
Seperti yang Sean katakan tadi siang, malam ini Sean sudah berada di kamar ayah bundanya untuk tidur bersama memimpikan sang adik bayi yang masih berada di dalam perut.
" Bang, Abang tidur di kamar Abang aja"
" Tapi Abang kan mau ikut ayah mimpiin adek" ucap Sean yang sudah memeluk bantal guling dan berada di tengah ranjang.
" Mimpinya dari kamar Abang aja, nggak harus tidur di sini" Dzaky masih berusaha membujuk sang anak.
" Sudah yah, biarkan Sean tidur di sini" Ucap Aulia yang baru saja masuk ke kamar.
" Tapi..." Ucap Dzaky terpotong saat istrinya meletakkan jari telunjuk ke bibirnya dan langsung mengarahkan pandangannya ke Sean yang terlihat sudah tertidur.
" Ayah bisa pindahin Abang pelan-pelan kan?"
Melihat kode dari istrinya Dzaky langsung mengangguk cepat dan menggendong Sean secara perlahan dan memindahkan ke kamar Sean.
" Maaf ya bang, ayah pindahin Abang besok Abang boleh tidur sama ayah dan bunda tapi jangan malam ini" Cup Dzaky memberikan kecupan selamat malam ke anaknya.
Dzaky kembali ke kamarnya dan melihat Aulia sedang duduk di ranjang sambil memainkan hp.
" Sudah main hpnya nda..." Ucap Dzaky sambil mengambil hp yang istrinya pegang dan meletakkannya di atas meja.
Dzaky langsung mendekati istrinya dan merebahkan kepalanya di paha istrinya sambil memeluk perut yang belum terlihat membuncit itu.
" Emmm ayah kangen banget sama kalian, di sana ayah nggak fokus selalu kepikiran bunda yang setiap pagi mual dan muntah" masih menciumi perut Aulia.
" Bunda juga, sebenarnya mau bunda itu pengen deket sama ayah terus" kata Aulia sambil mengelus kepala suaminya yang berada di atas pahanya.
" Dedek memang anak ayah"
" Ya iyalah lah yah memang ayah pikir anak siapa?" Kesal Aulia mendengar perkataan suaminya.
" Maksud ayah itu.... gimana ya ngomongnya? Kalau Abang kan selalu pengen deket bunda nah si dedek pengennya Deket ayah, gitu lho nda...jangan marah dulu"
Dzaky membuka sedikit baju di bagian perut Aulia dan mengelusnya. Tangan Dzaky sudah tidak bisa di kondisikan, sudah menjalar kemana-mana. Aulia pun membiarkannya, entah karena bawaan hamil atau sudah beberapa hari tidak ketemu suaminya, diapun memiliki hasrat yang tinggi bersama suaminya.
" Yah...." Akhirnya desa*** yang sejak tadi ditahan Aulia keluar karena ulah si tangan suaminya yang sudah merem** buk** kembar miliknya dan kali ini Dzaky mengu***nya.
Dengan sedikit usaha, seluruh paka*** Aulia terlepas dan dzaky sudah berada di atas istrinya dengan keadaan yang sama.
" Kenapa bunda semakin hari semakin ****"
" Ayah juga ni perut makin kotak-kotak aja, tubuh ayah semakin berotot"
" Itu demi bunda, supaya bunda nggak tertarik dengan yang lain"
" Bunda mana pernah ngelirik cowok lain yah, semua yang ayah punya sudah sangat sempurna bagi bunda"
__ADS_1
" Bunda bisa aja bikin ayah senang, nggak terasa hampir 5 tahun kita berumahtangga nda, semua sudah sempurna di tambah lagi akan hadir si dedek diantara kita menambah kebahagian kita" Ucap Dzaky sambil terus menciumi perut istrinya.
" Ia yah" Masih sambil melakukan kegiatan ranjang mereka mengobrol.
" Cepet yah, bunda sudah mau keluar"
Dzaky memacu cepat pin*gulnya untuk memberikan kenikmatan kepada istrinya.
dan " Akh......" Suara Dzaky memenuhi seisi kamar, tanda diapun sudah selesai. " Terimakasih sayang" Dzaky mengecup kening istrinya dan merebahkan tubuhnya kesamping dengan tangan masih memeluk istrinya.
" Ayah hidupkan air panasnya dulu biar kalian nggak masuk angin" Aulia hanya mengangguk.
Mereka pun memutuskan untuk mandi bersama dengan air hangat yang telah Dzaky siapkan.
Setelah selesai membersihkan diri Aulia dengan mata memelas mengatakan lapar.
" Anak ayah lapar sudah ayah tengok? Tunggu ayah masakan sesuatu yang pastinya bunda dan adek suka" Dzaky bergegas ke dapur mengeluarkan sayur dan daging, Aulia hanya mengikuti tanpa boleh menolong.
" Bunda kupasin bawang ya yah?"
" Nggak usah, bunda sama dedek duduk aja lihat ayah" Ucap Dzaky sambil mendorong istrinya untuk duduk di meja makan. " Ayah sudah kangen masakin bunda, di sana ayah sering kepikiran kalau malam bunda laper siapa yang masakin?" Aulia terlihat salah tingkah tidak mungkin mengatakan kalau kak Tara yang selalu menyiapkan makanan di setiap malam dirinya lapar. " Bunda pasti repot masak sendiri, nyiapin sendiri pasti capek" Aulia hanya tersenyum.
" Ayah mau masak apa?" Aulia mengalihkan pembicaraan.
" Masak nasi goreng spesial pake cinta" Membuat Aulia tersenyum bahagia mendengar gombalan suaminya.
Tapi tiba-tiba Aulia merasakan kram pada bagian perut bawahnya, Lama di tahannya sambil memegang perutnya dan Dzaky menyadari perubahan pada raut wajah istrinya yang seperti sedang menahan sakit. Dzaky langsung mendekati Aulia dan berjongkok di depan istrinya.
" Sedikit kram yah" Aulia meringis menahan sakit.
" Apa tadi ayah mainnya terlalu kencang makanya perut bunda jadi Sakit?" Tanya Dzaky khawatir.
" Enggak sayang" Aulia mengelus wajah khawatir suaminya.
" Masih sakit nda?" Tanya Dzaky yang melihat istrinya tersenyum.
" Sudah nggak yah, mana nasi goreng spesial pake cintanya?"
" Tunggu tadi ayah kecilin apinya" Dzaky bergegas menyiapkan nasi gorengnya " Tarra....nasi goreng spesial pake cinta sudah jadi, siap di santap adek bayi dan bunda"
" Terimakasih ayah sayang"
" Iya... perutnya gimana masih sakit?"
" Sudah nggak yah"
" Sering kram?"
__ADS_1
" Nggak baru ini"
" Kita besok cek ke Dokter dulu, mungkin ayah main terlalu kasar sangking semangatnya"
" Nggak usah, dua Minggu lagi jadwal kontrolnya. Mungkin adek seneng ayah jenguk"
" Nanti kita tanyakan sama dokter apa nggak apa-apa kram kayak gitu?"
" Baru kali ini, nanti kalau sudah beberapa kali baru kita cek sayang, ini nasi gorengnya cuma satu piring?" Aulia yang melihat hanya dirinya yang makan.
" Ia ayah sudah kenyang makan tadi"
" Nggak ayah juga harus makan, ayah kan sudah ngeluarin tenaga buat jenguk adek" Merekapun saling melempar senyuman dan Aulia menyuapi suaminya untuk makan bersamanya. Setelah selesai makan mereka kembali tidur.
Keesokan harinya, Dzaky bangun lebih dulu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga termasuk menyiapkan sarapan.
" Lho ayah koq sudah bangun...dan ini semua ayah yang siapin? ini juga semua ayah yang bersihin?" Aulia menatap meja makan yang sudah tersedia sarapan dan melihat sekeliling yang sudah bersih.
" Iya karena ayah sa........yang kalian" Ucap Dzaky sambil memeluk erat suaminya.
" Ayah sudah sholat? koq nggak bangunin bunda?"
" Ayah lihat bunda tidurnya nyenyak banget, ayah fikir nanti aja bangunin bunda, ternyata sudah bangun dan sudah wangi"
" Mumpung nggak mual yah..."
" Pinter anak ayah buat bunda nggak mual" ciuman bertubi-tubi Dzaky berikan ke perut Aulia.
" Kayaknya mual parah kemarin karena kangen ayah"
" Ayah janji nggak akan pergi tinggalin kalian lagi, Ayah mandi dulu"
" Bunda......ayah...." Terlihat Sean yang masih mengantuk memanggil mereka.
" Eh....anak ayah sudah bangun" Dzaky langsung menggendong Sean.
" Ayah, koq Abang tidur dikamar bukannya dikamar ayah sama bunda? jadi Abang nggak mimpiin dedek bayi" Ucap Sean sambil cemberut.
" Abang pindah sendiri tadi malam, masa Abang lupa?"
" Iya bunda?"
" Iya...nanti malam tidur di kamar sama ayah bunda, sini Abang mandi sama bunda" Aulia hendak mengambil Sean dari gendongan Dzaky tapi Dzaky langsung menolak memberikan Sean.
" Bunda harus ingat lagi hamil! sudah nggak boleh bawa yang berat, biar Sean mandi sama ayah ayo ganteng...." Dzaky langsung membawa Sean mandi.
Aulia yang melihat Dzaky membawa Sean masuk ke kamarnya merasa sangat bahagia mendapatkan perhatian yang besar dari suaminya. Aulia merasakan sebuah keluarga yang sangat sempurna, laki-laki yang tampan gagah dan baik, juga anak yang tampan dan menggemaskan. Semoga selalu seperti ini itulah doa Aulia.
__ADS_1
like
like