
Sinopsis
Edward adalah seorang ekspatriat asal Inggris yang bertugas di Indonesia. Ia menjalin hubungan tanpa ikatan dengan Mikaila, seorang pekerja asing asal Rusia. Ketika pria itu bertemu dengan Sarah, seorang gadis muslim yang taat, ia langsung jatuh hati dan memutuskan untuk menjadi mualaf.
Tetapi, ketika ia telah mengenal Islam dan menemukan nilai-nilai di kesucian di dalamnya, timbul perang batin dalam dirinya. Akankah terus berjalan bersama Sarah yang gemilang atau tetap di sisi Mikaila yang rapuh.
Jakarta, 2014
Edward membetulkan posisi duduknya sesaat setelah co-pilot mengumumkan dari ruang kokpit bahwa mereka sebentar lagi akan mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ia menoleh ke arloji di tangan kirinya yang menunjukan pukul 13.45 WIB. Perjalanan dua jam lebih dari Hanoi dan transit di Singapura cukup melelahkan pria itu. Beberapa saat kemudian pesawat telah landing dan mulai melambat, hingga akhirnya berhenti. Edward segera memakai jasnya dan bersiap-siap turun setelah pintu pesawat dibuka.
Cuaca Jakarta sangat cerah. Matahari bersinar dengan terik membuat Edward mempercepat langkahnya masuk ke terminal 2 bandara. Bersama penumpang lain, pria itu diarahkan ke bagian kedatangan luar negeri.
Setelah paspor dan visanya diperiksa oleh petugas imigrasi tiga puluh menit lalu, sekarang Edward sedang duduk di lobi. Menonaktifkan mode terbang di smartphone-nya untuk menghubungi orang yang akan menjemputnya.
“Halo Tuan Adrian, saya sudah sampai di Indonesia. Saya sedang menunggu anda di lobi bandara. Apa? Ya! Ya, saya mengerti. Saya tunggu anda. Terima kasih.” ucapnya mengakhiri panggilan.
Edward diberitahu bahwa mobil yang akan menjemputnya terlambat datang karena terjebak macet. Pria itu sudah mengetahui reputasi Jakarta yang terkenal dengan kemacetan. Edward pernah membaca di sebuah jurnal ekonomi bahwa ada ratusan kendaraan roda empat terjual di negeri ini setiap harinya, dan hampir setengahnya itu di kota ini. Jutaan kendaraan telah menguasai jalan-jalan Jakarta.
Dan Edward ada di kota ini sekarang. Ia akan menempati posisi sebagai grandmanager, menggantikan Mrs. Elena yang pindah ke Spanyol. Ia akan bertugas mengawasi sembilan outlet di tujuh kota yang tergabung di bawah bendera Zafora Indonesia dan merupakan bagian dari jaringan Zafora Internasional. Zafora sendiri adalah brand asal Swedia yang konsen di perawatan kulit dan pakaian wanita.
Edward mengawali karirnya bersama brand itu enam tahun lalu, sebagai fashion analyst dan supervisor di London. Dua tahun lalu, ia mengawali debutnya sebagai grandmanager di Vietnam.
Dan sekarang ia merasa, bertugas di Indonesia merupakan sebuah kemajuan dalam karirnya. Ia kagum dengan tanah kelahiran kakek-neneknya yang sangat luas dan beragam budaya. Dan tentu saja Jakarta yang telah menjelma menjadi sebuah kota megapolitan baru.
Setengah jam kemudian, mobil penjemput pun sampai. Seorang pria memakai blazer segera keluar dari mobil. Ia masuk tergesa-gesa ke lobi utama dan tampak pandangannya mencari-cari. Senyumnya langsung mengembang ketika pria itu melihat keberadaan Edward. Ia langsung berjalan menuju ke tempat pria itu.
“Selamat siang, Tuan Edward Anderson. Selamat datang di Indonesia.”
__ADS_1
Edward menoleh dan langsung berdiri.
“Perkenalkan, Saya Adrian, asisten anda.” ucap pria itu kembali sambil mengulurkan tangan.
“Terima kasih. Senang bertemu dengan anda, Tuan Adrian.” Edward membalas uluran tangannya.
“Saya mohon maaf jika membuat anda harus menunggu lama. Mari kita berangkat.” ajaknya sambil membawakan satu kopor milik Edward menuju ke area parkir.
Medan
Sarah sedang melayani seorang wanita yang berkonsultasi tentang produk perawatan kulit mereka. Dengan teliti ia memeriksa punggung tangan customer tersebut dengan alat scan untuk menentukan jenis kulit yang dimilikinya.
Kemudian tangan wanita itu coba diolesinya dengan krim pelembab yang ia pegang.
“Mbaknya mempunyai kulit yang cenderung kering. Jenis kulit seperti ini sangat rentan dengan sinar matahari, angin, dan udara yang kering.”
“Jika hal itu dibiarkan terus, maka risikonya kulit akan kusam dan bersisik. Jika beraktivitas di luar ruangan atau di ruangan berpendingin, sebaiknya gunakan krim pelembab.” Pesannya menyudahi olesannya.
“Baik Mbak, kita observasi dulu lima belas menit ya. Jika tak ada reaksi, berarti Mbak bisa memakai produk Zafora. Kami memiliki paket treatment sesuai dengan jenis kulit. Mbak akan mendapatkan scrub, krim pelembab, tabir surya, juga krim pemutih.” ucap Sarah tersenyum.
“Terima kasih, Mbak Sarah.” ucap customer melirik bed nama di dada gadis itu.
“Sama-sama Mbak. Saya tinggal dulu ya. Selanjutnya nanti Mbak akan diberi penjelasan oleh teman saya.” ucap Sarah sambil memberi isyarat ke rekannya yang dibalas dengan anggukan.
Sarah telah bekerja di outlet Zafora selama satu tahun lebih. Sebagai analis kecantikan, tugasnya adalah menentukan produk mana yang sesuai dengan customer. Tak ada hari libur. Ia bekerja selama tujuh hari dalam seminggu. Tapi ia hanya bekerja selama enam jam dalam sehari. Jadi sebenarnya gadis itu lebih beruntung, dibanding karyawan lain yang libur pada hari minggu, tapi beban kerjanya hingga delapan jam sehari. Meskipun begitu, ia tetap mendapat cuti setiap bulannya.
Sarah menuju ke ruang ganti. Ia membetulkan sedikit posisi kerudungnya di depan cermin. Setelah terlihat rapi, ia pun segera menuju ke ruangan Pak Purnomo. Managernya itu menyuruhnya menghadap jika sudah selesai melayani pelanggan.
“Assallamuallaikum.” ucapnya memberi salam sambil membuka pintu.
__ADS_1
“Wallaikumsallam. Silahkan duduk, Sarah.” ucap Pak Purnomo.
“Ada apa ya, Pak?”
“Kamu sudah tahu pasti kalau Mrs. Elena sudah pindah tugas ke Spanyol minggu lalu?” managernya balik bertanya.
“Ya, Pak. Saya sudah tahu.”
“Dan hari ini pengganti beliau, Tuan Edward Anderson sudah berangkat ke Jakarta. Sudah dipastikan dalam minggu-minggu ini ia akan mengunjungi seluruh outlet cabang. Dan bisa jadi outlet kita adalah yang pertama.” terang Pak Purnomo.
“Jadi bagaimana, Pak?” tanya gadis itu ragu.
Sebenarnya bosnya hanya ingin memberitahukan kedatangan grandmanager baru itu atau ada perintah terselubung?
“Sebagai analis kecantikan, kamu memiliki tugas besar di sini. Saya minta adakan breefing dengan tim kamu. Juga revisi pelaporan-pelaporan yang masih salah. Saya ingin kita dapat menunjukan peforma yang baik di depan beliau."
Sarah hanya mengangguk.
"Oke, ada yang ingin ditanyakan?”
“Insya Allah, Pak. Untuk saat ini belum ada.” Sarah menjawab.
“Baik. Kalau begitu silahkan kembali bertugas.” ucap Pak Purnomo.
Gadis itu mohon izin. Sesampainya di outlet, ia membuka gawainya yang dari tadi memperdangarkan bunyi notif. Ada beberapa pesan masuk. Tapi ia tertarik untuk membuka dulu pesan dari grup WhatsAp karyawan Zafora Se-Indonesia.
Bos besar yang baru sudah mendarat di Jakarta. Hati-hati ya semua, katanya orangnya lebih horor dari Madam Elena.
Sarah hanya tersenyum membaca pesan yang dikirim salah seorang rekan kerjanya dari Zafora Bandung. Sepertinya semua orang membicarakan bos baru itu. Ia batalkan memeriksa notif lainnya karena tampak dua orang wanita datang memasuki outlet. Gadis itu segera menyimpan gawainya dan menyongsong mereka. Ya Allah, mudahkan segala yang menjadi urusanku, doanya dalam hati.
__ADS_1
.