
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam Dzaky memutuskan untuk memencet tombol merah karena sudah tidak tahan melihat istrinya yang sekarang merintih sambil mengeluarkan air mata.
" ya pak? " suster masuk bersama bidan yang bertanggung jawab memantau kemajuan Aulia, jika sudah siap melahirkan mereka baru akan memanggil dokter Fatma.
" Bu, tolong periksa lagi istri saya" ucap Dzaky cemas kepada bidan yang usianya lebih muda dari dokter Fatma.
" Kita periksa ya bu? bisa dibuka dulu kedua kakinya Bu?"
"aduhhhhh dok astaghfirullah" ketika jari Bu bidan mulai memeriksa pembukaan Aulia kembali mengasuh sakit sambil meremas lengan suaminya .
" Alhamdulillah bukaannya sudah pembukaan 7, mulai menunjukkan kemajuan sepertinya sudah tidak lama lagi Bu..."
Aulia mengucap syukur pembukaannya meningkat.
" masih bisa jalan-jalan Bu? " tanya Bu bidan
" sepertinya istri saya sudah tidak kuat berjalan " jelas Dzaky yang melihat istrinya memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.
" iya, melihat perut ibunya yang besar sekali seperti hamil bayi kembar pastinya susah, minumnya jangan lupa diminum supaya nggak dehidrasi Bu kalau ada apa-apa terus kabari, kami akan selalu memantau Bu." dan Bu bidan pun langsung pamit.
" lama ba.....nget yah" tangan Aulia sudah gemetar menahan sakit.
" sabar ya nda " Dzaky hanya bisa terus mengelus perut istrinya berdoa agar proses kelahiran anaknya dilancarkan, sambil sesekali menyeka air mata yang keluar terharu melihat perjuangan istrinya. Tadi dzaky sempat meminta Aulia untuk melakukan operasi saja namun Aulia tidak mau merasakan sakit dua kali karena telah merasakan pembukaan dia tidak ingin merasakan sakitnya dioperasi.
Waktu pun telah menunjukkan jam 12 malam namun belum juga ada tambahan pembukaan, masih berada pada pembukaan tujuh padahal sudah 2 jam berlalu dari pembukaan yang terakhir. Dzaky sebenarnya sangat lelah dan lapar karena selesai lembur dia memutuskan untuk langsung pulang dan meninggalkan bagian nasi kotak untuk dirinya karena mengkhawatirkan istrinya yang tinggal menunggu hari kelahirannya sendirian di rumah.
"yah....?"
" ya nda?" Dzaky yang sedang menundukkan kepalanya disela tangan yang sedang mengelus perut istrinya langsung menegakkan badannya mendengar panggilan istrinya, takut Aulia membutuhkan sesuatu.
__ADS_1
" ayah...kalau capek atau ngantuk tidur aja" Aulia yang sangat lemah merasa kasihan melihat suaminya yang baru pulang lembur langsung mengantarkannya ke Rumah Sakit, Aulia sangat yakin kalau suaminya belum makan, padahal dirinya sendiri pun belum makan sejak merasakan perutnya yang mulas tak tertahankan.
" ayah nggak ngantuk nda, bunda kalau bisa tidur di tidurin aja supaya nanti ada tenaga buat ngeluarin dedek bayi, ayah tetap jaga bunda disini" masih terus mengelus perut Aulia sambil membaca ayat-ayat yang bisa mempermudah kelahiran istrinya.
Jam sudah menunjukan pukul 1 malam
Aulia yang berusaha untuk tidur tiba-tiba terbangun merasakan cairan yang keluar dari sela-sela pangkal pahanya dan langsung merasakan mulas yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata, hanya bisa beristighfar dalam hati.
"yahhhhhhh" teriak Aulia reflek karena sakit yang tak berhenti terus memutar disekitar perut dan mendorong bagian bawah intinya.
" ya sayang? kenapa nda?" Dzaky langsung berdiri memeluk istrinya yang meremas pinggang dan perutnya. Tak lupa tangannya memencet tombol merah berharap tenaga medis segera datang.
Tak berapa lama Bu bidan datang dan langsung memeriksa dan mengucap syukur karena pembukaan sudah naik menjadi 9 dan air ketuban pun sudah pecah, Bu bidan pun segera menyiapkan proses kelahiran sementara suster diminta untuk memanggil dokter Fatma di ruangannya.
" Bu, pembukaan sudah hampir lengkap kita siapkan proses kelahirannya ya bu? sebentar lagi dokter Fatma datang.
" Alhamdulillah sayang sebentar lagi kita akan ketemu sama jagoan kita" ucap Dzaky sambil menahan tangis sementara Aulia hanya tersenyum dan tak lupa menarik nafas lalu keluarkan secara teratur guna menekan rasa sakit.
"Baiklah Bu, sudah siap?" tanya dokter Fatma guna mencairkan suasana tegang yang dirasakan Aulia dan Aulia yang ditanya hanya bisa mengangguk.
" jangan mengejan kalau belum terasa mulasnya ya bu!"
aba-aba sang dokter
"semangat bunda!" Dzaky menyemangati sang istri.
"aaarrhhgggghhhh hu hu hu" Aulia mulai berteriak di tengah rasa mulas yang tak tertahan dia bahkan lupa cara mengejan yang diajarkan ketika melakukan senam hamil.
" jangan berteriak Bu, ibu haru mendorong menekan perut ibu bayinya sedang mencari jalan keluar Bu..."
__ADS_1
Dzaky hanya bisa memegang tangan dan membantu mengangkat kepala Aulia saat sang isteri mencoba untuk mengejan. Kalau bisa memindahkan rasa sakit melahirkan dia ingin rasa sakit itu dia yang rasakan, rasanya tidak tega melihat Aulia yang berusaha mengeluarkan anaknya sampai wajah putih yang cantik itu memerah menahan sakit.
"Ayo Bu kita coba lagi" Bu dokter memandu Aulia di bantu Bu bidan dan beberapa suster.
"Eeeeeekkkkkkkk aaarrhhgggghhhh, ya Allah dok saya sudah gak sanggup hu hu hu" ucap Aulia yang terus mencoba mendorong tapi tetap belum berhasil.
" ayo Bu.....terus" Bu bidan membantu mengangkat kaki Aulia dan menempelkannya ke perut guna memperlebar jalan keluar si bayi.
"aaaaarrrgggggghhhh aaaaaaaaaa" sekuat tenaga Aulia berteriak tak kuat menahan sakit.
" jangan teriak Bu! itu akan membuat tenggorokan ibu sakit." dokter memperingati aulia, Dokter dapat melihat pasiennya sudah lupa cara mengejan.
" hixs hixs sakiiiiiiit Bu...." rintih Aulia.
" sabar sayang, bunda bisa." Dzaky pun sudah mulai ikut menangis melihat istrinya menangis.
Akhirnya dokter meminta Dzaky untuk naik keranjang pasien duduk dibelakang Aulia menjadi penyanggah dan membantu mendorong perut istrinya. Tadinya Dzaky ragu namun dokter menyemangati Dzaky untuk membantu istrinya akhirnya Dzaky menyanggupinya.
Dzaky sudah memposisikan dirinya di belakang istrinya dengan tangan sudah berada diperut istrinya yang tak berbungkus dengan sedikit mengelus dan menunggu aba-aba dar dokter Dzaky menyelipkan doa dan kata " ya Allah permudahkan istri hamba melahirkan ya Allah. Dek bantu bunda cepatlah keluar sayang" ucap Dzaky dalam hati.
Aulia sudah memegang kedua tangan suaminya yang berada di depannya, dan mengumpulkan semua kekuatan yang ada untuk mengeluarkan bayinya.
Dengan aba-aba dari sang dokter Dzaky mendorong dan menekan perut Aulia. Aulia pun berusaha dengan mencoba mengejan yang benar menurutnya.
" 123 ayo pak tekan kedepan perut istrinya" itulah aba-aba yang diberikan Dokter Fatma.
"eeeegggggghhh" suara Aulia bersamaan dengan perutnya yang ditekan oleh Dzaky sakit yang tak terkira yang ia rasakan. Dzaky langsung melihat kearah istrinya yang sedang bernafas pendek-pendek tak terasa air matanya menetes jatuh keatas perut besar istrinya.
like
__ADS_1
like
like