CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
18. Gadis di Balik Hijab


__ADS_3

Sarah berasal dari sebuah desa yang berjarak 65 km arah barat kota Medan. Karena jarak yang cukup jauh itu, saat diterima sebagai karyawati Zafora, ia harus mencari tempat tinggal di kota itu. Sebab tak mungkin ia pulang-pergi kerja setiap hari dari rumahnya ke Medan.


Maka ia pun tinggal dengan Rais, sepupunya yang lebih dulu berada di Medan. Lelaki itu salah seorang kemenakan ayahnya yang usianya tujuh tahun lebih tua darinya. Ia anak Uwak Hamid, abang kandung Ayahnya. Rais sudah hampir sepuluh tahun bekerja dan menetap di kota ini. Setelah menikahi Maryam, gadis sekampungnya, ia pun memboyong perempuan itu ke Medan dan tinggal di sebuah rumah petak yang disewa selama per tahun. Sekarang mereka dikaruniai seorang anak laki-laki berumur 2 tahun yang diberi nama Rahyan Al-Bayruni.


Rumah petak yang mereka tempati sebenarnya sebuah bangunan sepanjang 36 meter yang disekat-sekat menjadi beberapa pintu, agar bisa disewakan ke banyak keluarga. Karena bentuknya yang seperti itu, maka sirkulasi udara hanya bisa melalui depan dan belakang rumah saja. Tiap petaknya berukuran 6x7 meter, dan hanya terdiri dari beberapa ruang kecil. Bagian depan ada ruang tamu yang menjadi tempat berkumpul mereka sambil nonton tv merangkap garasi motor di kala malam hari. Di belakang ada dapur sekaligus tempat makan. Sebelah kanan ada dua buah kamar. Dan paling belakang ada kamar mandi serta sedikit ruang terbuka untuk menjemur pakaian.


Karena rumah petak itu terletak di permukiman padat penduduk, ditambah lagi dengan sirkulasi udara yang buruk, maka terasa pengap dan panas meskipun malam hari. Belum lagi dengan banyaknya nyamuk sehingga harus mengoleskan lotion anti nyamuk sebelum tidur.


Sebagai seorang karyawati dengan gaji yang besar, Sarah sebenarnya bisa saja kalau ingin mencari tempat tinggal yang nyaman dengan fasilitas lengkap di tengah kota. Tapi karena ia seorang gadis, ayahnya tidak mengizinkan jika ia harus tinggal sendiri di tempat kos. Maka ayahnya pun menitipkan Sarah pada sepupunya itu. Orang tua itu ingin putrinya tinggal bersama walinya agar nanti ada yang menjaga dan mengawasinya selama di Medan.


Rais bekerja sebagai buruh pabrik pengolahan minyak goreng di Kawasan Industri Medan. Setelah sebelumnya ia berpindah-pindah tempat kerja, mulai dari pabrik konveksi hingga pabrik minuman ringan. Agar mendapat penghasilan tambahan, di sela-sela waktu mengurus rumah dan anak, Maryam bekerja dengan tetangganya yang mempunyai industri rumahan membuat abon ikan. Untuk membantu uang belanja keluarga itu, tak lupa Sarah juga menyisihkan sebagian gajinya setiap bulan dan diberikan kepada Maryam.


Jam di dinding telah menunjukan pukul dua siang lewat, saat Sarah memanaskan mesin motor matiknya di teras. Sudah dua hari ini gadis itu mendapat jatah shif sore. Ia bersiap untuk segera berangkat bekerja agar tak terlambat. Jam-jam segini lalu lintas di jalanan sangat padat. Sedangkan para karyawati diharuskan telah tiba di outlet paling lambat lima belas menit sebelum pergantian shif untuk briefing dengan shif sebelumnya.


Tiba-tiba ia dikagetkan dengan sebuah lengan mungil yang menggelayuti roknya. Sarah tersenyum demi melihat seorang anak lelaki kecil, entah dari mana datangnya sudah ada di sampingnya. Ia raih anak itu ke dalam gendongannya.


“Bibi Sarah mau kerja dulu, ya? Rayhan di rumah aja sama bunda.” ucap Sarah tersenyum kemudian pandangannya di arahkan ke dalam rumah.


“Kak Maryam, Rayhan ngelendot terus nih. Aku mau berangkat. Udah telat ini.” panggil Sarah.


Maryam yang sedang mencuci di kamar mandi tergopoh-gopoh ke depan dan mengambil anaknya dari gendongan gadis itu.


“Aku berangkat kerja dulu, Kak.” ucap Sarah sambil meraih tangan perempuan itu.


“Iya, hati-hati.” ucap Maryam mengulurkan tangannya.


“Da..da..sayang, Bibi Sarah berangkat dulu.” ucap Sarah sambil melambaikan tangannya.


Rayhan kecil terlonjak-lonjak senang dalam gendongan Maryam saat melihat motor Sarah meninggalkan teras hingga akhirnya berbelok ke jalan.


________________________


“Assallamuallaikum!”

__ADS_1


Sarah baru saja melangkahkan kakinya memasuki outlet, ketika tiba-tiba Hesti menghadangnya dan buru-buru menarik tangan gadis itu agar mengikutinya ke pantry.


“Ada apa si Mbak kok panik begini? Bahkan salam orang pun gak dijawab.”


“ Wallaikumsallam. Ada yang mencari kamu, Sarah.” bisiknya.


“Pak Purnomo?” tanya gadis itu menebak.


“Bosnya Pak Purnomo.”


“Bosnya Pak Purnomo? Siapa?” tanyanya bingung.


“Waduh, ini bocah, pura-pura bingung lagi. Tuan Edward lah!” ucap Hesti mendelik.


“Jangan bercanda dong Mbak.”


Awalnya Sarah tak percaya dengan apa yang diucapkan Hesti. Ia pikir rekannya itu hanya ingin menggodanya. Tapi ketika ia bertanya dengan seorang karyawati yang masuk ke pantry, baru ia tahu temannya itu tidak bercanda.


Yang ditanya tak menjawab, hanya menaikan kedua bahunya tanda tak tahu. Tapi tiba-tiba ia berbisik sambil tersenyum ke Sarah.


“Mungkin dia rindu denganmu, Sarah.”


Sarah melotot mendengar ucapan Hesti. Tapi belum sempat ia mencubit pinggang rekannya itu, Purnomo keluar dari ruangannya dan menghampiri mereka.


“Sarah, setelah briefing nanti, segera temui Tuan Edward di ruangan saya. Ada hal yang ingin beliau bicarakan padamu.”


“Ada apa ya, Pak?”


“Saya juga tak tahu. Sejak pukul 10 pagi tadi Tuan Edward menunggumu.”


“Ia Pak.” ucap Sarah mengangguk sambil bangkit dari duduknya.


...---------------------------------------------------...

__ADS_1


“Permisi tuan Edward, maaf anda memanggil saya?” tanya Sarah setelah masuk ke ruangan Purnomo.


Edward tampak sedang duduk di belakang meja kerjanya Purnomo.


“Iya benar. Silahkan duduk Nona Sarah.” ujar Edward mempersilahkan gadis itu duduk di kursi di depannya.


“Terima kasih Tuan.” ucap Sarah duduk.


“Saya ingin bertanya beberapa hal tentang anda. Anggap saja saya sedang mewawancarai anda.” ucapnya menegakan posisi duduknya.


“Iya Tuan.” ujar Sarah mengangguk.


“Sudah berapa lama anda bekerja di sini?” Edwar membuka pertanyaan.


“Sudah lebih dari setahun, Tuan.”


“Saya sempat melihat anda melayani customer pada kunjungan minggu kemarin. Saya rasa anda professional. Apakah anda menyenangi pekerjaan ini?”


“Ya. Saya menyenangi pekerjaan ini, Tuan.”


“Saya telah bertemu dengan seluruh karyawan di sembilan outlet, ternyata ada beberapa yang memakai kerudung seperti anda.” ucap Edward melihat Sarah.


“Ouh, iya.” ucap Sarah sambil mengangguk. Jadi ini masalah kerudung rupanya? batin gadis itu.


"Maaf, sebelumnya, bolehkah saya menanyakan sesuatu, Tuan?” tanya gadis itu sopan.


“Silahkan.” jawab Edward datar.


“Apakah secara pribadi anda keberatan dengan kerudung yang saya pakai, Tuan Edward?" ucap Sarah.


“Kalau ternyata dugaan anda benar, saya keberatan dengan kerudung anda, apa sikap anda, Nona?” tanya Edward menantang.


“Saya akan mengundurkan diri dari sini, Tuan.” ucap gadis itu mantap.

__ADS_1


__ADS_2