
Edward baru saja pulang dari Stockholm, Swedia setelah mengikuti pertemuan di kantor pusat dengan CEO dan seluruh jaringan Zafora yang ada di dunia. Hasil pertemuan itu memutuskan bahwa Zafora akan mengambil konsep primitif untuk trend mode tahun depan. Konsep androit dan biometriks juga sempat disinggung-singgung di forum pertemuan.
Tapi melihat trend echo-fashion yang makin marak saja didengung-dengungkan oleh aktivis lingkungan dan pemerhati mode, maka mau tak mau Zafora juga harus ikut ambil bagian dengan isu ini. Jika ingin tetap eksis di percaturan mode dunia.
Dan konsep primitif paling tepat untuk merealisasikan trend echo-fashion tersebut, karena bahan dasar dari produk mereka nanti diambil dari serat alam, tidak ditenun dengan mesin, dan ketika produk sudah tak dipakai lagi, limbahnya ramah lingkungan. Dan sepertinya, Zafora divisi Asia akan berperan besar di tahun ini sebagai kontributor karena beberapa bahan dasar itu ditemukan di benua ini seperti serat bambu dan nenas.
Dan karena itulah, hari ini Edward mengadakan meeting dengan desainer dan pengrajin tenun ikat dari beberapa daerah untuk membahas tentang kerja sama pengadaan bahan baku untuk produk mereka.
Pria itu sedang memperhatikan presentasi seorang pengrajin dari Nusa Tenggara ketika smartphone-nya berderit di atas meja. Ternyata wanita Rusia itu menelponnya. Ia aktifkan mode sibuk dan fokus lagi dengan presentasi di depan.
“Selamat pagi, Mikaila. Maaf, tadi sedang meeting dengan pengrajin tenun ikat. Jadi tak bisa menerima panggilanmu” ucap Edward di sela-sela coffee break.
“Selamat pagi juga, Ed. Oh ya, aku minta maaf karena tempo hari menolak ajakanmu untuk fine dinning.” terdengar suara Mikaila di seberang.
“Tidak apa-apa, Mikaila. Aku pergi ditemani oleh relasiku, model brand kami.” ujar Edward sambil mengambil secangkir kopi di cofee table.
“Siapa, Ed? Pasti cantik ya? "
“Kenapa menanyakan itu? Apa kau merasa kita sudah berkomitmen sehingga kau perlu tahu masa laluku, Mikaila?” ucapnya sambil menyeruput kopinya.
Edward berusaha membuat jokes dengan meniru pertanyaan wanita itu saat mereka berdebat di ranjang tempo hari.
“Kau ingin balas dendam ya? " Mikaila tertawa dari seberang.
"Oh ya, masih ingin dinner denganku, Ed?”
“Hmmm…tidak juga.” Edward asal menjawab sambil mulutnya mengunyah muffin.
“Jika kau berkenan, aku ingin mengundangmu dinner malam ini di apartemenku. Anggap saja untuk menebus rasa kecewamu.”
Edward berpikir sejenak. Tapi sebenarnya ia senang dengan ajakan itu. Sudah dua minggu ia tak berkencan dengan wanita itu.
“Boleh juga."
"Okay, sampai nanti, Edward."
"Oh ya, engkau ingin kubawakan apa?” tanya Edward.
“Yang pasti aku tidak ingin kau membawa modelmu itu.”
Edward hanya tertawa mendengar jawaban Mikaila.
“Ya sudah, pukul setengah enam sore aku datang.” ucapnya mengakhiri pembicaraan karena Adrian memberitahukan kalau meeting akan segera dilanjutkan.
__ADS_1
_____________________000___________________
Mata Mikaila berbinar saat membuka pintu. Edward berdiri di depan apartemen dengan senyumnya yang paling menawan. Ia tampak tampan memakai kemeja biru pucat yang dipadu celana wool warna krim dan pantofel hitam. Pria Inggris memang selalu tampil rapi di setiap suasana. Walau pun hanya sekedar makan malam tak resmi di rumah. Tapi sepertinya pria itu kegerahan dengan udara Jakarta sehingga tak memakai jasnya.
"Silahkan masuk, Ed."
Mikaila mempersilahkan tamunya masuk dan dibalas anggukan Edward.
“Kubeli dari toko di samping outlet tadi.”
Edward menyerahkan sebuket bunga yang berisi mawar, gysophilla, dan lavender ke Mikaila begitu masuk. Sementara sebotol champagne dalam kantung kertas ia letakan di meja bar.
“Terima kasih. Kau ternyata juga bisa romantis, Ed.” ucapnya tersenyum sambil mencium bunga itu.
Mikaila memasukan buket itu ke jambangan kaca yang telah diisinya air. Bunga itu pun ia bawa ke meja makan yang sekarang telah berpindah ke balkon. Untuk memindahkan meja itu, ia sampai memanggil dua clining service yang sedang membersihkan lantai koridor tadi sore. Setelah taplak berwarna putih ia kembangkan di atas meja, ia pun meletakan bunga dalam jambangan itu.
“Kutinggal sebentar, Ed. Aku lagi memanggang steak.” ucapnya ke Edward yang sedang berdiri memperhatikan sebuah lukisan. Ia pun menuju ke pantry.
“Kubantu ya.” Edward mengikuti wanita itu dari belakang.
“Duduk saja. Hanya tinggal plating kok.” ujarnya tegas membuat pria itu pun menurut dan menunggu di sofa.
“Makan malam sudah siap!.”
Mikaila berseru beberapa lama kemudian sambil membawa dua buah piring ke balkon.
Appetizer yang Mikaila sebut sebagai saladnya orang Indonesia itu ternyata sepiring gado-gado. Edward memeriksa isi piringnya dengan sebuah garpu. Ia menemukan beberapa potong kentang dan tofu, telur rebus, selada, wortel, serta serutan mentimun yang disiram dengan dressing kacang. Untuk sentuhan akhir, ada taburan bawang goreng dan sekeping kerupuk udang sebagai topping.
“Lumayan. Untuk menghargai kearifan lokal.” ucapnya setelah suapan pertamanya.
Pria itu membuka champagne yang dibawanya tadi dan menuangnya ke gelas cocktail yang telah berisi es batu. Kemudian ia mencecap sedikit minumannya.
“Ternyata menikmati makan malam sambil melihat Jakarta di waktu senja seperti ini, sungguh sangat menyenangkan, Mikaila.” kata Edward yang mendapat anggukan dari Mikaila.
"It's the quality time."
Angin sepoi-sepoi dari teluk Jakarta terasa menyejukan mereka.
“Oh ya, bagaimana hasil meeting dengan pengrajin tenun ikat siang tadi, Ed?” tanya Mikaila sambil.menyuap sepotong kentang.
“Kami sudah membuat kesepakatan. Mereka membuat bahan baku untuk kami" ucap Edward sambil mencecap minumannya lagi.
"Tapi tetap harus ada training dulu untuk mereka. Karena Swedia sudah menentukan motif dan warna sendiri.”
__ADS_1
“Apa warna yang akan menjadi trend tahun depan, Ed?” tanya Mikaila.
“Seperti ini..” ucap Edward sambil menyentuh turtleneck yang wanita itu kenakan.
“Warna merah marun.?” Mikaila melihat bajunya sendiri sambil mengernyitkan dahi, tapi kemudian ia tertawa.
“Bukan. Ini bukan merah marun, tapi merah marsala. Trend warna dunia untuk tahun depan didominasi dengan warna-warna tua yang cenderung kelam. Seperti merah marsala dan hijau tosca.”
“Iya, Edward.”
Semula Mikaila menganggap Edward hanya ingin melucu, tapi sekarang ia tahu kalau pria itu tak pernah bercanda dalam ucapannya.
“Kami ingin mengaplikasikan warna-warna tadi ke tenun ikat mereka. Kain yang sudah eksotis itu pasti akan tampak makin elegan."
"Selama ini para pengrajin selalu menenun kain-kain itu dengan motif dan warna yang statis. Jadi mereka tak banyak punya pilihan.” ucap Edward sambil mengakhiri hidangan pembukanya.
“It’s the great job, Ed.” ucap Mikaila sambil bangun menuju ke pantry untuk segera menyiapkan hidangan utamanya.
Untuk main course, Mikaila memasak steak daging jenis wagiyu yang dimarinasi dengan white wine, perasan grapefruit, garam, dan daun rosemary. Wanita itu memanggangnya dengan kematangan sedang dan disajikan bersama saus jamur, buncis, asparagus, dan kentang goreng.
Selesai makan, Mikaila membersihkan pantry dan peralatan makan. Sedang Edward masih betah bersandar di pagar balkon sambil menikmati minumannya. Setelah pantry bersih dan rapi, Mikaila kembali ke balkon sambil membawa dua mangkuk hidangan penutup.
Mikaila tak memasak yang spesial untuk dessert mereka. Edward hanya disajikan beberapa ceruk es krim vanilla dengan potongan mangga.
“Terima kasih untuk makan malamnya, Mikaila.” ucap pria itu menerima dessert-nya.
“Terima kasih kembali, Ed.”
“Oh ya, kapan terakhir kau pulang dan bertemu keluargamu, Mikaila?”
Mikaila menghentikan suapan es krimnya demi mendengar pertanyaan Edward. Ia menghela napas panjang dan pandangannya menerawang jauh ke teluk Jakarta. Iya sudah menduga, cepat atau lambat pria itu pasti akan mengetahui jati dirinya. Dengan senyum tegar ia pun mencoba memandang Edward.
“Aku tidak pernah pulang sejak aku meninggalkan Moskow enam tahun lalu.” ucap Mikaila sendu.
“Tentu ada hal mengapa dirimu tak pulang selama itu.” ucap Edward menoleh.
“Karena tak ada yang bisa kuharapkan lagi di sana, Ed.” ucap wanita itu masih menerawang.
“Apakah kedua orang tuamu sudah tidak ada lagi, Mikaila?” tanya pria itu lagi.
“Ayahku masih hidup, tapi aku merasa ia sudah lama mati dalam kehidupanku. Sedang ibuku..."
Suasana tiba-tiba hening karena Mikaila menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"Aku tak tahu di mana dia sekarang....”
Edward menyadari kalimat Mikaila agak bergetar. Dilihatnya mata wanita itu berkaca-kaca. Dan sebelum air matanya menetes, dengan cepat ia rengkuh wanita itu. Mikaila terisak dalam dekapan pria itu. Ia tumpahkan semua tangisannya di dalam dada Edward. Wanita yang selama ini dilihat pria itu sangat percaya diri, kali ini terlihat lemah dan rapuh.