
Edward hanyut dalam alunan I Took A Pill In Ibiza milik Mike Posner yang diputar.
Tadi sore ia sudah mencari-cari referensi tempat minum yang bagus di situs travel. Pria itu menemukan sebuah klub yang mendapat rating lima bintang dan menjadi tempat nongkrong para ekspatriat dari berbagai negara, khususnya Eropa. Sempat Edward tertarik. Ia merasa kafe itu sesuai untuknya yang baru menjadi pendatang, sekaligus kaum minoritas di kota ini. Mungkin ia akan menemukan komunitasnya di sana.
Tapi akhirnya sekarang, ia memilih berada di tempat ini. Khayangan Club. Kafe yang berada di lantai dua sebuah plaza yang terletak beberapa blok dari apartemennya. Tempat yang cozy serta terpajang anggur dan bir-bir terbaik di lounge barnya meyakinkan pria itu kalau tempat ini menjadi sepotong wakil, dari kota yang katanya menjadi surga hiburan malam itu.
Meskipun Edward tak akan menemukan komunitasnya di sini, ia masih bisa berkomunikasi dengan pengunjung lokal.
Right place for the new beginning. Tempat yang cukup baik untuk sebuah awal perjalanan.
Edward memesan minuman ke bartender. Ia sengaja memilih champagne karena sedang tak ingin menghangatkan badan. Bahkan dari tadi siang ia merasa kegerahan dengan udara Jakarta yang panas.
Ia hanya ingin membangkitkan sedikit gairah hidupnya. Dicecapnya minuman yang dituangkan bartender ke gelasnya. Dan dinyalakan sebatang rokok yang telah terselip di bibirnya.
Tak sengaja matanya tertuju pada seorang wanita memakai tanktop bertali dan celana panjang yang duduk di meja bar sendirian sambil memain-mainkan gelas ditangannya. Wanita itu menjadi perhatian Edward bukan hanya karena satu-satunya pengunjung wanita yang tidak bersama pasangan prianya. Tetapi juga karena redupnya cahaya lampu tak menghalangi pria itu untuk melihat kecantikannya.
Wanita itu mempunyai rambut yang cokelat, kulit yang putih pias, tulang hidung yang menonjol, dan mata yang agak sipit. Dengan fisik seperti itu, Edward menebak kalau ia bukan asli penduduk kota ini. Mungkin ia berasal dari suatu negara di middle east atau Asia Barat.
Edward beranjak dari duduknya sambil membawa gelasnya menuju ke tempat wanita itu. Minuman dan rokok yang nikmat tentu akan makin sempurna jika dihabiskan bersama seorang wanita yang menarik, pikirnya.
“Excuse me, may I sit here?” tanya Edward ke wanita itu sopan.
“Please, this is a public place. And I am not waiting some one.” ucap gadis itu menoleh.
__ADS_1
(Note Author : percakapan Edward dan Mikaila selanjutnya digambarkan menggunakan bahasa Inggris.)
“Terima kasih.” Edward duduk di bangku samping wanita itu sambil tersenyum.
Edward merasa respon wanita itu kurang hangat, maka ia pun berusaha lebih agresif untuk mendekatinya. Ia menawarkan rokoknya. Diluar dugaan, wanita itu mengambilnya sebatang. Pria itu segera menyulutkan pemantik untuk wanita itu. Hisapan pertamanya menghasilkan asap yang membumbung ke udara.
“Anda juga gemar merokok?" tanya Edward.
“Tidak juga. Saya kadang merokok jika ingin menetralkan pikiran atau sedang menikmati suatu momen.” ucapnya sambil tersenyum ke bartender yang mengansurkan sebuah asbak untuk mereka.
“Saya pikir nona menerima tawaran saya bukan alasan pertama karena sepertinya anda sangat menikmati malam ini.” ucap pria itu berhipotesis.
“Penampilan itu bisa menipu, Tuan.” ucap wanita itu tersenyum sinis membuat pria di sampingnya tertawa.
Pria itu mengulurkan tangan. Dengan malas wanita itu pun membalas uluran tangannya.
“Mikaila.” jawabnya singkat.
“Maaf, anda tak seperti penduduk asli kota ini. Apakah anda seorang turis?” Edward bertanya.
“Anda sendiri bagaimana, Tuan Edward? Sedang berlibur di kota ini? “ wanita itu malah balik bertanya.
“Saya dari Inggris. Manchester.” ucap Edward sambil mencecap kembali minumannya. "Dan akan bekerja di sini."
__ADS_1
“Saya dari Moskow.” wanita itu menjelaskan asalnya.
"Indonesia sebenarnya menjadi negara ke dua bagi saya." jelas pria itu.
"Oh ya? Bagaimana ceritanya?" tanya Mikaila surprise.
"Ayah saya seorang British tulen, sedang ibu berdarah Indonesia. Keluarga ibu saya berasal dari kota Manado di pulau Sulawesi. Lima puluh tahun lalu mereka, kakek-nenekku, menjadi imigran ke Inggris." Edward menceritakan asal-usulnya.
"Sudah pernah mengunjungi negara ini sebelumnya?"
"Belum. Ini yang pertama kali. Tapi mungkin saya akan singgah ke tempat keluarga sepupu ibu, jika nanti melakukan kunjungan kerja ke kota Makkasar."
"Semoga beruntung, Edward." ucap Mikaila.
"Terima kasih." balas Edward.
Malam itu Edward habiskan waktu dengan mengobrol bersama Mikaila. Dipesannya lagi dua sloki minuman. Tequila untuk Mikaila, dan vodka untuk dirinya. Mereka saling menceritakan pekerjaan masing-masing.
Wanita itu ternyata bekerja sebagai analis kimia di sebuah perusahaan farmasi milik Jerman. Ia sudah tiga tahun di kota ini. Sebelumnya ia bekerja di kota Munchen. Tapi ketika perusahaan tempatnya bergabung melakukan ekspansi ke Asia Tenggara, maka terdamparlah sekarang ia di belantara Jakarta ini.
Mikaila sangat tertarik dengan profesi Edward sebagai grand manager Zafora. Pekerjaannya memungkinkan pria itu untuk berinteraksi dengan banyak orang di banyak tempat. Tidak seperti dirinya yang selalu berkutat sendirian di lab yang dingin dan sepi sepanjang hari, bahkan kadang hingga larut.
Ia sudah lama mengenal brand internasional itu tapi belum pernah memakai produknya. Edward menawari wanita itu untuk mengunjungi outletnya kapan-kapan. Ia berjanji akan memberi pelayanan khusus untuknya.
__ADS_1
Sebelum berpisah Edward dan wanita itu saling bertukar kontak di WhatsAp dan Instagram. Karena Edward dan Mikaila masing-masing sedang sendiri dan tak terikat pada suatu hubungan, mereka pun membuat janji untuk bertemu lagi di weekend nanti.