CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
26. Trending Topic


__ADS_3

Kabar tentang Edward yang menjadi mualaf akhirnya terdengar juga oleh teman-teman kerja Sarah. Sebenarnya berita baik seperti itu memang harus disampaikan ke orang-orang terdekat agar tak terjadi kesalahpahaman.


Awalnya Sarah tak ingin memberitahukan itu pada siapa pun. Tapi tadi gadis itu menitipkan hadiah pada Hesti untuk diberikan ke Edward. Dan karena ia paham betul, kalau rekannya itu tak akan berhenti mencari tahu jika sudah penasaran akan sesuatu, maka Sarah pun mengatakan yang sebenarnya. Dan sekarang mereka sedang sibuk membicarakan bos besarnya itu.


Sebenarnya mereka sudah menduga jika Edward ada menaruh hati dengan Sarah. Semua itu dilihat dari sikapnya selama ini. Pria itu berkunjung ke Medan tidak sesuai dengan standar operasional perusahaan. Umumnya grandmanager akan memonitoring semua outlet setiap dua bulan sekali. Tapi pria itu kerap mengunjungi outlet mereka selama tiga bulan terakhir ini.


Hesti sebagai karyawati paling senior mengingatkan rekan-rekannya kalau hal itu bukan urusan mereka.


“Kewajiban kita hanya bekerja dengan sebaik-baiknya agar tak dipecat.” ucapnya menoleh.


“Masalah Pak Edward menyukai Sarah itu sudah menjadi hak beliau. Dan perihal Sarah menyambutnya atau tidak, itu juga menjadi hak dia.” ucap Hesti.


Kedua rekannya pun mengangguk mendengar ucapan Hesti. Mereka sepakat untuk itu. Tapi yang membuat mereka sangat terkejut adalah kabar bahwa Edward berpindah keyakinan. Dan masing-masing dari mereka membuat spekulasi sendiri.


“Jujur, gue bener-bener gak nyangka kalau Pak Edward berpindah keyakinan.” ucap seorang karyawati.


“Sebenarnya ya, keputusan yang diambil oleh Pak Edward itu bukan sesuatu yang luar biasa.” ucap Hesti pada rekan-rekannya.


“Banyak kok orang asing yang setelah menetap di Indonesia, akhirnya memilih menjadi mualaf. Beliau mungkin termasuk dari mereka yang kagum tentang Islam dan akhirnya mendapat hidayah.”


“Apalagi perkembangan Islam di Inggriskan juga meningkat pesat lima tahun terakhir, mungkin saja Pak Edward sudah tertarik sejak masih di negaranya. Jadi menurutku beliau memang sedang menunggu timing yang pas aja.”


“Tapi sepertinya Mbak, nggak sesederhana itu deh alasan Pak Edward.” ucap karyawati yang lain.


“Ini ada hubungannya dengan Sarah.” ucapnya lagi setengah berbisik seakan-akan takut diketahui oleh orang yang sedang mereka bicarakan.


“Ada hubungannya dengan Sarah gimana?” tanya Hesti mengernyitkan dahi.


“Sepertinya Sarah tak mau menerima Pak Edward yang berbeda keyakinan. Maka untuk bisa mendapatkan hatinya, Si Bos pun rela melakukan apa saja.”


“Meski ia harus menjadi seorang mualaf.” ucapnya berbisik lagi.


Hesti dan satu temannya terkejut sambil saling bertukar pandangan.


“Jangan suka mengira-ngira ah! Kalau ternyata itu gak betul, nanti jadinya fitnah lho.” ucap Hesti mengingatkan.


“Udah, balik kerja lagi. Nanti kita bisa ditegur oleh Pak Purnomo.”


Hesti berucap lagi sambil melirik ke kamera CCTV, seakan mencoba menyadarkan kalau mereka selalu di bawah pengawasan manajernya itu. Mau tak mau kedua rekannya pun membubarkan diri dan menghentikan pergibahan itu.


...--------------------------------------------...


Dan esoknya, kabar itu pun menjadi trending topic di grup WhatsUp Karyawan Zafora Se-Indonesia. Grup ini beranggotakan karyawan seluruh outlet, ditambah dengan karyawan kantor. Dan sepanjang hari itu mereka pun sibuk membicarakan Edward.


Banyak yang bersyukur karena bos besarnya itu telah mendapat hidayah. Tapi tak sedikit juga anggota grup yang berkomentar miring, karena mereka menganggap ada suatu kepentingan dibalik keputusan penting yang diambil pria itu.

__ADS_1


.....


Friska Jakarta : Loe semua pada nggak tahu aja kalau ada :udang di balik rempeyek


Natalie Surabaya : Eh, maksudnya apa ini?


+895500457xx : Iya. Ada misi dibalik keputusan Pak Edward itu.


Friska Jakarta : Pak Edward itu 'kan lagi fall in love sama karyawati Zafora. Salah seorang dari kita.


+821 796 512xx : 😳😮😱 What!!


Natalie Surabaya : Masa iya sih? Kayak gak yakin kalo Pak Edward jauh-jauh ke Indonesia hanya untuk naksir karyawati.


Friska Jakarta : Gue dapet berita ini dari sumber yang aktual, tajam, terpercaya lho. Dari rekan satu outletnya.


Natalie Surabaya : Stasiun tivi kali, aktual tajam terpercaya. 🤪😀


Melani Bandung : Ada pelet kali ya tu karyawati.


Natalie Surabaya : Jangan seuzon deh. Namanya cinta itu bisa tumbuh di mana aja. 💜💜💜 Gak kenal status.


Melanie Bandung : Tapi pasti kenal cuan donk, mbak. Hello…hari gini, siapa sih yang gak mau ditaksir sama bule ganteng yang banyak dolarnya.


+853 7362 5xxx : Jadi maksudnya ada misi tersembunyi tadi, apa?


Natalie Surabaya : Ayo, yang merasa ditaksir sama bos besar, koment donk. klarifikasi gitu. Jangan cuma ngintip-ngintip aja.


Sofia Jogja : Maaf ya teman-teman yang pada patah hati. Saya tak ingin klarifikasi sekarang. Sekalian aja nanti saat wedding press conference. 💃💃💃💃💃💃


Melanie Bandung : Yeee!!, bukan loe kali mbak, yang ditaksir sama si bos. Loe sih udah emak2 alias tuwir. Wk wk wk. 😂🤣🤣🤣


Sofia Jogja : Anjrit loe, Mel.😈😈😈


Mira Jakarta : Yah, patah hati donk Mbak Anjaninya 💔 wk.wk.wk


Dalfia Jogja : Maksudnya gimana, sis?


Mira Jakarta : Emang pada belum tahu ya? Mbak Anjani kan lagi ngejar2 Pak Edward. Tapi ya Pak Edwardnya sich cuek gitu.


Karen Makassar : Kok gue baru denger ya🤔


Mira Jakarta :Telat. Gosip itu udah ramai diomongin di grup manager.


Karen Makassar : Manager gue gak suka bergosip sich 😀

__ADS_1


Rudi Jakarta: Coba aja gue yang ditaksir, sumpah gak akan gue cuekin.


Mira Jakarta : Yeee..!. Kalo halu jangan kebangetan donk, Rud. Emangnya loe Reza Rahardian, ingin ditaksir sama Anjani Adinegoro.


Dalfia Jogja : Iya, halu aja ni brother 😳


Rudi Jakarta : 😁😁😁😅😅


Karen Makassar : 😏😏


Dalfia Jogja : Gak nyangka gue, ternyata ada yang berhasil nyalip cewek sekelas Mbak Anjani. Jadi penasaran siapa sich cewek beruntung itu.🥺🥺🥺


Sarah gemas membaca komentar mereka yang pedas itu. Komentar-komentar itu dilontarkan oleh penghuni grup yang sebagian sudah ia kenal, karena pernah bertemu saat training dulu. Tapi ada beberapa yang tak ia kenal karena pendatang baru di grup.


Tadi ia memang sengaja membuka grup itu, karena ia lihat ada 206 percakapan baru dari pagi hingga siang ini. Gadis itu berpikir siapa tahu saja mereka sedang membicarakan informasi penting dari pusat yang harus ia ketahui.


Tapi akhirnya ia menyesal, karena grup yang harusnya untuk tempat berbagi informasi penting seputar masalah pekerjaan, justeru digunakan untuk menggunjingkan orang lain. Sarah pun memutuskan keluar dari anggota grup yang ia anggap lebih banyak mudharatnya dari pada faedahnya. Ia tak ingin membayangkan, bagaimana gaduhnya grup itu sesaat setelah ia keluar tadi.


Tiba-tiba smartphone-nya berderit karena ada panggilan masuk. Gadis itu mengangkat panggilan itu setelah tahu Hesti yang menelponnya.


“Assallamu’alaikum. Ada apa, Mbak?”


“Wa'alaikumsallam. Kenapa keluar dari grup, Sarah?”


“Males aja Mbak. Misi grup sekarang sudah menyimpang jauh dari awal dibuat.” ucap Sarah sambil bangkit dari duduknya.


“Sekarang lebih sering digunakan untuk menggunjingkan orang lain. Dari pada aku nanti nambah dosa, lebih baik keluar aja, Mbak. Nanti kalau ada informasi penting biar aku tanya ke kawan-kawan.”


“Tapi karena kamu keluar, semua penghuni grup jadi tahu kalau ternyata kamu karyawati yang dimaksud itu."


"Kamu tahu nggak, betapa hebohnya mereka tadi.”


“Mbak yakin mereka baru tahu sekarang?” tanya gadis itu.


“Mereka udah tahu dari kemarin Mbak. Atau tepatnya ada yang memberi tahu. Mereka hanya pura-pura belum tahu saja. Tujuannya agar aku marah, dan grup jadi ramai. Itu yang mereka inginkan.”


“Maaf Sarah, Mbak nggak bermaksud membuat kamu kecewa seperti ini. Maafkan Mbak ya?”


“Aku gak nyalahin Mbak kok. Tapi yang aku sesalkan, semua orang menduga-duga sepertinya ada hubungan khusus antara aku dan Tuan Edward. Toh, mereka sekarang bisa bebas kan? Ngomongin orang yang udah gak ada lagi di grup.”


“Sekali lagi Mbak minta maaf ya.”


“Iya, Mbak. Aku gak marah kok.” ucap Sarah tersenyum.


“Udah dulu ya Mbak. Ada customer yang harus dilayani. Assallamu’alaikum.”

__ADS_1


“Ia, Sarah. Wa’alaikumsallam.”


__ADS_2