaknya, anak yang terlupakan saat keadaan panik.
" Ya Allah sean! Koq bisa lupa. Bagaimana ini!"
Dzaky bingung harus menghubungi siapa, meminta pertolongan untuk menjaga sean. Kalau dulu Dzaky bisa minta tolong kepada Tara. Kalau sekarang, tidak mungkin meminta pertolongan orang yang sudah membuat rumah tangganya berantakan.
Dzaky sedang berpikir, siapa orang yang bisa dimintanya untuk menjaga Sean.
" Ya....Bagas. Aku minta tolong Bagas saja untuk menjaga Sean" Dzaky mengingat kalau dia masih punya sahabat, tidak mungkin meninggalkan Aulia sendiri. Takutnya nanti di butuhkan untuk mengambil keputusan.
Saat mencari hp, Dzaky baru teringat kalau dia lupa membawanya.
" Astaghfirullah, bagaimana ini? Aku lupa membawa hp" Dzaky sudah seperti orang gila, yang berbicara sendiri.
" Oh iya tadi Aulia membawa tas, mudah-mudahan ada hpnya di dalam"
Dzaky berlari secepat kilat menuju mobilnya untuk mengambil hp.
" Alhamdulillah" Ucap Dzaky saat melihat hp Aulia di dalam tasnya.
" Gas, bisa minta tolong kamu ke rumah, aku di rumah sakit. Aulia pendarahan dan aku lupa membawa sean, aku juga lupa mengunci pintu" cerocos Dzaky saat sambungan teleponnya diangkat.
Bagas yang baru bangun, langsung menerima panggilan telepon dari Dzaky tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
" Oh lo Dzak!" Ucap Bagas dengan suara khas orang bangun tidur. Bagas melihat lagi nama penelepon, tertulis Aulia istri Dzaky.
Dzaky kesal, pasti Bagas tidak mendengar apa yang tadi dikatakannya Dzaky harus mengulangnya.
" Gas...Aku minta tolong, kamu sekarang kerumah"
"Lo gila dzak! ini masih jam satu, mau ngapain...." perkataan Bagas terpotong.
" Gas, kamu dengerin aku dulu! Tolong kamu sekarang kerumah, Sean sendirian di rumah. Rumah tidak aku kunci, aku tadi buru-buru, Aulia pendarahan, sekarang aku di rumah sakit" Ucap Dzaky dengan perlahan, dia tidak ingin mengulang lagi.
" Kenapa nggak bilang dari tadi!" Bagas bergegas bangun mengambil kunci dan membangunkan Sinta istrinya untuk berpamitan.
" Gimana keadaan Aulia sekarang?"
" Belum tau, Dokternya belum keluar"
" Yasudah, Lo tenang aja, gue langsung kerumah lo!"
" Terimakasih Gas"
__ADS_1
" Ya, lo urus Aulia dengan baik, Sean biar sama gue"
" Siapa pa?" Tanya Sinta saat panggilan telepon telah terputus.
" Aulia pendarahan, sekarang di rumah sakit. Sean di tinggal di rumah, papa mau jemput Sean dulu"
" Ya Allah, semoga Aulia baik-baik saja" Doa Sinta.
Dzaky akan pergi saat sambungan teleponnya telah berakhir. Tapi seorang security memanggilnya.
" Pak maaf di larang parkir di sini"
" Maaf pak saya buru-buru, Tolong bapak parkiran yang benar"
Dzaky menyerahkan kunci mobilnya Dan berlari pergi.
" Eh..di kiranya aku tukang parkir!" Pak security menggelengkan kepalanya, tapi tetap memarkirkan mobil Dzaky ketempat yang benar. Pak security paham mungkin Dzaky sedang menemani keluarganya, apalagi saat melihat jam. " Mungkin keluarganya sedang kritis" Ucap pak security.
" Aulia, apa nggak seharusnya suami kamu tahu kondisi kamu sekarang?" Ucap Dokter Fatma, dia berlari kencang mendengar Aulia pasiennya masuk UGD, dia tau betul kondisi Aulia, karena baru beberapa jam yang lalu memeriksa kandungan Aulia.
" Aulia mohon Dok, jangan beritahu kondisi sebenarnya kepada kak Dzaky"
" Ya sudah itu keputusan kamu, saya tidak akan bertanggung jawab seandainya suami kamu nanti marah"
" Dia tidak akan marah dok, kami akan segera berpisah setelah bayi ini lahir"
Saat memeriksakan kandungan, Dokter Fatma telah mengatakan kalau kondisi Aulia sedang tidak baik. Kaki bengkak, tensi darah tinggi. Dugaan Dokter Fatma Aulia terkena preeklampsia. Keadaan berbahaya untuk si ibu, jika terus melanjutkan kehamilannya, tapi Aulia juga belum bisa mengeluarkan bayinya, paru-paru bayi belum sempurna di usia 8 bulan. Persalinan normal akan membuat ibu kejang jika tidak kuat namun tindakan secar juga tidak bisa dilakukan dengan tensi darah tinggi. Jalan satu-satunya menormalkan tensi darah terlebih dahulu, tapi Aulia tidak ingin di rawat. Aulia juga telah menceritakan masalah rumah tangganya, dan Dokter mengatakan itu salah satu penyebab tensi darah tinggi, yaitu setres.
" Baiklah bunda tidak akan memberitahukan pak Dzaky, tapi kamu harus di Rawat selama beberapa hari. Kalau kamu tidak mau, terpaksa bunda akan memberitahu suamimu.
Aulia mengangguk.
" Terimakasih Bun" Ucap Aulia tulus sambil menggenggam tangan Dokter Fatma yang sejak tadi mengelus perutnya.
Selesai mengurus administrasi istrinya, Dzaky menemani mendorong ranjang Aulia menuju ruang rawat inap yang tadi di pilihnya.
Dzaky juga telah mendengarkan penjelasan Dokter Fatma yang mengatakan bahwa penyebab Aulia pendarahan itu karena setres.
" Yah...."
" Ya?" Dzaky mendekat saat Aulia memanggilnya, mereka telah berada di Kamar rawat inap yang nyaman. Dzaky memilih ruang VIP.
" Sean..Sean bagaimana yah?"
" Kamu tenang saja, Sean di rumah Bagas. Tadi aku minta tolong Bagas untuk menjemput Sean"
" Syukurlah" Ucap Aulia lega.
" Sekarang kamu istirahat, kamu harus bad rest beberapa hari. Maaf mungkin ucapan ku telah menyakiti mu?"
" Yah....Tetaplah seperti ini, bunda tidak mau ayah mengacuhkan bunda" Ucap Aulia sambil menangis.
Lama Dzaky tak menjawab.
" Yah..Bunda mohon! sampai anak ini lahir, itu saja"
" Kamu tidak usah banyak pikiran, bersyukur dia masih bisa di selamatkan" Ucap Dzaky sambil terus mengelus perut Aulia. Anaknya tidak seaktif sebelumnya, ada rasa khawatir di benak Dzaky.
" Dedek bayi akan kuat jika ayah kembali seperti dulu" Ucap Aulia sambil menggenggam tangan Dzaky yang berada diatas perut besarnya.
__ADS_1
" Gelas yang sudah pecah tidak akan bisa kembali sempurna seperti dulu" Ucap Dzaky melepaskan tangannya dari genggaman Aulia.
" Tapi bukan Bunda yang memecahkan gelas itu yah, itu semua kesalafahaman!"
" Baik itu kamu atau orang lain, gelas itu sudah pecah. Tidurlah besok pagi aku akan pulang membawa pakaian dan menjemput Sean" Dzaky kembali menuju sofa untuk mengistirahatkan tubuh dan fikirannya yang lelah. Pikirannya selalu memihak Aulia tetapi egonya meminta untuk menjauhi Aulia.
Aulia terdiam lama kelamaan dia tertidur.
***
Keesokan harinya, Aulia bangun sudah ada Sean yang duduk sambil memakan keripik dari indojuni. tapi tidak ada Dzaky di ruangan itu. Aulia melirik jam, ternyata sudah jam 7.
" Abang diantar siapa nak?"
Sean mendekati bundanya
" Abang diantar om Bagas, sekarang di depan lagi sama ayah"
" Anak bunda pinter, sudah wangi lagi! siapa yang mandiin?"
" Tadi Tante Sinta mau mandiin Abang tapi Abang nggak mau, Abang mau mandi sendiri. Bunda?"
" Ya?"
" Bunda sakit apa?"
" Bunda sedikit sakit perut, tapi sekarang sudah nggak lagi, Abang nggak nangiskan tadi malam?"
" Nggaklah bunda, Abang kan sudah besar! Kata om Bagas bunda sakit, jadi Abang tidur sama mas Baim dulu. Tadi pagi Abang main sama adik Kia, dia seneng senyum-senyum"
" Pinter....."
Dzaky masuk dengan menenteng tas yang berisikan pakaian ganti, ternyata sebelum kesini Bagas meminta Sinta untuk mengambil pakaian ganti untuk mereka.
" Mas Bagas mana yah?"
" Sudah pulang, Sinta membawakan kita pakaian ganti" Ucap Dzaky dingin.
" Yah, adik bayi sakit juga ya? Apa adik sudah mau keluar?"
" Belum sayang, adik bayi sehat di dalam perut bunda. Bulan depan adik bayi baru keluar. Ayah mau mandi dulu, Abang sama bunda ya?" Sean mengangguk.
Setelah mandi Dzaky membantu Aulia mengganti bajunya.
Aulia tersenyum mendapatkan perhatian suaminya.
" Kamu kenapa?"
" Terimakasih ya yah?"
" Kamu jangan GR, aku hanya tidak ingin di cap sebagai suami yang tidak bertanggung jawab. Aku hanya melakukan kewajiban ku" Aulia tetap tersenyum, walaupun perkataan Dzaky melukainya. Aulia merasakan ketulusan dari semua tindakan Dzaky.
Dokter Fatma melakukan visit, berpesan supaya orang-orang sekitar tidak membuat si ibu setres, padahal dokter menyinggung Dzaky. Dia tidak bisa mengatakan langsung, Dzaky bisa curiga kalau Aulia telah menceritakan semua permasalahannya kepada orang lain.
like
like
like readers yang baik.
__ADS_1