CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
32. Overdoze (2)


__ADS_3

Edward meraih smartphone-nya yang tadi ia letakan di dalam buku agendanya. Apakah Mikaila sudah tidur, pikirnya. Ia bermaksud ingin menelpon wanita itu dan meminta maaf atas semua ucapan kasarnya tadi. Edward merasa tadi bukan dirinya. Ia hanya kesal pada wanita itu karena menelponnya di saat yang tak tepat seperti tadi.


Tak ada panggilan baru dari Mikaila atau dari nomor lain. Hanya beberapa notifikasi pesan, dan salah satunya dari wanita itu. Edward sudah menduga kalau isi pesan itu berupa cercaan untuk dirinya. Pria itu akan menerima jika memang Mikaila marah padanya.


Maafkan aku jika tak mampu menjadi bulan yang menerangi jalanmu. Tapi kurasa kau telah menemukan harapanmu, hingga tak lagi membutuhkan bulan yang cahayanya semakin hari makin meredup ini. Aku menyayangimu Ed, mungkin melebihi sayangnya seseorang yang telah mengalihkan duniamu selama ini. Tapi saat kau membaca pesan ini, mungkin aku telah…


Edward terbelalak membaca pesan yang tak selesai diketik itu. Pesan itu terkirim pukul 22.12 WIB. Itu tak lama setelah ia memutus panggilan wanita itu. Ia lihat waktu di smartphone-nya, itu artinya sudah hampir satu jam yang lalu. Tak ada respon saat Edward menelpon balik nomornya yang masih aktif. Pria itu menerka-nerka, apa Mikaila sudah tertidur? Sebenarnya apa yang ingin disampaikannya lewat pesan yang terputus itu? Atau jangan-jangan wanita itu ingin…?


Edward terlonjak dari duduknya!


Tiba-tiba ia seperti tersadar dari sebuah lamunan. Dengan secepat kilat pria itu melompat, keluar dari ruangan meeting dan segera berlari menuju ke lift. Adrian dan beberapa karyawan yang masih tinggal di kantor tampak terkejut melihat bosnya berlari dalam kepanikan. Adrian mengejarnya, tapi asistennya itu tak menemukan Edward karena pintu lift sudah tertutup.


Edward menyetir mobilnya seperti kesetanan. Untung saja sudah hampir tengah malam jadi kendaraan yang lewat tak terlalu padat. Masih dicobanya untuk menelpon wanita itu, tapi hasilnya nihil! Nomornya masih aktif tapi tetap tak ada respon.


“Angkat Mikaila!” teriak Edward. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, aku tak akan memaafkan diriku sendiri, ucap pria itu dalam hati.


Pria itu memarkirkan mobilnya sembarang di pelataran apartemen begitu sampai di Grand Kaharu Residence. Sebelum masuk ke lift, dengan terburu-buru ia mengatakan pada petugas security di pintu lobi kalau temannya yang tinggal di lantai 14 sepertinya mengalami bahaya di apartemennya dan dirinya membutuhkan bantuan.


Lift yang membawa dirinya naik ke atas Edward rasakan geraknya begitu lambat. Tampilan angka yang tertera di monitor seperti sangat lama berganti. Dan begitu angka berubah menjadi 14, ia pun memencet tombol keluar dengan tak sabar. Pria itu menghambur keluar begitu pintu lift terbuka dan berlari menuju ke apartemen Mikaila.


Edward memencet bel berkali-kali, menggedor-gedor pintu, menendang pintu, berteriak memanggil namanya, tapi tetap pintu apartemen itu tak terbuka. Mikaila tak pernah keluar dari apartemennya. Yang ada akibat tindakannya, seisi lantai dibuat gaduh oleh alarm sistem pengaman yang mendeteksi adanya pembobolan di pintu 254. Beberapa penghuni apartemen sebelah keluar untuk melihat apa yang terjadi. Edward duduk bersandar di tembok dengan lemas. Sekarang baru ia menyesal mengapa dulu menolak saat ditawari second id card apartemen ini oleh Mikaila.


Petugas security apartemen akhirnya datang.


Edward langsung menghambur masuk begitu pintu berhasil dibuka oleh salah seorang petugas. Pria itu langsung ke kamar dan menemukan Mikaila dalam keadaan yang mengenaskan. Wanita itu tergolek lemas dengan posisi miring. Matanya setengah terpejam dengan sisa-sisa air mata yang mengalir di pipinya. Ada cairan putih berbusa meleleh dari sudut bibirnya yang sedikit terbuka.

__ADS_1


Edward menghambur memeluk tubuh Mikaila yang lemas. Ia menangis tapi sedikit pun tak terdengar isaknya. Satu-satunya tanda kesedihan yang dapat dilihat dari pria itu adalah matanya yang berkaca-kaca karena genangan air mata.


“Mikaila! Maafkan aku, Mikaila!” teriaknya memeluk wanita itu.


Para petugas ikut masuk ke dalam kamar.


“Mikaila! Aku menyesal mengatakan itu, Mikaila!”


“Sebaiknya korban segera kita bawa ke rumah sakit, Tuan! Mungkin masih bisa tertolong!” ucap seorang petugas sambil menarik pundak Edward agar melepaskan rengkuhannya pada Mikaila.


“Masih ada detak jantungnya!” seru salah seorang petugas lain yang memeriksa dada wanita itu. Ada segurat harapan di wajah Edward mendengar laporan petugas tadi.


“Segera siapkan mobil ambulans dan segera kirim brankar ke lantai 14 unit D!” seru petugas itu lagi dari handy talky-nya.


Petugas segera mengeluarkan tubuh Mikaila dan mendorongnya ke ruang unit gawat darurat. Edward berjalan mengikuti sambil memandang wajah wanita yang pucat itu.


Dengan perasaan kacau ia memandang tubuh di atas brankar itu yang didorong oleh petugas medis masuk ke dalam ruang emergency. Edward terduduk lemas di kursi tunggu.


Ya Allah, selamatkanlah wanita itu, doa pria itu dalam hati. Ia menunduk lesu sambil menangkupkan kedua tangannya dikepala. Edward tak sadar kalau saat ini penampilannya sangat berantakan. Wajahnya kuyu, rambutnya acak-acakan, dan kemeja putihnya yang lengannya ditarik hingga siku tampak sangat lusuh. Edward pun melepas ikatan dasi dilehernya.


Pria itu meletakan dasinya di bangku karena smartphone di saku celananya tiba-tiba berderit. Adrian menelponnya. Edward baru sadar kalau ternyata itu panggilan dari asistennya yang kesekian kali sejak ia meninggalkan kantor tadi.


“Assallamualaikum.” ucapnya.


“Wa’alaikusallam. Halo, Tuan Edward. Apakah anda baik-baik saja? Mengapa tadi anda tampak sangat tergesa-gesa?”

__ADS_1


“Saya baik-baik saja Adrian. Tadi teman saya mengalami keracunan di apartemennya. Tapi ini sudah dibawa ke rumah sakit." ucap Edward meremas rambutnya.


"Rumah sakit mana, Tuan?"


"Ini saya di Enggal Waras Hospital.”


“Ouh, saya turut prihatin. Apakah teman anda masih bisa tertolong, Tuan?”


“Dokter sedang menanganinya di ruang emergency. Saya sangat berharap ia dapat tertolong.”


“Ya kita doakan sama-sama. Oh ya, sepertinya tuan belum makan dari tadi sore. Maukah saya antar makanan ke situ?”


Edward baru teringat kalau ia belum makan malam. Jatah makanannya yang tadi diantar oleh office boy ke mejanya juga belum dibukanya.


“Tak perlu, Adrian. Nafsu makanku sudah hilang karena insiden tadi. Tapi terima kasih kau telah memperhatikanku.”


“Sama-sama, Tuan. Tapi anda jangan lupa untuk beristirahat agar tak jatuh sakit. Selamat malam, Tuan.”


“Terima kasih, Adrian. Selamat malam.”


Tut. tut. tut


Edward baru ingat kalau dirinya juga belum melaksanakan salat isya. Ia melihat arloji di tangannya, waktu telah menunjukan hampir pukul 12 malam. Ia pun beranjak untuk mencari di mana letak mushola.


Kesejukan terasa mengaliri hati dan pikirannya begitu dinginnya air keran membasuh wajah dan rambutnya. Pria itu menunaikan sholat isya dengan khusuk. Tak lupa ia juga berdoa untuk keselamatan nyawa Mikaila. Walau bagaimana pun, ia turut andil menjadi penyebab wanita itu berbuat nekat.

__ADS_1


__ADS_2