CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
27. Trending Topic (2)


__ADS_3

Begitu sampai di Jakarta, Edward langsung menuju ke kantornya. Ketika sampai di lobi, resepsionis menyambutnya dengan anggukan hormat dan senyuman. Ia balas mengangguk sambil masuk ke dalam kantor. Ketika pria itu melewati ruang karyawan, dilihat semua karyawan berdiri mengucap salam sambil tersenyum. Edward heran dengan sikap para karyawannya yang tak seperti biasanya.


Baru saja ia hendak masuk ke ruangannya sendiri, pria itu melihat Adrian keluar dari ruangannya untuk coffee break.


“Adrian. Tahukah mengapa semua orang hari ini memandang saya aneh?” tanya Edward pada asistennya itu.


“Sebelum rasa penasaran anda itu terjawab, saya ingin mendapat penjelasan dulu dari anda tentang kegaduhan yang menyebar di kalangan karyawan sejak kemarin.” ucap pria itu sambil menggiring Edward masuk ke ruangannya.


“Kegaduhan apa yang anda maksud, Adrian?” tanya pria itu setelah mereka berada di dalam.


“Berita tentang anda yang menjadi mualaf. Benarkah itu, Tuan?”


“Kalau begitu saya tak perlu lagi menyampaikan ke mereka tentang hal ini.” ucap Edward tersenyum.


“Itu memang benar.”


“Kalau begitu saya juga tak perlu lagi menjelaskan mengapa para karyawan bersikap aneh pada anda.” jelas Adrian diplomatis sambil mengulurkan tangannya.


“Selamat saya ucapkan untuk anda yang telah menjadi seorang muslim.”


“Terima kasih, Adrian.” Edward tersenyum membalas uluran itu.


“Maaf Tuan, tapi saya harap keputusan anda ini bukan hanya untuk pencitraan saja.”


“Maksudnya?” Edward mengernyitkan dahinya.


“Isu yang beredar bahwa anda menjadi mualaf karena mempunyai hubungan khusus dengan salah seorang karyawati muslim.”


“What!!?” Edward melotot.


“Saya harap anda tak salah ambil keputusan dengan motif mencari simpati pada wanita yang anda sukai itu.” ucap Adrian.


“ Karena sebenarnya ada wanita yang lain yang bersimpati pada anda, tapi anda sendiri tidak respek padanya.”


Edward merasa tersinggung dengan ucapan Adrian barusan yang melecehkannya.


“Maaf, Adrian. Sepertinya bukan tugasmu sebagai asisten untuk turut campur masalah pribadi saya.” Ucap Edward menatap pria itu tak senang.


“Ini sudah menjadi tugas saya untuk mengawasi anda, Tuan Edward." ucapnya tak kalah tajam menatap.


"Jangan sampai isu-isu liar yang beredar karena statemen anda ini bisa mempengaruhi Zafora Indonesia di bursa saham.”


“Pikiranmu terlalu berlebihan, Adrian. Tak ada apa-apa dengan perusahaan ini. Saya lebih tahu dari pada engkau!”


"Justeru yang saya nilai, sebagai seseorang yang lebih dulu menjadi muslim, anda tak bersimpati sedikit pun terhadap apa yang sudah saya tempuh.”


“Harusnya anda bisa jadi sosok panutan spiritual bagi saya. Bukan justeru membuat saya down seperti ini!"


Edward berucap penuh emosi seraya meninggalkan pria yang mematung sambil melemparkan pandangan ke luar jendela itu. Selama mengenal Adrian, baru kali ini ia berucap dengan nada tinggi seperti ini padanya.


Kita lihat saja Edward Anderson, seberapa lama kau bertahan dengan status barumu itu. ucap Adrian dalam hati.


Apa yang bisa kau perbuat dengan baru dua hari menjadi seorang muslim? Sedangkan aku yang terlahir dari sebuah keluarga Islam yang taat, masih hidup dalam kebrengsekan seperti ini.


“Lagi pula, apa maksud anda tadi dengan mengatakan ada wanita lain yang bersimpati dengan saya?” tanya Edward setelah duduk di kursinya.


“Seberapa banyak anda tahu tentang saya dan Anjani? Atau bahkan sangat banyak sehingga anda tahu kalau ia menyukai saya yang saya sendiri tak tahu?”


“Yang pasti, saya adalah orang yang paling mengerti dengan arti sebuah pertemanan, Tuan.” ucapnya masih memandang keluar.


“Saya mempertanyakan loyalitas anda, Adrian. Sebenarnya anda itu asisten saya atau fansnya Anjani Adinegoro? Di mana posisi anda berada?”

__ADS_1


Adrian memalingkan wajahnya menatap Edward. Seketika wajahnya tampak tegang.


“Sebaiknya kita lupakan saja perdebatan ini, Tuan Edward. Maafkan saya yang telah lancang mengusik kehidupan pribadi anda. Saya permisi Tuan.” ucap pria itu sambil melangkah pergi.


Edward tak menjawab perkataan asistennya. Dipejamkan matanya sejenak, seakan ia ingin menjauh dari kelelahan yang menderanya.


Ya Allah, apakah ini salah satu cobaan bagi diriku yang ingin mengenal-Mu?


...------------------------------------------------...


Edward sedang santai di apartemennya malam ini.


Ia duduk di sofa sambil menyaksikan Liga Premier Inggris di salah satu saluran olah raga internasional. Malam ini Manchester United berlaga di kandang sendiri menjamu Tottenham Hotspur. Dan demi untuk mendapatkan atmosfer Old Trafold Stadium, ia sengaja memakai jersey klub kebanggaan kotanya yang mendapat julukan Red Devil, Si Setan Merah itu.


Edward merasa tak asik nonton sendiri. Sempat ia berpikir akan meminta Mikaila datang untuk sekedar menemaninya nonton bola. Ia rindu dengan wanita Rusia itu. Tapi ia sadar kalau itu tak boleh lagi ia lakukan. Terlalu besar godaan yang akan ia tanggung.


Pria itu juga sempat berpikir menelpon Adrian. Tapi ia segera sadar kalau dirinya sedang berurat tegang dengan asistennya itu akibat perdebatan siang tadi.


Edward baru saja meletakan kaleng minuman soda yang tadi diteguknya sedikit di meja dan akan membuka sekantong besar keripik kentang rasa barbeqyu, ketika sebuah panggilan terdengar dari smartphone-nya. Siapa yang menelpon malam-malam begini, gerutunya sambil mengambil benda di atas meja itu. Tapi seketika matanya berbinar saat pria itu tahu siapa orang yang menelponya.


“Assallamualaikum, Tuan Faris.”


Terdengar suara di seberang setelah Edward mengangkat panggilan itu.


“Wa’alaikumsallam, ada apa Sarah?” tanya Edward sambil mengecilkan volume suara televisi. Pria itu lumayan heran karena baru kali ini gadis itu menelponnya.


“Maaf Tuan kalau saya mengganggu istirahat anda.”


“Sama sekali tidak mengganggu.” ucap Edward tertawa. Justeru pria itu merasa senang ditelpon Sarah.


“Saya sedang menonton Liga Inggris ini.”


“Oh, ternyata anda juga penggemar sepak bola, Tuan Faris?”


Edward mendengar tawa yang lembut dari seberang.


“Begitu ya, Tuan?”


“Kira-kira begitulah, Sarah.” ucap Edward ikut tertawa.


“Maaf Tuan, sebenarnya ada sedikit hal yang ingin saya bicarakan dengan anda. Tapi sepertinya malam ini quality time anda. Lain kali saja kalau begitu.”


“Tidak apa-apa.” ucapnya cepat.


“Tak masalah. Saya bisa melihat tayangan ulangnya atau review-nya nanti di internet. Ada apa, Sarah?"


“Anda sudah tahu belum, kalau semua karyawan sedang membicarakan anda dan saya?”


“Saya belum tahu. Membicarakan bagaimana maksudnya?” tanyanya berpura-pura. Mau tak mau ia teringat lagi perdebatan siang tadi.


“Mereka semua mengira kalau kita mempunyai hubungan yang khusus, Tuan.”


“Bukankah kenyataannya memang kita mempunyai hubungan khusus, Sarah?” Edward mengernyitkan dahi mendengar pernyataan gadis itu.


“Menurut anda begitu?”


“Ya. Bahkan saya sudah melamarmu. Tapi karena kita berdua belum sejalan, maka lamaran itu ditunda. Itu artinya saya siap menikah denganmu, Sarah.”


“Tuan, kemarin anda sudah berbicara pada ayah saya, dari pembicaraan itu bisa diambil kesimpulan kalau kita belum ada ikatan apa pun.”


“Beliau memberi kesempatan anda untuk belajar dulu tentang Islam, setelah tuan mantap menjadi seorang muslim, barulah tuan berbicara lagi pada ayah saya”

__ADS_1


“Oke. Jadi sekarang apa yang harus saya lakukan dengan karyawan-karyawan yang gemar bergosip itu?” tanya Edward tak ingin lagi berdebat soal status mereka.


“Apa sebaiknya saya mengeluarkan statemen bahwa kita tidak mempunyai hubungan apa pun?”


“Tak perlu seperti itu, Tuan. Hanya sebaiknya kita berdua sama-sama saling menjaga sikap.”


“Menurutmu ada sikap saya yang salah, Sarah?” tanya Edward kesal.


“Bukan begitu, Tuan. Saat ini kita masih dalam masa taaruf. Artinya saya dan Tuan masih berusaha saling mengenal sifat masing-masing. Mungkin di masa taaruf seperti ini, salah satu di antara kita nanti akan berubah pendiriannya.”


Apa kau sudah mengetahui keburukanku dan berencana akan meninggalkanku Sarah? Wajah Edward tampak kecut.


“Akan sah-sah saja, jika nanti Tuan memutuskan untuk tidak meneruskan niat melamar saya. Karena kita memang harus memilih orang yang terbaik untuk mendampingi seumur hidup kita.”


“Jadi saya mohon, anda tak perlu dulu membicarakan rencana tuan itu pada orang lain. Kita bersikap biasa saja, seperti anda dan karyawati lainnya.”


“Apa kau merasa belum yakin dengan kesungguhanku, Sarah?”


"Saya yakin kalau anda sungguh-sungguh dengan saya. Tapi nasib seseorang itu siapa yang tahu, Tuan? Kita manusia hanya wajib berikhtiar, berusaha, tapi tetap Allah yang akan menentukan.”


“Apa kau merasa sepertinya kita tak akan menikah?” tanya Edward lagi penuh kegalauan.


“Saya tak tahu, Tuan Faris. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.”


Hati pria itu makin galau mendengar jawaban Sarah.


“Jadi saya tak boleh menunjukan kalau saya menyukaimu dan berencana ingin menikahimu?”


“Tuan Faris, sebaiknya tak harus ditunjukan ke khalayak umum, ketika seorang lelaki dan wanita sedang dalam proses taaruf."


"Karena jika ternyata nanti tak jadi menikah, maka mereka berdua akan menjadi bahan perbincangan dan olok-olokan semua orang.”


Edward terperangah. Ia tak menyangka kalau itu alasan Sarah melarang ia mempublikasikan hubungan mereka. Tahulah Edward sekarang mengapa di dalam Islam tidak dikenal kata berkencan atau berpacaran. Sungguh ia tak berpikir sampai sejauh itu.


“Justeru yang harus diberitahukan ke semua orang, jika dua orang itu telah menikah dan sah menjadi suami-isteri. Agar tak terjadi fitnah dan kesalahpahaman."


"Itulah gunanya, mengapa perlu diadakan walimatul ursy atau pesta pernikahan, Tuan.”


“Saya paham sekarang, Sarah. Saya akan mempelajari Islam dengan tekun. Jika telah mampu menjadi muslim yang beriman dan pantas menjadi imammu, saya akan datang lagi menemui Ayah untuk melamarmu. Dan kita akan menikah secepatnya.”


Karena tak ada respon dari Sarah di seberang sana, pria itu pun kembali menyapa.


“Halo Sarah?”


“Ya Tuan.” Terdengar lagi suara Sarah.


“Kenapa diam?”


“Saya tak tahu harus menjawab apa, Tuan.” ucap gadis itu dengan suara tersipu.


Edward tersenyum ketika ia sadar kalau Sarah merasa malu saat ia menyinggung tentang lamaran dan menikah. Untuk mencairkan suasana yang kaku, Edward pun mengganti topik pembicaraan.


“Oh ya Sarah, besok saya akan ke pesantren untuk menemui Ustadj Zakaria.”


“Amiin. Saya doakan semoga lancar Tuan Faris menuntut ilmu. Insya Allah. Hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, Tuan.”


“Assallamualaikum.”


“Wa’allaikumsallam.” balas Edward sambil menunggu Sarah menutup panggilan telponnya dengan tersenyum.


Aku akan menuntut ilmu dengan tekun agar pantas menjadi imammu, Sarah. Dalam hatinya Edward kembali mengucapkan janji yang tadi telah ia katakan.

__ADS_1


Pria itu jadi tak ingin lagi menonton aksi klub kesayangannya, Si Setan Merah.


__ADS_2