
...Selama ini kubangun hipotesa sendiri dalam pikiranku, jika pernikahan adalah sesuatu yang akan memasung kebebasan....
...Tapi ketika mengenalmu, aku mengerti bahwa hidup ini memang penuh dengan aturan, ikatan, dan tuntunan....
...Sudah menjadi fitrah manusia untuk ditakdirkan menemukan pasangan, hidup berkawin, dan meninggalkan jejak keturunan. Karena jika kelak manusia itu mati, jejak-jejak itu akan melanjutkan perjuangannya di muka bumi....
...Semoga engkau adalah seseorang yang bisa menuntunku ke jalan yang lebih baik....
____________________________________________
Edward duduk bersandar di jok taksi yang membawanya dari Bandara Internasional Kuala Namu ke pusat kota. Pria itu merenungi kembali apa yang diperbincangkannya dengan Purnomo ditelpon kemarin siang.
“Jadi apa yang ingin anda bicarakan, Tuan?” suara Purnomo terdengar di seberang.
“Sepertinya saya tertarik dengan Nona Sarah. Pak Purnomo.”
“Oh ya, sungguhkah itu, Tuan?”
“Ya, benar Pak.”
“Saya maklum kalau anda juga tertarik dengan gadis itu. Semua orang senang dengannya. Dia tak hanya cantik, tapi juga baik dan bisa menjaga kehormatannya."
Terdengar tawa Purnomo dari seberang sana.
"Saya pun kalau masih bujangan ingin menikahinya.”
Edward pun jadi ikut tersenyum mendengar kalimat terakhir Purnomo.
“Saya berniat ingin menikahinya, bagaimana menurut anda?”
“Ini serius, Tuan? Anda sedang tidak bercanda kan?”
“Saya selalu serius, Pak Purnomo.”
“Tapi saya rasa anda akan mengalami kegagalan, Tuan Edward. Anda dan Sarah berbeda jalan hidupnya. Dalam Islam, dilarang seseorang menikah dengan orang yang berbeda keyakinan. Saya yakin, orang tuanya akan menolak anda.”
“Jadi logikanya, agar Sarah mau menerima, saya harus menjadi seorang muslim?”
“Ya begitulah, Tuan.”
“Tak masalah jika saya harus menjadi muslim, asalkan niat saya membangun sebuah pernikahan dengan Sarah dapat terwujud.”
“Tapi harus dipastikan pada diri anda sendiri, jika anda memang benar-benar yakin dengan keputusan itu. Karena ini akan mengubah hidup anda selamanya, Tuan Edward.”
“Saya sudah yakin, Pak Purnomo.”
“Alhamdulilah, kalau tuan memang berniat untuk berhijrah. Insya Allah anda akan mendapat kemudahan jalan, Tuan.”
“Terima kasih, Pak.”
“Oh ya Tuan, mengapa harus Sarah yang anda pilih? Pria setampan dan sesukses anda pasti akan sangat mudah mencari wanita cantik di Jakarta.”
Ya. Edward tahu kalau banyak wanita cantik dengan berbagai latar belakang di kota sekelas Jakarta. Bahkan sangat banyak. Tapi sangat jarang seperti Sarah yang masih menjaga kehormatannya dan mempunyai prinsip hidup yang kuat. Selama ini yang ia temui adalah wanita-wanita yang gemar berbelanja, bersosialita, dan pamer di media sosial.
__ADS_1
“Dan menurut desas-desus yang saya dengar, katanya brand ambassador Zafora, Anjani Adinegoro juga tertarik dengan anda?”
“Itu tidak benar, Pak. Hubungan saya dan dia hanya sebatas relasi kerja.”
“Oh, Ya.”
“Sejak pertama bertemu Sarah, saya sudah tertarik dengannya. Ia seperti punya pesona yang saya tak tahu itu apa, tapi saya bisa merasakannya.”
“Dan saya yakin dia akan menjadi seorang istri yang baik untuk saya dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak."
“Tapi apa pun nanti hasil pembicaraan antara anda dengan dia, saya akan tetap ada mendukung anda, Tuan.”
Lamunannya buyar karena Edward mendengar notifikasi dari smartphone-nya. Mikaila mengirim sebuah pesan.
Mikaila:
Jika harapanmu hancur berkeping-keping, aku akan menjadi bulan yang menerangi jalanmu. Matahari bisa membutakan matamu, aku akan berdoa pada langit agar salju berderai di Sahara.
Edward tersenyum membaca pesan Mikaila yang ternyata penggalan lirik lagu Snow on the Sahara milik Anggun yang dirilis pada tahun 1996 silam. Tapi memang lirik lagu itu sangat pas ditujukan untuk dirinya yang sedang berharap banyak agar lamarannya diterima Sarah. Ia balas pesan dari wanita itu.
Me: Terima kasih, Mikaila.
...____________________________...
“Permisi.”
Sebuah suara memberi salam sambil membuka pintu.
“Maaf, anda memanggil saya, Tuan?” tanya Sarah begitu masuk ke ruangan manajer.
Setelah gadis itu duduk, pria itu pun langsung menyampaikan maksud memanggilnya.
“Saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda. Tapi maaf Nona Sarah, ini bukan hal kerja.”
“Bukan hal kerja?" Sarah mengernyitkan dahi. "Kalau begitu, masalah apa Tuan?”
“Ini hal antara saya dan anda.”
“Antara kita? Hal apa itu, Tuan? Setahu saya kita tidak punya urusan pribadi.”
“Saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya saya menyukai Anda, Nona Sarah.” ucap Edward langsung.
Sarah terkejut mendengar pengakuan Edward. Seketika wajahnya memerah. Ia sangat-sangat syok. Tetapi dengan cepat ia menguasai diri.
“Terima kasih Tuan, jika anda telah menyukai saya. Itu berarti kinerja saya bagus menurut anda.” ucap Sarah tersenyum berusaha mengaburkan maksud ucapan Edward.
“Bukan. Bukan begitu maksudnya, Nona." ucap Edward segera meralat ucapan Sarah yang telah salah tafsir.
"Saya memang menyukai kinerja anda. Anda salah satu staf terbaik kami. Tapi yang saya maksud tadi, rasa suka saya sebagai laki-laki kepada seorang wanita.”
Jleeeb!!!!
Kali ini Sarah tak bisa lagi berkelit. Edward menjelaskan maksud perkataannya dengan sangat-sangat gamblang. Akan tampak konyol dan bodoh kalau ia masih saja berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
“Maaf, Tuan. Saya telah menghormati anda sebagai atasan saya. Jadi tidak pantas rasanya jika anda menyukai seorang wanita yang bukan istri anda.”
“Kalau begitu apakah anda setuju jika hubungan kita bukan hanya sebatas rekan kerja?” tanya Edward.
“Maksudnya, Tuan?” Sarah kembali mengernyitkan dahi.
"Saya ingin berkomitmen. Saya ingin menikah denganmu.” ucap pria itu dengan raut serius.
“Saya tak bisa!" potong gadis itu cepat.
" Saya minta maaf, Tuan Edward!”
“Mengapa, Sarah?” tanyanya.
“Ini membuat saya syok. Pernikahan itu bukan untuk main-main. Anda tidak bisa bercanda soal ini, Tuan.”
“Apa saya terlihat sedang bercanda Sarah? Saya bukan tipikal orang yang suka membuat jokes.”
“Tapi mengapa harus dengan saya? Bukankah masih banyak wanita di luar sana yang ingin dinikahi oleh pria seperti anda.”
“Karena anda seorang gadis yang cantik dan punya prinsip hidup yang kuat.”
“Itu hanya kekaguman anda sesaat tuan. Kita tidak saling mengenal satu sama lain. saya belum tahu siapa anda, begitu juga sebaliknya.”
“Karena anda tidak memberi saya kesempatan untuk menceritakan diri saya pada anda.” ucap Edward seakan membela diri.
“Saya percaya anda orang yang baik. Tapi maaf tuan, saya tidak bisa membantu mewujudkan keinginan anda.”
“Mengapa, Sarah?”
“Ada hal besar yang menghalangi kita berdua, Tuan.”
“Apakah karena anda seorang Melayu dan saya seorang British? Atau karena saya Cristian dan anda Muslim?”
“Tuan Edward, anda harus tahu bahwa dalam kepercayaan kami, dilarang seorang perempuan muslim menikah dengan lelaki yang bukan muslim. Jika itu dilakukan, maka saya telah menjadi orang yang berdosa.”
Sesuai ekspetasinya. Jawaban gadis itu persis seperti yang diperkirakan Purnomo.
“Bagaimana caranya agar saya tidak lagi menjadi sebuah dosa untukmu, Sarah?” tanya pria itu.
Keadaan hening karena Sarah tak menjawab. Hingga akhirnya ucapan Edward kemudian mengejutkan gadis yang sedang menunduk itu.
“Sarah, saya ingin memeluk Islam.”
“ Tuan Edward, semudah itukah keputusan Anda? Jangan memudahkan hal itu, Tuan?”
“Bukankah Islam adalah agama yang tidak menyulitkan manusia, Sarah?”
“Saya tak ingin menyulitkan anda Tuan. Tapi saya tidak bisa memberi jawaban. Beri saya waktu untuk memikirkan ini.”
“Ya Sarah, saya mengerti. Saya akan menghubungi anda seminggu kemudian.”
“Saya permisi, Tuan.” ucap gadis itu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Rekan-rekan Sarah melihat gadis itu keluar dari ruangan manajer dengan wajah pias. Mereka mendekatinya dan menanyakan apa Tuan Edward marah besar dengannya hingga membuat dirinya seperti orang ketakutan. Sementara Purnomo hanya tersenyum-senyum melihat tingkah para anak buahnya.