
Sudah dua hari Tara dan Maura menginap di rumah Aulia, walaupun ada rasa tidak enak tapi mereka sangat membantu dalam menjaga Sean.
Aulia bangun dengan lesu dan wajah pucat karena sedari pagi dia muntah terus menerus.
" Apa mau di bawa ke Dokter mba Aulia?" Tanya Amira, dia ingin mengajak Aulia sarapan karena tak kunjung keluar akhirnya Amira menyusul kekamarnya Aulia dan melihat Aulia sedang muntah-muntah di kamar mandi. Amira memang sedikit tahu tentang morning sicnees yang memang wajar dialami ibu hamil tapi dia tidak tahu bagaimana cara menguranginya.
" Nggak usah mba" Aulia menggeleng sambil terus memuntahkan isi perutnya.
" Tapi kamu terlihat pucat mba?"
" Nggak apa-apa mba, sudah biasa" Jawab Aulia sambil keluar kamar mandi.
" Yasudah ayo kita sarapan mba, mba Aulia pasti lapar karena sudah banyak muntah dan pasti perutnya kosong"
" Ayolah" Dengan lesu Aulia mengikuti ajakan Amira.
Ternyata di meja makan sudah ada Tara dan Sean.
" Anak bunda sudah bangun sayang?" Aulia langsung mendekati Sean dan mencium puncak kepalanya.
" Ia nda, terus di mandiin mama" Jawab Sean sambil mengunyah.
" Yasudah Sean terusin sarapannya. Terimakasih ya mba sudah sangat membantu, aku nggak tau kalau nggak ada mba" Ucap Aulia tulus
" Iya mba, aku juga senang Sean anak yang pintar dan menggemaskan"
" Kamu kenapa ul? kok muka kamu pucat?" Tanya Tara yang dari tadi terus memperhatikan Aulia.
" Nggak apa-apa kak, biasa kalau pagi sering mabuk"
" Mabuk gimana?" Tanya Tara yang memang tidak mengetahui perihal mabuk saat hamil muda.
" Itu lho kak, kalau sedang hamil muda ibu-ibu sering mengalami mual dan muntah di pagi hari" Jelas Amira
" Ya... kakak mana tau, kakak kan nggak pernah berhubungan sama yang namanya ibu hamil muda! baru tau ini" Ucap Tara yang terlihat mengkhawatirkan Aulia.
Deg
Ucapan Tara sangat menusuk hati Amira walaupun Tara tidak bermaksud menyakitinya. Aulia yang melihat perubahan pada wajah Amira merasa tidak enak karena dia mereka jadi berdebat.
" Sudah ini nggak apa-apa" Ucap Aulia
" Tapi muka kamu pucat sekali, kita harus ke rumah sakit takutnya terjadi apa-apa sama kandungan kamu ul..."
__ADS_1
" Kak, tadi Amira sudah mengajak mba Aulia untuk periksa, tapi mba Aulia bilang dia setiap pagi seperti ini." Jelas Amira yang tidak ingin di kira tidak memperdulikan Aulia.
" Kamu mana tau tentang ini, memangnya kamu pernah hamil!" Ucap Tara walaupun dengan nada biasa tapi lagi-lagi sangat menyakiti hati Amira.
Amira terdiam!
Aulia pun merasa bersalah dan tidak enak kepada Amira karena Tara telah menyinggung perasaan Amira gara-gara dirinya.
" Kak Tara sudah! ul memang seperti ini setiap pagi dan Dokter juga sudah mengatakan ini tidak apa-apa, sudah biasa dialami banyak ibu hamil muda pada umumnya" Aulia coba menjelaskan agar semuanya mengerti dan tidak perlu mengkhawatirkannya. Di rasa semua sudah mengerti Aulia pamit untuk kembali ke kamar karena kepalanya terasa sedikit pusing di tambah mualnya yang masih terasa.
" Kamu nggak sarapan ul?" Tanya Tara yang menyadari Aulia belum menyentuh apapun.
" Nanti saja kak, perut ul masih sedikit mual nanti kalau sudah lebih baik ul akan makan. Mba Amira maafkan aku yang nggak bisa bantu mba, tinggalkan saja semuanya nanti siang biar aku yang beresin" Amira hanya mengangguk dan tersenyum.
Tara pun langsung pamit pergi ke kantor dengan mencium puncak kepala Sean dan mengabaikan istrinya.
Jujur, kalau Amira tidak mencintai suaminya mungkin dia lebih memilih untuk menyerah dari pada tersakiti setiap harinya. Untuk menghapus rasa sedihnya Amira mengajak Sean pergi belanja ke indojuni.
Di dalam kamar Aulia yang sedang berbaring menahan pusing dan mual mendapat telepon dari suaminya.
" Assalamualaikum yah?"
" Waalaikumsalam sayang....Ayah kangen"
" Bunda juga" Jawab Aulia lemah.
" Sedikit yah" Jawab Aulia dengan mata terpejam.
" Sudah makan? sudah minum susunya?" Tanya Dzaky khawatir.
" Belum yah, belum bisa masuk nanti malah keluar lagi"
" Ya Allah nda, harus masuk sesuatu nanti bunda lemes nggak ada tenaganya, dedek juga butuh asupan nda..."
" Iya, ayah koq tambah bawel sic"
" Bawelnya untuk kebaikan anak dan istri tercinta" Aulia tersenyum mendengarnya.
" Iya nanti nda makan dan minum susu"
" Sean mana?"
" Ke indojuni beli jajan pamit mba Amira"
__ADS_1
" Oh.. Yasudah jangan telat makan, harus dipaksakan! Ayah mau ke pertemuan dulu sudah terlambat, emmmuach untuk bunda dan dedek"
" Emmmuach untuk ayah tersayang" Sebenarnya Aulia ingin menceritakan kejadian tadi pagi saat di meja makan tapi suaminya sedang sibuk dan Aulia memutuskan untuk tidak jadi menceritakannya.
Hari ini di lewati seperti biasa oleh orang-orang yang berada dalam rumah Aulia, hanya pagi tadi sedikit berbeda karena perdebatan kecil. Pada tengah malam Aulia kembali bangun untuk makan, hanya malam hari dia bisa menyantap makanan tanpa merasa mual. Seperti biasa malam ini juga Tara bangun memasak untuk Aulia walaupun Aulia sudah sering menolaknya Tara tetap melakukannya karena hanya malam hari dia bisa lebih dekat dengan Aulia tanpa kehadiran Amira.
" Kak, ul kan sudah bilang ul bisa memasak untuk diri ul sendiri kakak tidak perlu melakukannya." Ucap Aulia kesal, dua malam kemarin Aulia merasa bahwa Amira tidak tahu Tara yang memasak untuk dirinya tapi siapa tau malam ini Amira terbangun dan terjadi kesalahpahaman, itu akan membuat Aulia merasa lebih tidak enak.
" Kakak tau ul, kamu bisa menyiapkannya sendiri, tapi kakak yang mau. Kakak mau merasakan menyiapkan sesuatu untuk istri yang sedang hamil"
" Tapi ul bukan istri kakak!" Ucap Aulia yang semakin kesal mendengar alasan kak Tara yang di rasa menganggap dirinya seperti istrinya.
" Kakak tau ul, kamu tidak tau apa yang Kakak rasakan. Kakak belum pernah merasakan menyiapkan sesuatu untuk istri kakak yang sedang hamil atau merasakan perasaan menanti kehadiran anak atau bahkan mengurus anak sendiri. Kakak ingin merasakan semua itu ul" Ucap Tara terdengar sangat menyedihkan, Aulia pun merasa bersalah atas semua perkataannya yang sudah menyinggung perasaan Kak Tara.
" Emm, ul minta maaf kak. Bukan maksud ul untuk menyinggung perasaan kakak, hanya saja ul merasa tidak enak kalau sampai mba Amira tahu semua yang kakak lakukan untuk Aulia kak!"
" Harusnya kakak tau diri tidak boleh menganggap kamu seperti istri kakak, Tapi kakak hanya ingin merasakan perasaan seorang suami yang menanti kehadiran seorang anak! Apa Kakak salah?" Ucap Tara dengan mata berkaca-kaca.
Aulia menjadi merasa bersalah membuat kak Tara hampir menangis.
" Sekali lagi ul minta maaf, mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kakak dan mba Amira. Suatu saat Allah akan menitipkan seorang anak kepada kalian kak! Kakak harus lebih bersabar dan berdoa"
" He..." Tara tersenyum sambil berkata " Itu tidak mungkin ul"
" Kakak jangan berbicara seperti itu! Kakak harus percaya sama Allah"
" Kakak percaya sama Allah, tapi apakah kakak masih bisa berharap setelah tau Amira itu mandul Aulia..." Jatuh sudah air mata yang dari tadi Tara tahan.
Aulia hanya bisa diam dia tidak menyangka kalau mba Amira itu mandul karena selama ini Amira tidak pernah mengatakan kalau dirinyalah yang tidak bisa memberikan seorang anak untuk Tara, selama ini dia mengatakan mereka berdua dalam keadaan baik.
Aulia yang melihat Tara menangis langsung mendekatinya dan menepuk pundaknya untuk memberikannya semangat, Aulia tidak tau harus berkata dan berbuat apa.
Sementara itu Amira yang mendengar semuanya hanya bisa menangis sambil menutup mulut dengan kedua tangannya tidak menyangka bahwa suaminya akan menceritakan kekurangannya kepada wanita yang menjadi saingannya yang terlihat lebih sempurna di bandingkan dengannya.
Memang setelah Amira mengetahui suaminya bangun malam memasak untuk Aulia, dia juga selalu bangun untuk mengetahui apa saja yang mereka lakukan. Istri mana yang bisa tidur tenang setelah mengetahui suaminya bangun untuk perempuan lain Walaupun sejauh ini Aulia terlihat selalu berusaha menolak.
Like
like
like
like
__ADS_1
Yang ngelike, komentar, pokoknya yang sudah berkunjung semoga di berikan rezeki yang banyak.
ππ