
" Kak Tara dan Aulia, Main belakang" maafkan aku Aulia, rasanya tidak pantas kamu bahagia di atas penderitaan ku yang diceraikan kak Tara dan di takdirkan tidak memiliki anak. Kehidupan mu terlalu sempurna!.
" Kalau Bu Amira berniat menghasut dan memanasi aku, Bu Amira salah! Aku tidak ingin tahu dan mengetahui semua yang belum terbukti nyata. Hanya sekedar omongan belaka"
" Tapi kak Dzaky pernah melihat mereka bersama kan? dan...apa kak Dzaky tidak meragukan kehamilannya Aulia?"
" Kalian itu berteman, pernah pertemanan kalian rasa saudara. Tapi... bisa-bisanya Bu Amira menjelekkan Aulia di belakangnya, atau....Bu Amira iri melihat Aulia? Tara ternyata menyukai Aulia kan! Aulia itu... tidak pernah berkata buruk atau mengatakan kekurangan Bu Amira kepada orang lain. aku percaya istriku lebih dari siapapun, jadi jangan coba bermain kata denganku!" Dzaky pergi tanpa pamit dan meninggalkan makanannya yang belum habis.
" Seandainya kak Tara seperti kak Dzaky....Aku harus ketujuan awal ku!"
Amira berlari mengejar Dzaky, untung Dzaky telah membayar semuanya jadi Amira tidak terlambat. Saat Dzaky membuka pintu mobil, Amira menarik tangannya.
" Kak dengarkan aku dulu"
" Apalagi Bu Amira? Kalau masih tentang keburukan istri aku, itu tidak perlu"
" Termasuk ini?" Amira menyodorkan hpnya dan menghidupkan rekaman suara Tara yang pernah mengatakan ingin memiliki Aulia, termasuk memiliki anak yang di kandung Aulia.
Hahaha..." Maksudnya ini apa? itu hanya suara Tara bukan Aulia, jadi aku tidak perlu terpengaruh dan semakin percaya kalau selama ini Tara lah yang mendekati Aulia. Sementara Aulia tidak menanggapi Tara. Aku pernah salah dalam menilai Aulia, aku pernah berfikiran kalau Aulia itu selingkuh dengan Tara dan aku menyesal" Dzaky melepaskan tangan Amira, dan pergi meninggalkan Amira yang diam mematung"
Sore hari Dzaky kaget saat hendak memasukkan mobilnya, ada mobil terparkir di depan rumahnya.
" Assalamualaikum"
Dzaky tidak mendapatkan jawaban, segera masuk dia dapat melihat Dokter Arkan sedang menggendong Sean dan Rayyan secara bersamaan dan Aulia terlihat sedang membuat susu.
" Eh ayah" Aulia merasa tidak enak, baru saja rumah tangganya membaik dia sudah membawa pria masuk.
" Ayah...." Sean melompat dan berlari mendekati ayahnya.
Tadinya Aulia hanya menerima Dokter Arkan di teras rumah, tapi setelah Aulia memberikan Sean susu, Rayyan merengek meminta susu yang sama buatan Aulia. Dokter Arkan terpaksa masuk karena Rayyan ingin melihat sendiri susu buatan Aulia.
" Maaf pak Dzaky, saya tidak bermaksud masuk tanpa izin. Rayyan meminta Bu Aulia membuatkan susu yang sama dengan yang Sean minum" Dokter Arkan merasa tidak enak masuk ke rumah seorang istri yang suaminya sedang tidak ada di rumah.
" Oh ..tidak apa-apa" Aulia dengan cepat mengambil tangan Dzaky dan di ciumnya.
Mereka sekarang sedang berada di teras, setelah Dzaky membersihkan diri. Dzaky memang pulang lebih cepat dari biasanya, Dzaky selalu menghawatirkan Aulia yang sedang menunggu hari.
__ADS_1
Mereka sedikit berbincang mengenai tumbuh kembang anak mereka dan mama Rayyan yang semakin sibuk dengan profesinya sebagai dokter.
" Kami pamit dulu, hari sudah hampir Maghrib. Terimakasih telah menerima kami dengan baik"
" Ya, tidak masalah"
" Besok kita ke sini lagi pa?"
" Besok Ray harus pulang ke tempat mama sayang"
" Lho bukannya Rayyan baru di sini?" Tanya Aulia.
" Sudah dua hari" Terlihat Rayyan yang cemberut.
" Ini untuk Rayyan" Sean memberikan mainan yang sejak tadi di mainkan Rayyan.
" Tidak perlu Sean" Kata Dokter.
" Rayyan menyukainya, Sean sudah bosan"
" Terimakasih Sean...." kata Rayyan bahagia.
Setelah pertemuan Dzaky dan Amira, Amira masih saja mengirimkan pesan yang ingin menjatuhkan Aulia. Tapi Dzaky tidak terpengaruh sedikit pun.
Tara sudah berapa kali ingin mengirim Dzaky pelatihan ke luar kota, Dzaky menolaknya dengan alasan istrinya sedang menanti hpl yang di perkirakan satu Minggu lagi sesuai catatan Dokter. Tara tidak bisa memaksa, karena Dzaky langsung melaporkannya ke kantor pusat.
Tara sudah tidak bisa menunggu, hari ini ia mendatangi rumah Dzaky di saat Dzaky sudah berangkat kerja.
" Papa...." Teriak Sean saat melihat Tara berada di ruang tamu tanpa mengucapkan salam. Dzaky tidak melarang Sean yang masih memanggil Tara papa, disetiap mereka bertemu itu karena Dzaky tidak ingin Sean jadi bingung.
Aulia kaget, ingin dia langsung mengusir Tara, tapi Aulia mengingat keberadaan Sean di antara mereka, Sean pernah takut saat Aulia berteriak kepada Tara, Aulia tidak ingin kejadian itu terulang kembali.
Aulia memilih masuk ke dalam kamar, meninggalkan mereka yang sedang asik bermain.
" Kenapa kak Tara masih berani ke sini!" kesal Aulia. Aulia memilih untuk mandi karena pagi tadi belum sempat mandi, sibuk menyiapkan sarapan dan permintaan Sean yang meminta bunda membuatkan donat.
Selesai mandi Aulia di buat terkejut dengan keberadaan Tara di dalam kamarnya, Aulia fikir Tara hanya ingin bertemu Sean dan akan langsung pergi setelah bertemu. Aulia memang tidak mengunci pintu takut Sean sendirian dan ingin masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
" Kak Tara?" Teriak Aulia, dia memutar tubuhnya cepat ingin masuk kedalam kamar mandi lagi. Tapi dia terpeleset karena tubuhnya masih setengah basah dengan handuk yang melilit erat, mencetak jelas perut besarnya.
Tara dengan cepat menangkap tubuh Aulia, kalau tidak Aulia pasti terjatuh dan tidak tau akan bagaimana kandungannya.
Sejenak terdiam, Aulia melepaskan tangan Tara yang melingkar tepat di bawah gunung kembarnya, tapi Tara tidak melepaskannya.
" Kak! kenapa bisa jadi laki-laki se kurang ajar ini! Masuk tanpa izin dan sekarang dengan lancangnya masuk kedalam kamar perempuan bersuami. Lepas!" Aulia masih berusaha melepaskan tangan Tara.
Sungguh Tara sudah di penuhi kabut gairah, laki-laki mana yang tidak tergoda melihat wanita mulus yang hanya menggunakan handuk pendek di atas paha, dengan perut buncit yang terlihat sangat seksi. Di tambah Tara sudah beberapa bulan tidak menyalurkan kecebong ditempatnya selalu membuang calon anaknya di kamar mandi.
" Kak Tara sadar!" Aulia masih berusaha menyadarkan Tara.
" Sean akan masuk, dia akan melihat papanya berlaku kurang ajar ke bundanya" Aulia memukul Tara dengan sekuat tenaganya, tapi itu tidak berpengaruh. Posisi mereka sangat intim dengan Tara memeluk erat Aulia tapi tidak menekan bagian perut Aulia. Tara dapat melihat belahan gunung kembar itu dengan jelas, walaupun Aulia mencoba menutupi dengan kedua tangannya.
" Sean sedang sibuk dengan mainan barunya dan Dzaky pasti sibuk dengan pekerjaannya, kakak sudah memberikan banyak pekerjaan untuknya"
" Kak, Aulia mohon jangan seperti ini... Aulia kenal kakak. Kakak laki-laki baik dan sangat menghormati perempuan" Ucap Aulia lembut, dia tidak akan bisa melawan Tara dengan tenaga tapi bisa dengan kelembutannya, pikir Aulia.
" Ul... seandainya dulu kamu mau langsung kita menikah, mungkin kita sudah bahagia. Dengan anak-anak yang lucu"
" Ya, tapi ul sudah bahagia sekarang kak" Aulia mencoba melonggarkan pelukan Tara, dan itu berhasil. Walaupun tetap memeluk tapi pelukannya tidak seerat tadi yang membuat gunung kembarnya sedikit menyembul karena terhimpit.
" Tapi kakak, menginginkan kebahagiaan itu ul"
" Iya, kita bisa bicarakan. Ayo kita duduk" Ajak Aulia, supaya bisa terlepas dari pelukan Tara.
" Kakak menginginkan mu sekarang!" Kecup Tara leher Aulia yang beraroma sabun melati. Membuat Aulia sangat risih.
" Kak, tidak seperti ini. Aulia milik kak Dzaky!"
"Itu tidak masalah" Tara terus menciumi leher Aulia, Aulia terus berpikir cara agar bisa lepas dari Tara.
Kalau harus menggunakan tenaga, Aulia pasti kalah dan Tara semakin tertantang.
Tara mulai meremas bukit kembar Aulia " Maafkan bunda yah....." dengan dua bulir air mata penyesalan lolos dari mata Aulia.
like
__ADS_1
like
like penyemangat untuk author...