Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 85


__ADS_3

Sekarang Aulia sudah di pindahkan di ruangan VVIP, Dzaky benar-benar ingin keluarganya nyaman, terutama untuk istrinya yang sudah melewati banyak keadaan yang menegangkan.


Aulia belum sadar saat di pindahkan, Sean sudah tertidur saat suster yang Dzaky percaya menjaga Sean, mengantarkan Sean.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, itu artinya hampir 2 jam Aulia tidak sadarkan diri.


" Bunda.......ayah sangat takut, ayah takut kalau bunda meninggalkan ayah, sama seperti mimpi ayah" Dzaky menggenggam tangan Aulia, sementara Sean berbaring di ranjang yang di sediakan tak jauh dari ranjang Aulia dan bayi mereka masih tertidur nyenyak setelah Dzaky menimangnya cukup lama. Bayi mereka belum mendapatkan ASI dari Aulia, Kata dokter anak bayi bisa bertahan 24-48 jam tanpa asi saat baru di lahirkan.


Dzaky merebahkan kepalanya di samping leher Aulia, menghirup aroma khas dari tubuh Aulia, itu bisa menenangkannya.


Aulia mulai membuka matanya dan langsung sadar kalau suaminya tidur di sampingnya, Aulia tahu, bagaimana lelahnya Dzaky. Suaminya merupakan suami siaga.


Perlahan Aulia mengangkat tangannya yang masih tertancap infus dan masih menerima transfusi darah.


Aulia membelai lembut wajah dan rambut Dzaky.


" Ayah, suami yang sangat bertanggung jawab. Sekali pun ayah sedang marah atau kesal" Aulia meneteskan air mata.


Tatapan Aulia beralih pada box bayi di sebelahnya.


" Dek, Alhamdulillah kamu baik-baik saja. Adek sudah banyak merasakan kesedihan saat masih di dalam perut, sekarang bunda akan selalu membahagiakan adek" Aulia menghapus air mata yang masih menetes di ujung matanya.


" Bukan hanya bunda, tapi ayah juga akan membuat adek selalu bahagia. Itu untuk menebus kesalahan ayah, yang selalu buat bunda sedih saat mengandung adek" Ucap Dzaky, ternyata Dzaky bangun saat merasakan belaian istrinya tadi.


" Ayah!" Aulia memandang suaminya lama.


Dzaky tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya, untuk mengungkapkan rasa bahagia dan rasa terimakasih atas perjuangannya istrinya. Tapi malah kebablasan, Dzaky dan Aulia sangat menikmatinya dalam waktu yang cukup lama, karena terakhir Dzaky menyentuh Aulia saat sebelum pertengkarannya dengan Tara.


" Ayah, sssttth" Aulia meringis merasakan nyeri pada bagian bawahnya.


" Maaf, ayah jadi khilaf" Dzaky terkekeh, dan menyatukan keningnya dengan kening istrinya masih dengan nafas memburu.


" Puasa yah...." Aulia ikut terkekeh.


" Bunda sic! nyambut ayah, jadi ayah lupa kalau bunda baru lahiran.


" Maafkan ayah, bunda sudah mengalami hal yang menyakitkan hari ini" Dzaky sedikit membungkuk memeluk Aulia.


" Sini, ayah naik!" Aulia menggeser pelan tubuhnya, agar suaminya bisa tidur di sebelahnya. Dzaky tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk selalu dekat dengan istrinya.


Dzaky tidur menyamping, sambil menggenggam tangan istrinya.


" Terimakasih sudah berjuang melahirkan anak-anak ayah, nda" Aulia tersenyum, kepalanya menghadap Dzaky.


" Terimakasih ayah juga sudah berjuang untuk kami"


" Sudah cukup! Anak kita sudah sepasang, ayah tidak mau bunda hamil dan melahirkan lagi. Dari melahirkan Sean dan menghadirkan anak ke dua, bunda selalu kesulitan. Cukup, ayah tidak menginginkan menambah anak lagi"


" Bunda akan menuruti semua perkataan ayah, Siapa nama adek yah?"


" Azalia Hasanah, Azalia itu bayi yang di lindungi dan bisa juga gabungan dari Dzaky dan Aulia dan Hasanah dari nama belakang bunda" Dzaky tadinya ingin memberi nama Aurora Kylia Hasanah, tapi Dzaky mengingat pernah menyebutkannya dalam mimpi buruk yang masih terus melintas di kepalanya. Dzaky bergidik ngeri, kalau sampai menamai bayinya sama dengan nama yang ada di dalam mimpinya itu

__ADS_1


" Nama yang bagus, panggilannya za! Ibu pasti sangat senang dari atas sana, karena bunda melahirkan dengan selamat dan rumah tangga kita kembali membaik"


" Bukan cuma almarhumah ibu yang senang, Almarhum papa ayah juga sangat senang mendapat cucu perempuan. Kata bunda papa pengen punya anak perempuan, tapi bunda sudah tidak mau, karena terlalu sibuk mengajar"


" Tidurlah, ayah pasti sangat lelah. Setelah seharian bekerja dan menjaga Bunda"


" Bunda yang lebih lelah! Ayah belum bisa percaya kalau tangan ayah sendiri yang membantu adek za lahir ke dunia"


" Ayah hebat! Ayah sudah membantu bunda dan adek Ditambah menjaga Abang"


" Karena bundanya bandel sich!"


" Kok bandel?"


" Coba kalau dari kemarin mau Kalau ayah ajak kerumah sakit, pasti bunda tidak akan mengalami semua ini. Bunda Fatma juga bilang, kalau bunda mengabaikan semua pesannya"


" Soalnya bunda Fatma bilang, kalau bunda harus segera menjalani operasi secar. Bunda takut"


" Beliau tau yang terbaik untuk pasiennya, yang penting bunda masih bersama kami, sekarang" Dzaky memeluk istrinya.


" Ayah nggak kepikiran kalau bunda bisa lahiran di dalam mobil"


" Bunda juga, maunya di rumah sakit tapi adek sudah tidak sabar mau keluar, malah mau ayahnya yang nyambut"


" Begitu berat perjuangan seorang ibu saat menghadirkan buah hatinya ke dunia, semoga kalian selalu sehat"


" Bukan hanya kami, tapi kita yah. Belum kasih kabar ke keluarga yah?"


" Yah, bunda mau minum"


" Ya tunggu" Dzaky mengambil air tepat di meja sebelahnya dan membantu Aulia minum.


"Ayo kita tidur" Ucap Dzaky kembali merebahkan diri dan memeluk Aulia, tapi belum juga terlelap, bayi mereka menangis.


" Oek oek oek" Dzaky dan Aulia berpandangan dan langsung tersenyum.


" Adek haus ya?" Dzaky mengambil bayi Za dan memberikannya ke Aulia, Dzaky juga membantu Aulia untuk menyusui.


" Adek masih nangis? Sepertinya ASI nya belum banyak yah"


" Sini" Dzaky membantu memberi pijatan lembut ke payu**** Aulia, sama seperti yang suster ajarkan saat kelahiran Sean dulu.


" Aduh....."


" Nyeri?" Aulia mengangguk. " Perjuangan bunda nak, nanti kalau kamu besar jangan bandel sama bunda, kamu dalam kandungan, lahir dan menyusui. Bunda banyak berkorban!"


Dzaky terus melakukan pijatan lembut, sampai bayi mereka kembali terlelap.


" Sini ayah pindahin. Sudah kenyang cantik?" Dzaky mencium gemas bayi perempuannya. " Kalau Abang tau, bisa heboh dia"


" Iya, dia yang paling nggak sabar nunggu adek lahir"

__ADS_1


Sepasang suami istri itu kembali melanjutkan kegiatan tidur yang tadi sempat terganggu dengan tangisan bayi mereka.


***


Keesokan harinya, Sean bangun lebih pagi karena mendengar tangis bayi yang begitu kencang saat dimandikan. Dzaky sudah lebih segar karena sesudah subuh mandi dan berganti pakaian, Dzaky juga yang memandikan Aulia dan menggantikannya. Dzaky tampak sangat terlatih, mengurus keluarga kecilnya.


" Adek bayi......" Panggil Sean, saat bayi itu sedang menyusu. Tadi saat bayi itu menangis Sean panik sendiri, mondar mandir, membuat Dzaky dan Aulia tertawa di buatnya.


" Maafin ayah"


" Maaf untuk apa yah?" Aulia bingung, tiba-tiba suaminya bilang maaf.


" Adek bayi menggunakan Semua bekas perlengkapan Abangnya, Ini, topi biru! Padahal anak cewe" Ucap Dzaky sendu.


" Nggak apa-apa, masih bagus"


" Harusnya anak cewe itu, serba pink"


" Ini pink!" Tunjuk Aulia pada kaos kaki putrinya.


" Iya, masa cuma itu! ayah ngerasa menyesal terlalu larut dalam masalah, sampai mengabaikan bayi cantik kita yang akan lahir"


" Ayah adek sudah lepas Nene*nya" Sean bersuara saat melihat adiknya tertidur dan tidak menyusu lagi.


" Iya adek bobok" Jawab Aulia.


" Adek siapa namanya?"


" Za" Jawab Dzaky sambil mengambil alih bayi mereka dari tangan Aulia.


" Adik ja" Sebut Sean.


" Za bang, no ja" kata Dzaky.


" Iya! ja"


" Pakai huruf zet bukan je" Kesal Dzaky.


" Iya jet yah!"


" Sudahlah yah, nanti Abang bisa. Lidahnya masih belajar" Ucap Aulia, melihat kekesalan di wajah Dzaky.


" Iya, tapi kan ayah sudah susah-susah kasih nama yang keren Za, mal diganti ja!"


" Ayah ini! Abang betul bilangnya" Sean ikut kesal.


"Iya-iya, sudah sini. Abang sudah jadi Abang, nggak boleh marah-marah" Kata Aulia mengakhiri perdebatan ayah dan anak itu.


*like


like*

__ADS_1


__ADS_2