
Adrian tersenyum nakal begitu pintu apartemen itu dibuka pemiliknya.
“Masuk, Yan.” ucap wanita yang hanya memakai kaos singlet dan celana pendek itu.
Adrian melangkah masuk mengikuti Anjani yang tadi membukakan pintu untuknya. Wanita itu baru saja menyelesaikan fitness sore menggunakan alat treadmill-nya saat asisten Edward itu datang. Keringat yang membasahi kening dan lehernya, ia keringkan dengan handuk kecil.
Dibukanya lemari es di pantry dan dituangnya sebotol air mineral ke gelas lalu meminumnya. Sedang Adrian sudah leyeh-leyeh duduk di sofa terhanyut oleh irama Blank Space-nya Taylor Swift. Benar-benar lagu yang menggambarkan pemilik rumah yang dominan dan ambisius.
“Tumben nyuruh gue dateng, Beb. Ada apa?” tanya Adrian begitu melihat Anjani keluar dari pantry.
“Ah banyak nanya, Lu. Seneng kan Gue suruh kemari.” ucapnya melangkah ke sofa sambil melemparkan sekaleng bir. Pria itu refleks menangkapnya.
“Bukannya seneng lagi, tapi seneng banget malah.” ucapnya tersenyum lalu merebahkan kepalanya di paha Anjani yang telah duduk di sofa.
“Nggak usah nempel-nempel juga kali. Gerah ah!”
Anjani memukul kepala Adrian memaksa pria itu untuk duduk lagi. Yang dipukul akhirnya bangun dengan muka manyun.
“Ada apa?”
“Gue butuh bantuan Loe ni, Yan.”
“Ya dirimu memang selalu begitu kan. Kalau ada maunya aja baru baik-baikin gue.” ucap Adrian sambil membuka kaleng bir dan meminum isinya seteguk.
“Jangan gitu dong, sayang.” Anjani tersenyum sambil merangkul dan mencium pipi pria di sampingnya.
“Apalagi yang harus gue bantu? Nge-pack barang-barang Loe yang mau di bawa ke NTT?”
“Gue masih sakit hati banget sama bos Loe yang songong itu, tahu!”
“Edward lagi, Edward lagi! Udah deh, gak usah lagi ngurusin si bule itu.” seru Adrian sambil mengambil kotak rokok dari saku jaketnya.
“Capek tahu. Emang Loe sendiri gak capek, Beb?”
“Lagian dia nggak bakalan mau lagi Loe deketin. Dia udah mau nikah sama cewek soleha.” Pria itu akan mengeluarkan sebatang rokok, tapi kotaknya buru-buru direbut oleh Anjani.
“Itu yang buat gue jadi omongan semua orang di Zafora. Terhina banget rasanya. Kenapa sich, saingan gue mesti seseorang yang levelnya jauh di bawah gue?"
Wanita itu memasang muka masam.
"Mungkin gue masih bisa terima kalau saingan gue itu Pevita Pearce, atau paling gak Natasha Wilona lah.”
Adrian hanya mencibir mendengar ucapan Anjani.
“Jangan penjaga toko kosmetik juga.”
“Anjrit! Zafora Loe bilang toko kosmetik. Eh, gitu-gitu Loe cari makannya di sana, Beb!”
“Bodo amat!”
__ADS_1
“Ya salah Loe sendiri. Kenapa dari awal jumpa Edward, Loe nggak mau pake jilbab.”
“Idiih, Sorry ya! Itu style bukan tipe gue banget.” ucap Anjani sambil membuat mimik wajah seperti ingin muntah.
“Gue minta tolong sama Loe, saat road show di Medan nanti, gimana caranya Gue bisa jumpa sama tuh cewek tanpa sepengetahuan Edward.”
“Udah deh Anjani, jangan macem-macem lagi. Loe mau apa nyamperin dia? Loe mau jambak rambutnya gitu?” tanya Adrian sambil menyambar kotak rokok yang tadi diletakan Anjani di atas meja. Tapi seketika kembali direbut oleh Anjani.
“Apaan sich Loe! Rese banget!” seru Adrian melotot ke wanita itu.
“Loe yang rese tahu! Udah gue bilang kalau kemari jangan merokok.” ucap Anjani tak kalah sewot.
“Balikin rokok Gue!”
“Gak! Janji dulu!”
“Janji apa?”
“Bantuin gue yang tadi, pe’ak!”
“Anjani, Anjani” Adrian tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Ngapain sih repot-repot ngurusi karyawati yang nggak selevel sama Loe itu? Lagian ada seseorang yang sebenarnya lebih pantes untuk Loe perhitungkan.”
“Maksud Loe, Yan?” Anjani mengernyitkan dahi.
“Hah! Siapa!?” Anjani terperangah.
“Namanya Mikaila. Ia warga negara Rusia yang bekerja di perusahaan farmasi milik Jerman di Jakarta.”
Adrian menunjukan sebuah foto di smartphone-nya pada Anjani.
“Cantik dan berkelas kan? Foto itu gue ambil dari akun Instagram-nya.”
Wanita itu memperhatikan foto seorang cewek berambut sebahu memakai mantel putih dengan latar belakang sebuah lab. Ia tampak serius dengan tabung kaca di tangannya sehingga seakan-akan tak sadar dengan kamera yang mengambil gambarnya. Anjani harus mengakui ucapan Adrian kalau cewek itu memang cantik. Cantiknya khas cewek-cewek Eurasia.
“Sial!” seru wanita itu ketus. “Loe tahu info itu dari mana?”
“Dari petugas medis Enggal Waras Hospital, rumah sakit tempat ia dirawat.”
“Cewek ini lagi sakit?” Anjani mengerutkan dahu sambil menyerahkan smartphone itu ke Adrian.
“Overdosis. Feeling Gue sih dia stress karena ditinggal sama si bule tengil yang mau kawin sama cewek Medan itu.”
Tiba-tiba Anjani tersenyum. Senyuman yang penuh kelicikan. Ia seperti punya ide baru yang brilian untuk memuluskan rencananya membalas Edward.
“Loe memang boyfriend gue yang paling pinter! Thank you, Beb. Muuach”
Anjani mencium pipi pria itu. Adrian tampak kesenangan.
__ADS_1
“Gue ada rencana!”
“Apa itu?” tanyanya sambil meneguk kembali birnya.
“Yang penting jangan buat kita semua dalam bahaya ya.”
“Sini!”
Anjani menarik pundak pria itu agar lebih mendekat dan membisikan sesuatu di telinganya.
“Shi....t !” seru Adrian mendelik mendengar bisikan wanita itu.
“Terus, kalau rencana itu berhasil, Loe mau dekati Edward lagi, begitu? Beb, jangan bilang Loe cinta sama si bule tengil itu.”
“Ya nggaklah kalau cinta! Gue cuma sakit hati aja sama bos Loe yang pelit dan gak mau bantu karir gue lewat powernya itu.”
“Terserah Loe deh, Ratih Sekar Anjani! Gue udah terlalu lelah jadi kacung Loe terus.” serunya sambil mengulurkan tangan.
“Sekarang balikin rokok Gue!”
“Ambil ini harta Loe!” Ratih melemparkan kotak rokok ke pria itu.
“Jangan merokok di sini. Pergi ke balkon sana!”
“Jahat Loe, Beb. Giliran sama Gue aja Loe jutek banget. Saat Edward yang merokok, Loe diemin aja kan?”
“Eh anjrit! Loe nguntit gue ya!?”
“Beb, Gue itu sayang banget sama Loe, cinta mati sama Loe. Dirimu aja yang gak mau ngertiin aku.” ucap Adrian sambil menyentuh dagu Anjani bermaksud ingin menciumnya, tapi keburu pipinya digampar. Adrian meringis sambil tertawa.
“Ya siapa suruh Loe kebaperan sama Gue?” jawabnya enteng.
“Loe tahu gak gimana rasanya hati Gue saat lihat si bule itu nginap di sini dan nidurin Loe? Sakit banget, Beb!” ucap Adrian ketus sambil melangkah ke balkon.
“Sialan Loe, Adrian! Kapan sich Loe berhenti nguntit gue terus!” teriak Anjani.
Wanita itu menyambar kaleng bir di meja yang masih ada isinya sedikit dan melemparnya ke arah Adrian membuat isinya berhamburan.
Trang!!!!
Tapi lemparannya meleset membentur pintu kaca karena pria itu sudah keburu menyelamatkan diri ke balkon.
...---------------------------------...
Salam Author
Terima kasih Author ucapakan untuk teman-teman yang masih setia mengikuti cerita hingga episode ini. Menurut teman-teman semua, kira-kira apa ya yang direncanakan Anjani?
Riono Muhari
__ADS_1