
Sudah 2 hari Aulia di Rumah Sakit, hari ini waktunya Aulia untuk pulang, Kondisi Aulia dan bayinya sudah sangat stabil walaupun Aulia belum boleh banyak bergerak, Mereka sudah berkemas. Ibu tidak jadi datang kemarin karena Adi minta ikut dan akhirnya menunggu kondisinya benar-benar sehat.
Di perjalanan mereka asyik mengajak bayi kecil yang belum tau apa-apa itu mengobrol.
"Alhamdulillah kita pulang hari ini dek, adek senangkan!"
" Bosankan dek di Rumah Sakit? oh ya katanya Bagas mau kerumah nda, mau lihat dedek bayi."
" yey......ada bang Baim ke Rumah nanti, adek ada kawannya."
Setibanya di rumah Aulia dan bayinya langsung disuruh istirahat di kamar oleh Dzaky, sementara dia sibuk membereskan rumah dan barang-barang dari rumah sakit, dia begitu bersemangat.
Siang harinya mereka kedatangan Bagas dan keluarga yang ingin melihat bayi mereka. Baim begitu antusias melihat bayi Aulia dan Dzaky.
" MasyaAllah ganteng banget bayi kalian Lia." Sinta sangat takjub melihat bayi tampan yang sedang tertidur di box bayi yang mereka letakkan di ruang tv.
" Wah bibit unggul ini bro!"
" aim au li at pa." pinta Baim
" Ini teman Baim nanti nak."
" Gimana kemarin prosesnya lia? kami nggak tau kalau kamu lahiran soalnya papa Baim bilang mas Dzaky cuma mau nemenin kamu di rumah takut melahirkan nggak ada yang nungguin."
" Pulang lembur itu Aulia ternyata sudah sakit perut jadi langsung aku bawa ke Rumah Sakit."
" Untung lembur nggak sampai malam kan ky? apa Aulia nggak ngehubungi lo?"
__ADS_1
" Nggak, makanya aku sedikit kesel waktu pulang lihat dia sudah kesakitan, tapi nggak jadi kesel karena langsung panik."
"Gimana lia?"
" Ya.... Alhamdulillah lancar." jawab Aulia tersenyum
" Alhamdulillah, tapi...apa nggak susah ni lahirannya? bayinya aja sebesar ini! Berapa?"
" Aku yang takut melihat prosesnya sin, susah keluarnya nyangkut di jalan lahir lama. Beratnya 4700 gram."
" Wah salut aku sama kamu Lia, bayi kamu hampir lima kg. Baim dulu aja cuma 3 kg sudah mati aku ngeluarin ya."
" Hebat istri lo bro, pantesan ni bayi kayak umur 2 bulanan gitu, eh namanya siapa?."
" Namanya Arsean Athallah." jawab Dzaky
" Panggilannya pasti Sean? namanya sesuai mas, anak kalian rada kebule- bulean. Mata, Rambut dan kulitnya mirip sama Aulia."
" Harusnya lo bersyukur, Anak Lo tampan kayak gini. Nanti yang kedua usahain mirip lho." hahaha Bagas tertawa.
" Aim au Awa ulang oleh ma?" ha ha ha tawa mereka pecah mendengar permintaan Baim.
" Ya nggak boleh sayang, ini kan anaknya Tante Aulia sama om Dzaky. Dedeknya perlu minum susu mamanya." jelas Sinta.
" Tapi Aim au edek ayak ini ma......"Baim marah.
" Nanti Baim minta sama mama dan papa ya sayang!" kata Dzaky
__ADS_1
" Oleh ma? Aim au esek ayak ini."
" Nanti ya nak."
" Cekalang ma....hixs hixs."
" Lo bro, ni anak kalau sudah minta itu harus." ucap Bagas frustasi dengan anaknya yang minta dedek bayi.
" Hahaha tinggal proses aja, sudah waktunya itu Baim punya adik." Dzaky tertawa melihat Bagas pusing dengan permintaan anaknya.
" Ayah.....jangan gitu." tegur Aulia yang melihat Dzaky iseng terhadap temannya.
" Maaf nda..."
" Moga cepet sembuh ya Aulia, Dedek bayi cepat besar nak supaya bisa main sama mas Baim. Ini hadiah kecil dari mas Baim." Sinta menyerahkan kotak kado besar kepada Dzaky.
" Kami pulang dulu bro." Bagas pamit pulang untuk membujuk anaknya yang minta adik bayi.
" Assalamualaikum"
" Waalaikumsalam, terima kasih kadonya"
Sepulang Bagas, Dzaky dan Aulia mulai membicarakan acara tasyakuran baby Sean, yang akan mereka selenggarakan jika keluarga mereka sudah berkumpul hanya memanggil tetangga dan anak panti asuhan. Hanya acara kecil-kecilan.
****
Acara tasyakuran pun dilaksanakan karena seluruh keluarga telah berkumpul. Kak Bian sekeluarga, Firman sekeluarga Adi dan ibu dari pihak Aulia dan dari pihak Dzaky hanya mama dan Naufal yang datang dan juga teman-teman kerja Dzaky juga datang meramaikan acara.
__ADS_1
Acara begitu hikmat walau hanya acara sederhana dengan memotong dua kambing acara itu terasa sangat membuat bahagia semua yang hadir. Doa dan lantunan ayat suci Alquran membuat suasana semakin damai dan tenang.
Begitu banyak yang mendoakan bayi mereka, begitu banyak pujian yang keluar dari mulut yang melihat bayi tampan nan menggemaskan itu. Mama begitu bahagia dan bangga tak henti-hentinya menggendong cucu pertamanya. Ibu Aulia memaklumi apa yang di lakukan besannya mengingat itu cucu pertamanya sementara bagi ibu Aulia itu merupakan cucu ke lima.