CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
23. Melamar (2)


__ADS_3

Sarah sedang duduk tafakur di atas sajadah. Ia baru saja selesai salat isya di kamarnya. Gadis itu sedang memikirkan maksud atasannya tadi siang. Semula Sarah memutuskan kalau besok ia akan menghubungi pria itu dan langsung menolak keinginannya. Tapi melihat kesungguhan di wajah Edward tadi - meskipun pria itu tahu konsekuensi besar yang harus ia lakukan - gadis itu jadi terketuk nuraninya. Sarah akan menjadi orang yang sangat tak adil jika tak memberi kesempatan pria itu. Setidaknya sampai bertemu dengan orang tuanya.


Sarah ingin meminta tolong Rais untuk bicara dengan ayahnya soal rencana Edward. Bagaimana pun, ayahnya telah mengamanahkan lelaki itu untuk menjadi walinya selama ia di sini. Jadi gadis itu merasa tak enak hati dengan Rais kalau ia sampai tak memberi tahu urusan sepenting ini.


Ia pun bergabung dengan abang sepupunya itu yang sedang asik nonton sinetron striping di tivi bersama istri dan anaknya.


“Tumben kamu ikut nonton, Sar. Biasanya habis isya nggak keluar lagi dari kamar.” ujar Maryam sambil beranjak ke kamar membopong si kecil Rayhan yang tadi tertidur di pangkauannya.


Sarah hanya tersenyum.


“Sudah makan belum, Sarah?” tanya Rais.


“Belum Bang.” jawabya singkat.


“ Makanlah dulu sana walau sesuap dua suap. Kalau nanti kau sampai sakit, abang juga yang ditegur sama Pak Cik.” ujar lelaki itu.


“Kakak hari ini masak asam padeh ikan. Kalau kau tak selera, beli saja soto di depan gang.” ucap Maryam dari dalam kamar.


“Iya, Kak.” jawab gadis itu singkat.


“Atau Abang aja sana yang beli, Bang. Sekalian cari anti nyamuk di kios!” ucap Maryam lagi meminta suaminya.


“Gak usah kak, biar aku nanti makan di rumah aja.” ucap Sarah segera masuk ke kamar untuk memakai kerudungnya dan membeli anti nyamuk di kios depan.


Setelah selesai makan, Sarah pun memberanikan diri mengutarakan maksud hatinya ke Rais.


“Bang Rais, ada yang ingin aku sampaikan ke abang.” ucap Sarah duduk di samping lelaki itu.


Rais yang sedang nonton sambil tiduran di karpet itu pun segera duduk.


“Soal apa, Sarah?” tanyanya sambil mengecilkan volume suara tivi.

__ADS_1


“Soal atasanku di tempat kerja, Bang.” ucapnya dengan nada ragu-ragu.


“Kenapa, kau ada masalah dengan atasanmu?” tanya Rais mengerutkan dahi.


“Bukan Bang, Tapi beliau ingin mengkhitbah Sarah tadi.” ucap Sarah menunduk.


“Purnomo yang kau ceritakan itu? Lho, tapi katamu ia sudah beranak-istri?” tanya lelaki itu lagi dengan terkejut.


“Bukan beliau bang. Tapi atasan Pak Purnomo yang dari Jakarta. Namanya Pak Edward.” jelas Sarah.


“Wah! Hebat kau Sarah, ditaksir sama bos besar. Kakak setuju kali lah! Pasti dia orang kaya!”


Tiba-tiba Maryam keluar dari kamar dan ikut nimbrung. Padahal tadi ia sudah berniat untuk tidur. Rais mendelik pada istrinya yang tidak bisa mengontrol volume suaranya. Rumah petak itu tak kedap suara. Terkadang tetangga di sebelah dinding bisa mendengar suara mereka.


“Bukan hartanya yang jadi pertimbangan. Tapi harus dilihat dulu akidahnya, akhlaknya. Bisakah ia jadi imam yang baik untuk Sarah?” ucap Rais sambil menoleh ke Maryam yang sudah duduk di sampingnya.


“Apa kalian sudah saling taaruf? Kau sudah tahu asal-usul dan latar belakangnya? Jangan sampai nanti suami orang yang menikahimu.” tanya Rais memandang ke Sarah.


“Dan ia bukan muslim.”


Rais dan Maryam sama-sama terkejut. Mata mereka terbelalak.


“Astaghfirullah. Bagaimana mungkin kau akan dikhitbah dengan lelaki yang berbeda akidah, Sarah? Pak Cik dan semua keluarga besar pasti tak akan merestuinya.” ucap Rais memelankan volume suaranya tapi tetap terasa tegas.


"Kau boleh memilih calon yang tampan, berkedudukan, dan berharta. Tapi tetap yang utama adalah akidahnya, Sarah."


Sarah masih menunduk.


"Lupakan saja Pak Edward itu. Nanti kukenalkan kau dengan teman Abang yang akidah dan akhlaknya bagus." ucap Rais.


“Apa pula abang ini." ucap Sarah tersipu malu.

__ADS_1


"Aku juga sudah beri pandangan ke Pak Edward seperti itu. Tapi beliau bilang ingin menjadi muslim.”


Rais memandang Sarah sambil tampak berpikir.


“Jika ia seorang muslim, tak ada halangan untuk mengkhitbahmu. Tapi biarkan dulu ia menjadi mualaf dan belajar. Jika ia memang berniat denganmu, pasti ia akan mendalami Islam dengan sungguh-sungguh.” ucapnya memberi nasihat.


“Iya Bang, Tapi aku minta tolong Abang untuk menyampaikan masalah ini dengan Ayah, ya.” pinta gadis itu.


Rais tampak berpikir, tapi sesaat kemudia ia berkata ke gadis di hadapannya.


“Besok sore sepulang dari pabrik, Abang akan telpon Pak Cik. Kalau sekarang mungkin saja beliau sudah istirahat.” ucap Rais.


____________________________


Edward berdiri di bibir jendela ruang kerjanya, memandang lepas ke gedung-gedung kota Jakarta. Pikirannya mengembara jauh di awang-awang. Ia masih belum bisa percaya bahwa di negara inilah ia akan membuat dua keputusan besar dalam hidupnya.


Keputusan pertama; ia ingin menikah.


Selama ini pria itu ragu untuk menikah dan tidak berniat untuk terikat dengan seorang wanita selama hidupnya. Ia bangun hipotesa sendiri di dalam pikirannya jika pernikahan adalah sesuatu yang akan memasung kebebasannya.


Tapi ketika Edward mengenal Sarah, ia mengerti bahwa hidup ini memang penuh dengan aturan, ikatan, dan tuntunan. Sudah menjadi fitrah manusia untuk ditakdirkan menemukan pasangan, hidup menikah, dan mempunyai anak. Karena jika nanti dirinya mati, anak-anaknya kelaklah yang akan membuat garis keturunan Anderson tetap terjaga di bumi ini.


Dan karena gadis itu jugalah ia jadi uring-uringan seminggu ini. Termasuk Adrian yang juga tak luput dari sasarannya. Portofolio dan dokumen yang akan dikirim ke CEO di Swedia yang sebenarnya kemarin sudah disetujuinya, ia perintahkan lagi asistennya itu untuk memverifikasi ulang.


Edward merasa tidak fokus bekerja karena konsentrasinya kacau . Selama hidupnya, baru sekarang pria itu merasa segelisah ini. Bahkan Mikaila yang menghubunginya pun tak ia pedulikan. Ia sedang menunggu jawaban dari Sarah. Dan ia merasa hatinya akan hancur jika nanti gadis itu menolaknya.


Keputusan kedua; menganut keyakinan baru.


Sarah hanya akan menikah dengan pria yang satu keyakinan dengannya. Jadi Edward harus menjadi muslim jika ingin tetap mendapatkan hati gadis itu. Dirinya tak merasa keberatan dengan konsekuensi itu. Selama ini ia juga bukan orang yang taat dengan keyakinan yang dianutnya. Ia tak pernah lagi mengikuti kebaktian ke gereja, sehingga ia merasa telah lama tak ada Tuhan di dalam hatinya.


Dan hari ini telah sampai sepekan saat ia memberi kesempatan pada Sarah untuk memikirkan lamaran itu.

__ADS_1


__ADS_2