
Motor matik yang dikendarai Rais masuk ke kompleks masjid dan berhenti di pelataran.
Malam ini entah mengapa hati lelaki itu begitu semangat untuk mengikuti pengajian Ustadj Faruk yang baru akan digelar bada isya nanti. Makanya setelah selesai salat magrib tadi, ia langsung mengajak Sarah berangkat. Biasanya mereka pergi menjelang salat Isya. Setelah Sarah turun dari boncengan dan masuk ke masjid, lelaki itu pun mengarahkan motornya ke parkir.
Rais baru saja hendak melangkah ke tempat wudhu saat sebuah motor besar masuk ke kompleks masjid dan berhenti di area parkir. Pemiliknya seorang pria tampan berkulit terang, berjambang dan berambut ikal, serta mempunyai mata yang agak sipit. Dengan fisik seperti itu orang-orang akan sulit menebak, apakah ia seorang Melayu, Menado, atau mungkin Aceh? Kabarnya pria-pria Aceh mempunyai paras yang rupawan karena leluhur mereka merupakan perpaduan antara Portugis, Cina, India, dan Persia.
Tak sengaja pandangan Rais terarah ke pria yang memakai kopiah kupluk dan gamis pakistan itu. Pria itu seperti orang yang pernah dikenalnya, tapi ia ragu-raugu. Maka untuk memastikan dugaannya benar atau salah, dengan rasa penasaran Rais pun menyusul pria yang akan menaiki tangga masjid itu.
“Assallamualaikum Akhi.” sapa Rais sambil menyentuh punggungnya. Pria yang disapa itu pun refleks menoleh sambil membalas sapaan.
“Wa’alaikumsallam.”
Seketika, baik Rais mau pun pria itu sama-sama memandang lalu tersenyum sambil matanya berbinar. Dan sejurus kemudian mereka pun sama-sama berseru.
“Tengku Furqan!?”
“Tengku Rais!?”
Mereka pun berangkulan. Seketika rasa haru menyelimuti hati mereka.
“Subhanallah!! Apa kabar Tengku Rais? Saya hampir-hampir tak tanda dengan Tengku.” tanya pria itu.
“Alhamdulilah kabar saya baik. Saya juga tadi sempat ragu-ragu untuk menyapa. Soalnya Tengku Furqan sekarang jauh berbeda. Sangat tampan dan gagah.” ucap Rais melihat tubuh tinggi Furqan dari wajah sampai ke kaki.
“Sukran Tengku, Jadi sekarang menetap di sini?” tanya Furqan setelah mereka berdua duduk di tangga masjid.
“Sejak pulang dari dayah dulu, tak lama saya pergi bekerja di kota ini sampai sekarang. Ya sudah sekitar sepuluh tahunlah.” ucapnya sambil menghembuskan napas.
“Belum juga cukup ilmu yang saya dapat, saya sudah harus pulang untuk membantu ayah.”
“Tak apa Tengku, menafkahi keluarga juga ibadah bukan? Toh, sekarang pun kita masih bisa belajar?”
“Iya betul, Tengku. Oh ya, Tengku Furqan juga mau mengikuti pengajian Ustadj Faruk?”
“Iya, Tengku.” ucapnya mengangguk.
“Sudah dua bulan ini saya mengikuti pengajian beliau.”
“Sudah dua bulan?” tanya Rais mengerutkan dahi.
“Kok gak pernah ketemu ya?”
“Allah sudah menentukan Tengku, kalau malam ini baru kita dipertemukan.” ucap Furqan tersenyum.
“Saya selalu datang setelah pengajian dimulai. Ada sedikit kesibukan yang menyita waktu saya. Baru malam ini saya sempatkan datang bada magrib.”
Sebenarnya Furqan datang ke masjid lebih awal karena berniat ingin bertemu Ustadj Faruk. Ada hal yang ingin ia sampaikan dengan Imam Masjid Salman Al-Farisy itu. Tapi karena pria itu telah bertemu dengan sahabat lamanya, maka ia tangguhkan niat itu. Insya Allah di lain waktu, pikirnya.
Rais memandang pria yang duduk bersandar di salah satu tiang masjid itu. Bertemu Furqan lagi, membuat lelaki teringat masa mudanya saat pertama kali ia mengenal teman karibnya itu.
Lelaki itu terlahir tiga puluh tahun lalu dengan nama Muhammad Furqan Al Habsy. Ia lahir dan besar di sebuah desa di Pidie, Aceh. Rais mengenalnya saat ia memperdalam ilmu agama di Dayah Istiqamatuddin Darul Muarif, Aceh Besar. Ia yang berstatus santri baru sering meminta bimbingan Furqan yang sudah mondok lebih dulu di dayah itu. Karena itu mereka berdua tak hanya jadi akrab dan bersahabat karib, tapi orang tua Furqan juga telah menganggap dirinya seperti anak mereka sendiri.
__ADS_1
Setiap di kampung mengadakan kenduri Maulid, pasti Furqan akan pulang dan mengajak serta dirinya. Dan setiap menjelang Ramadhan, sebelum dirinya pulang ke kampung halamannya di Tanjung Pura, ia pasti menyempatkan singgah di rumah Furqan untuk melewatkan Makmeugang dan puasa hari pertama bersama keluarganya. Dan ketika Rais berpamitan, selalu ia akan menerima sekantong besar kerupuk kulit dan kerupuk mulieng, makanan khas dari Pidie untuk ia bawa sebagai oleh-oleh.
Tapi kebersamaan mereka tak lama. Baru dua tahun Rais mendalami agama di dayah itu. ia diminta pulang untuk membantu penghidupan keluarganya. Ayahnya sudah tua dan mulai sakit-sakitan, sehingga tak kuat lagi bekerja di sawah dan ladang seperti dulu.
Rais jadi terharu jika ia mengenang masa lalu.
Setelah tak bertemu sepuluh tahun lamanya, kini ia mendapati teman masa mudanya itu telah menjelma menjadi seorang lelaki dewasa yang tampan dan gagah.
“Sudah menikah Tengku Furqan?” tanya Rais.
“Ini lagi berikhtiar, Insya Allah. Doakan saya, Tengku.”
“Insya Allah, Amiin. Kalau begitu Tengku Furqan kalah dengan saya. Saya sudah menikah empat tahun yang lalu.” ucap Rais tertawa sambil menekukan lengan kanannya seperti bina raga yang sedang memamerkan ototnya.
“Dan sekarang sudah diberi seorang jagoan kecil.”
Furqan ikut tertawa melihat ulah lelaki itu.
“Ya Tengku Rais kan senior saya dari segi usia, jadi wajarlah kalau melaksanakan sunah rasul duluan.”
“Oh ya, bagaimana kabar Ayah dan Emak?” tanya Rais.
“Alhamdulilah beliau berdua sehat-sehat saja. Tapi karena Ayah sudah tua, maka sekarang mudah letih. Jadi tak kami bolehkan lagi beliau bekerja. Biarlah kami anak-anaknya yang mencari uang belanja.”
“Alhamdulilah kalau sehat-sehat saja. Tolong sampaikan salam saya untuk beliau berdua jika nanti Tengku pulang kampung.”
“Insya Allah, Tengku.” ucap pria itu mengangguk.
Furqan tertawa mendengar ucapan lelaki itu.
“Oh ya, Tengku Furqan sudah berapa lama tinggal di sini?” tanya Rais.
“Saya baru tujuh bulan di sini, Tengku." jawab Furqan.
“Kerja?” tanya lelaki itu lagi.
“Ya hanya mencari-cari saja Tengku, siapa tahu tulang rusuk saya yang hilang satu, saya temukan di sini.”
Rais tertawa mendengar ucapan pria itu. Dari dulu temannya itu memang tak berubah, suka melucu.
“Saya doakan ya semoga cepat ditemukan tulang rusuknya.”
“Amiin. Sukran, Tengku.”
“Tapi Tengku Furqan, mencari pendamping di sini harus pintar-pintar. Gadis di kota ini tak seperti gadis-gadis Aceh yang masih pemalu. Di sini gadisnya canggih-canggih semua.” ucap Rais mengingatkan.
Furqan hanya tersenyum mendengar ucapan lelaki itu sambil melirik jam tangannya. Karena sebentar lagi azan isya akan berkumandang, pria itu pun mengajak Rais segera masuk ke masjid untuk mengerjakan salat sunah tahyatul masjid. Rais mempersilahkan pria itu masuk duluan karena ia akan mengambil wudhu dulu. Sementara para jamaah yang akan mengikuti pengajian juga sudah mulai berdatangan.
...------------------------------------------------...
“Saya membuka warung kopi kecil-kecilan di Pondok Kelapa. Hasil dari patungan modal dengan sepupu. Ia sudah lebih dulu merantau di Medan ini.” ucap Furqan pada Rais sambil menuruni tangga masjid bersama jamaah lainnya.
__ADS_1
Pengajian baru saja selesai beberapa menit lalu.
“Kalau Tengku ada waktu, datanglah ke warung Saya.”
“Ouh, itu tak jauh dari daerah Sei Sikambing. Saya menyewa rumah petak di sana. Insya Allah, kapan-kapan saya akan singgah.” janji Rais.
Sebenarnya Furqan ingin mengajak Rais singgah ke warung kopinya malam ini. Tapi belum sempat ia berucap, seorang gadis datang menghampiri lelaki itu.
“Assallamualaikum.”
“Waallaikumsallam.” balas kedua orang itu bersamaan.
Furqan terkejut melihat gadis itu.
“Maaf Bang, bisa kita pulang sekarang? Sudah jam setengah sebelas, lho.” ucap gadis itu kepada Rais.
“Iya, bentar Sarah.” ucapnya lalu menoleh ke Furqan.
“Tengku, sepertinya saya harus pulang duluan ini.”
“Maaf Tengku, ini istrinya?” tanya Furqan sambil meringis.
“Bukan, Tengku. Ini Sarah, adik sepupu saya.” ucap Rais tersenyum.
“Sarah, Akhi ini Tengku Furqan dari Aceh. Beliau teman sekamar abang waktu mondok dulu di pesantren.” ucapnya menoleh ke Sarah.
Furqan memberi salam perkenalan dengan menangkupkan kedua telapak tangannya. Begitu juga yang dilakukan Sarah.
“Maaf, Ukhti Sarah, saya kira tadi istri Tengku Rais.” ucap pria itu dengan nada lega. Sarah hanya mengangguk.
Mereka berdua akhirnya pamit kepada Furqan. Sebelum berpisah pria itu pun meminta nomor telepon Rais.
Furqan memandangi motor yang membawa Rais dan Sarah meninggalkan kompleks masjid hingga akhirnya menghilang dari pandangannya. Tampak wajah pria itu berseri-seri karena hatinya sedang bahagia. Sebelum perkenalan tadi, sebenarnya ia sudah mengenal gadis itu selama dua bulan ini. Ia kerap mencuri-curi pandang saat berpapasan di pelataran masjid atau ketika gadis itu mengajukan pertanyaan saat pengajian. Sarah memang terkenal aktif bertanya. Gadis itulah yang menjadi alasan Furqan ingin bertemu Ustadj Faruk malam ini. Tapi ia baru tahu jika gadis itu bernama Sarah. Dan ternyata ia adalah adik sepupu sahabat karibnya.
Subhanallah! Seru Furqan dalam hatinya.
Keterangan :
Makmeugang adalah suatu tradisi memasak daging, baik sapi, kerbau, atau pun kambing pada satu hari menjelang bulan suci Ramadhan, untuk kemudian disantap bersama-sama. Tradisi di Aceh ini ditujukan untuk menyambut Ramadhan dan untuk kaum muslimin yang akan berpuasa sebulan penuh. Tradisi ini juga ada di daerah lain tetapi dengan istilah dan jenis masakan yang berbeda.
Timphan : makanan tradisional Aceh yang terbuat dari tepung ketan yang berisi unti kelapa atau selai srikaya dan dibungkus dengan daun pisang muda.
Kerupuk mulieng : emping melinjo
Sukran : terima kasih
Tengku : panggilan untuk pria yang pandai tentang ilmu Islam.
Akhi ; sebutan untuk saudara laki-laki (tunggal)
Ukhti : sebutan untuk saudara perempuan (tunggal)
__ADS_1