Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 87


__ADS_3

Hari ini tengah berlangsung pesta sederhana tasyakuran baby girl keluarga Dzaky, semua keluarga berkumpul Adi, termasuk kak firman dan kak Bian sekeluarga, juga mama dan adik Dzaky.


Semua berbaur dan memuji wajah bayi mereka yang mendominasi wajah sang ayah, Sean tidak sama sekali cemburu atas kehadiran adiknya yang mencuri sebagian besar perhatian keluarga besar mereka.


Pesta yang di dominasi warna pink dengan di hadiri anak panti asuhan seperti pesta Sean sebelumnya.


Dzaky dan Aulia sangat menikmati kehadiran bayi perempuan mereka yang lebih kalem dari Sean, bayi yang jarang rewel dan hampir tidak pernah mengajak begadang, setelah menyusui pasti langsung tertidur nyenyak, berbeda dengan Sean bayi yang sering rewel dan banyak begadang.


" Terimakasih nda, selalu sabar menghadapi sikap ayah" Dzaky menggenggam tangan Aulia, mereka sedang duduk bertiga di kursi yang telah di sediakan dengan bayi Za dalam gendongan Dzaky.


" Harusnya bunda yang berterimakasih sama ayah, dengan banyak rintangan yang datang, ayah masih terus menggenggam tangan bunda tanpa mau melepaskan walaupun ayah tidak melihat genggaman tangan kita" Aulia tersenyum menatap bayi Za.


" Maafkan ayah yang pernah meragukan bunda, Cinta Harusnya menyatu kan hati, pikiran dan perasaan ayah ke bunda termasuk cinta Harusnya menyatu kan kepercayaan kita, sehingga tidak ada keraguan dalam hati kita dalam menjalani rumah tangga ini"


" Yang berlalu biarlah berlalu yah, bukan kah hidup itu belajar, itu pelajaran buat rumah tangga kita"


" Ehem ehem, heran gua Dunia berasa milik berdua yang lain makhluk halus" Bagas menggoda.


" Hahaha, lu ganggu aja Gas! lagi mendalami peran ini" Aulia tersenyum malu mengambil Za dari gendongan Dzaky dan pergi meninggalkan teman yang terlihat akan mengobrol.


" Dzak, pak Tara ketangkep di hotel di kota sebelah" Setelah kepergian Aulia Bagas menceritakan tertangkapnya Tara.


" Ouwh" Bagas mengernyitkan dahi mendengar tanggapan Dzaky atas ceritanya.


" Ouwh? cuma ouwh?"


" Kamu mau jawaban apa Gas?"


" Ya, secara kalian itu temen Deket, sudah seperti keluarga, masa cuma gitu aja respon lo atas informasi gue"


" Hahaha... Gas Gas....., kami memang dekat, tapi itu akibat dari perbuatannya. Aku harus apa? aku hanya bisa berdoa semoga dia mendapatkan yang terbaik" Bagas mengangguk-anggukkan kepala.


" Ehem... Dzak, gue denger kabar kalau.....pak Tara ndeketin istri lo"


" Denger kabar dari mana? aku curiga kamu masih keluarganya lambe ndower"


" Haha...asem lo! Bener ya berita itu? malah gue denger...maaf Nic, kabar yang nyebar kalau Aulia selingkuh sama pak tara?"


" Terus kamu percaya?"


" Ya nggak lah, gue tau Aulia, nggak mungkin gitu"


" Kalau kamu percaya ya sudah"


" Ya ampun Gas! klarifikasi dong, kalau itu berita salah"


" Buat apa? kayak artis aja klarifikasi"


" Buat nama baik istri lo lah"


" Sekarang masalah itu udah clear, aku ceritain tapi....kamu adminnya lambe ndower bukan? aku nggak perlu klarifikasi, tapi aku akan menjelaskan supaya ada satu orang yang tau cerita sebenarnya"


" Ya"


" Hah! ya, kamu adminnya lambe ndower?"


" Bener-bener Lo Dzak! ceritain cepet!"


" Sabar...... Aulia itu pernah pacaran sama Tara saat kami di tugaskan di kampungnya Aulia"


" Terus..."


" Kamu dengerin aja, jangan main potong...bikin lama"


" Maaf... lanjutin"


" Mereka putus saat Tara di pindahkan tugas ke kota lain, lebih tepatnya Tara mutusin Aulia, Tara itu cinta pertamanya Aulia"


" Wah......susah di lupain pasti!"


" Ya....maaf lanjut" Bagas melihat muka masam Dzaky.


" Terus kami perlahan dekat, karena sebelumnya aku sama kakaknya Aulia dekat dan kami memutuskan menikah. Saat Tara pindah ke sini perasaan lamanya muncul untuk Aulia"


" CLBK ceritanya"


" Iya gitulah, terus beberapa kali Tara ingin merebut Aulia dan aku sempat ragu dengan kehamilan Aulia"


" Gila Lo Dzak! bisa-bisanya nggak percaya Za anak Lo"


" Makanya itu aku nyesel, pernah sempat meragukan Za, apalagi melihat wajahnya yang mendominasi wajah aku, sedih, kesal, menyesal dan malu"


" Sudahlah yang penting sekarang semua menjadi lebih baik Dzak"


" Iya Gas...."


" Eh di cariin malah di sini ngerumpi" Kata mama Dzaky.

__ADS_1


" Ngerumpi! kita cuma cerita ma...."


" Sama aja...... pembelaan diri kamu bang, sana ke depan ada temen Abang, Aulia lagi nyusuin Za di kamar, kayaknya Za kecapean sedikit rewel, kasihan Aulia"


"Iya ma...."


Setelah menemui beberapa tamu, Dzaky menyusul Aulia ke kamar mereka.


" Adek rewel nda?"


" Iya, mungkin nggak suka rame. Di bawa ke kamar langsung diem, tadi anak-anak pada ngumpul di sini adek rewel lagi. Jadinya di suruh keluar sama mama"


" Mama posesif sama cucu perempuannya, dari kemarin berantem terus sama Sean mau Deket adek Za "


" Kalian sama posesifnya"


" Namanya juga turunan nda.... lagian posesif sama punya sendiri kan nggak apa-apa, kalau punya orang lain baru nggak boleh"


" Iya iya"


" Bunda pasti capek" Dzaky memandang Aulia dalam sambil jari telunjuknya di genggaman bayi Za.


" Sedikit" Tangan Dzaky pindah ke bahu Aulia sedikit memberikan pijatan, tapi detik kemudian bayi Za menangis kencang.


" Posesifnya adek Za sama seperti ayahnya" Dzaky menoel pipi yang mulai gembul bayi Za, dan ajaib bayi Za langsung diam dan tertawa senang.


" Ya ampun dek......ini ayah kita sama-sama" Ucap Aulia mencium gemas bayi Za. Dzaky tertawa melihat istri dan anaknya yang tersenyum.


" Yah"


" Ya?"


" Emmm"


" Apa?"


" Emm, bunda....boleh ngunjungi kak Tara di penjara?"


" Bunda tau dari mana?"


" Berita yah" Lama Dzaky terdiam, terkadang bayangan Tara mencium perut istrinya dan kejadian di dalam kamar masih sering melintas di kepala Dzaky, tapi Dzaky tidak bisa egois. Aulia hanya ingin bertemu.


" Boleh"


" Terimakasih yah..."


" Tapi apa yah?"


" Harus ayah yang nganter dan tunggu 40 hari..."


" Iya sayang...."


" Ya ampun bang..... Abang itu yang punya acara, tapi ngilang terus" Omel mama


" Mama aja..."


" Sembarangan, mama banyak yang nggak kenal..... banyak yang nyariin Abang mau pamit, Za sama Aulia biar di kamar nggak perlu keluar, nanti Za rewel lagi. Abang mewakili, sana"


"Iya iya.... Ayah keluar dulu ya dek.... emmmuach"


" Sana, jangan banyak di cium nanti nangis" Usir mama.


" Oma posesif dek" Bisik Dzaky ke bayi Za, tapi masih terdengar di telinga mamanya.


" Dasar, sana!"


Acara berlangsung dengan lancar, semua bahagia sampai berakhirnya acara. Kado dan amplop banyak di dapat, padahal mereka menolak karena mereka mengadakan tasyakuran ini bukan untuk mendapatkan uang.


Semua keluarga pulang sehari setelah acara tasyakuran di adakan, banyak aktivitas yang akan mereka lakukan.


***


Setelah lebih dari 40 hari usia dedek Za, Aulia menagih janji Dzaky untuk mengantarkannya menemui Tara di penjara. Dzaky dengan berat hati mengantarkan Aulia dengan menitipkan Sean dan Za sebentar ke tetangga yang telah mereka percaya.


Sesampainya di rumah tahanan dan Tara berada dengan kepala tertunduk malu di hadapan Dzaky dan Aulia.


" Maaf" Kata itu terucap setelah Tara duduk.


" Kak....."


" Ul, kamu tidak perlu menyampaikan apapun" Ucap Tara masih belum berani memandang Aulia maupun Dzaky.


" Tar, kenapa bisa melakukan ini! aku percaya kamu tidak akan melakukan hal ini"


Lama tidak ada Jawaban dari Tara


" Kak....aku harap, dengan semua ini, kak Tara akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi" Sungguh berat Aulia mengatakan semua dengan menahan air mata, laki-laki, cinta pertamanya jatuh ke dalam kehancuran.

__ADS_1


" Maafkan kakak ul......" Tara menangis, wajah tertunduk dengan bahu terguncang. Laki-laki yang masih terlihat gagah dan tampan itu tak berdaya.


" Tidak ada yang perlu aku maafkan kak, kakak harusnya meminta maaf dengan kak Dzaky"


" Maafkan aku Dzak"


" Kita masih berteman Tar, semoga kedepannya akan lebih baik untuk kita semua" Dzaky memeluk Tara, membuat bahu Tara semakin terguncang menangis mengeluarkan sesalnya.


" Terimakasih, Semoga kalian bahagia. Jangan katakan pada Sean kalau papanya ada di sini dan.....bayi itu.... Siapa namanya?"


" Azalia Hasanah, panggilannya Za, Tar. Kalau nanti kamu keluar aku akan mengenalkannya pada papanya"


" Terimakasih Dzak........aku malu.....aku menyesal...." Tara menangis.


Setelah menjenguk Tara, Aulia lebih banyak diam. Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya diam.


" Bunda kenapa? jangan buat ayah berfikir macam-macam" Dzaky duduk di sebelah Aulia.


" Maaf yah.... ada rasa kasihan melihat kak Tara, tidak lebih yah, hanya perasaan kasihan, ayah jangan berfikir lain" Ucap Aulia takut kalau suaminya itu salah faham.


" Iya, ayah juga kasihan. Ayah kenal baik Tara, karirnya yang di bangun dengan gigih hancur mengikuti perasaan tak mendasar"


" Iya..." Ucap Aulia sendu.


" Sudah jangan sedih, ibu menyusui tidak boleh sedih...lebih baik kita.....ehem ehem, mumpung anak-anak masih di titipkan"


Dzaky langsung menggendong Aulia masuk ke dalam kamar menyalurkan hasrat yang sudah berpuasa lebih dari 40 hari itu, bertempur hampir memakan waktu satu jam mereka masih di tempat tidur di bawah selimut tebal karena AC di buat sedingin mungkin oleh Dzaky.


" Yah...!" Teriak Aulia, langsung duduk.


" Apa nda? Bikin kaget!"


" Ayah nggak pake sarung tadi? bunda belum KB yah...." Aulia terlihat frustasi.


" Hehe.....lupa, sangking semangatnya....."


" Ayah...gimana ini!"


" Apanya yang gimana? kamu punya suami sayang..."


" Bukan itu...Za baru satu bulan yah.....dan katanya ayah nggak mau melihat bunda melahirkan lagi, bertaruh nyawa lagi!" Ucap Aulia hampir menangis.


" Kali ini kamu secar aja nda.....itu lebih aman, ayah nggak perlu lihat bunda kesakitan"


" Apa ayah nggak takut perut bunda di sayat?"


" Nggak" Ternyata fokus Dzaky bukan pada pembicaraan, melainkan selimut yang tidak menutupi bagian yang menggoda pada setiap ibu menyusui, volumenya lebih besar dari biasanya.


Aulia melihat arah pandang Dzaky dan langsung menarik selimut, tapi kalah cepat dengan Dzaky yang menendang selimut yang mereka pakai jatuh ke lantai dan Dzaky menangkap Aulia untuk mengulang kegiatan asik mereka tadi.


Aulia yang awalnya menolak dan memberontak ikut hanyut oleh permainan Dzaky yang dahsyatnya.


Setelah pertarungan yang memakan waktu hanya 15 menit itu, mereka langsung membersihkan diri untuk menjemput anak mereka.


Mereka menjemput Sean dan Za dengan berjalan kaki karena hanya berselang dua rumah dari rumah mereka.


Di perjalanan pulang Sean bergandengan dengan ayahnya dan Za dalam gendongan Aulia, tepat di depan rumah mereka Dzaky meminta Aulia berhenti.


" Kenapa berhenti yah?"Tanya Aulia.


" Ayah mau memberikan hadiah, tunggu di sini" Dzaky berlari cepat masuk kedalam rumah dan keluar dengan membawa amplop besar coklat.


" Apa ini yah?" Dzaky menyerahkannya kepada Aulia dan mengambil Za dari gendongan istrinya.


" Buka aja"


Saat Aulia tau isinya, Aulia menangis.


" Ini benar yah?"


" Iya.....Kado untuk bunda, karena sudah menghadirkan Sean dan Za, sekaligus hadiah karena sudah menjadi istri yang baik.


Aulia menghambur memeluk Dzaky dan anaknya sambil menangis.


Ternyata itu adalah surat kepemilikan rumah yang tadinya mereka kontrak, sudah atas nama Aulia. Dzaky diam-diam membelinya, karena Aulia sangat menyukai rumah yang mereka tempati.


Mereka berpelukan bahagia...


🌸 TAMAT 🌸


Terimakasih sudah mengikuti perjalanan Dzaky dan Aulia.


Terimakasih atas dukungan readers semua.


Peluk cium dari author untuk readers semua...πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™‡


SAYA AKAN PROMO NOVEL TERBARU SAYA DI SINI......NANTIKAN YA...!!!!

__ADS_1


__ADS_2