
Edward sedang duduk di meja bar menikmati vodka dan rokoknya. Alunan suara Byonce yang membawakan hitsnya Listen tidak cukup menghibur hatinya yang kesepian. Ia sedikit kesal malam ini.
Sebenarnya tadi sore ia sudah sepakat dengan Adrian untuk bertemu di tempat ini dan minum bersama. Tapi baru saja, asistennya itu mengabarkan kalau tidak bisa datang karena ada urusan proyek mendadak. Edward tak ingin tahu asistennya itu sedang menggarap side job apa di luar. Selama itu tak mengganggu kinerjanya di Zafora, ia tak peduli. Tapi yang membuat ia kesal karena proyek yang sedang Adrian garap itu mempunyai manajemen yang sangat payah. Buktinya schedule saja masih kacau seperti ini. Pria itu menggerutu dalam hati, karena sudah dua kali ‘dikhianati’ oleh asistennya karena proyek sialannya itu, setelah sebelumnya pria itu tiba-tiba meninggalkannya di tempat fitness.
Tiba-tiba smartphone-nya di atas meja berderit. Edward mengernyitkan dahinya melihat nomor panggilan tak terdaftar di layar.
“Halo, selamat malam. Ini dengan siapa?” tanya Edward. Nadanya ketus karena masih ada rasa kesal di hatinya.
“Selamat malam Tuan Edward. Anda tidak menyimpan nomor saya kalau begitu. Ini dengan Anjani .” terdengar suara dari seberang.
“Ouh maafkan saya Nona Anjani.” Ucap Edward. Ia ingat pernah meminta nomor kontaknya ke Adrian saat akan menjemput model itu di butik. Dan Edward lupa menyimpannya.
“Ada apa, Nona?”
“Tadi sore saya mendengar kabar dari Pak Adrian kalau malam ini anda minum bersamanya untuk merayakan tender proyek pengadaan bahan baku untuk Swedia, benar itu, Tuan?”
"Iya benar. Tapi Adrian tidak datang. Jadi saya sendirian saja di sini.” ucapnya sambil menyalakan rokoknya.
“Boleh saya temani, Tuan?”
“Memangnya anda sedang tidak ada kesibukan malam ini?”
“Saya sedang mengikuti kelas akting. Tapi ini sudah selesai kok.”
Edward berpikir sejenak. Setelah Adrian tak punya waktu untuknya, tak ada salahnya ia menerima tawaran baik Anjani yang ingin menemaninya minum. Siapa tahu wanita itu bisa menjadi moodbooster-nya.
“Bagaimana, mau anda saya temani?”
__ADS_1
“Silahkan saja kalau anda mau.”
“Baik, tolong di-share lokasinya ya Tuan. Sampai ketemu di sana.”
Tut… tut… tut…
Panggilan terputus. Edward membuka Google Maps untuk sherlok lokasi Khayangan Club. Tak sampai setengah jam, Anjani sudah sampai. Wanita itu tampak cantik dengan cardigans dan rok yang dipadu dengan sepatu kets. Sebuah ransel tersampir di pundaknya.
“Mau saya pesankan minum?” tanya Edward begitu wanita itu duduk. Tas ranselnya ia taruh di sampingnya.
“Boleh.” Ucap Anjani tersenyum.
“Champagne?”
“Cocktail saja.” ucap Anjani sambil menoleh ke bartender.
“Sebisa mungkin saya hindari untuk menjaga tubuh. Anda pasti tahu Tuan Edward, bahwa aset paling berharga dari seorang model itu adalah tubuhnya.”
“Ya, anda benar sekali.” ucapnya sambil mencecap kembali minumannya.
” Oh ya, tadi anda bilang baru selesai kelas akting. Apa anda ingin beralih menjadi aktris?”
“Dua bulan lagi saya akan mengikuti syuting di Nusa Tenggara. Ada rumah produksi yang akan memfilmkan sebuah kisah epik Indonesia masa lalu. Dan saya mendapat satu peran di film itu. Ini debut pertama saya sebagai aktris, Tuan.” ujarnya ikut mencecap cocktailnya.
“Ouh, good job Nona Anjani. Semoga proyek anda dapat menaikan image untuk brand kita nanti.”
“Terima kasih. Tapi ini hanya peran kecil, Tuan.”
__ADS_1
“Sepenting apa pun tokoh utama, tetap tak akan berarti tanpa adanya peran pembantu." ucap pria itu menyalakan sebatang rokok lagi.
"Cinderella juga tak akan mampu memikat Sang Pangeran jika saja tak ada kurcaci-kurcaci yang membuatkannya sepatu kaca.”
Anjani tertawa mendengar ucapan Edward. Pria itu lalu mengangkat gelasnya, dan mengajaknya bersulang.
“Untuk film pertama anda, Nona Anjani.”
“Juga untuk proyek anda dengan Swedia, Tuan Edward.” ucap wanita itu sambil mengangkat gelas cocktailnya.
Ting!
“Oh ya Nona, maafkan atas sikap saya malam itu yang menegur anda soal swafoto. Mungkin saya terlalu berlebihan.”
“Ouh tidak apa-apa, Tuan. Saya juga salah tidak menjaga etika. Saya lupa kalau orang-orang seperti anda sangat menjaga privasi. Maafkan saya juga.”
Edward mengangguk sambil tersenyum.
Malam itu mereka berdua duduk mengobrol tentang banyak hal hingga tak terasa waktu telah bergeser ke pukul sebelas malam.
“Sudah hampir tengah malam. Sebaiknya kita pulang, Tuan.” ajak Anjani sambil melihat jam di tangannya.
“Oke. Kita pulang sekarang.” ucapnya kemudian membayar minuman mereka.
“Maaf Tuan, bisakah anda memberi saya tumpangan. Malam ini saya tidak membawa mobil sendiri.” ucap Anjani setelah berdiri dari duduknya.
“Baik. Saya antar anda ke apartemen.” ucapnya kemudian beranjak dari kursi.
__ADS_1
Tanpa Edward dan Anjani sadari, sepasang mata dari tempat yang temaram memperhatikan mereka berdua yang hendak pergi meninggalkan tempat itu.