
Dengan panduan Google Maps, Edward mengarahkan mobilnya keluar dari kota menuju ke arah tenggara. Jam di tangan pria itu menunjukan pukul 16.45 WIB saat mereka memasuki gerbang tol. Disampingnya, Mikaila sedang malas-malasan bersandar di jok, sambil asik browsing di gawainya. Mereka berencana akan refresing ke kawasan Puncak, Bogor sore ini.
Wanita itu kemarin menelponnya. Ia menawari Edward menginap di tempat yang sejuk dan tenang itu, untuk menghilangkan kepenatan otak dari hiruk-pikuknya Jakarta. Mikaila mempunyai kenalan seorang pria yang memiliki beberapa villa untuk disewakan di sana. Ia telah mengabari kenalannya itu bahwa malam ini mereka akan menyewa salah satu villanya.
“Mengapa tiba-tiba kau mengajakku menginap di villa, Mikaila?” tanya Edward saat mobil mereka sudah melaju di tol.
“Selama ini kita selalu bertemu di kafe atau apartemen, Ed. Jadi sekali-kali kita butuh suasana baru, bukan?" ucap Mikaila masih tetap fokus dengan gawainya.
“Aku pikir yang ada dalam kepalamu hanya pekerjaan dan pekerjaan, Mikaila.” ucap Edward tetap fokus pada jalan di depannya.
“Seperti malam saat aku menelpon dirimu yang sedang lembur. Kau malah memarahiku yang kau sebut telah mengganggu pekerjaanmu. Kau tak menganggapku sebagai teman, yang berusaha mengingatkanmu agar tak terlalu keras bekerja.”
“Aku menganggapmu teman, Edward.” ucapnya pelan.
“Jika kau menganggapku teman mengapa kau tidak mau mendengar nasihatku?”
“Siapa bilang aku tak menuruti nasihatmu, Ed? Aku malam itu datang menemuimu.” ucap Mikaila menoleh ke Edward.
Pria itu terperangah.
“Apa?! Kau datang ke Khayangan Club malam itu?”
“Ya!” jawab Mikaila singkat.
“Kau tahu, Ed? Setelah kau menutup telpon, aku menyadari kalau selama ini telah menjadi manusia bodoh yang mempertaruhkan hidupnya hanya untuk uang. Makanya aku segera berkemas-kemas pulang dan menyusulmu ke kafe. Itu kulakukan semata-mata untuk menghargaimu sebagai temanku.”
“Tapi mengapa kau tak menemuiku?”
“Untuk apa lagi? Ketika aku hendak mendekatimu, kulihat seorang wanita cantik menyapa dan duduk di sampingmu. Dan sepertinya kau memang sedang menunggunya.”
__ADS_1
Mikaila berhenti sejenak, untuk kemudian melanjutkan lagi ucapannya.
“Jadi kupikir untuk apa lagi menemuimu karena telah ada seseorang yang menemanimu? Makanya aku langsung pergi.”
Edward tercenung mendengar penjelasan wanita itu. Ini hanya salah paham, ucapnya dalam hati.
“Dia Anjani, model yang menjadi brand ambassador Zafora.”
“Lalu apa peduliku siapa dia?”
“Harusnya kau langsung mengabariku jika akan datang. Jadi aku bisa membatalkan janji dengannya.”
“Bukan seperti itu cara memperlakukan seorang wanita, Ed. Itu sama saja kau mengecewakannya.”
“Tapi akhirnya kau sendiri yang kecewa, Mikaila.”
“Apa kau bilang, Ed? Aku kecewa?” tanya Mikaila menoleh.
Mikaila tertawa terbahak-bahak hingga bahunya terguncang di jok. Edward kesal karena merasa keseriusannya ditertawakan wanita itu.
“Dengar ya. Aku tak peduli kau berkencan dengan siapa pun, Ed. Kau tahukan aku sudah pernah mengatakannya?”
Pria itu berusaha memberi klarifikasi.
“Sebenarnya malam itu aku sudah buat janji dengan asistenku minum bersama untuk merayakan proyek kami. Tapi tiba-tiba saja ia membatalkan janji. Kebetulan setelah itu Anjani menelpon dan menanyakan aku di mana. Dia menawarkan diri untuk menemaniku setelah tahu aku sendiri. Itu saja.”
“Seperti suatu kebetulan yang sudah direncanakan. Kau tak sadar ada sesuatu yang aneh, Ed?”
“Apa peduliku?” ucap Edward tak merespon perkataan Mikaila.
__ADS_1
“Tapi seharusnya kau tak langsung pergi malam itu, Mikaila. Bukankah kau bisa bergabung dengan kami.”
Maaf sekali ya, Ed. Aku bukan tipikal wanita yang suka berbagi. Aku bukan penggemar threesome saat bercinta.” ucapnya mencibir.
“Apa maksudmu, Mikaila?” Edward melotot ke wanita di sampingnya.
“Kau pikir kami melakukan apa setelah dari tempat itu?”
“Siapa yang percaya kalian tak melakukan apa-apa?” ucap Mikaila dengan wajah tersenyum santai agar tak ada kesan ia cemburu.
Sekarang ganti wajah Edward yang cemberut mendengar ucapannya. Tak ada gunanya pria itu berkelit karena Mikaila tetap tak akan percaya. Wanita itu seperti sudah paham bagaimana sifat dan tabiatnya.
Jika saja ada engkau di sana malam itu, pasti tak ada kejadian antara aku dan Anjani. Edward berucap dalam hati.
Hari telah senja saat mobil Edward sampai di villa. Bangunan berlantai dua itu terletak di puncak perbukitan yang dipenuhi dengan kebun-kebun teh. Beberapa pohon pinus tumbuh di sekeliling bangunan itu. Di kaki bukit tampak sebuah danau yang permukaan airnya memantulkan cahaya senja berwarna jingga kemerahan.
Di depan villa seorang laki-laki muda sudah menunggu Edward dan Mikaila. Ia langsung membuka pintu dan mengajak mereka berdua masuk. Bangunan itu memiliki jendela kaca yang banyak di setiap ruangan sehingga penghuni dapat menikmati keindahan tempat itu tak hanya dari ruang tamu, tapi juga dari kamar tidur atau dapur. Setelah menyerahkan kunci villa, laki-laki penjaga itu pun segera pamit.
“Selama aku di Jakarta, aku sesekali menginap di sini jika pikiran sedang kusut dan butuh ketenangan.” ucap Mikaila merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Aku pikir hanya rokok dan vodka yang bisa meluruskan lagi pikiranmu yang kusut.” jawab Edward berkelakar sambil ikut merebahkan tubuhnya di samping wanita itu.
“Aku lapar Ed. Kita cari makan yuk.” Tiba-tiba Mikaila bangun dari rebahannya.
“Ada banyak warung yang menjual bandrek dan bajigur di daerah sini. Juga jagung bakar. Kau pasti penasaran minuman apa itu tadi.”
Dengan malas-malasan Edward pun ikut bangun dan meraih kunci mobil di nakas.
Mobil mereka akhirnya berhenti di sebuah warung sederhana yang tidak terlalu besar tapi terlihat bersih dan rapi. Tampak beberapa pengunjung sedang duduk di dalam warung. Dua orang pria diantaranya bertampang Eropa seperti mereka. Sepertinya mereka turis.
__ADS_1
Edward memesan dua gelas besar bajigur, sepiring jagung bakar, serta dua porsi ayam bakar dan dua porsi nasi. Setelah beberapa bulan tinggal di Indonesia, pria itu seperti ketagihan dengan nasi. Udara Puncak yang dingin membuat mereka makan dengan lahap.