
Edward mengunjungi Pesantren Al-Waqilah bada ashar dengan ditemani Adrian.
Tadi pagi asistennya itu menemuinya dan meminta maaf soal perdebatan kemarin. Dengan lapang dada Edward pun memaafkannya tapi dengan mengajukan satu syarat ke Adrian. Ia harus mengantarkannya ke pesantren itu.
Pesantren di bawah pimpinan Ustadj Zakaria itu berada di Pluit, sebuah daerah pesisir di utara Jakarta . Terletak persis di tepi Kali Angke, yang tak begitu jauh dari pelabuhan ikan Muara Angke. Dari udara pesantren ini mudah ditemukan karena menara masjidnya yang tinggi menjulang di antara permukiman penduduk yang padat.
Pesantren ini didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Alwi pada tahun 1976. Ustadj Zakaria yang juga suami dari cucu ulama kharismatik itu, merupakan pemimpin Al-Wakilah generasi ketiga. Beliau menggantikan mertuanya Haji Mansur Sadeli yang wafat pada tahun 2005 silam.
Mereka berdua diantar masuk oleh penjaga dan dipersilahkan duduk. Sementara penjaga tadi masuk ke dalam untuk memberitahukan Ustadj Zakaria bahwa ada tamu untuk beliau. Edward dan Adrian pun duduk bersila di lantai sebuah anjungan. Lantai itu terbuat dari marmer berwarna putih dengan semburat hijau toscha. Sepertinya tempat itu memang diperuntukan untuk menerima setiap tamu yang datang ke pesantren ini. Di seberang anjungan berdiri megah Masjid Al-Waqilah yang menaranya tadi sudah tampak oleh Edward dari kejauhan.
Tak lama seorang laki-laki berumur lima puluhan datang menaiki anjungan. Laki-laki berjenggot yang penuh wibawa itu memakai gamis dan sorban, serta berkopiah kupluk. Semua yang dikenakannya berwarna putih.
“Assallamualaikum. Ahlan wasahlan.” ucapnya menghampiri mereka.
“Waallaikumsallam, Ustadj.” ucap Adrian berdiri untuk menyalami lelaki itu. Edward pun ikut berdiri memberi salam.
“Subhanallah. Silahkan, silahkan!” ucapnya mempersilahkan tamu-tamunya kembali duduk.
“Ada apa kiranya para ikhwan ini sampai di pesantren kami?” tanya beliau setelah mereka bertiga duduk.
“Maaf Ustadj. Perkenalkan, ini teman saya, Adrian.” ucap Edward menoleh sekilas ke Adrian.
“Sedangkan saya Muhammad Salman Alfarisy. Saya datang kemari atas rekomendasi Ustadj Faruk dari Medan.” ucap Edward pada Ustadj Zakaria.
Adrian menoleh ke pria di sampingnya sambil mengernyitkan dahi. Sejak kapan Si English Man ini mengganti nama? pikirnya. Tapi akhirnya ia menyadari kalau Edward mendapat nama baru itu setelah ia menjadi seorang muslim.
__ADS_1
“Ouh iya, iya! Jadi saudara ini Nak Salman yang baru saja menjadi mualaf itu?” ucap lelaki itu dengan senyum terkembang.
“Ustadj Faruk memang sudah menghubungi saya bahwa akan ada seorang mualaf yang datang kemari menemui Saya. Subhanallah. Ternyata saudara ini orang yang dimaksud itu.”
“Iya ustadj.”
“Alhamdulialh. Allah telah membuka pintu hidayah untuk saudara Salman."
“Saya diperintahkan beliau untuk menemui Ustadj untuk belajar Islam di sini.”
Ustadj Zakaria manggut-manggut. Lelaki itu memberi pandangan ke Edward bahwa sebagai seorang muslim, ia wajib memahami ilmu Islam yang terbagi menjadi tiga bagian ilmu, yaitu fikih, tauhid, dan tasauf.
Lelaki itu menjelaskan bahwa dalam fikih, Edward akan mempelajari tentang syariat dalam Islam. Tentang mensucikan diri, tentang hukum-hukum Islam, tentang cara beribadat pada Allah, sampai laranga-larangan yang tak boleh dilanggar dalam Islam.
“Di ranah inilah nanti saudara Salman juga akan mempelajari bahasa Arab agar bisa menyempurnakan salat dan mengetahui isi Qu’ran.”
"Saudara Salman di usia sekarang mengunjungi Indonesia dan masuk Islam, itu sudah tertulis jauh sebelum Saudara ada di dalam rahim."
Edward tertegun.
"Sementara tasauf itu adalah ilmu tentang bagaiman nanti saudara menjaga diri dan hati saudara tetap suci dari sifat keduniawian agar ibadah-ibadah saudara tetap terjaga."
“Dalam beribadah, seorang muslim itu diibaratkan seperti seorang petani. Untuk menjadi seorang petani sejati, kita wajib memiliki ladang yang akan digarap dan alat untuk menggarap ladang itu."
"Itulah fikih.”
__ADS_1
“Seorang muslim tak akan bisa beribadah jika belum mengetahui tentang ilmu ini.”
“Setelah petani memiliki ladang yang telah disemai benih, benih itu harus dirawat. Disiram, diberi pupuk, dibuang gulma yang mengganggunya dan hama yang menyerangnya, agar tanaman tumbuh sehat. Benih itulah nanti yang akan dipanen hasilnya. Itulah amalan kita selama di dunia yang akan diperhitungkan di akhirat."
"Itulah tauhid, Saudara Salman."
"Akhirnya, setelah benih disemai di ladang, maka kita memerlukan pagar untuk melindungi benih dan ladang kita dari segala gangguan".
"Itulah tasauf."
“Tapi untuk awal kita akan mempelajari dulu fikih dan tauhid.” ucap lelaki tua itu.
Hati Edward bergetar mendengar penjelasan Ustadj Zakaria tentang ketiga ilmu Islam tadi yang mempunyai filosofi sangat dalam. Menurut pemahamannya, ternyata ilmu fikih, tauhid, dan tasauf saling terkait serta saling melengkapi.
Sebuah ladang tak akan berfungsi jika tak ditabur benih, sebaliknya benih juga tak akan bisa disemai jika petani itu tak mempunyai ladang. Begitu juga petani belum bisa membuat pagar jika ia tak punya ladang.
Edward teringat kembali dua buku yang dihadiahkan Sarah untuknya dua hari lalu. Ternyata buku yang berjudul Tuntunan Shalat Lengkap adalah bagian dari ilmu fikih, sedangkan Asmaul Husna : Mengenal 99 Sifat Allah adalah bagian dari ilmu tauhid.
Tak terasa percakapan mereka cukup menyita waktu hingga tiba waktunya magrib. Suara azan telah dikumandagkan dari Masjid Al-Waqilah, disusul dengan para santri yang berduyun-duyun menuju ke masjid. Ketika Adrian dan Edward akan pamit, Ustadj Zakaria mengajak mereka untuk salat magrib berjamaah di masjid itu. Mereka berdua agak ragu dengan ajakan itu. Maklum, Edward memang belum tahu bagaimana caranya salat.
Sedang Adrian, meskipun ia seorang muslim, tapi pria itu juga sudah tak pernah lagi bersujud di atas sajadah. Seperti Edward yang dulu pernah mengabaikan Tuhannya. Edward paham banyak orang-orang yang telah tenggelam dengan euforianya Jakarta seperti Adrian, juga Mikaila dan Anjani. Mereka telah melupakan Tuhannya karena lebih sibuk terlena dengan gemerlapnya dunia.
“Tak apa jika Saudara Salman belum tahu bacaannya. Dimaklumi karena baru saja mualaf. Ikuti saja gerakannya biar nanti terbiasa.” ucapnya sambil berdiri dan tersenyum ke Edward dan Adrian.
Mari saya bimbing bagaimana cara berwudhu.” ucapnya lagi melangkah menuju masjid diikuti mereka berdua.
__ADS_1
Setelah selesai salat, mereka pun pamit. Disepakati bahwa tiga kali dalam sepekan Edward akan datang ke tempat itu. Ustadj Zakaria juga menyarankan Adrian untuk ikut serta agar dapat memperdalam ilmu agamanya.