
Satu jam setelah istrinya dipindahkan keruang perawatan Dzaky dipanggil keruang perawatan bayi. Ternyata Dzaky diminta untuk mengadzani bayinya yang telah membaik kondisinya walaupun masih terpasang selang oksigen pada bagian hidungnya.
Dengan air mata haru dan bahagia ayat demi ayat Dzaky lantunkan untuk bayinya, setelah mengumandangkan adzan dan Iqamah Dzaky dapat melihat jelas bayi laki-laki berukuran besar yang berada dalam gendongannya.
" jagoan ayah bunda cepat sehat ya nak! supaya cepet kumpul sama bunda" tak henti-hentinya Dzaky melabuhkan ciuman dipipi gembul bayi laki-lakinya. Bayi laki-laki itu menggeliat geli merasakan pipinya dicium.
Dzaky membaca keterangan yang ada di pinggir box bayinya, panjang badan 54, berat badan 4700 gram, jenis kelamin laki-laki.
" pantesan bunda susah payah ngeluarin adek, berat adek hampir 5kg sayang".
Dzaky tidak bisa lama menemani bayinya ada istri yang juga sedang membutuhkannya.
" Ayah tinggal dulu ya sayang, mudah-mudahan secepatnya dedek bisa bersama bunda. Bunda lagi butuh ayah sayang, muuuach." ciuman penutup untuk pertemuan pertama mereka.
Sebelum kembali keruangan istrinya Dzaky menyempatkan untuk membersihkan diri sekaligus melakukan sholat subuh.
Setiba diruangan istrinya, Dzaky langsung mendekati ranjang di mana Aulia sedang tertidur kelelahan nampak wajah Aulia yang sudah tidak sepucat tadi saat proses melahirkan. Dipegangnya tangan Aulia dan diciuminya.
" Bunda, ayah tadi ketemu sama dedek, dia sehat badannya gemuk, dia setampan ayah." ucap Dzaky sambil tersenyum mengatakan kata tampan.
" Bunda tau rambut adek mirip bunda, ayah suka aromanya." Dzaky terus berceloteh sampai dia tertidur.
Aulia terbangun terkena terpaan matahari pagi, dia memperhatikan keadaan sekitar dan terakhir di pandangnya wajah lelah yang sedang tertidur memegang tangannya.
"Ayah pasti sangat capek, seharian nungguin bunda." ucap Aulia penuh syukur mendapatkan suami seperti Dzaky.
Tak berapa lama pintu kamarnya terbuka, ternyata petugas yang mengantarkan sarapan untuk pasien, dengan cepat Aulia mengarahkan jari telunjuknya ke bibirnya supaya petugas tidak berisik yang nantinya akan membangunkan suaminya, tetapi Dzaky sudah terbangun saat pintu kamar dibuka tapi Dzaky belum membuka matanya.
Setelah kepergian petugas Aulia kembali memandang Dzaky dan tersenyum.
" Kenapa ayah ganteng ya? dari tadi melihat ayah nggak pakai kedip." ucap Dzaky yang masih dengan mata terpejam.
Aulia hanya mengernyitkan dahi dan berfikir suaminya mengigau.
Dzaky langsung membuka matanya dan menampilkan senyum termanisnya.
" lho ayah koq sudah bangun? tidur aja lagi pasti ayah kecapean."
" Lebih capek bunda dari ayah sayang! Terimakasih ya sayang sudah mau melahirkan anak yang tampan untuk ayah."
" Sama-sama sayang, terimakasih juga sudah mendampingi bunda di proses persalinan." mereka saling menggenggam tangan. " Dedek bayinya mana yah?" tanya Aulia yang belum melihat keberadaan bayinya.
" Masih di Ruang perawatan bayi nda."
__ADS_1
" Adek bayi nggak kenapa-kenapa kan yah?" tanya Aulia yang memang tidak mengetahui keadaan bayinya karena setelah bayinya lahir dia langsung tidak sadarkan diri.
" Alhamdulillah sehat sayang, hanya perlu sedikit perawatan karena terlalu lama tertahan di jalan lahir."
" Alhamdulillah ya Allah." ucap Aulia sambil meneteskan air mata bahagia.
" Sudah jangan nangis, bunda sarapan dulu ya? pasti tenaganya sudah habis berjuang untuk dedek bayi."
Dzaky menyuapi istrinya makan dengan begitu perhatian.
" Yah mama sama ibu sudah di kabarin?"
" Belum sayang sebentar lagi kita telpon sama-sama, sakit banget sayang?"
" Apanya yah?" Aulia bingung
" Itunya?" Dzaky menunjuk dengan matanya, Aulia mengikuti arah pandang Dzaky.
" Sedikit yah."
" Ayah ngeri banget melihat proses lahirnya dedek, ayah melihat kepala dedek bayi keluar dan ayah juga melihat dedek bayi keluar seutuhnya bener-bener perjuangan bunda sangat besar, sekali lagi terimakasih sayang." Dzaky memeluk erat istrinya dan mengecup keningnya.
" Itu hal yang luar biasa yang pernah bunda alami yang nggak bisa bunda utarakan lewat kata-kata, bersyukur bisa merasakannya."
" Bunda tau? ayah sangat takut, ayah takut bunda ninggalin ayah, ayah melihat bunda sudah pucat dan terkulai lemas." Dzaky bercerita sambil menangis.
" Ehem ehem assalamualaikum "
" wa Alaikum sallam, eh buk dokter." mereka langsung melepaskan pelukan mereka.
" Bagaimana Bu perasaannya? kita periksa dulu ya?."
" Alhamdulillah sudah lebih baik dok."
" Selamat ya bu bayi nya laki-laki yang besar dan sehat, keadaan ibu juga baik semua normal nanti dokter anak yang akan menjelaskan keadaan bayi ibu. Setelah ini suster akan membantu untuk membersihkan ibu. Sekali lagi selamat ya Bu, saya permisi dulu."
" Iya dok, saya juga berterima kasih."
Setelah kepergian dokter suster membantu Aulia membersihkan diri dibantu sang suami, dengan perlahan suster membuka dan membersihkan tubuh aulia, dzaky dapat melihat area inti sang istri yang masih banyak mengeluarkan darah dan perut istrinya yang bergelambir sebelum di tutup korset untuk ibu hamil. Setelah selesai suster pamit undur diri dan berpesan jika membutuhkan sesuatu bisa memanggil suster yang sedang berjaga.
Tak berselang lama Dokter anak datang bersama suster yang sedang mendorong box bayi.
"assalamualaikum bu? bagaimana keadaannya? perkenalkan saya Dokter anak yang menangani bayi ibu nama saya Dokter Arkan." Dokter muda yang seumuran Dzaky dan juga tampan.
__ADS_1
"Waalaikum sallam Dok, Alhamdulillah sudah baikan dok."
Dokter pun langsung memerintahkan suster untuk memberikan bayinya ke gendongan Aulia, Aulia langsung menangis haru pertama kalinya menggendong sang bayi.
" Selamat ya Bu, bayinya sehat kondisinya sudah sangat stabil, sepertinya adek bayinya sudah sangat ingin bertemu ibu, padahal semalam masih menggunakan oksigen tetapi pagi ini dia tidak memerlukannya lagi." jelas Dokter Arkan ramah.
" Terimakasih ya Dok sudah menolong anak kami." ucap Dzaky
" Itu memang tugas saya pak, saya sangat takjub ibu bisa melahirkan normal bayi dengan bobot yang menurut saya tergolong bayi besar, sekali lagi selamat ya Bu, Suster akan membantu ibu untuk menyusui bayi ibu." pamit Dokter Arkan.
" Terima kasih juga Dok atas bantuannya." dan dibalas senyuman oleh sang Dokter.
Suster pun langsung membantu Aulia untuk menyusui bayinya dengan baik dan benar setelah kepergian Dokter Arkan.
" Awww aw sus sakit." Aulia merasakan nyeri saat bayinya mulai mengisap pu****nya. Dzaky yang melihatnya langsung mendekati Aulia.
"Gak apa-apa Bu, itu biasa bagi ibu yang baru pertama kali menyusui bayinya." suster menjelaskan.
Dzaky tak habis fikir setiap tahap Aulia merasakan kesakitan, begitu banyak pengorbanan seorang ibu.
Setelah Aulia bisa menyusui bayinya dengan benar suster pamit meninggalkan pasangan yang baru berubah statusnya menjadi orang tua.
" Wuih adek lahap bener nene* nya." ucap Dzaky yang melihat sang anak menyusui seperti orang yang belum minum beberapa hari.
" Iya kayak ayahnya." Aulia tersenyum menggoda Dzaky.
" Bunda jangan mancing! ayah ini puasa nda....." Aulia hanya tertawa melihat Dzaky memelas. " Adek matanya mirip bunda ya nda? rambutnya juga, kulitnya juga, lah ini apanya yang mirip ayah? ayah yang ngadon, ayah yang ngasih saham malah gak ada yang mirip ayah." ucap Dzaky yang terus memandangi anaknya.
" Kata orang kalau masih bayi, masih sering berubah-ubah yah, tenang aja."
" Kalau nggak ada yang mirip ayah kita buat season 2 nda?"
"maksudnya yah?"
" kita buat Aulia junior kali ini." he he he
" Ayah ayah jahitan bunda aja belum kering sudah mau buat yang ke dua, inget ayah itu puasa selama 40 hari."
" Iya iya becanda sayang....Ayah juga gak tega harus melihat bunda berjuang dalam waktu dekat, setidaknya sampai dedek usia 5 tahun."
Mereka merasakan menjadi orang tua dari anak laki-laki yang sangat tampan.
like
__ADS_1
like
like