CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
17. Romantisme Mega Mendung (2)


__ADS_3

Mikaila berlari-lari kecil menyusuri jalan setapak yang berada di antara pohon-pohon pinus. Sementara Edward tampak menyusulnya di belakang. Pria itu berhenti sejenak untuk menghirup udara pagi sambil memejamkan mata. Embun-embun di rerumputan dan daun pinus yang mulai menguap terkena sinar matahari, menebarkan aroma hutan yang segar. Pun burung-burung kolibri yang bersahutan seperti mempersembahkan nyanyian alam yang merdu buatnya.


Udara yang dingin dan berkabut, serta perbukitan yang ditutupi dengan hutan-hutan homogen mengingatkan Edward dengan suasana alam di Inggris. Tiba-tiba saja pria itu teringat akan kampung halamannya. Ia rindu rumah dan keluarganya.


Pagi-pagi Mikaila dan Edward sudah tracking melintasi perbukitan yang berisi hamparan kebun teh, masuk ke hutan pinus, hingga kemudian keluar lagi di perkebunan buah yang berisi tanaman jeruk dan strawberi. Sesekali mereka berpapasan dengan pelintas lain dan para perempuan desa yang akan memetik daun teh. Setelah matahari agak tinggi, Mikaila dan Edward kembali ke villa untuk mandi dan sarapan. Mereka menikmati yogurt buah, dan scramble egg di teras samping.


Setelah sarapan Mikaila mengajak Edward ke danau di bawah lembah. Ada sebuah dermaga kecil terbuat dari kayu di pinggir danau. Di tiang dermaga itu tampak beberapa perahu tertambat. Perahu-perahu itu memang sengaja disediakan untuk para pengunjung yang ingin menyusuri danau, baik yang menggunakan jasa pemandu atau mengayuhnya sendiri.


“Ingin menyusuri danau, Mikaila?” tanya Edward.


“Memang kau bisa mengayuh perahu, Ed?” Mikaila yang sedang duduk di tepi dermaga sambil mengoleskan sunblock di kaki dan tangannya balik bertanya.


“Walau begini, aku dulu pernah masuk tim kano saat kuliah. Jadi masih ingatlah bagaimana cara mengayuh perahu.” jawabnya ketus karena merasa dilecehkan sambil tangannya melepaskan tambatan perahu dari tiang dermaga.


Wanita itu tertawa dan menyudahi acara oles-mengoles sunblock-nya. Lalu ia menyusul Edward yang lebih dulu duduk di perahu dan telah bersiap-siap dengan pengayuh di tangannya. Pria itu mulai mengayuh perahu yang perlahan-lahan bergerak ke tengah danau meninggalkan dermaga.


“Kemarin kau bilang bahwa sering ke tempat ini jika ingin menenangkan diri. Apakah saat ini hatimu sedang gundah, Mikaila?”


“Entahlah, Ed. Aku sendiri tak tahu.”


“Bagaimana perasaanmu selama ini?” tanya Edward menghentikan kayuhannya. Perahu pun berhenti di tengah danau.


“Aku tak tahu apa yang kurasakan, Ed. Sejak kau menanyakan masa laluku dulu, sekarang aku sering gelisah waktu malam dan jadi sulit tidur.” ucap Mikaila sambil tangannya memainkan air.


“Aku merasa jiwaku kosong. Aku bingung dengan jati diriku sendiri.”


“Apakah engkau percaya adanya Tuhan, Mikaila?” tanya Edward menatap wanita itu.

__ADS_1


Mikaila terperangah dengan pertanyaan pria yang duduk di hadapannya. Selama ini tak ada yang menanyakan itu padanya. Dan ia tak tersinggung pada Edward. Ia merasa hal yang ditanyakan pria itulah yang menjadi kegelisahannya selama ini.


“Mengapa kau tanyakan itu, Ed?”


Edward mengayuh kembali perahunya pelan.


“Mungkin saja jiwamu kosong karena Tuhan telah menjauh dari hatimu. Atau kau sendiri yang tak ingin mengenal-Nya? Seperti diriku, Mikaila.”


“Kau pasti ingin mengatakan kalau aku adalah orang yang tak beragama bukan?”


Edward tak menjawab pertanyaan Mikaila. Pria itu masih terus mengayuh sambil membuang pandangannya jauh ke hutan pinus di lereng bukit.


“Ayahku memang seorang atheis, Ed. Ia tak menganut agama apa pun.Tapi bukan berarti aku juga seperti dia.”


“Aku ingat dulu, waktu kecil ibu dan aku selalu membakar tusuk sate di belakang rumah. Saat kutanya apa yang sedang kami lakukan, ia bilang kalau itu bentuk terima kasih kami pada dewa. Setelah dewasa, baru aku tahu kalau itu yang disebut Kong Hu Chu.”


“Jadi setelah kau mendengar ceritaku ini, kau pasti tahu kalau aku percaya bahwa Tuhan itu ada. Tapi rasanya Dia hilang dari hatiku, sejak kepergian ibu. Saat itulah aku seperti kehilangan pegangan. Ayah hanya menginginkanku bersekolah dan belajar sepanjang hari."


Edward melepas kemudi dan menggenggam tangan wanita itu. Ia merasa iba melihat wanita di hadapannya. Orang-orang yang belum mengenal Mikaila secara dalam pasti akan mengatakan kalau wanita itu sangat beruntung, karena dikaruniai wajah yang cantik, otak yang cemerlang, dan karir yang bagus. Tapi mereka tak tahu jika sebenarnya jiwa gadis itu sangat rapuh. Ia mengalami krisis dalam dirinya. Mikaila tak tahu harus hidup dan berpijak di budaya mana, Timur atau Barat?


Hal itu diperparah dengan tak ada satu keyakinan yang dianutnya, sehingga ia merasa jiwanya kosong dan hampa. Ia menghabiskan sepanjang hidupnya hanya untuk bekerja dan mengumpulkan uang. Menurut ayahnya hidup ini harus dinikmati. Karena tak ada kehidupan lagi setelah ia mati nanti.


“Bagaimana dengan dirimu, Ed?” tanya Mikaila pada Edward yang dari tadi hanya mendengarkan.


Edward menghela napas panjang. Ia berhenti mendayung perahu.


Pria itu bercerita pada Mikaila kalau ia memang pernah dibaptis menjadi seorang Kristiani. Tapi ia lupa sudah berapa tahun tidak pergi ke gereja. Yang pasti ketika Edward meninggalkan rumah orang tuanya pada usia 21 tahun, untuk berkarier di London. Saat itu ia baru saja menyelesaikan kuliah bisnis manajemennya.

__ADS_1


Sejak itu ia tidak pernah lagi ikut kebaktian, dan mulai ketagihan alkohol serta pergaulan bebas. Pria itu benar-benar terlena dengan ambisinya mengejar uang dan karir, mencari prestisius, dan menyenangkan diri dengan wanita.


“Itulah mengapa tadi kukatakan bahwa aku juga seperti dirimu. Menjadi seseorang yang tidak lagi mempunyai Tuhan di hatinya."


Ada keraguan di wajah Mikaila saat memandang pria itu. Ia tak percaya jika seorang Edward ternyata juga mempunyai sebuah sisi gelap.


“Apa kau pernah berdoa, Ed?”


“Dulu pernah. Tapi sekarang aku malu meminta sesuatu pada Tuhan karena telah mengabaikannya.”


"Kau sendiri bagaimana?" tanya Edward.


“Selalu. Aku selalu berdoa agar dipertemukan lagi dengan ibu dan adikku." ucap Mikaila penuh harap.


"Kalau sekarang doamu dikabulkan Tuhan, apa yang ingin kau minta, Ed?”


Edward berpikir sesaat sambil memejamkan mata.


“Aku ingin kita menjadi sahabat selamanya, Mikaila.” ucapnya membuka mata dan memandang wanita itu.


“Apakah kau yakin kalau kita akan selalu bersama-sama seperti ini?”


“Aku yakin, Mikaila.” ucapnya tersenyum.


“Tapi kita harus realistis, Ed. Kau mengejar karirmu, begitu juga aku. Negara ini hanyalah sebuah persimpangan jalan di mana kita telah bertemu. Suatu saat, kita akan kembali meneruskan perjalanan. Kau akan pindah lagi ke negara lain, diriku juga begitu.”


“Tapi paling tidak aku telah berani untuk berharap, Mikaila.” ucap Edward sambil mengayuh perahunya kembali ke dermaga.

__ADS_1


__ADS_2