
Pukul enam pagi Edward diajak Paman Rudolf untuk berangkat ke Tomohon. Ia duduk di samping Edo yang sedang mengemudi, sedangkan Paman Rudolf duduk di jok belakang. Di sepanjang perjalanan, tampak Edward memperhatikan kebun-kebun penduduk yang berisi tanaman sayuran dan bunga. Tomohon memang terletak di dataran tingi yang diapit oleh Gunung Lokon dan Gunung Mahawu yang masih aktif. Sehingga tak mengherankan jika hasil pertanian di kawasan ini melimpah dan menjadi pemasok untuk kota-kota di Sulawesi.
Selain sayur-mayur, aneka bunga juga melimpah di Tomohon. Karena itulah, setiap tahun kota ini menyelanggarakan Tomohon International Flower Festival. Sebuah karnaval bunga yang terkenal dan diklaim sebagai yang terbesar kedua setelah Rose Parade Pasadena, di Amerika Serikat.
Edo membelokan mobilnya keluar dari jalan raya dan masuk ke pelataran sebuah rumah makan.
“Kita sarapan dulu, Edward.” ajak Paman Rudolf setelah mobil terparkir.
Ia keluar dari mobil yang kemudian diikuti oleh Edward dan Edo. Mereka bertiga masuk ke rumah makan yang tampak ramai oleh pengunjung. Paman Rudolf memilih meja yang masih kosong di sudut ruangan dan memesan tiga porsi sarapan untuk mereka.
“Ini Wawahu, makanan khas Tomohon, Ed. Paman yakin kau akan ketagihan dengan rasanya.” ucap Paman Rudolf ketika pelayan menghidangkan makanan yang mereka pesan.
“Lebih nikmat lagi jika disantap dengan nasi bungkus Tomohon ini.” ucapnya lagi sambil membuka bungkusan daun.
Wawahu yang dimaksud oleh Paman Rudolf adalah olahan iga babi yang dimasak dengan kuah bumbu kuning dan daun kemangi. Dalam perkembangannya, masakan ini juga sering menggunakan iga sapi atau kerbau. Wawahu lebih enak di santap dengan nasi bungkus Tomohon.
Tapi nasi bungkus ini tak seperti nasi bungkus di daerah lain. Beras yang sudah dicuci dibungkus daun berbentuk tipis memanjang dan direbus hingga kenyal. Jadi lebih mirip dengan lontong atau lepat. Yang membuatnya khas, nasi Tomohon tidak dibungkus dengan daun pisang atau daun kelapa. Tapi dengan daun yang diberi nama daun laikit. Daun laikit merupakan tumbuhan endemik yang hanya bisa ditemukan di Minahasa dan sekitarnya.
Mereka bertiga sarapan dengan lahap.
Akhirnya mereka pun sampai di tempat yang dituju. Edo memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah panggung yang berada di atas bukit yang datar dan luas. Pekarangan rumah itu berisi pohon-pohon cengkeh dan alpukat.
“Rumah siapa ini, Paman?” tanya Edward sambil menaiki tangga kayu.
“Inilah rumah Opamu, Ed.” ucapnya berdiri di pembatas teras menghadap ke kebun. “Paman sering menginap di sini untuk menjaga dan merawat tanaman-tanaman ini.”
“ Opamu dulu berpesan pada kami bahwa tanah ini akan diwariskan untuk cucu-cucunya kelak.”
“Karena kau sebagai cucu laki-laki tertuanya, kebetulan juga kau telah pulang, maka tempat ini kuserahkan padamu, Edward.”
“Aku berterima kasih pada Paman, yang telah telah menjaga tanah ini hingga sekarang.” ucap Edward ikut berdiri di samping pamannya.
“Tapi paman kan tahu, kalau pekerjaan mengharuskanku berpindah-pindah tempat terus. Jadi kumohon, tetap urus tempat yang banyak kenangan ini, Paman.”
“Terserah kau saja, Ed. Yang terpenting, Paman telah menyampaikan amanah mendiang opamu.” ucap Paman Rudolf.
“Dengan begitu, rumah dan kebun ini tidak akan terbengkalai, Paman.” ucap Edward lagi.
“Tapi Saran Paman, tempat ini jangan sampai berpindah ke pihak lain. Saat ini pemerintah sedangkan menggalakan pariwisata di sepanjang kawasan ini. Mulai Tomohon, Tondano, Manado, hingga Bunaken. Tempat ini akan bisa jadi investasi yang bagus di masa depan.”
“Itu keputusan yang sangat bijaksana, Paman.” ucap Edward merangkul bahu Paman Rudolf sambil tersenyum.
Paman Rudolf mengajak Edward masuk ke dalam rumah. Pria itu melihat-lihat barang peninggalah Opa dan Omanya yang belum rusak. Termasuk foto-foto mereka saat masih muda. Juga Paman Maweuri kecil yang masih digendong oleh Omanya.
__ADS_1
Menjelang tengah hari mereka pulang. Dan sorenya, Edward pamit kepada keluarga itu untuk kembali ke Jakarta. Ia hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, ketika Tante Dora mengingatkannya agar segera berkunjung lagi ke Manado untuk mengenalkan calon istrinya.
_____________________________________________
Edward sedang duduk di meja bar menikmati vodka dan rokoknya. Alunan suara Byonce yang membawakan hitsnya Listen tidak cukup menghibur hatinya yang kesepian. Ia sedikit kesal malam ini.
Sebenarnya tadi sore ia sudah sepakat dengan Adrian untuk bertemu di tempat ini dan minum bersama. Tapi baru saja, asistennya itu mengabarkan kalau tidak bisa datang karena ada urusan proyek mendadak. Edward tak ingin tahu asistennya itu sedang menggarap side job apa di luar. Selama itu tak mengganggu perfomanya di Zafora, ia tak peduli. Tapi yang membuat ia kesal karena proyek yang sedang Adrian garap itu mempunyai manajemen yang sangat payah. Buktinya schedule saja masih kacau seperti ini. Pria itu menggerutu dalam hati, karena sudah dua kali ‘dikhianati’ oleh asistennya karena proyek sialannya itu, setelah sebelumnya pria itu tiba-tiba meninggalkannya di tempat fitness.
Tiba-tiba smartphone-nya di atas meja berderit. Edward mengernyitkan dahinya melihat nomor panggilan tak terdaftar di layar.
“Halo, selamat malam. Ini dengan siapa?” tanya Edward. Nadanya ketus karena masih ada rasa kesal di hatinya.
“Selamat malam Tuan Edward. Anda tidak menyimpan nomor saya kalau begitu. Ini dengan Anjani .” terdengar suara dari seberang.
“Ouh maafkan saya Nona Anjani.” Ucap Edward. Ia ingat pernah meminta nomor kontaknya ke Adrian saat akan menjemput model itu di butik. Dan Edward lupa menyimpannya.
“Ada apa, Nona?”
“Tadi sore saya mendengar kabar dari Pak Adrian kalau malam ini anda minum bersamanya untuk merayakan tender proyek pengadaan bahan baku untuk Swedia, benar itu, Tuan?”
"Iya benar. Tapi Adrian tidak datang. Jadi saya sendirian saja di sini.” ucapnya sambil menyalakan rokoknya.
“Boleh saya temani, Tuan?”
“Saya sedang mengikuti kelas akting. Tapi ini sudah selesai kok.”
Edward berpikir sejenak. Setelah Adrian tak punya waktu untuknya, tak ada salahnya ia menerima tawaran baik Anjani yang ingin menemaninya minum. Siapa tahu wanita itu bisa menjadi moodbooster-nya.
“Bagaimana, mau anda saya temani?”
“Silahkan saja kalau anda mau.”
“Baik, tolong di-share lokasinya ya Tuan. Sampai ketemu di sana.”
Tut… tut… tut…
Panggilan terputus. Edward membuka Google Maps untuk sherlok lokasi Khayangan Club. Tak sampai setengah jam, Anjani sudah sampai. Wanita itu tampak cantik dengan cardigans dan rok yang dipadu dengan sepatu kets. Sebuah ransel tersampir di pundaknya.
“Mau saya pesankan minum?” tanya Edward begitu wanita itu duduk. Tas ranselnya ia taruh di sampingnya.
“Boleh.” Ucap Anjani tersenyum.
“Champagne?”
__ADS_1
“Cocktail saja.” ucap Anjani sambil menoleh ke bartender.
“Sepertinya anda tak terbiasa minum, Nona.”
“Sebisa mungkin saya hindari untuk menjaga tubuh. Anda pasti tahu Tuan Edward, bahwa aset paling berharga dari seorang model itu adalah tubuhnya.”
“Ya, anda benar sekali.” ucapnya sambil mencecap kembali minumannya.
” Oh ya, tadi anda bilang baru selesai kelas akting. Apa anda ingin beralih menjadi aktris?”
“Dua bulan lagi saya akan mengikuti syuting di Nusa Tenggara. Ada rumah produksi yang akan memfilmkan sebuah kisah epik Indonesia masa lalu. Dan saya mendapat satu peran di film itu. Ini debut pertama saya sebagai aktris, Tuan.” ujarnya ikut mencecap cocktailnya.
“Ouh, good job Nona Anjani. Semoga proyek anda dapat menaikan image brand kita nanti.”
“Terima kasih. Tapi ini hanya peran kecil, Tuan.”
“Sepenting apa pun tokoh utama, tetap tak akan berarti tanpa adanya peran pembantu." ucap pria itu menyalakan sebatang rokok lagi.
"Cinderella juga tak akan mampu memikat Sang Pangeran jika saja tak ada kurcaci-kurcaci yang membuatkannya sepatu kaca.”
Anjani tertawa mendengar ucapan Edward. Pria itu lalu mengangkat gelasnya, dan mengajaknya bersulang.
“Untuk film pertama anda, Nona Anjani.”
“Juga untuk proyek anda dengan Swedia, Tuan Edward.” ucap wanita itu sambil mengangkat gelas cocktailnya.
Ting!
“Oh ya Nona, maafkan atas sikap saya malam itu yang menegur anda soal swafoto. Mungkin saya terlalu berlebihan.”
“Ouh tidak apa-apa, Tuan. Saya juga salah tidak menjaga etika. Saya lupa kalau orang-orang seperti anda sangat menjaga privasi. Maafkan saya juga.”
Edward mengangguk sambil tersenyum.
Malam itu mereka berdua duduk mengobrol tentang banyak hal hingga tak terasa waktu telah bergeser ke pukul sebelas malam.
“Sudah hampir tengah malam. Sebaiknya kita pulang, Tuan.” ajak Anjani sambil melihat jam di tangannya.
“Oke. Kita pulang sekarang.” ucapnya kemudian membayar minuman mereka.
“Maaf Tuan, bisakah anda memberi saya tumpangan. Malam ini saya tidak membawa mobil sendiri.” ucap Anjani setelah berdiri dari duduknya.
“Baik. Saya antar anda ke apartemen.” ucapnya kemudian beranjak dari kursi.
__ADS_1
Tanpa Edward dan Anjani sadari, sepasang mata dari tempat yang temaram memperhatikan mereka berdua yang hendak pergi meninggalkan tempat itu.