
Edward meninggalkan apartemen Mikaila pukul 10 pagi setelah selesai sarapan. Ia menyantap seporsi sandwich isi tuna dan segelas kopi bersama Mikaila. Pria itu memutuskan untuk langsung menuju ke kantor karena tadi sudah membersihkan tubuhnya di apartemen Mikaila. Ia merasa tak perlu berganti pakaian dulu di apartemennya. Ini bukan hari kerja. Aku tak akan bertemu dengan seorang pun nanti di sana, pikirnya.
Sesampainya di kantor, pria itu langsung menuju ke ruangannya. Tampak area lobi dan ruang karyawan sepi. Ruangan Adrian yang berada di sebelah ruangannya juga tertutup rapat. Ia langsung menghidupkan komputer all in one di atas meja. Tiba-tiba smartphone-nya berderit saat Edward sedang menyiapkan beberapa dokumen untuk ia bawa besok. Sebuah panggilan dari Adrian.
“Selamat pagi, Tuan Edward. Maaf jika saya mengganggu hari libur anda. Apakah hari ini anda ada agenda, Tuan?” terdengar suara Adrian dari seberang.
“Selamat pagi juga, Adrian. Kebetulan saya sedang di kantor menyiapkan beberapa dokumen yang akan saya bawa besok ke Bandung.”
“Oh kebetulan sekali. Saya juga sedang berada di outlet. Ada klien yang ingin bertemu dengan anda di sini.”
“Klien?” Edward mengerutkan dahi. “Saya tidak ada janji bertemu dengan siapa pun hari ini.”
“Oh tidak mengapa, Tuan. Sebenarnya ini bukan pertemuan resmi. Saya bisa menuju ke sana sekarang, Tuan?"
“Ok, silahkan. Sampai jumpa di kantor.”
Edward mengakhiri pembicaraan sambil mengumpat dalam hati. Mengapa tidak diagendakan dulu? Bagaimana bisa bertemu klien dengan berkemeja flanel dan celana denim seperti penggembala sapi ini?
Ternyata Adrian datang dengan penampilan yang tak kalah kasual. Tapi tetap tak menghilangkan image pria metroseksual dari dirinya. Kaos polo shirt abu-abu dipadu dengan blue jeans dan sepatu kets.
Baguslah ia tak memakai jas hari ini, pikir Edward.
Tapi yang mengejutkannya, seseorang yang datang bersama pria itu dan yang ia sebut klien tadi. Seorang wanita memakai shirt lengan panjang dengan leher rendah. Short pants yang ia kenakan cukup mengekspose kakinya yang jenjang. Rambut panjangnya ia jepit asal menjuntaikan beberapa helai anak rambut di lehernya. Sementara di bahunya tersandang sebuah tas branded. Ia tersenyum ke arah Edward.
Edward seperti tak asing dengan wajah wanita itu. Pria itu pernah melihatnya tapi ia lupa di mana.
“Perkenalkan, beliau adalah Tuan Edward Anderson, grandmanager Zafora Indonesia yang baru.” ucap Adrian ke arah wanita itu lalu menoleh ke Edward.
__ADS_1
“Senang bertemu dengan anda, Tuan Edward.” wanita itu menyalaminya.
“Terima kasih.” ucap Edward membalas salam dan mempersilahkan mereka duduk di sofa.
“Tuan Edward, ini Nona Anjani Adinegoro, ia brand ambassador untuk Zafora Indonesia.” giliran Adrian mengenalkan wanita itu ke Edward.
Edward baru ingat sekarang. Ternyata wanita ini yang fotonya ada di baner produk mereka di outlet.
“Saya minta maaf, Tuan Edward, kemarin tidak bisa menghadiri meeting dengan anda, saya ada sesi pemotretan di Bali." ucap wanita itu menjelaskan mengapa kemarin ia tak hadir.
"Karena semalam Pak Adrian mengatakan bahwa anda akan melakukan kunjungan ke daerah hingga beberapa hari, jadi saya sempatkan bertemu anda hari ini.”
“Ouh. It,s okay. Saya telah bertemu dengan manajer anda kemarin. Saya juga telah melihat portofolio anda, dan saya rasa anda seorang model yang profesional, Nona Anjani.”
Perkiraan Edward memang tak salah. Sebagai model, Anjani memang profesional. Buktinya, grafik penjualan meningkat hampir di setiap cabang ketika ia resmi digandeng oleh Zafora.
Ternyata wanita yang punya hobi traveling itu terlahir dengan nama Ratih Sekar Anjani. Ayahnya seorang pengusaha batik di kota Solo dan masih ada hubungan kerabat dengan Keraton Surakarta. Demi mewujudkan cita-citanya sebagai model terkenal, ia harus rela jauh dari keluarganya dan hidup mandiri di Jakarta sejak usia 18 tahun. Tahun lalu ia dinobatkan sebagai “Look of the Year” oleh sebuah majalah mode di Jakarta. Karena prestasi itulah, Adrian merekomendasikan model itu ke Mrs. Elena untuk menjadi duta produk Zafora. Saat Edward bertanya apa keinginannya yang belum tercapai, ia hanya menjawab secara diplomatis.
Tapi walau pun cantik, entah mengapa rasanya Edward kurang care dengan wanita itu. Berbeda dengan saat ia bertemu Mikaila dulu. Seperti tak ada ketulusan yang dimiliki oleh Anjani. Tapi pria itu berharap kalau saja feel yang dirasakannya itu hanya bersifat subyektif.
“Setelah ini anda mau kemana lagi, Tuan?” tanya Adrian ke Edward yang sedang memasukan beberapa berkas dan sebuah hard disk ke amplop coklat.
“Sepertinya tidak ada. Mungkin saya akan kembali ke apartemen.” Jawabnya.
“Karena ini sudah siang, bagaimana kalau anda kami ajak untuk mencari makan siang? Kami perkenalkan anda dengan masakan khas Indonesia.” ucap Anjani memberi tawaran.
Edward menoleh ke Adrian seolah meminta pendapat dan dibalas dengan anggukannya.
__ADS_1
“Boleh. Saya juga penasaran dengan tempat-tempat hang out yang ada di kota ini.” ucap pria itu menerima tawaran.
Setelah beres dengan dokumennya, Edward pun mengajak mereka berdua pergi.
“Oh ya, tapi bisakah kalian nanti sore temani saya ke tempat gym? Sudah dua minggu saya tidak fitness.” pinta Edward ke Adrian yang berjalan di sampingnya.
“Boleh sekali, Tuan. Nanti akan kami rekomendasikan tempat fitnes yang sesuai untuk anda?” ucap Adrian sambil mengangguk.
Ia pun menoleh ke Anjani yang berjalan dibelakang mereka sambil matanya memberi isyarat. Wanita mengangguk sambil tersenyum.
Setelah berdiskusi sebentar di dalam mobil, mereka akhirnya sepakat untuk memilih tempat makan di sebuah resto yang menyajikan menu tradisional di kawasan Menteng. Untuk Edward, Anjani merekomendasikannya soto betawi dan ayam bakar taliwang. Untuk dirinya sendiri yang sedang diet, ia hanya memesan salad tanpa dressing mayonaise dan sebotol air mineral.
Sementara Adrian, karena perutnya sangat Indonesia sekali, ia memesan nasi putih dan semangkok rawon. Lengkap dengan sambal, telur asin, dan rempeyek paru.
Selagi makan, mereka berdiskusi tentang banyak hal. Mulai trend mode yang akan booming tahun depan, pelanggaran HAM di Myanmar, hingga masalah politik Indonesia. Dalam hati Edward mengagumi Anjani yang mempunyai wawasan luas. Model itu selalu mampu mengimbangi obrolan tiap Edward melompat dari satu topik ke topik lainnya.
Sorenya mereka berdua menepati janji ke Edward untuk mememaninya fitnes. Adrian mendaftarkan bosnya ke sebuah tempat gym yang cukup elit di superblok Grand Jakarta Land. Tapi karena asistennya itu sudah ada agenda penting, maka Edward hanya fitnes berdua dengan Anjani.
Saat Edward sedang melatih otot-otot lengannya, ia sempat melihat Anjani yang tersenyum kepadanya sambil berlari di atas treadhmill. Sekali lagi ia memuji wanita itu. Anjani memang model profesional. Ia bisa diajak dalam segala hal.
...----------------------------------...
Salam pembaca.
Terima kasih untuk semua yang masih mengikuti cerita "Cinta Sang Ekspatriat" hingga bagian ke-6 ini. Author akan sangat menghargai rekan-rekan pembaca yang bersedia meninggalkan jejak berupa komentar maupun vote. Segala saran dan kritik yang membangun akan author jadikan referensi untuk meningkatkan kualitas isi cerita ini.
Terima kasih.
__ADS_1
Riono Muhari