
Sejujurnya, Edward merasa terhibur ditemani Anjani. Wanita itu memang menjadi moodbooster-nya malam ini. Ia asik diajak diskusi karena tahu banyak hal. Tapi ada satu hal yang tak mungkin ia dapatkan dari model itu. Makanya Edward ebih suka jika yang menemaninya tadi adalah Mikaila. Sebenarnya sebelum Anjani menelponnya tadi, ia baru saja menelpon wanita Rusia itu.
Tiga jam yang lalu
Edward ingin menyingkirkan badmood-nya malam ini karena Adrian mendadak membatalkan janji, makanya ia meraih smartphone-nya untuk menelpon seseorang.
“Halo, Mikaila. Aku sedang sendirian ini di Khayangan Club. Bisakah kau datang temani aku minum?”
“Malam ini aku lembur lagi. Maaf, aku tak bisa memenuhi ajakanmu, Ed.” terdengar suara dari seberang.
“Sayang sekali. Mengapa kau menyiksa dirimu menghabiskan malam berkutat dengan pekerjaan?”
“Aku kan terikat dengan kontrak, Ed. Tak bisa seenaknya saja bekerja.”
“Justeru itulah, harusnya kau mempunyai posisi yang kuat. Tak bisa seenaknya perusahaan membuat kebijakan yang tidak sesuai kontrak, Mikaila.”
Tak ada respon dari seberang sana.
“Sebenarnya apa yang kau cari, Mikaila? Kau bukan wanita bersuami. Kau bukan seorang single parent yang harus menanggung biaya hidup anakmu.”
“Ini tidak ada hubungannya dengan kebijakan perusahaan yang menindas pekerjanya, Ed. Aku sendiri yang menginginkan ini."
“Tapi setidaknya, nikmatilah hidup ini, Mikaila. Bahagiakanlah dirimu sendiri.”
Terdengar suara tawa dari seberang.
“Aku sudah lama tidak percaya ada kebahagiaan dalam hidup ini, Ed. Lagi pula siapa yang keberatan dengan yang kulakukan?”
“Aku yang keberatan, Mikaila.”
“Alasan apa kau keberatan? Memangnya siapa dirimu ingin mengatur-atur hidupku Ed?”
“Aku memang bukan siapa-siap bagimu, Mikaila. Tapi aku adalah orang yang tahu bahwa ada seorang wanita yang tersiksa dengan pekerjaannya.”
“Omong-kosong. Sebaiknya tutup saja telponmu. Kau mengacaukan pekerjaanku saja, Edward Anderson!”
“Okay. Up to you, Mikaila. Good night.”
Tut.. tut… tut…
Edward menutup panggilannya sambil mendengus kesal. Niatnya menelpon Mikaila ingin mengajaknya minum. Alih-alih menyenangkan hatinya, tapi justru badmood pria itu makin bertambah. Mikaila membuatnya kesal.
Sebenarnya tak hanya untuk minum bersama ia mengajak wanita itu bertemu. Sudah lebih dari seminggu ini kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi. Edward berencana malam ini akan menginap lagi di apartemen Mikaila, dan melepaskan hasratnya bersama wanita itu. Tapi Mikaila tak bisa menemaninya.
Makanya, ketika Anjani menelponnya tadi dan ingin menemaninya, Edward merasa senang.
Bagaimana kalau mengajak Anjani?
Terlintas ide itu di pikiran Edward saat ia sedang fokus menyetir. Tapi sesaat kemudian pria itu tak ingin lagi membayangkannya. Walau di saat pertama kali bertemu Anjani, ia tahu kalau wanita itu bisa dikencani.
Tapi Edward tak ingin ambil risiko. Pria itu tak akan berkencan dengan model brand-nya sendiri. Bisa-bisa skandal itu akan terendus dan diekpose oleh media. Dan saat itu, ia hanya bisa menyesali akhir dari karirnya di Zafora yang telah dibangun bertahun-tahun.
Sampai detik ini ia masih berpikiran jernih.
“Maukah anda singgah sebentar, Tuan?” tanya Anjani saat mobil Edward telah berhenti di depan lobi apartemennya.
“Tidak usah, Anjani. Terima kasih untuk tawarannya.” ucap Edward tersenyum.
“Ayolah, sebentar saja. Sudah dua kali anda mengantar saya, tapi belum sekalipun singgah di apartemen saya.” ajak wanita itu sedikit merayu.
__ADS_1
Edward berpikir sejenak. Ia tampak menimbang-nimbang perlu tidaknya ia singgah ke apartemen Anjani. Hanya singgah saja Edward, hanya untuk menghargai wanita itu, tak akan terjadi apa-apa. Pria itu berucap dalam hati.
“Bagaimana, Tuan?” tanya Anjani lagi melihat pria di sampingnya diam saja.
Edward tak menjawab, ia hanya mengemudikan mobilnya menuju ke parkir di basement. Wanita itu tersenyum dengan apa yang dilakukan pria itu.
Anjani mempersilahkan Edward duduk saat sudah sampai di apartemennya. Ia menghidupkan TV LED dan mencari news chanel. Mungkin saja Edward ingin memperbaharui wawasan informasinya, pikirnya. Wanita itu bertanya ke tamunya, maukah dibuatkan secangkir teh atau kopi panas. Tapi pria itu hanya minta diambilkan segelas air mineral untuk membasahi kerongkongannya yang kering.
Anjani pamit sebentar ke kamar untuk mengganti pakaian. Tak lama kemudian ia sudah keluar memakai piyama pendek. Dan duduk di samping Edward.
“Saya pamit ya.” ucap Edward sambil beranjak dari duduknya.
“Menginap saja malam ini di sini, Tuan.” Anjani menyentuh tangan Edward sambil tersenyum.
“Terima kasih. Tapi sebaiknya saya kembali ke flat saya saja.” tolaknya sambil berusaha melepaskan tangan wanita itu.
“Ayolah tuan. Saya tahu anda juga menginginkannya bukan?” wanita itu berdiri dan memeluknya dari belakang.
Edward benar-benar berada dalam kebimbangan. Di satu sisi ia berusaha profesional tidak terlibat affair dengan partner kerjanya. Tapi di sisi lain ia harus melepaskan hasratnya yang sudah membuncah. Pria itu sudah gelisah saat tadi melihat Anjani keluar kamar hanya memakai piyama pendek yang mengekspose pahanya yang mulus.
Pertahanan pria itu akhirnya runtuh juga. Akal sehatnya berhasil dikalahkan oleh nafsunya. Ia pasrah saja saat wanita itu menariknya masuk ke kamar.
_________________________________________
Edward terbangun saat jam di nakas menunjukan pukul 7.10 WIB. Tak ia temukan pemilik kamar di sampingnya. Tapi pria itu tahu kalau Anjani sedang mandi karena ada suara gemericik air dari bathroom yang pintunya sedikit terkuak.
Aku harus segera kembali, pikirnya dalam hati sambil mengenakan pakaian dalamnya. Saat akan mengancingkan kemejanya, Edward dikejutkan oleh Anjani yang tiba-tiba memeluknya dari belakang mengenakan mantel handuk. Edward mencium wanginya aroma shampoo dari rambutnya yang basah.
“Maaf Anjani, saya harus kembali sekarang.” ucapnya berusaha melepaskan pelukan Ratih.
“Ini masih pagi. Mengapa harus buru-buru, Tuan?” ucap wanita itu sambil menyandarkan kepalanya di bahu kekar pria itu.
“Anda kan bosnya, tak masalah datang paling belakang.”
“Tidak bisa. Itu bukan contoh yang baik untuk karyawan.” ucapnya sambil mengancingkan kemejanya.
“Bahkan sekedar ciuman terima kasih pun, tak kudapatkan.” rengeknya masih bermanja di bahu Edward sambil tangannya mengelus-elus perutnya yang sispack.
Edward merasa wanita itu sudah mulai berani dengannya.
“Maaf Anjani, yang kita lakukan semalam hanya sebuah kesalahan. Harusnya saya tidak singgah di sini tadi malam.” ucap Edward sambil melepas pandangannya ke luar jendela.
“Tapi tadi malam dengan sadar anda menikmatinya, Tuan.” bisik Anjani sambil tangannya merangsek ke bagian bawah pusar pria itu.
“Itu karena anda menjebak saya ke dalam situasi yang sulit, Nona.” ucapnya melepas remasan tangan Anjani dengan paksa.
Pria itu pun berjalan menuju meja nakas untuk mengambil arloji dan smartphone-nya.
“Saya merasa bersalah telah melakukan ini. Anda adalah brand ambassador kami. Harusnya saya sebagai petinggi Zafora menghargai anda dan tidak melakukan ini. Maafkan saya, Nona.” ucapnya penuh penyesalan sambil memakai arlojinya.
“Tapi tadi malam anda begitu bernafsu, Tuan. Saya mengerti kalau anda harus sering-sering melepaskannya. Saya maklum itu.” Anjani memeluk lagi Edward yang sudah bersiap-siap untuk pergi.
“Saya mempunyai penawaran yang bagus untuk anda, Tuan.”
“Apa maksud anda, Nona?” ucap Edward menoleh.
“Anda pasti butuh seorang wanita yang siap melayani, jika sewaktu-waktu hasrat anda ingin dilampiaskan.” ucapnya dengan tatapan nakal.
“Lalu apa urusannya dengan anda, Nona Anjani?”
__ADS_1
“Saya bersedia menjadi kekasih anda, selama Tuan bertugas di sini.” bisiknya.
Edward segera melepaskan pelukan wanita itu karena merasa tak senang. Ia sekarang sudah melihat sifat seorang Anjani yang sesungguhnya. Pria itu memang tak salah dengan feeling-nya tentang model itu saat pertama kali bertemu.
“Apa maksud anda memberi penawaran seperti itu pada saya?”
“Ya anggap saja ini perjanjian tak resmi antara grandmanager dengan brand ambassador Zafora.”
“Apa yang akan saya dapatkan dari anda?” tanya Edward menantang.
“Sudah pasti anda akan mendapatkan kepuasan batin dan kenyamanan privasi. Ini lebih aman bagi anda daripada harus mengencani wanita-wanita di klub, Tuan Edward.”
Edward hanya tersenyum tipis. Wanita itu tak tahu kalau dirinya sudah mempunyai hubungan dengan seorang wanita asing dari Rusia.
“Lalu feedback apa yang anda inginkan dari saya, Nona?”
“Saya tidak menginginkan apa-apa, Tuan. Tapi pasti anda sangat paham, jika seorang pria harus menjamin kehidupan kekasihnya. Mungkin deposit di rekening atau sebuah mobil.”
Lalu apa bedanya anda dengan wanita-wanita yang ada di klub itu, Nona Anjani? Atau anda ingin mengatakan, jika anda berbeda dengan mereka? Anda seorang pelacur highclass, begitu? ucap Edward dalam hati.
“Maaf Nona, saya tidak tertarik. Sebaiknya anda cari pria asing lainnya yang mau menerima tawaran anda,”
“Sebentar lagi saya akan mentransfer uang ke rekening anda. Anggap saja itu ucapan terima kasih untuk anda karena telah melayani saya malam ini. Saya pamit, Nona.”
Edward berjalan menuju ke pintu kamar. Tapi sebelum membuka pintu, ia menoleh ke Anjani yang sedang duduk termangu di tepi ranjang.
“Dan saya harap, ini adalah kencan kita yang terakhir. Setelah ini saya ingin, hubungan kita berdua hanya sebatas urusan kerja. Tidak lebih dari itu.”
Wajah Anjani merah padam mendengar pernyataan Edward. Ia merasa dilecehkan oleh pria Inggris itu. Baru kali ini ia ditolak oleh seorang lelaki. Selama ini justru merekalah yang selalu mengejar-ngejar dirinya.
Wanita itu berteriak sambil meraih jam meja yang ada di nakas dan melemparnya ke arah Edward yang sudah menghilang di balik pintu kamar. Anjani tak akan menyerah begitu saja dengan penolakan itu. Baginya, Edward terlalu istimewa untuk dilepaskan.
Sementara Edward sudah mengemudikan mobilnya dengan wajah lesu. Ia sedang memikirkan sesuatu. Selama ini ia merasa tak pernah pelit secara materi dengan wanita-wanita yang dikencaninya. Jika wanita itu mampu membuat dirinya nyaman, ia pun tak segan-segan memberikan sesuatu berapa pun harganya.
Tapi sikap Anjani tadi justeru merendahkan dirinya sendiri. Sekarang Edward tahu kalau orientasi wanita itu hanya materi. Dan jika Edward menuruti permintaan Anjani dan mengikuti irama permainannya, itu sama saja ia menciptakan bumerang untuk dirinya sendiri.
Tapi ia juga curiga, selain materi sepertinya model itu mempunyai ambisi lain dan rencana terhadap dirinya. Tiba-tiba Edward khawatir Adrian akan mengendus skandal ini. Asistennya itu ia lihat cukup dekat dengan Anjani. Sampai detik ini ia merasa tak aman.
"Halo, selamat pagi Tuan Edward."
Terdengar suara Adrian di seberang sana saat pria itu menelpon asistennya begitu sampai di apartemen.
"Selamat pagi. Tolong anda kirimkan nomor rekening Nona Anjani sekarang."
"Untuk apa Tuan kalau boleh tahu?"
"Saya akan memberikan sekedar hadiah perkenalan untuknya."
"Baik Tuan!"
"Terima kasih Adrian. Selamat pagi."
"Terima kasih kembali, Tuan."
Tak lama kemudian terkirim notif pesan dari asistennya. Edward segera membukanya dan menyalin nomor rekening yang tertera. Pria itu pun menyambungkan ke akun rekeningnya dan mengetik nominal angka dan mengirimnya.
Sementara di tempat lain, Anjani menerima notif dari akun rekeningnya. Baru saja seseorang menambahkan saldonya sebesar lima puluh juta rupiah. Wanita itu menyunggingkan sebuah senyuman yang penuh misteri.
……
__ADS_1