CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
13. Mengunjungi Tanah Leluhur (2)


__ADS_3

Pukul enam pagi Edward diajak Paman Rudolf untuk berangkat ke Tomohon. Ia duduk di samping Edo yang sedang mengemudi, sedangkan Paman Rudolf duduk di jok belakang. Di sepanjang perjalanan, tampak Edward memperhatikan kebun-kebun penduduk yang berisi tanaman sayuran dan bunga. Tomohon memang terletak di dataran tinggi yang diapit oleh Gunung Lokon dan Gunung Mahawu yang masih aktif. Sehingga tak mengherankan jika hasil pertanian di kawasan ini melimpah dan menjadi pemasok untuk kota-kota di Sulawesi.


Selain sayur-mayur, aneka bunga juga melimpah di Tomohon. Karena itulah, setiap tahun kota ini menyelanggarakan Tomohon International Flower Festival. Sebuah karnaval bunga yang terkenal dan diklaim sebagai yang terbesar kedua setelah Rose Parade Pasadena, di Amerika Serikat.


Edo membelokan mobilnya keluar dari jalan raya dan masuk ke pelataran sebuah rumah makan.


“Kita sarapan dulu, Edward.” ajak Paman Rudolf setelah mobil terparkir.


Ia keluar dari mobil yang kemudian diikuti oleh Edward dan Edo. Mereka bertiga masuk ke rumah makan yang tampak ramai oleh pengunjung. Paman Rudolf memilih meja yang masih kosong di sudut ruangan dan memesan tiga porsi sarapan untuk mereka.


“Ini wawahu, makanan khas Tomohon, Ed. Paman yakin kau akan ketagihan dengan rasanya.” ucap Paman Rudolf ketika pelayan menghidangkan makanan yang mereka pesan.


“Lebih nikmat lagi jika disantap dengan nasi bungkus Tomohon ini.” ucapnya lagi sambil membuka bungkusan daun.

__ADS_1


Wawahu yang dimaksud oleh Paman Rudolf adalah olahan iga babi yang dimasak dengan kuah bumbu kuning dan daun kemangi. Dalam perkembangannya, masakan ini juga sering menggunakan iga sapi atau kerbau. Wawahu lebih enak di santap dengan nasi bungkus Tomohon.


Tapi nasi bungkus ini tak seperti nasi bungkus di daerah lain. Beras yang sudah dicuci dibungkus daun berbentuk tipis memanjang dan direbus hingga kenyal. Jadi lebih mirip dengan lontong atau lepat. Yang membuatnya khas, nasi Tomohon tidak dibungkus dengan daun pisang atau daun kelapa. Tapi dengan daun yang diberi nama daun laikit. Daun laikit merupakan tumbuhan endemik yang hanya bisa ditemukan di Minahasa dan sekitarnya.


Mereka bertiga sarapan dengan lahap.


Akhirnya mereka pun sampai di tempat yang dituju. Edo memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah panggung yang berada di atas bukit yang datar dan luas. Pekarangan rumah itu berisi pohon-pohon cengkeh dan alpukat.


“Rumah siapa ini, Paman?” tanya Edward sambil menaiki tangga kayu.


“ Opamu dulu berpesan pada kami bahwa tanah ini akan diwariskan untuk cucu-cucunya kelak.”


“Karena kau sebagai cucu laki-laki tertuanya, kebetulan juga kau telah pulang, maka tempat ini kuserahkan padamu, Edward.”

__ADS_1


“Aku berterima kasih pada Paman, yang telah telah menjaga tanah ini hingga sekarang.” ucap Edward ikut berdiri di samping pamannya.


“Tapi paman kan tahu, kalau pekerjaan mengharuskanku berpindah-pindah tempat terus. Jadi kumohon, tetap urus tempat yang banyak kenangan ini, Paman.”


“Terserah kau saja, Ed. Yang terpenting, Paman telah menyampaikan amanah mendiang opamu.” ucap Paman Rudolf.


“Dengan begitu, rumah dan kebun ini tidak akan terbengkalai, Paman.” ucap Edward lagi.


“Tapi Saran Paman, tempat ini jangan sampai berpindah ke pihak lain. Saat ini pemerintah sedangkan menggalakan pariwisata di sepanjang kawasan ini. Mulai Tomohon, Tondano, Manado, hingga Bunaken. Tempat ini akan bisa jadi investasi yang bagus di masa depan.”


“Itu keputusan yang sangat bijaksana, Paman.” ucap Edward merangkul bahu Paman Rudolf sambil tersenyum.


Paman Rudolf mengajak Edward masuk ke dalam rumah. Pria itu melihat-lihat barang peninggalah Opa dan Omanya yang belum rusak. Termasuk foto-foto mereka saat masih muda. Juga Paman Maweuri kecil yang masih digendong oleh Omanya.

__ADS_1


Menjelang tengah hari mereka pulang. Dan sorenya, Edward pamit kepada keluarga itu untuk kembali ke Jakarta. Ia hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, ketika Tante Dora mengingatkannya agar segera berkunjung lagi ke Manado untuk mengenalkan calon istrinya.


__ADS_2