Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 83


__ADS_3

Dua hari sejak mimpi buruk yang Dzaky alami, dia memperlakukan istrinya seperti semula, bahkan lebih baik dari sebelumnya.


" Bunda beneran nggak mau ke rumah sakit?" Tanya Dzaky, entah sudah yang ke berapa kalinya hal itu ia tanyakan ke istrinya. Semenjak mimpi itu, Dzaky selalu membujuk Aulia untuk kontrol, tapi Aulia selalu menolak karena dia merasa baik-baik saja.


" Nanti kalau sudah kontraksi baru kita kerumah sakit, sepertinya adek masih betah dalam perut bunda" Ucap Aulia sambil mengelus perut buncitnya.


" Tapi kalau sudah terasa, cepat hubungi ayah"


" Iya........Ayah jangan khawatir"


" Suami mana yang tidak khawatir, kalau istrinya sudah melewati hplnya. Ayah tidak tenang"


" Percaya bunda, semua sudah ada waktunya. Kan bunda Fatma bilang, kalau hpl itu bisa maju bisa mundur yah..."


" Tapi Waktu Sean...."


" Jangan membandingkan yah....adek akan keluar, kalau sudah saatnya" Aulia memotong perkataan suaminya gemas.


" Ya sudah, ayah berangkat dulu. Hp jangan jauh-jauh"


" Iya....."


" Assalamualaikum"


" Waalaikumsalam" Aulia menatap kepergian suaminya dengan tersenyum. Suaminya kembali hangat bahkan lebih hangat dari sebelumnya, Aulia sangat berterimakasih dengan mimpi yang di alami suaminya.


Sore hari, Aulia merasakan perutnya mulas. Tapi Aulia belum mau menghubungi suaminya, karena satu jam lagi suaminya itu akan pulang.


" Bunda..."


" Ya?"


" Abang mau makan mie"


" Tunggu bunda masakin dulu" Aulia berjalan pelan memegang perut dan pinggangnya.


Saat akan mengambil mie di set kitchen atas, Aulia kembali merasakan mulas. Aulia menunduk lama, sambil beristighfar.


" Apa adek sudah mau keluar? Tunggu sebentar ya, kita tunggu ayah pulang" Ucap Aulia sambil meringis.


" Bunda.....sudah?"


" Belum sayang"


" Bunda kenapa?"


" Perut bunda sakit?"


" Sedikit"


" Kalau sakit langsung ke WC aja nda" Aulia tersenyum mendengar perkataan Sean, sakit perut versi Sean berbeda dengan sakit perut versi Aulia.


" Iya, Abang tunggu sebentar ya"


" Iya" Sean kembali ke depan, kembali bermain dengan susunan Lego yang hampir menyerupai gedung bertingkat.


Lagi-lagi Aulia merasakan perutnya sakit. Dengan menahan sakit, satu mangkok mi goreng pesanan Sean jadi.


" Ini bang, habisin!"


" Iya"


Saat meletakkan sepiring mie ke atas meja. Sean tidak sengaja menumpahkan gelas yang berisi air di atas pangkuan bundanya.


" Maaf bunda..... Abang tadi mau kasih ke bunda"


" Iya nggak apa-apa, sebentar lagi bunda mau mandi, Abang mau mandi bareng bunda?"


" Abang mau mandi sama ayah nda...." Aulia hanya mengangguk, merasakan rasa mulas yang datang lagi. Aulia berfikir, hanya kontraksi palsu, karena beberapa hari ini , Aulia memang sering merasakan mulas, tapi belum ada tanda-tanda lainnya, seperti flek.


" Sudah nda"


" Bunda.... mienya sudah Abang habisin"


" Hah..." Aulia tersadar dari lamunannya, ternyata Aulia melamun cukup lama, sampai Sean sudah menghabiskan mienya.


" Mie Abang sudah habis"


" O....tarik aja, nanti bunda yang beresin"


" Assalamualaikum...." Suara Dzaky menggema di dalam rumah.


" Waalaikumsalam"


" Lagi ngapain jagoan ayah?"


" Buat gedung yah"


" Pinter....tinggi sekali bang!"

__ADS_1


" Abang suka gedung tinggi" Dzaky mengangguk dan menciumi pipi chubby Sean.


" Nda?"


" Ya?"


" Itu, daster bunda basah"


Aulia menarik daster bagian belakangnya, saat Aulia berdiri hendak memindahkan mangkok kotor bekas mie ke wastafel.


" O...ini tumpahan air minum Abang tadi"


" Kirain ayah...." Dzaky pikir air ketuban.


" Apa?" Dzaky hanya menggelengkan, menampilkan senyumnya.


" Ayah gaje"


" Apa gaje?" Dzaky mengernyitkan dahi.


" Gak jelas!"


" O...sudah berani ngatain ayah, ya?" Dzaky berdiri, mencium pipi Aulia gemas.


" Sudah yah, geli" Aulia coba menghindari ciuman Dzaky.


" Ayah mau mandi dulu"


" Sana, ayah bau"


" Walaupun nggak mandi satu Minggu, ayah nggak akan bau nda... Coba sini cium ketek ayah"


" Nggak!"


" Biar Bunda tau, ayah ini keringatnya wangi"


" Mana ada keringat wangi! asem yah, yang ada" Ucap Aulia tertawa mendengar perkataan Dzaky.


" Sini sini, coba dulu"


" Mandi sana! Nanti bunda mual"


" Iya ... Bunda juga ganti baju, nanti masuk angin basah gitu"


" Iya, kita gantian kamar mandinya"


" Ayah.....Abang ikut ayah mandi"


" Ayo sini..pantes ayah cium bau asem, belum mandi ternyata"


" Abang sengaja, Abang mau mandi bareng ayah"


Sean dan Dzaky mandi di kamar Sean dan Aulia mandi di kamarnya.


Setelah sudah mandi mereka kembali duduk di depan tv, menikmati kartun yang masih selalu kecil, walaupun yang nonton sudah pada tua.


" Ayah mau bunda buatin teh, atau kopi?"


" Abang mau susu coklat" Malah Sean yang menjawab pertanyaan Aulia.


" Ayah teh aja"


Aulia berjalan pelan sambil mengelus perutnya.


" Nda?"


" Ya?" Aulia berhenti dan berbalik menatap suaminya.


" Bunda apa nggak ganti Daleman?"


" Kenapa?" Aulia bingung dengan pertanyaan suaminya.


" Itu daster bunda basah lagi"


Aulia menarik dasternya dan melihat dasternya basah.


" Bunda sudah ganti, masa iya sudah mandi nggak ganti Daleman yah.... Air apa ini yah?" Aulia nampak berfikir.


Dzaky menurunkan Sean dari pangkuannya dan menghampiri istrinya.


Dzaky mencium daster istrinya yang basah.


" Bunda nggak ngompol yah...." Ucap Aulia melirik kesal, mengira suaminya menyangka kalau dia ngompol.


" Bukan, ini bukan air ketuban nda?" Aulia nampak berfikir.


" Bunda lihat dulu" Aulia hendak pergi ke kamar.


" Sini aja, lihatnya" Aulia melirik Sean.

__ADS_1


" Abang fokus nonton, Abang juga sudah ngantuk" Sean membantu membuka dalaman istrinya, memastikan prasangkanya.


" Ketuban ini nda!" Panik Dzaky, melihat ada flek dan lendir di dalaman istrinya yang sudah basah.


" Bunda apa nggak mules? Ayo cepat ganti kita ke rumah sakit!" Dzaky dengan sigap membantu istrinya mengganti pakaiannya dan membawa koper perlengkapan bayi yang Aulia sudah siapkan.


" Mules...cuma bunda fikir, kontraksi palsu karena sudah dari kemarin mulesnya"


" Bunda itu harus lebih peka sama tubuh bunda"


Dzaky memakaikan diapers untuk orang dewasa ke Aulia, untuk menahan air ketuban yang terlihat terus keluar. Perjalanan mereka cukup memakan waktu, kurang lebih 40 menitan, tergantung jalanan ramai atau sepi.


Sean sudah tertidur di belakang, dia sangat mengantuk karena siang hari tidak tidur, sibuk membuat gedung dari susunan Lego.


" Bunda itu harus memperhatikan, tanda-tanda yang terjadi di tubuh bunda" Omel Dzaky.


" Bunda itu sudah hamil besar, yang seperti ini harusnya bisa di hindari"


" Kenapa nggak bilang kalau sudah terasa mulas!"


" Kan ayah sudah bilang! apapun yang bunda rasakan segera beritahu ayah" Dzaky mengomel karena khawatir.


Aulia memegang lengan suaminya, Dzaky mengalihkan pandangannya dari fokus menghadap depan, Dzaky menatap istrinya.


" Sudah ngomelnya?"


" Huft...Ayah bukan ngomel nda...Ayah khawatir" Ucap Dzaky lembut.


" Percaya bunda, Bunda baik-baik saja"


" Bagaimana baik-baik saja, itu ketuban sudah pecah!" Dzaky kembali mengomel.


" Hahaha..." Aulia tertawa.


" Kok ketawa?"


" Ayah sudah seperti, emak-emak yang ngomelin anaknya"


" Masih bisa ketawa?"


" Ini cuma rembesan, belum pecah ketuban yah"


" Jangan sok tahu! deres seperti itu, koq di bilang rembesan"


" Nggak deres yah...."


" Ngeyelnya kamu itu nda......Di kurangi"


" Ha..ha...Aduh aduh" Aulia meringis merasakan perutnya kembali mulas.


" Nah kan! Masih nggak percaya!"


Dzaky menepi.


" Ayah mau ngapain?"


" Kita lihat, nanti kepala adek nyangkut"


" Hahaha...Kerasa kalau sudah mau keluar yah"


" Siapa tau, air ketuban pecah aja kamu nggak sadar"


" Sudah, ayo jalan lagi"


" Kita lihat sebentar!"


" Kalau kepala bayinya keluar, ayah mau apa?"


" Emmm....bantu narik"


" Ayah ini, seperti baru kali ini menghadapi istrinya yang mau lahiran. Ini anak ke dua kita yah....."


" Iya, tapi kan keadaannya beda. Dulu kamu mulas air ketuban belum pecah"


" Jangan ngabisin waktu, jalan!"


Aulia mulai tak bersuara, jeda kontraksi yang di rasakannya mulai dekat.


" Kontraksi?" Aulia hanya mengangguk.


Dzaky semakin panik.


like


like


like


sad ending or happy ending readers? Maunya?

__ADS_1


__ADS_2