
" Iya! kakak sudah gila Mira. Kamu tau! sebelum kita menikah mengapa kakak meminta untuk bertunangan terlebih dahulu? itu karena kakak ingin memantapkan hati dan melupakan Aulia.
Sebelum pindah kakak meminta Aulia menerima keputusan Kakak untuk serius tapi Aulia menolak dengan alasan ingin membicarakannya dulu dengan keluarga karena kakak ingin mengambil keputusan cepat maka kakak berasumsi bahwa Aulia menolak kakak jadi kakak langsung meminta untuk putus dan pergi tanpa berpamitan dengan Aulia dan keluarganya.
Setelah tiba di penempatan kerja yang baru kakak memutuskan semua kontak yang berhubungan dengan Aulia. Ditambah ibu menjodohkan kita, mungkin ini jalan kakak untuk melupakan Aulia.
Tapi setelah melihat Aulia lagi di sini rasa itu muncul kembali, rasa yang pernah terkubur dan hilang itu datang secara tiba-tiba dan semakin lama kakak mulai merasa cemburu melihat interaksi antara Aulia dan Dzaky." Tara terus mengungkapkan perasaannya yang tertekan tanpa menghiraukan Amira yang menangis pilu mendengar pengakuan suami tercintanya.
Setelah lama diam akhirnya Amira bersuara.
" Baiklah Mira akan membantu kakak untuk mendapatkan Aulia." Kata Amira mantap walaupun terluka, dia tidak ingin kehilangan suaminya di tengah kekurangannya. Apalagi sampai keluarganya dan keluarga Tara tahu kekurangannya yang tidak bisa memiliki anak. Mendukung Tara itu cara supaya mereka tetap bersama.
" Terimakasih Mira kamu memang istri yang terbaik." Ucap Tara memeluk Amira sayang.
" Secepatnya Mira akan membantu kakak, Mira kebelakang dulu melihat kue Mira." ucap Amira tersenyum.
Tara hanya mengangguk dan berbaring menatap langit-langit kamar mereka mengingat kenangannya bersama Aulia.
Amira kembali kedapur melihat kue dalam oven tanpa alas membuat loyang kue terjatuh seketika dari tangan Amira saat Amira merasakan tanggannya terbakar.
Amira langsung menuju keran air, dia menaruh tangannya tadi pada kucuran air yang mengalir dia menangis sesenggukan. Sebenarnya Amira menangis bukan karena tangganya yang terbakar melainkan merasakan sakit pada hatinya mengingat semua perkataan suaminya tadi.
Setelah tangannya terasa lebih baik Amira mengambil salep untuk luka bakarnya.
" Tanganku yang terluka ada obatnya salep ini tapi hati ini...ya Allah mengapa engkau memberikan hamba cobaan sebarat ini." Masih mengalir deras air mata Amira." Apa hamba bisa melewatinya? Kuatkan hamba ya Allah."
Akhirnya Amira tidak melanjutkan membuat kue, dia pergi membawa motor untuk memesan kue untuk acara besok.
💥
Keesokan harinya semua karyawan berkumpul dengan membawa anggota keluarga masing-masing. Tara memang membuat acara seperti ini dua sampai tiga bulan sekali untuk lebih saling mengenal dengan keluarga karyawannya.
" Selamat ya mba Aulia Sean sudah mau punya adik." Kata salah seorang istri teman Dzaky.
" Alhamdulillah mba."
__ADS_1
" Kata Baim, ma Sean pamer katanya dia mau punya adik kayak Adzkia." Kata Sinta
" Iya, Sean memang sangat menyukai Kia."
Mereka asyik mengobrol seputar kehamilan dan baru menyadari kalau dari tadi Amira hanya diam bahkan ucapan selamat pun tak terucap dari Amira, dia seperti berbeda dari biasanya. Jadi ibu-ibu itupun langsung mengganti topik pembicaraan takut perkataan mereka tadi menyinggung perasaan Bu bos yang belum di karuniai seorang anak.
Saat di perjalanan pulang setelah acara tadi selesai, Aulia pun bercerita tentang kejadian tadi di mana Amira yang banyak diam sepanjang acara.
" Yah, tadi banyak yang ngucapin selamat sama bunda, Yang bunda heran mba Amira banyak diam bahkan mba Amira nggak ngucapin selamat sama bunda nggak seperti biasanya." Ucap Aulia.
" Mungkin mba Amira lagi capek."
" Tapi ayah tau sendiri gimana mba Amira sama bunda? dia orang yang paling dekat dengan bunda setelah Sinta. Apa dia merasa sedih karena belum punya anak ya yah?"
" Sekarang lebih menjaga omongan aja saat ngobrol sama mba Amira, jangan terlalu sering menyinggung soal anak dan kehamilan ya bun?" Padahal Dzaky juga ingin menceritakan Tara yang sekarang sering menghindarinya dengan berbagai alasan bahkan telepon dari Dzaky sering tidak di angkat oleh Tara. Tapi Dzaky tidak ingin membuat ingin membuat Aulia kepikiran karena saat ini istrinya tengah hamil muda.
" Iya yah."
Sementara di belakang Sean sedang tertidur kelelahan karena tidak bisa diam saat berkumpul dengan anak-anak lainnya.
Satu Minggu berlalu Tara tidak pernah berkunjung kerumah Dzaky walaupun hanya sekedar bermain dengan Sean atau membelikannya mainan tidak seperti biasanya hampir setiap hari dia bermain dengan Sean atau mengajak Sean jalan-jalan.
" Yah? Kenapa bunda ngerasa mba Amira sedikit berbeda dengan mba Amira yang dulu."
" Berbeda gimana nda?"
" Ya beda. Kalau biasanya mba Amira dalam satu Minggu itu pasti ada main kerumah, tapi ini sudah seminggu nggak pernah main kerumah mas."
" Mungkin lagi sibuk nda."
" Terus biasanya sering SMS atau nelpon, ini bener-bener nggak ada kabar yah..."
" Sudahlah jangan terlalu di fikirkan, nanti anak ayah jadi ikut bundanya mikirin sesuatu yang nggak perlu di pikirin. Lebih baik kita main kerumah Bagas aja gimana?" Ajak Dzaky, karena hari ini Minggu dan mereka sedari tadi hanya rebahan sementara Sean main sendiri.
Setibanya mereka di rumah Bagas ternyata sudah ada Tara dan Amira.
__ADS_1
" Assalamualaikum"
" Waalaikumsalam." Jawab mereka bersamaan
" Sudah lama Sean nggak main sama Adik Kia Nic." Kata Sinta
" Iya, lagi mabok Sint."
" Iya, aku juga gitu kemarin."
" Sudah lama nggak kerumah, di cariin Sean kmau tar?." Tanya Dzaky
" Sean, maaf ya papa sudah lama nggak main sama Sean."
" Iya pa."
" Papa lagi sibuk, mama bantuin papa. Weekend besok kita jalan mau ya?"
" Horee ...."
Mereka seperti dalam posisi canggung, lebih banyak diam. Apalagi Amira benar-benar sangat irit bicara, dia bersuara jika ditanya. Berbeda sekali dari biasanya.
Sementara Amira bingung harus bersikap bagaimana, dia membenci Aulia sekarang tapi sebenarnya dia sadar kalau itu salah karena Aulia tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi. Tapi perasaan itu sudah terlanjur menjalar sulit untuk ia hentikan, sekarang Amira sedang mencoba menata hatinya.
Melihat keadaan seperti tidak bersahabat, Dzaky pamit pulang dengan alasan Aulia menginginkan sesuatu padahal Sean masih asyik bermain.
" Kenapa keadaannya jadi canggung gitu ya yah?"
" Entahlah nda ayah juga nggak ngerti, berfikir positif aja mungkin mereka lagi ada masalah."
" Tapi nggak biasanya mereka kesana tanpa mengajak kita, selalu ngajak kumpul bareng."
Mereka pun larut dengan pemikiran mereka masing-masing sementara Sean sedang merajuk karena di ajak pulang padahal lagi seneng-senengnya main sama adik Kia.
Akhirnya Dzaky membujuk Sean dengan membeli mainan pilihannya dan mereka kembali setelah membeli banyak makanan pilihan Aulia tidak seperti kehamilan pertama Dzaky yang ngidam banyak makanan.
__ADS_1