
Seminggu setelah kunjungan ke rumah orang tua Sarah, Edward akhirnya sah menjadi seorang mualaf.
Ia menelpon gadis itu bahwa ia sudah siap untuk menjadi muslim. Maka Sarah pun menyarankannya untuk menemui salah seorang ustadj di Jakarta untuk membimbingnya mengucapkan ikrar. Tapi Edward memberi tahu bahwa ia sedang dalam taksi yang membawanya dari Bandara Kuala Namu ke outlet. Walau sebelumnya gadis itu telah memberi pandangan bahwa Islam itu agama yang fleksibel. Tak akan dipersulit orang yang ingin menjadi mualaf.
Meyikapi Edward yang sedikit keras kepala, Sarah akhirnya menyarankan pria itu untuk menemui Ustadj Faruk, Imam Masjid Salman Al-Farisy. Jika sedang tidak kena sift sore, setiap malam Selasa dan Sabtu bada Isya, Sarah mengikuti pengajian ilmu fiqih dan tauhid bersama beliau di masjid tersebut. Biasanya ia pergi ke pengajian bersama dengan Rais.
Edward tiba di masjid itu pukul 11 siang ditemani oleh Purnomo. Mereka diterima langsung oleh Ustadj Faruk. Purnomo menyampaikan maksud kedatangan mereka bahwa atasannya dari Jakarta itu ingin berhijrah menjadi seorang mualaf.
“Subhanallah! Jadi saudara ini adalah atasan di tempat kerjanya Sarah?” seru Ustadj Faruk setelah Edward memberi tahu bahwa gadis itu yang menyarankannya datang kemari.
“Ia salah seorang jamaah pengajian saya di sini. Saya mengenalnya karena ia termasuk jamaah yang aktif bertanya. Alhamdulilah, Allah telah membukakan pintu hati Saudara melalui gadis itu untuk berhijrah.”
“Ya, Ustadj.” ucap Edward.
Karenanya pula alasanku sampai di tempat ini Ustadj, ucap Edward dalam hati.
Akhirnya bada Zuhur, dengan dibimbing Ustadj Faruk serta disaksikan Purnomo dan beberapa jamaah, prosesi ikrar pun dilaksanakan. Semua mengucapkan syukur saat Edward selesai mengucapkan dua kalimat syahadat.
“Selamat menempuh hidup baru, saudaraku.” ucap Ustadj Faruk tersenyum sambil memeluk Edward yang juga tersenyum.
Purnomo juga memeluk atasannya itu. sedangkan beberapa jamaah yang turut menyaksikan tadi menyalaminya.
Setelah sah menjadi seorang muslim, Edward pun resmi mendapat sebuah nama baru. Ustadj Faruk menabalkan nama untuknya sesuai dengan nama masjid tempat pria itu berikrar. Muhammad Salman Alfarisy. Seorang penakluk dan pekerja keras. Dengan nama itu diharapkan Edward bisa menjadi seorang pria yang berjuang keras membela Islam dan dalam ketenangannya bisa menaklukan orang-orang yang memusuhi agamanya.
“Nama ini akan saudara pakai di saat saudara menikah nanti, ditabalkan pada nama anak saudara kelak, dan disebut saat saudara telah mati nanti.” Ustadj Faruk menjelaskan hal ihwal nama barunya saat Edward menanyakan pada beliau apakah ia harus mengganti identitas terkait penabalan nama baru itu.
“Tapi untuk urusan administrasi negara dan pekerjaan, saudara masih bisa menggunakan nama asli saudara.”
“Mulai sekarang Saudara Salman harus belajar tentang Islam, agar Saudara tahu apa saja yang diperintahkan dan apa-apa saja yang dilarang dalam Islam.”
Ustadj Faruk memberi pemahaman ke Edward bahwa sebagai seorang muslim yang beriman, ia harus melakukan ibadah seperti salat, berpuasa, bersedekah, dan ibadah lainnya. Beliau juga memberitahukan pria itu bahwa mulai sekarang apa-apa yang dimakan dan diminum olehnya harus dalam keadaan suci. Termasuk juga pakaian yang dikenakan.
__ADS_1
Karena Edward bertugas di Jakarta, maka Ustadj Faruk menghubungkan ia dengan koleganya, Ustadj Zakaria. Beliau pemimpin pondok pesantren Al-Waqilah yang ada di Pluit, Jakarta Utara.
“Setelah kembali ke Jakarta nanti, temuilah Ustadj Zakaria di pesantrennya. Saya akan sampaikan ke beliau bahwa Saudara akan datang, Ia akan membimbing saudara belajar tentang ilmu Islam.”
“Baik, Ustadj.” ucap pria itu menyalami Ustadj Faruk.
Edward dan Purnomo akhirnya pamit untuk undur diri.
Sesampainya di outlet, Edward tak menemukan Sarah, karena gadis itu telah pulang beberapa menit yang lalu. Setelah dari Masjid Salman Alfarisy tadi, mereka memang tak langsung kembali ke outlet tapi singgah dulu makan siang di Gatot Subroto. Jadi saat mereka tiba di outlet, jam sudah menunjukan pukul 15.20 WIB dan telah dilakukan pergantian sift.
Pria itu tampak kecewa karena ia tak bertemu gadis itu. Tadi pagi hanya sekilas saja ia bertemu dan belum sempat bertegur sapa. Tapi hatinya sedikit terhibur saat Hesti masuk ke ruangannya dan membawa sebuah kotak seukuran kardus air mineral yang dibungkus rapi dengan kertas bermotif mawar merah.
“Maaf Tuan, saya ingin menyerahkan titipan ini untuk anda. Tadi sebenarnya Sarah sendiri yang akan memberikan ke anda. Tapi karena tadi ia buru-buru, maka ia tak bisa menunggu anda dan bingkisan ini dititipkan pada saya.”
“Apa ini Mrs. Hesti?” tanya Edward mengernyitkan dahi melihat benda yang dibawa wanita itu.
“Kata Sarah ini hadiah darinya untuk anda yang baru menjadi mualaf, Tuan.”
“Ouh, terima kasih Mrs. Hesti.” ucap Edward tersenyum sambil menerima bingkisan itu. Pria itu merasa surprise dengan hadiah yang diberikan Sarah.
“Kalau begitu saya kembali lagi ke depan, Tuan.” ucap Hesti pamit.
“Silahkan, Mrs. Hesti.” ucap Edward mengangguk.
Tapi sejurus kemudian Hesti yang sudah berjalan ke arah pintu, membalikan tubuhnya lagi ke Edward.
“Oh ya Tuan, selamat saya ucapkan untuk Tuan Edward yang telah mendapat hidayah. Saya doakan semoga Tuan selalu mendapat karunia-Nya dan menjadi seorang muslim yang beriman.”
“Terima kasih untuk doa anda, Mrs. Hesti.”
Setelah wanita itu keluar, Edward menoleh ke bingkisan yang teronggok di atas mejanya. Ternyata ia perhatian juga denganku, batin pria itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Edward membuka bingkisan itu setelah ia berada di kamar hotel. Ternyata Sarah menghadiahkannya seperangkat alat salat. Pria itu mengeluarkan isinya satu per satu. pertama sebuah gamis pakistan warna ivory, kemudian berturut-turut kain sarung motif flanel kombinasi warna coklat dan hitam, sajadah berwarna hijau zaitun, serta sebuah kopiah putih dan seuntai tasbih.
Edward juga menemukan sebuah bungkusan dalam kotak itu. setelah ia buka kertas pembungkusnya, pria itu melihat dua buah buku di dalamnya. Buku pertama berjudul “Tuntunan Sholat Lengkap” dan buku satunya lagi berjudul “Asmaul Husna ; Mengenal 99 Sifat Allah”. Secarik kertas berisi tulisan tangan terselip di antara dua buku itu.
Alhamdulillah. Saya ucapkan selamat untuk Tuan Faris yang telah berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik. Barakallah, semoga pakaian dan sajadah ini akan menemani di hari-hari Tuan Faris bersujud kepada Allah.
Siti Sarah.
Edward tersenyum setelah membaca secarik kertas yang ditulis oleh Sarah. Pria itu senang karena sekarang Sarah memanggilnya dengan sebutan Faris, kependekan dari nama Muhammad Salman Alfarisy. Ia pun mengambil smartphone-nya dan berdiri di pinggir jendela sambil pandangannya diarahkan ke luar kamar hotel. Kota Medan telah diselimuti senja sehingga lampu-lampu gedung dan jalanan telah dinyalakan. Begitu juga dengan lampu-lampu mobil dan kendaraan lain yang menambah gemerlapnya kota.
“Halo, selamat sore. Sarah.” ucap Edward begitu panggilan yang ia lakukan terhubung.
“Selamat sore, Tuan Faris. Apakah hadiah dari saya sudah anda terima, Tuan?” terdengar suara Sarah di seberang.
“Ini sudah saya buka. Terima kasih untuk hadiahnya, Sarah.”
“Sama-sama, Tuan. Oh ya, di dalam itu juga saya sertakan dua buah buku. Bisa anda baca di saat ada waktu senggang.”
“Iya. Mudah-mudahan” ucapnya.
"Ustadj Faruk menghubungkan saya dengan koleganya yang ada di Jakarta untuk saya belajar ilmu Islam."
"Iya, jadi Tuan Faris bisa fokus belajar di sana saja. Karena dekat dengan kantor dan apartemen anda. Saya doakan semoga lancar, Tuan."
"Iya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Sarah untuk semuanya.” ucapnya.
"Sama-sama, Tuan Faris. Assallamualaikum."
"Iya, Sarah."
"Jika ada yang mengucapkan salam, maka wajib hukumnya Tuan menjawab ; wa'allaikumsallam." ucap Sarah lagi dari seberang.
__ADS_1
"Wa'allaikumsallam, Sarah." ucap Edward tersenyum sambil menutup telepon.
Magrib telah sampai ditandai dengan suara azan yang bersahut-sahutan dari menara-menara masjid di segenap penjuru kota.