CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
20. Ancaman Edward


__ADS_3

Edward sedang mengecek laporan yang dikirim oleh outlet di daerah ketika Anjani masuk ke ruangannya tanpa pemberitahuan lebih dulu.


“Selamat pagi, Tuan Edward?” sapa Anjani mendekat.


“Maaf Nona, saya rasa anda perlu mengecek ulang schedule anda. Kita belum ada jadwal untuk meeting.” ucap Edward ketus.


“Memang belum Tuan Edward.” ucap wanita itu tersenyum.


“Jadi untuk apa anda datang? Saya sudah mengatakan pada anda bahwa kita bertemu hanya untuk urusan kerja.” ucap pria itu menoleh ke Anjani.


“Santai saja Tuan. Keep calm. Saya datang juga karena ada hubungannya dengan pekerjaan.” ucapnya sambil menopangkan tangannya ke meja.


“Apa yang ingin anda sampaikan, Nona?” tanya Edward datar.


Anjani akhirnya duduk di hadapan pria itu.


“Dulu anda pernah bertanya, apa keinginan terbesar saya yang belum tercapai sebagai seorang model.”


“Ya. Lalu?” tanya Edward malas


“Anda masih penasaran ingin tahu, Tuan?”


“Sayangnya saya sudah tak tertarik lagi.”


“Anda tahu, Tuan? Dari dulu saya selalu bermimpi berkarir menjadi model di Eropa.”


“Lalu apa hubungannya saya dengan mimpi anda?”


“Sebagai orang nomor satu di jaringan Zafora Indonesia, saya tahu anda punya akses luas ke seluruh jaringan global. Pastinya anda juga punya relasi di Eropa dan USA. Saya sudah mengintip track record anda yang pernah menjadi model di London dan Milan. Saya pun tahu kalau anda juga pernah terlibat beberapa kali di event New York Fashion Weeks.”


Edward tak terkejut kalau Anjani tahu latar belakangnya. Sepertinya wanita itu telah menelusuri riwayat statusnya di Facebook dan mengunjungi blognya di situs resmi Zafora Indonesia.


“Maaf Nona, anda jangan bertele-tele. Saya sedang sibuk.”


“Saya ingin menjadi brand ambassador untuk Zafora Internasional, Tuan. Seperti Mariana Garcia dari Brazil itu. Maukah anda merekomendasikan saya ke CEO dan direksi di Swedia?” ucap Anjani sambil tersenyum menawan. Tapi kalau menurut Edward, sebuah senyuman yang licik.


“Kenapa Nona? Anda tidak puas bekerja sama dengan Zafora Indonesia? Bukankah nilai kontrak anda cukup besar untuk model seukuran anda?”


“Sangat puas, Tuan. Tapi anda pasti tahu, untuk menjadi hebat, harus ada metamorfosis dari seorang model dalam karirnya. Saya ingin mengembangkan diri. ”


“Saya tidak bisa membantu apa pun untuk anda. Zafora Indonesia bukanlah batu loncatan untuk anda go international.”

__ADS_1


Sebenarnya dalam hati, Edward mengakui jika keinginan model itu bukanlah satu hal yang mustahil untuk diwujudkan. Anjani sebenarnya telah memiliki standard model dunia. Ia tak hanya cantik, tapi juga mempunyai wajah yang berkarakter. Didukung pula dengan usianya yang masih 23 tahun dan mempunyai tinggi lebih dari 175 sentimeter. Rasanya tak akan malu jika Edward merekomendasikan model itu ke Swedia untuk menjadi kandidat brand ambassador Zafora International season berikutnya. Apalagi konsep mode Zafora tahun depan, Primitive, orientasinya lebih cenderung ke Asia. Maka dengan sendirinya, perusahaan juga akan memakai model-model yang mempunyai karakter wajah oriental seperti Anjani.


Tapi Edward tak berniat sedikit pun untuk mempromosikan wanita itu ke level yang lebih tinggi. Ia telanjur ilfil dengan Anjani karena sikapnya selama ini.


“Anda harus tahu, Nona Mariana Garcia bisa menjadi model kami, karena ia memang punya prestasi dan kapasitas yang bagus. Bukan memanfaatkan kedekatan mereka dengan seseorang." ucap Edward memandang wanita itu.


"Jangan samakan sistem kerja di sana dengan apa yang telah menjadi kebiasaan anda di sini.”


“Jika itu memang tidak bisa, tolong hubungkan saya dengan agensi yang ada di Eropa.” ucap Anjani mulai kesal.


“Saya ditugaskan di sini bukan untuk menjadi agen anda, Nona. Maaf saya tidak bisa.” Edward tetap bersikukuh.


“Baik, kalau anda memang tetap tak punya iktikad baik untuk membantu saya. Tapi jangan salahkan saya, jika nanti semua orang tahu bahwa grandmanager Zafora telah meniduri brand ambassador-nya.” ucap wanita mengeluarkan ancaman.


Edward bangkit dari duduknya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke Anjani yang menatap tajam di depannya.


“Jangan coba-coba menggertak saya, Nona.” seringai Edward pelan tapi tegas.


“ Anda harus tahu, kalau saya sudah lebih dulu mengenal trik-trik kotor seperti ini. Bahkan saya bisa lebih tega dari anda.”


Edward tahu kalau Anjani hanya menggertak. Makanya pria itu pun ingin memberikan sedikit shock therapy untuknya.


“Saya yakin anda sangat-sangat pintar, Nona Anjani Adinegoro. Kalau memang benar anda akan terlibat di sebuah film besar, anda pasti akan menutup rapat skandal ini.”


Edward merasa dirinya di atas angin, maka ia melanjutkan ucapannya.


“Bagi saya tak masalah jika skandal ini akan anda blow up. Mungkin konsekuensi paling fatal yang akan saya terima adalah dipindahtugaskan ke negara lain. Planning saya memang tak lama-lama di Indonesia.”


“Tapi anda? Tak hanya pembatalan kontrak oleh Zafora yang anda terima, tapi tak akan ada lagi brand yang mau menggunakan anda."


Masih belum puas, Edward pun coba mengingatkan Anjani tentang sesuatu.


"Anda masih ingat bukan, skandal video empat tahun lalu di negeri ini? Yang melibatkan seorang model terkenal dengan vokalis band? Bisa jadi nasib anda nanti seperti dia.”


Anjani hanya diam sambil pandangannya menekuri lantai. Ia seperti telah kehabisan manufer untuk menguasai Edward. Setelah sebelumnya ia tak berhasil merayu pria itu untuk menjadi kekasihnya. Atau lebih tepatnya 'tambang emas'nya.


Ia lantas menoleh ke pria itu dan ingin mengucapkan sesuatu. Tapi kata-kata Anjani selanjutnya bukan lagi bernada ancaman, tapi lebih tepatnya memelas.


“Bukankah anda senang jika saya menjauh dari kehidupan anda, Tuan? Harusnya anda bisa membantu mempromosikan saya, agar bisa pergi dari sini.”


Edward hanya tersenyum sinis.

__ADS_1


“Saya tak peduli anda di sini atau tidak. Kita masih saling terikat hingga detik ini, itu semata-mata hanya karena sebuah kepentingan, Nona. Bukan karena ikatan emosional. Bagi saya kehadiran anda tak lebih dari selembar kertas kontrak.” ucapnya seperti tak berperasaan.


"Saya punya kuasa di sini. Bagi saya, memilih dan mengganti seorang model sama mudahnya seperti menjentikan sebutir kerikil di atas meja. Sekejap mata anda akan terlempar jauh.”


Edward kembali duduk. Ia pun mengancam balik wanita itu.


“Jadi saya harap, jangan bersikap yang bisa membuat saya marah, jika anda masih ingin meneruskan kontrak dengan kami.”


Anjani merasa tak suka dengan ancaman Edward. Ia pun segera bangkit meraih tasnya di meja, dan dengan cepat pergi dari tempat itu sambil melontarkan ucapan yang tak dipahami pria itu.


“Anjrit Loe!”


Braaaakk!!!


Semua terkejut dan menoleh ke pintu ruangan grandmanager yang dibanting Anjani. Tak peduli dengan semua mata karyawan yang tertuju padanya, ia pun segera pergi meninggalkan kantor. Adrian yang baru kembali dari ruang resepsionis terkejut melihat raut muka Anjani yang kesal.


“Hey!...hey! Ada apa Anjani?!” seru pria itu sambil mencengkeram tangan wanita itu untuk menahannya tak pergi,


“Lepaskan! Urus saja bos loe, itu!” teriaknya memberontak dari cengkeraman Adrian.


Merasa tak kuasa menahan Anjani yang sepertinya benar-benar marah, Adrian pun hanya bisa memandang kepergian wanita itu hingga menghilang dari pandangannya.


“Maaf Tuan, Ada apa dengan Nona Anjani?” tanya pria itu setelah masuk ke ruangan bosnya.


“Tak ada apa-apa, Adrian. Hanya perdebatan kecil karena perbedaan prinsip.” ucap Edward masih menyandarkan kepalanya di kursi.


Adrian duduk di hadapan Edward.


“Saya hanya sekedar mengingatkan, Tuan. Jangan sampai perbedaan yang anda maksud tadi akan mengganggu kinerja Nona Anjani. Anda harus tahu, minggu ini ia ada sesi pemotretan untuk item kita yang baru. Dan bulan depan ia akan road show ke seluruh outlet di daerah.”


“Saya jamin agenda kita dengan Nona Anjani akan tetap berjalan sesuai rencana. Anda tak perlu khawatir soal itu.”


“Yang mengherankan, mengapa Mrs. Elena bisa memilih ia menjadi patner Zafora? Padahal dari dokumen yang saya lihat, ada kandidat lain yang lebih representatif.” ucap Edward menoleh ke asistennya.


“Maaf Tuan, memangnya ada yang salah dengan Nona Anjani?” tanya Adrian seperti kurang senang.


“Selama ini perusahaan belum ada komplain dengan kinerjanya.”


Edward tak menjawab, ia hanya termenung sambil memandang jauh ke luar jendela.


Model itu memang menunjukan kinerjanya yang bagus karena ada maksud terselubung. Anjani masuk ke Zafora dan kehidupanku untuk memuluskan ambisinya. Mungkin karena sesama wanita, maka dulu ia tak berhasil merayu Mrs. Elena. Kau tak tahu itu, Adrian. Edward berucap dalam hati.

__ADS_1


"Sekali lagi maaf Tuan, bukan saya bermaksud lancang. Tapi saran saya, sebaiknya masalah pribadi jangan disangkut-pautkan dengan pekerjaan.” ucap asistennya meninggalkan ruangan.


Edward sedikit terkejut. Sejauh mana asistennya itu tahu tentang ia dan Anjani? Apa Adrian sudah tahu skandal yang dilakukannya bersama model itu, sehingga tadi menunjukan sikap tidak simpati padanya? Pikir Edward dalam hati.


__ADS_2