
Edward melakukan kunjungan kerja ke Bandung ditemani oleh Adrian dengan mengendarai mobil. Pukul tujuh pagi mobil yang dikemudikan asistennya itu berangkat dari Jakarta dan pukul sebelas siang mereka telah memasuki kawasan Dago.
Berbeda dengan yang ada di Jakarta, outlet Zafora di kota ini tidak terletak di dalam plaza, melainkan di pusat pertokoan di kawasan Braga. Sebuah jalan yang terkenal dan iconic yang wajib disinggahi oleh orang-orang yang datang ke kota ini. Braga dipenuhi dengan gedung-gedung bersejarah yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Tak hanya pada bangunannya, arsitektur kuno juga dapat dilihat di lampu-lampu jalannya.
Setelah mengunjungi kawasan itu langsung, Edward mengerti sekarang, mengapa orang-orang Eropa yang ada di Indonesia pada masa lalu menjuluki kota ini dengan sebutan Paris van Java. Pada masa kolonial, kota ini memang menjadi tempat favorit untuk dikunjungi bagi orang-orang Belanda selain Lembang dan Batavia.
Outlet Zafora menggunakan sebuah toko dua lantai. Lantai pertama difokuskan untuk wadrobe, sedang lantai dua untuk skincare dan ruang manager. Edward disambut langsung oleh Permadi, manager outlet ini. Ia taksir, usia pria itu lebih muda darinya. Mungkin sepantar dengan Adrian. Tampaknya pendahulunya sengaja merekrut anak-anak muda untuk mengisi posisi manager.
Sorenya, Edward langsung ke Yogyakarta. Ia menuju ke kota itu naik pesawat. Sedangkan Adrian kembali ke Jakarta.
Edward duduk menekuni layar komputer all in one di mejanya. Pria itu sedang menganalisis hasil kunjungan kerjanya selama seminggu ini. Setelah ke Yogya, ia langsung ke Surabaya. Dan outlet terakhir yang dikunjunginya adalah outlet Zafora di kawasan Kuta, Bali. Kemarin sore baru Edward kembali ke Jakarta. Masih ada dua kota lagi yang belum ia kunjungi. Yakni Medan dan Makassar. Dan pria itu telah mengagendakannya di minggu depan.
“Selamat pagi, Tuan Edward.” sapa Adrian begitu masuk ke ruangannya.
“Selamat pagi juga, Adrian.” Ia menoleh ke asistennya sambil tersenyum.
“Bagaimana kabar anda setelah berlibur ke Bali?” tanyanya iseng sambil duduk di depan bosnya.
“Saya ke sana bekerja Adrian, bukan untuk liburan.” ucapnya datar sambil matanya tetap menatap layar.
Adrian meringis. Menurutnya, bos barunya itu adalah tipikal orang yang tak suka berkelakar. Semua hal ditanggapi dengan serius. Ataukah orang Inggris memang begitu? Selalu menjaga sikap dan ucapannya? Pikirnya dalam hati.
“Tapi menurut saya, dua hari adalah waktu yang panjang hanya untuk mengunjungi satu toko, Tuan.” ucapnya memberi pendapat.
“Harusnya anda bisa menikmati moment-moment bagus saat di sana.”
“Sebenarnya saya sudah berniat jalan-jalan ke pantai menikmati sunset setelah urusan selesai.” ucapnya.
__ADS_1
Adrian tersenyum saat Edward akhirnya mengaku juga.
“Tapi dua hari Kuta diguyur hujan lebat. Terakhir yang bisa saya lakukan hanya stay di hotel.”
“Mungkin suatu hari saya akan kembali lagi ke sana. Tempat itu memang indah, Adrian.” ucapnya lagi sambil menoleh ke asistennya.
Adrian mengangguk tersenyum. Sebenarnya pria itu masuk ke ruangan Edward bukan ingin mencari tahu apa yang dilakukan bosnya itu selama di Bali. Tapi ia ingin memberitahukan tentang undangan untuk Edward yang masuk ke email kantor dua hari lalu.
“Oh ya, Tuan, saya ingin memberitahukan bahwa malam ini anda mendapat undangan untuk fine dining di The Ocean’s Hotel. Rekanan kita, Graha Indonesia akan mengadakan gathering. Undangannya sudah saya teruskan ke email anda.” ucap Adrian memberitahukan bosnya.
Graha Indonesia adalah perusahaan properti yang menjadi developer untuk superblok Grand Jakarta Land di mana kantor dan outlet Zafora berada.
Edward membuka email untuk melihat langsung undangan itu. Selama monitoring ke daerah, pria itu memang belum ada membuka surelnya .
"Menurut anda, apakah saya harus menghadiri acara itu?" tanya Edward meminta pendapat asistennya.
“Saran saya, sebaiknya anda hadir di acara itu. Ini saat yang bagus agar semua orang tahu semangat baru Zafora dibawah pimpinan baru. Kita perlu itu, Tuan.”
"Sebaiknya anda langsung yang datang. Tuan. Karena rekanan kita itu belum mengenal anda." ucap Adrian bangkit dari duduknya.
Pria itu pamit keluar, tapi saat tangannya hendak membuka handle pintu, ia teringat sesuatu.
“Kalau anda merasa enggan hadir karena tak ada pasangan, anda bisa mengajak Nona Anjani. Toh, dia juga bagian dari Zafora. Dengan begitu semua orang akan melihat, kalau kita adalah tim yang solid. Maaf tuan, ini hanya saran.”
Edward menghempaskan punggungnya di sandaran kursi begitu Adrian keluar. Pria itu merasa apa yang diucapkan asistennya ada benarnya. Ia perlu berbaur dengan pebisnis Jakarta. Dan ini adalah gathering pertamanya selama bertugas di sini. Dan feeling Adrian juga benar kalau ia ragu karena tak ada pasangan. Akan sangat aneh menghadiri fine dining tanpa pasangan.
Tapi sama sekali tak terlintas dalam benaknya untuk mengajak Anjani di acara itu. Pria itu justeru teringat Mikaila. Ia merasa rindu dengan wanita itu. Sudah seminggu mereka tak bertemu. Senyumnya mengembang dan ia mengambil smartphone-nya untuk meminta Mikaila menjadi pasangannya di acara nanti malam.
“Halo, Mikaila., apa kabarmu?” sapa Edward.
__ADS_1
“Halo juga, Ed. kabarku baik.” Suara Mikaila terdengar di seberang.
“Oh ya, Mikaila. Malam ini aku mendapat undangan fine dining di The Ocean,s Hotel, bisakah kau menemaniku?”
“Oh. Aku sangat ingin pergi denganmu. Tapi aku tak bisa Edward.”
“Mengapa, Mikaila?” Edward mengerutkan kening.
“Hari ini aku ada double sift. Kami sedang mengerjakan proyek besar dan sudah dikejar deadline.”
“Padahal sebelumnya aku sangat berharap kau bisa menemaniku, Mikaila.” ucap pria itu kecewa.
“Aku minta maaf, mungkin lain kali aku bisa. Maaf Ed, aku harus kembali bekerja. Selamat siang.”
Tut. tut. tut.
Dan telepon di seberang pun ditutup. Edward sedikit kesal dengan penolakan itu. Juga karena wanita itu memutus percakapan begitu saja. Sekali lagi ia melakukan panggilan. Tapi nada sibuk terdengar dari seberang sana. Pria itu melakukan panggilan lagi, tapi kali ini untuk asistennya.
“Halo Adrian. Tolong sampaikan ke Nona Anjani untuk menemani saya nanti malam.”
“Baik Tuan, segera akan saya hubungi ia agar bisa meng-cancel jika nanti malam ia ada acara lain.”
“ Dan saya perlu bantuan anda.”
“Apa itu, Tuan?”
“Carikan saya jas.”
“Baik, Tuan.”
__ADS_1
Tut. tut. tut
Edward memutus panggilan dan menarik napas dalam. Pria itu masih tak percaya kalau akhirnya ia akan mengajak modelnya sendiri untuk menghadiri jamuan makan dari Graha Indonesia itu. Bagi sebagian wanita, fine dining adalah satu prosesi yang mempunyai makna yang sangat dalam. Mungkinkah Anjani tidak akan menyingkapi prosesi ini dengan penafsiran yang salah?