
Tak sampai lima belas menit mereka sampai di tempat yang dituju.
Rais terkagum-kagum dengan tempat itu. Warung kopi yang dimaksud oleh Furqan ternyata sebuah kafe berkonsep industrial minimalis. Bangunan berbentuk kotak dua lantai itu memiliki dinding kaca hingga ke langit-langit ruangan, sehingga isi dalamnya yang terang-benderang tampak dari jalan raya. Sebuah neon box banner bertuliskan Rangkang Kupi terpancang di depan bangunan.
Layaknya seperti kafe atau resto yang berkonsep sama, kesan industrialis dapat dirasakan dari beberapa instalasi ruangan yang menggunakan bahan metalik. Seperti pada meja bar, pantry, lampu gantung, rangka jendela, sampai pegangan tangga dan pagar pembatas pada lantai dua. Pemakaian bahan metalik ini memunculkan kesan bersih, steril, dan pastinya futuristik.
Kesan minimalis juga dapat dirasakan dari beberapa perabot yang mengunakan elemen kayu seperti meja kursi dan lantai yang juga bermotif kayu. Kesan hangat dan homy yang muncul pada elemen kayu yang berwarna coklat terang itu berpadu cantik dengan dinding sebelah dalam yang berwarna abu-abu terang. Sungguh suatu perpaduan yang selaras.
Furqan memarkirkan motornya di teras samping kafe. Ia mengajak tamu-tamunya masuk melalui pintu samping dan mempersilahkan mereka duduk di salah satu meja yang terletak di tengah-tengah ruangan. Tampak beberapa meja telah terisi oleh pengunjung. Pria itu melangkah ke meja bartender untuk mengambil dua buku menu.
“Silahkan pilih-pilih menu dulu.” ucapnya tersenyum sambil mengansurkan buku menu untuk Sarah dan Edward.
“Tengku Furqan orangnya terlalu merendah. Kafe sebagus ini kok dibilang warung kopi.”
Rais mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Mata lelaki itu berhenti pada beberapa foto hitam putih bergambar Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami, dan Pantai Iboih yang terpajang di dinding.
"Saya tak pantas meninggikan diri, Tengku. Karena yang Maha Bagus, Maha Tinggi itu hanya Allah yang pantas menyandangnya.” ucapnya setelah duduk.
“Lagi pula tempat ini milik beberapa orang. Jadi untuk apa saya memamerkan tempat yang bukan milik saya sepenuhnya?”
Furqan tampak melambaikan tangan ke pria yang duduk di meja kasir dan pria di dalam pantry.
“Tapi sejak dari masjid tadi ekspetasi saya tentang tempat ini adalah tempat seperti keude kupi milik Nyak Li yang ada di depan dayah dulu. Saya rindu pagi-pagi minum kopi saring di warungnya sambil menikmati pulut panggang yang disantap dengan pisang goreng.”
Furqan tertawa dengan kenangan-kenangan masa lalu mereka. Ia ingin mengomentari ucapan sahabatnya itu tapi dua pria yang ia panggil tadi telah berdiri di sampingnya.
“Tengku Rais, Saudara Salman, dan Ukhti Sarah, perkenalkan ini sepupu-sepupu saya." ucapnya menoleh ke mereka.
"Kami bertiga membangun tempat ini bersama-sama.”
Dua orang pria yang dikenalkan Furqan itu menyalami Rais dan Furqan serta mengangguk ke Sarah.
Yang pertama bernama Mirza. Pria hitam manis berumur 26 tahun itu pernah kuliah mengambil jurusan bisnis dan manajemen di kota ini. Jadi ia diminta mengurusi manajemen kafe sekali-kali merangkap kasir seperti malam ini.
Sementara yang kedua bernama Jefri. Pria yang memakai celemek hitam di pinggangnya itu tampak lebih matang usianya dibanding Mirza. Sama seperti Furqan, pria berkulit kuning langsat dan mempunyai bola mata kebiruan itu juga mempunyai cambang dan berewok. Dirinya seorang culinary expert, makanya ia ditempatkan sebagai kepala chef kafe.
Sarah dan Edward masih asik melihat-lihat daftar makanan di buku menu. Beberapa di antaranya merupakan menu standar sebuah kafe. Sandwich, roti bakar, pasta, dan juga nasi goreng. Tapi yang menarik dari kafe ini, beberapa menu yang recommended merupakan kuliner tradisional Aceh. Ada mie aceh, roti canai dan martabak telur aceh, sate matang, dan tentu saja kopi sanger yang terkenal di Aceh.
Sambil menunggu pesanan diantar, mereka mengobrol. Furqan bertanya tentang jaringan Zafora dan profesi Edward yang sama sekali awam baginya. Sedangkan Edward lebih suka bertanya tentang beberapa ilmu fikih yang ia belum paham. Sesekali Rais ikut menimpali. Sedangkan Sarah lebih memilih diam sebagai pendengar.
Rais memandang Edward dan Furqan di hadapannya. Dua pria berbeda bangsa tapi sama-sama mempunyai pribadi yang berkharisma. Sama-sama berparas rupawan tapi dengan pesona yang berlainan. Satu hal yang membuat mereka berbeda saat ini adalah tingkat keilmuan dan kadar keimanan pada Sang Khalik. Jika suatu saat nanti Edward telah cukup bekal ilmu agamanya dan menjadi manusia yang taat dan beriman, rasanya tak ada lagi jarak perbedaan antara mereka. Memikirkan mereka terasa ada dilema di hati Rais.
Edward dan Furqan tersenyum. Mereka sama-sama merasa menjadi pria paling istimewa malam ini karena bisa berada di sisi Sarah. Tapi dua pria itu sama-sama tak tahu jika ternyata menyukai orang yang sama.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian dua orang pelayan mengantar pesanan yang langsung memenuhi meja mereka. Dua piring mie aceh seafood pesanan Edward dan Sarah, seporsi sate matang lengkap dengan nasi, kuah sup, serta sambal pesanan Rais, dan martabak telur pesanan Edward. Pelayan ketiga datang mengantar nampan berisi dua gelas kopi sanger, segelas espresso kopi gayo, serta segelas teh panas tawar, dan tiga botol air mineral.
Furqan membantu mengansurkan minuman dalam nampan. Espresso kopi gayo untuk Edward, teh panas tawar untuk Sarah, dan dua gelas kopi sanger untuk Rais dan dirinya sendiri.
“ Apa Tengku Furqan sudah menikah?” tanya Edward di sela-sela makannya.
“Belum. Ini sedang berikhtiar.” Furqan menyeruput sangernya.
“Kalau Saudara Salman sendiri bagaimana?”
“Saya juga sedang berikhtiar. Insya Allah secepatnya.”
“Sudah ada calonnya?”
“Hmmm. Sudah sih.” Edward menjawab seperti tak yakin sambil melirik Sarah yang tak ada respon. Ia hanya menekuni piringnya sambil menunduk. Diliriknya juga Rais yang seperti tak acuh dengan obrolan mereka. Furqan sempat melirik gelagat Edward itu.
“Kalau Tengku, sudah ada calonnya juga?” tanya Edward segera beralih ke Furqan.
“Ya, sudah juga.” Ucap Furqan sambil melirik ke Sarah. Ia sedikit kecewa melihat tak ada ekspresi khusus yang ditunjukan Rais terhadap ucapannya. Kini giliran Edward yang memergoki perilaku Furqan itu.
“Mudah-mudahan kita berdua dimudahkan jalannya, Tengku.” ucap Edward berdoa.
“Amiin.”
“Maukah saya pesankan lagi makanan untuk dibawa pulang?”
Edward setengah berbisik pada Sarah setelah mereka selesai makan. Rais hanya diam sambil sibuk dengan smartphone-nya.
“Tidak usah, Tuan. Terima kasih.”
Sarah tersenyum. Ia tahu pria itu memang benar-benar serius menawarinya membawa pulang makanan. Tipikal orang-orang seperti Edward tak pernah mau berbasa-basi. Tapi menolak tawarannya dengan halus rasanya itu lebih baik.
Edward pun tahu kalau di negeri ini ada tipikal orang-orang seperti Sarah yang menolak tawaran baik seseorang hanya karena pertimbangan yang menurutnya tak rasional. Sungkan. Itu salah satu sifat yang tak ia sukai dari orang Indonesia. Kadang hal yang merupakan etika bagi satu budaya, justeru sesuatu yang dianggap tak sopan bagi budaya yang lain.
Pria itu tersenyum memandang gadis itu. Subhanallah! Engkau telah menciptakan dunia ini dengan beragam warna.
Edward memanggil pelayan untuk take away order seporsi mi aceh seafood dan seporsi sate matang. Ia tak menghiraukan Sarah yang memandangnya dengan tatapan seolah-olah berkata; aku bilang tak perlu memesan lagi. Apakah aku terlihat seperti gadis yang masih tak cukup dengan satu porsi makanan?
Ia rasa lebih dari cukup hanya memesan dua porsi karena gadis itu pernah bilang jika ia tinggal bersama saudara sepupu beserta istri dan seorang balitanya. Jadi makanan itu hanya akan dinikmati oleh istri sepupunya itu. Kalau Rais ingin makan lagi di rumah, pun masih cukup untuk dua orang.
Edward meminta pelayan yang datang mengantar pesanan untuk memberikan dua boks dalam kantong plastik itu pada Sarah. Ia sendiri mengeluarkan master card dari dompetnya dan diberikan pada pelayan itu. Tapi Furqan yang baru saja kembali ke depan melarang karyawannya untuk menerima kartu kerdit itu.
“Maaf Saudara Salman, tak usah dibayar.” ucap pria itu dengan tegas.
__ADS_1
“Saya mentraktir kalian malam ini.”
Tentu saja Edward tak setuju dengan ucapan pria itu. Ia tak mau gengsinya jatuh karena dibayari makan oleh orang yang baru saja dikenalnya. Lagi pula hatinya belum merasa senang kalau belum mentraktir Sarah makan, setelah tahu makanan tadi siang, gadis itu berikan pada clining service. Bagaimana pun pria itu ingin Sarah terkesan dengannya malam ini. Ia harus dominan menguasai keadaan dibanding Furqan, apalagi mengingat gelagat pria itu terhadap Sarah di masjid tadi. Egomu terlalu tinggi, Edward!
“Terima kasih, Tengku Furqan. Tapi sebaiknya tak usah. Karena dari awal tadi kan saya yang mengajak makan.”
"Tapi dari kemarin saya juga sudah berniat mengundang Tengku Rais kemari.” ucap Furqan mempertahankan pendapatnya.
“Tak apa. Mungkin lain waktu Tengku bisa mentraktir Bang Rais dan Sarah. Kali ini biar giliran saya dulu.”
Edward tersenyum sambil tetap meminta pelayan yang masih berdiri untuk membawa credit card-nya ke kasir. Sementara Rais dan Sarah hanya diam mendengar perdebatan mereka.
“Ya sudah kalau maunya saudara begitu. Tapi kalau ke Medan lagi, jangan lupa singgah lagikemari.” ucap Furqan hanya bisa mengalah.
“Insya Allah, Tengku Furqan.”
Setelah menerima kembali credit card-nya, Edward menoleh ke Rais dan Sarah sambil mengangguk. Ia pun bangkit dari duduknya dan menyalami Furqan.
“Kalau begitu kami pamit dulu, Tengku Furqan. Kasihan Sarah sudah hampir tengah malam.”
“Iya, biar saya antar sampai depan.” Furqan membalas uluran tangan Edward, juga menyalami Rais.
“Kami berdua pamit, Tengku Furqan. Terima kasih sudah dilayani dengan istimewa” ucap Rais setelah Sarah duduk di boncengan motor matiknya.
“Sama-sama, Tengku. Kalau ada waktu singgah lagi kemari.” balas Furqan menatap Rais, sekilas ia melirik Sarah di belakang.
Rais mengangguk. Lelaki itu juga berpamitan pada Edward yang masih menunggu taksi onlinenya datang.
“Kami pamit duluan, Saudara Salman. Terima kasih sudah ditraktir makan, dan dibawakan pulang makanan juga.”
“Sama-sama Bang Rais. Saya minta maaf jika kita baru bisa bertemu sekarang.” ucap Edward tersenyum.
Sebelum motor itu benar-benar pergi, Edward sempat menatap Sarah yang dibalas dengan sebuah senyuman tipis. Tak lama taksi orderannya datang. Sebelum masuk, sekali lagi ia bersalaman dengan Furqan.
...---------------------------------------...
Rangkang Kupi
Rangkang dalam bahasa Aceh mempunyai arti pondok atau gubuk tak berdinding untuk beristirahat melepas penat. Rangkang biasanya dibangun di sawah, di kebun, atau di pinggir jalan. Sedangkan kupi artinya adalah kopi. Jadi secara harfiah, Rangkang Kupi dapat diartikan sebagai pondok untuk minum kopi.
Sanger
Sanger adalah minuman popular di Aceh yang menggunakan bahan kopi saring, gula pasir, dan sedikit susu. Sepintas tampilan sanger sama seperti kopi susu pada umumnya. Tapi komposisi kopi, gula, dan susu yang pas, serta diproses dengan cara tertentu membuat minuman ini mempunyai cita rasa yang khas.
__ADS_1
Sejarah kata sanger yang merupakan akronim dari frasa ‘sama-sama ngerti’, berawal dari kebiasaan para mahasiswa yang berkantong tipis tapi tetap ingin minum kopi susu. Alhasil mereka minta ditambahkan sedikit susu di kopi manis mereka tapi masih tetap seharga kopi manis. Jadi penjual dan mahasiswa sudah sama-sama paham.