
Sarah menyeberangi halaman luas yang ditumbuhi beberapa batang pohon mangga dan manggis itu untuk menuju ke teras rumahnya. Kerikil-keriril yang dihamparkan ayahnya di semua sudut halaman membuat suara berisik saat sepatu ketsnya memijaki benda-benda mungil itu. Tak ayal lagi ibunya yang sedang sibuk menyirami adenium dan bougenvile dalam pot-pot batu yang memenuhi teras, menoleh pada asal suara itu. Seketika senyumnya mengembang ketika tahu putri kesayangannya pulang.
“Asallamu’alaikum.” ucap Sarah sambil mencium tangan ibunya.
“Wa’alaikusallam. Mau pulang kenapa nggak kasi kabar dulu?” tanyanya mengulurkan tangan.
“Aku cuma sebentar saja kok, Bu. Nanti sore jam setengah tiga harus masuk kerja lagi.”
Gadis itu menyerahkan kantong plastik putih berlogo bakery and cake shop terkenal di Medan pada wanita bersarung dan berbaju kurung itu. Kantong itu berisi lapis legit dan pancake durian kesukaan ayahnya.
“Ayah kemana, Bu?” Sarah menoleh ke dalam rumah.
“Ayahmu sedang melihat sawah. Tadi malam Cik Kasim datang memberitahu bahwa pagi ini traktor akan masuk dan membajak sawah kita. Mungkin sebentar lagi beliau sudah pulang.”
Wanita itu mengajak Sarah masuk. Tapi gadis itu keburu mengambil gembor kecil yang tadi dipakai ibunya dan langsung menyirami adenium dan bougenvile itu.
Tanaman-tanaman itu adalah buah dari tangan dinginnya sejak remaja hingga sebelum bekerja di Zafora. Dulu ia rajin menyambung batang-batang adenium itu dengan pucuk muda dari beragam varietas, sehingga menghasilkan aneka bunga dalam satu pot. Terkadang juga batang-batang ‘si mawar gurun’ yang berusia tahunan dan telah membonggol itu ia pindahkan ke pot-pot datar sehingga memunculkan kesan tanaman bonsai.
“Pantang pulang ke rumah langsung mengerjakan sesuatu sebelum masuk dulu.”
Ibunya berucap sambil berdiri di depan pintu menoleh pada putrinya. Sarah hanya mengangguk sambil menyudahi menyiram bunga lalu menyusul ibunya masuk ke dalam rumah.
Pukul setengah sebelas ayahnya baru pulang dari sawah dengan tubuh bergelimang lumpur. Orang tua itu langsung membersihkan diri ke kamar mandi.
Sarah menyuguhkan secangkir teh serta lapis legit dan pancake yang ia bawa tadi pada ayahnya. Orang tua itu telah selesai mandi dan sekarang sedang duduk menekuri rokok kreteknya di teras samping. Setelah meletakan nampan yang ia bawa dan mencium tangan ayahnya, gadis itu ikut duduk di samping orang tua itu. Dengan kalimat-kalimat yang telah ia perhitungkan sebelumnya dan dengan hati-hati, Sarah menceritakan tentang lamaran Furqan pada ayahnya yang sedang menikmati sepotong lapis legit.
“Subhanallah. Putri ayah sekarang tumbuh menjadi seorang gadis saleha dan cantik, sehingga banyak lelaki yang ingin melamar.” ucap lelaki tua itu tersenyum sambil menyeruput tehnya. Sarah hanya tersipu mendengar sanjungan itu.
“Walau pun hanya bertemu sekali dengan Furqan sepuluh tahun lalu, tapi ayah tahu ia adalah orang yang istimewa. Anak itu tak hanya tampan tapi mempunyai akidah dan budi pekerti yang bagus."
"Abangmu, Rais pun sering bercerita pada ayah tentang dia. Terakhir ia bercerita kalau bertemu lagi dengan Furqan di tempat pengajian.”
Sepertinya Tengku Furqan telah menjadi sweethearth di hati semua orang, termasuk juga ayah. Dalam hati Sarah membatin pria itu.
“Jadi aku harus bagaimana, Yah?” tanya gadis itu bimbang.
__ADS_1
“Ikuti kata hatimu, Nak. Karena yang akan menjalaninya nanti adalah engkau sendiri.”
“Tapi aku bingung, Ayah.”
Orang tua itu kembali tersenyum. Dengan bijak ia pun menasihati putrinya.
“Itu tandanya kau pun menganggap kehadiran Edward juga berarti dalam hidupmu, bukan?”
Sarah tak berkata apa-apa. Gadis itu hanya terdiam. Tapi kediamannya seakan-akan telah mengartikan jika ia mengamini ucapan ayahnya.
Pandangan orang tua itu menerawang jauh.
“Furqan memang calon pendamping hidup yang sempurna. Orang tua mana yang tak ingin bermenantukan pria saleh seperti dia yang bisa menuntun putrinya menuju surganya Allah?.” ucapnya beretoris sambil menghisap dalam kreteknya. Kemudian meletakan puntung rokok itu ke dalam asbak.
“Tapi kau juga harus ingat, anakku. Kita telah berjanji pada Edward untuk tetap menunggunya kembali lagi ke rumah ini, ketika ia telah menjadi seorang muslim yang baik.”
Mata Sarah berkaca-kaca karena dipenuhi oleh air mata.
“Tentu kau tak ingin Edward menganggap ayahmu ini adalah manusia munafik yang mengingkari janji, kan?”
Sarah mengusap air mata yang meleleh dari sudut matanya.
Bada zuhur gadis itu pun berpamitan pada ayah dan ibunya untuk kembali ke Medan. Sebelum berangkat, sekali lagi lelaki tua itu memberi pesan yang dibalas anggukan oleh Sarah.
“Lakukan salat istikarah. Mintalah petunjuk-Nya agar kau bisa mantap mengambil keputusan. Siapa pun nanti pria yang kau pilih, Insya Allah itu jodoh yang dikirim oleh-Nya untukmu, anakku. ”
...---------------------------------------------...
Usai pengajian pada malam sabtu, Rais mengajak Ustadj Faruk dan Furqan duduk. Ia ingin memberikan jawaban atas lamaran Furqan pada Sarah beberapa malam yang lalu.
“Ustadj, Tengku, saya sudah sampaikan maksud dari Tengku Furqan pada Sarah."
Rais memandang bergantian dua orang di hadapannya. Sedang Furqan yang duduk tepat di hadapannya juga memandang serius, seakan ia sudah tak sabar ingin mendengar berita yang akan disampaikan lelaki itu.
"Dan saya pribadi sangat ingin jika Tengku Furqan dan Sarah dapat menyambung tali silahturahmi."
__ADS_1
Rais tercekat. Lelaki itu menelan salivanya dengan kesulitan. Seperti ada beban berat yang menyulitkannya untuk melanjutkan kalimat. Ia pandang Furqan yang sudah menunggu penjelasan darinya.
"Tapi kami sekeluarga minta maaf yang sebesar-besarnya pada Tengku Furqan, karena Sarah tidak bisa menerima lamaran ini."
Seketika ekspresi wajah Furqan menjadi datar.
"Kenapa Tengku Rais? Apakah Sarah masih ragu dengan saya?" Meski tersamar, tampak gurat kekecewaan di raut wajah Furqan.
"Bukan! Sama sekali bukan itu, Tengku." sanggah Rais cepat.
"Tapi sesuatu yang lain. Ia mengatakan jika saat ini sedang taaruf dengan seseorang."
Rais mengalihkan pandangannya ke Ustadj Faruk yang dari tadi hanya mendengarkan. Lelaki paruh baya itu sekarang manggut-manggut tanda memaklumi apa yang baru saja diucapkan Rais.
"Allah belum meridhoi kau mengkitbah Sarah, Furqan. Tetaplah tawakal. Mungkin Dia punya rencana lain yang lebih indah." ucap Ustadj Furqan sambil menepuk-nepuk punggung pria yang bersedih itu.
Setetes bulir bening jatuh ke pangkuannya dari matanya yang berkaca-kaca.
Sempat terbersit penyesalan di hati Furqan, mengapa dulu ia menunda-nunda untuk datang ke pengajian di masjid ini? Harusnya ia bisa mengenal Sarah lebih awal dan mengkitbahnya sebelum gadis itu taaruf dengan pria lain. Tapi segera pria itu beristigfar. Ya Allah ampuni aku yang telah melupakan apa yang sudah menjadi takdir-Mu,
"Insya Allah saya bisa menerimanya, Ustadj." ucap Furqan mengusap matanya yang basah dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya. Masih tetap ditampakan senyuman di wajahnya meski dengan terpaksa.
"Tengku Rais, bolehkah saya tahu, siapa pria yang telah beruntung mengambil hati Sarah itu?" tanyanya dengan pandangan penuh harap.
Rais yang ikut merasakan kesedihan yang melanda teman akrabnya itu menggeser duduknya ke depan. Dengan rasa bersalah yang dalam, dirangkulnya Furqan dan ditepuk-tepuk punggung pria itu untuk menguatkan.
"Suatu hari nanti Tengku Furqan akan tahu sendiri siapa orang itu."
...-----------------------------------...
Salam Author!
Dikarenakan ada pekerjaan yang tak bisa ditunda di April ini, maka sementara waktu author vakum dulu melanjutkan cerita ini. Mudah-mudahan setelah Lebaran, episode baru akan ter up lagi. Terima kasih untuk pembaca yang telah dan masih setia mengikuti cerita ini.
Riono Muhari
__ADS_1