
Dalam dua bulan ini, setiap akhir pekan selama tiga hari berturut-turut, Edward mengunjungi Pesantren Al-Waqilah untuk mempelajari ilmu fikih dan tauhid dan hukum-hukum dalam Islam. Ustadj Zakaria langsung yang membimbing pria itu dibantu juga dengan para santri senior.
Dan sekarang ada hal baru yang dirasakan oleh para karyawan di kantor. Setiap tiba di kantor, pasti bosnya itu mengucapkan salam pada mereka. Dan ketika tiba waktunya salat zuhur dan ashar, pria itu akan ikut bergabung bersama karyawan-karyawan muslim lainnya yang akan melaksanakan salat berjamaah.
Edward telah memerintahkan agar ruang rest area dialihfungsikan menjadi musala kantor. Sudah tiga hari ini di ruangan yang bersebelahan dengan pantry dan gudang itu, tergelar tiga buah sajadah panjang. Di sudut depan terpajang rak kecil berisi beberapa buah kitab Al Qur’an. Dan di dinding ruangan terpajang beberapa lukisan kaligrafi.
Tadi malam Edward menelpon Sarah. Sekarang ia tahu mengapa gadis itu dan wanita muslim lainnya memakai hijab yang menutupi tubuh dan rambutnya.
Pria itu juga memberi kabar padanya kalau ia sudah mengetahui cara mengambil wudhu dan salat. Ia juga bergabung di komunitas pelajaran bahasa Arab agar bisa membaca Qur’an dan menyempurnakan bacaan salatnya. Tapi yang lebih membahagiakan hati gadis itu, Edward memberitahukan jika ia sudah berhenti minum alkohol dan mengunjungi klub-klub malam.
Banyak hal-hal menakjubkan Edward temukan selama belajar tentang Islam. Kebiasaan-kebiasaan orang muslim yang dulu hanya menjadi pertanyaan yang mengendap dalam pikirannya, secara tak sengaja ia temukan sendiri. Sekarang ia tahu perbedaan antara pakaian bersih dengan pakaian yang suci, makanan yang halal dan makanan yang haram. Sekarang ia tahu mengapa dulu ayahnya lebih suka membeli beef dan chickens di toko daging milik orang Turki atau Pakistan daripada di buthcers biasa. Hewan ternak yang dipotong secara syari ternyata telah terbukti kesegaran dan kehigienisannya.
Sekarang pria itu juga telah paham mengapa pernikahan yang sah menurut hukum Islam adalah hal mutlak dalam menentukan garis keturunan. Hal penting dalam menjaga kemurnian galur keturunan. Bukan hanya sekedar ditentukan oleh DNA dan genetika.
Edward jadi teringat apa yang telah ia lakukan selama ini dengan Mikaila dan wanita lainnya. Jika kemarin Mikaila hamil, meski secara biologis ia ayah dari bayi yang dikandung wanita itu, tapi secara hukum Islam sampai kapan pun anak itu tak bernasab dirinya.
Bulu-bulu kuduk dan tangan pria itu terasa merinding membayangkan semua itu.
Ya Allah, aku telah menyia-nyiakan rahmat dan kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan padaku. Ampunilah dosa-dosaku Ya Tuhan. Jangan sampai nikmat-Mu yang telah kusia-siakan menjadi malapetaka diriku di akhirat kelak. Pria itu memohon ampun di atas sajadahnya.
Edward baru selesai melaksanakan salat asharnya dan bersiap-siap untuk berangkat ke pesantren. Ketika ada panggilan telpon di smartphone-nya. Mikaila menelponnya. Ia berniat mengangkat panggilan itu. Sudah beberapa kali pria itu mengabaikan panggilan dan pesan wanita itu.
“Halo Mikaila, apa kabarmu?” sapa Edward.
“Kabarku baik, Ed. Mengapa tak ada kabar selama ini?” terdengar suara di seberang.
“Maaf, Mikaila, aku sibuk sekali minggu-minggu ini. Akan diadakan event road show ke daerah dalam bulan ini.”
"Begitu sibukkah dirimu hingga tak sempat mengangkat teleponku?"
__ADS_1
"Ya. Maafkan aku Mikaila." ucap Edward sambil memasukan beberaa buku ke dalam ranselnya.
"Ada yang bisa kubantu, Mikaila?"
“Bisakah kau datang ke apartemenku, Ed. Kita dinner bersama lagi?”
“Maaf, Mikaila, sekarang aku tak bisa lagi ke sana.”
“Mengapa Ed? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kita akan tetap berteman selamanya. Aku hanya ingin mengobrol denganmu.”
“Tapi Mikaila, aku takut tak mampu menahan godaan jika kita hanya berduaan saja di apartemenmu,”
“Mengapa sekarang kau telah berubah, Ed?”
“Manusia memang bisa berubah, kan?” Edward balik bertanya sambil tertawa.
“Lagi pula, sore ini aku harus ke pesantren. Sekarang setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu aku ke Pesantren Al-Waqilah untuk mendalami Islam.”
"Tak ada yang mengatakan seperti itu. Itu pikiranmu saja, Mikaila." Edward mencoba membela diri dari tuduhan wanita itu.
"Kuucapkan selamat Edward.”
“Terima kasih, Mikaila.” ucap Edward sambil meraih ranselnya. Ia merasa tak enak hati telah mengecewakan wanita itu. Tiba-tiba ia tersenyum dan berkata dengan mata berbinar.
“Bagaiman kalau kita bertemu di daerah Pluit saja.”
“Di mana itu, Ed? Mengapa harus di sana?”
“Di kawasan Teluk Jakarta dekat Pelabuhan Muara Angke. Tak jauh dari apartemenmu. Di sana banyak resto yang menyediakan seafood yang masih fresh. Kita makan malam di sana saja.” terang Edward.
__ADS_1
“Sekalian aku pergi mengaji. Karena pesantren itu berada di sana.”
“Oke, share location, Ed.” Dan panggilan di seberang pun terputus.
......---------------------------------------------......
Setengah jam kemudian mobil Edward pun sampai di depan sebuah restoran seafood. Ia menghampiri Mikaila yang sudah sampai lebih dulu. Wanita itu mengernyitkan dahi saat melihat penampilan pria itu yang berbeda. Edward memakai gamis pakistan dan kupiah kupluk hadiah dari Sarah. Sebuah ransel hitam tersandang di bahunya. Dan yang membuat Mikaila tersenyum, sandal hitam yang dipakai pria itu. Selama mengenalnya, baru ini ia melihat Edward memakai sandal.
"Kau mirip pangeran dari Turki dengan pakaian seperti ini, Ed." puji Mikaila.
"Terima kasih, Mikaila." ucap Edward sambil tersenyum. Tapi sesaat kemudian ia mengernyitkan dahi melihat garis kehitaman di bawah mata wanita itu.
"Kau terlihat pucat, Mikaila. Apa kau sakit?"
"Aku baik-baik saja, Ed. Mungkin hanya kurang tidur karena sering lembur."
Tapi tetap ucapan wanita itu tak menghilangkan raut kekhawatiran di wajah Edward.
"Aku hanya rindu padamu, Ed." ucap Mikaila memandang Edward. Pria di hadapannya tersenyum getir.
"Tapi kau harus tahu Mikaila, kita tak bisa lagi seperti dulu. Dalam keyakinan mana pun, yang kita lakukan selama ini adalah salah."
"Aku tak ingin mengulangi kesalahan itu. Makanya aku ingin memperbaiki diri. Aku pun sangat berharap kau juga mencari pasangan dan menikah."
Mikaila hanya terdiam mendengar nasihat Edward.
"Maukah kau kukenalkan dengan asistenku yang masih bujangan?" tanya Edward serius.
"Terima kasih. Tapi tak perlu, Ed." ucapnya ketus.
__ADS_1
Melihat Mikaila tak senang, Edward tak membahas hal itu lagi. Pria itu pun segera memesan makanan karena ia harus segera ke pesantren. Beberapa orang melihat mereka dengan tatapan aneh. Seorang pria berkupiah kupluk bertemu dengan seorang wanita yang hanya memakai tanktop.