CINTA SANG EKSPATRIAT

CINTA SANG EKSPATRIAT
11. Pertemuan Pertama


__ADS_3

Sarah baru saja mengantarkan seorang pelanggan baru yang tadi berkonsultasi dengannya ke depan outlet. Dilihat dari penampilannya, Sarah menduga kalau wanita paruh baya itu adalah seseorang yang memiliki pekerjaan bagus dan mempunyai power di lingkungan kerjanya. Ia butuh penampilan maksimal untuk menunjang wibawanya tapi tak punya cukup banyak waktu. Ia merasa cocok dengan produk mereka dan berjanji akan kembali lagi saat ada waktu senggang.


Menurut manajernya, tipikal customer seperti itulah yang harus dipertahankan. Karena jika sekali saja ia merasa nyaman dengan produk yang dipakainya, maka ia tak segan untuk mengeluarkan uang berapa pun jumlahnya. Dan Zafora memang menyasar wanita-wanita bekerja yang sukses dalam karirnya tapi tetap tak ingin kehilangan fitrahnya sebagai seorang perempuan.


Baru saja Sarah hendak berbalik ke mejanya, gadis itu melihat seorang pria berhenti di depan outlet. Ia mengenakan setelan jas hitam dan kemeja biru muda tanpa dasi. Di tangannya terjinjing sebuah koper. Kacamata rayban bertengger di atas hidungnya yang mancung. Dengan penampilan seperti itu, sepintas ia seperti tokoh James Bond. Si agen rahasia dari Inggris yang selalu tampil cool dan necis, tapi seketika berubah gesit dan garang saat bahaya datang.


Sarah merasa tak biasa dengan kehadirannya. Bukan karena orang itu seperti pria Eropa atau seperti agen rahasia tadi. Tapi karena selama ini yang mengunjungi tempat ini selalu wanita. Atau kalau seorang lelaki pasti bersama pasangan wanitanya.


“Good morning, Sir. Welcome to Zafora Fashion and Skincare. What can I do for you?” sapa Sarah menangkupkan kedua tangannya sesaat setelah pria itu masuk.


“Terima kasih. Saya sudah buat janji dengan Tuan Purnomo”. ucap pria itu tersenyum ketika beradu pandang dengannya. Kedua bola matanya yang cokelat gelap terasa teduh ketika kacamata raybannya dilepas.


Sarah terkejut. Ternyata pria ini lancar berbahasa Indonesia, pikirnya dalam hati. Dan rasa terkejutnya bertambah saat Purnomo, manajernya keluar dari ruangannya dan menyapa pria itu.


“Selamat datang di Zafora Medan, Tuan Edward.” sapa Purnomo menyalami pria itu.


Ternyata ini orangnya, si grandmanager baru yang dimaksud Purnomo tempo hari? pikir Sarah. Tapi sungguh, gadis itu tak menduga kalau masih semuda itu orangnya. Ia pikir usianya sudah kepala enam atau paling tidak paruh baya seperti Mrs. Elena. Purnomo segera mengajak pria itu ke ruangannya. Ia dan Sarah sempat bertatapan sebelum akhirnya ia hilang di balik pintu.


Karena kunjungan Edward hari ini, satu jam menjelang pergantian sift, diadakan pertemuan di ruang manajer. Karena itu Hesti, rekan Sarah yang seharusnya baru bertugas satu jam lagi sudah datang dengan tergopoh-gopoh. Maklumlah, ibu muda dengan dua orang anak itu jam segini biasanya masih sibuk dengan urusan jemput-menjemput anak-anaknya dari sekolah


Hesti merupakan karyawati paling senior di sini. Ia sudah bergabung dengan Zafora lebih dari lima tahun. Dibanding Sarah, wanita itu lebih expert masalah fashion. Jika Sarah bertugas menganalisis produk skincare yang cocok untuk kulit pelanggan, maka wanita itu bertugas menentukan clothing yang sesuai dengan kepribadian dan karakternya. Terkadang profesi dan jabatan customer juga mempengaruhi pemilihan clothing yang akan dikenakan.


Tapi karena karyawan dibagi menjadi dua tim dan mereka berdua sebagai team leaders, maka Sarah dan Hesti mau tak mau harus memahami dua segmen yang berbeda tadi. Dari wanita itulah Sarah banyak belajar tentang psikologi fashion.


“Meeting-nya belum dimulai ‘kan?” wanita itu bertanya dengan napas terengah-engah ke Sarah yang sedang berada di ruang ganti.


“Soalnya ini diluar jadwal aku. Jam 13.30 tadi aja Alif baru keluar dari sekolahnya. Padahal nanti jam setengah tiga dia harus diantar lagi les. Biar papanya aja deh yang antar. Gak sempat juga nunggu anak itu makan, mandi….”


“Iya Mbak, belum mulai pun.” Sarah memotong kalimat temannya yang seperti tak kan berhenti itu.

__ADS_1


“Syukurlah. Eh, katanya bos baru kita orangnya tampan ya?”


“Astaghfirullah! Istigfar Mbak. Ingat Mas Hadi yang di rumah.” ucap gadis itu sambil merapikan kerudungnya yang agak bergeser saat berwudhu tadi di depan cermin.


“Ingat ya tetap ingat, Sarah. Tapi sekedar kenal dengan bos baru, boleh kan?” ucap wanita itu tertawa sambil ikutan berdiri di depan cermin untuk memeriksa make upnya.


“Katanya masih muda ya?” tanyanya lagi masih penasaran.


“Gak tau ah! Noh! Intip aja sendiri.” ucap Sarah sambil menoleh ke ruangan manajer.


Ya, orangnya memang tampan dan masih muda, batin Sarah. Gadis itu tadi telah mempelajari profil Edward di website resmi Zafora Indonesia. Usianya belum lebih dari tiga puluh tahun. Lima tahun lebih tua dari dirinya. Ia tak tahu mengapa Purnomo memerintahkan itu kepadanya. Mungkin manajernya itu ingin mencari tahu kegemaran atau tanggal ulang tahun pria itu.


Mereka berdua berhenti ngobrol saat manajer mereka memberi tahu kalau meeting akan segera dimulai. Semua karyawati masuk ke ruangan Purnomo menyisakan satu orang yang stay di outlet. Selain Purnomo dan Edward, ada Sarah, Hesti, dan tiga karyawati lainnya yang ikut meeting mendadak itu.


“Rekan-rekan semua, perkenalkan, beliau adalah Tuan Edward Anderson, grandmanager untuk Zafora Indonesia yang baru, menggantikan Mrs. Elena Robert. Sebelum di Indonesia, beliau menjabat sebagai grandmanager untuk Zafora Vietnam.” ucap Purnomo kepada peserta rapat.


“Tuan Edward, ini tim kerja kita.” jelasnya mengenalkan peserta rapat ke Edward.


Sarah dan seorang anggota timnya berdiri mengangguk hormat ke Edward. Pria itu menatap arah Sarah yang duduk kembali.


“Sedangkan tim kedua dipimpin oleh Hesti. Tim ini bertugas sejak tim pertama keluar hingga pukul 21 malam.” ucap Purnomo ke arah Hesti yang juga berdiri bersama dua orang timnya.


"Dengan saya, outlet ini mempunyai tujuh karyawan tetap. Setiap dua minggu mereka dikenakan rotasi shift dan setiap bulan mereka mendapat cuti satu hari.”


Setelah memberi penjelasan panjang, Purnomo akhirnya memberikan kesempatan pada atasannya itu untuk berbicara. Tak banyak yang disampaikan Edward. Intinya, sebagai orang baru, ia butuh dukungan dari seluruh karyawan.


“Kita semua adalah keluarga besar. Prestasi outlet ini juga prestasi untuk Zafora Indonesia. Sebaliknya, masalah internal sekecil apapun jika tak segera diselesaikan, akan mengganggu peforma kerja yang berimbas pada citra brand kita.” ucap Edward mengakhiri sambutannya.


Sebelum meeting dibubarkan, Edward menyalami semua karyawati yang ada di ruangan itu. Saat ia akan menyalami Sarah, gadis itu menangkupkan tangannya di dada meminta maaf. Edward sedikit merasa aneh dengan sikap itu. Ia menganggap gadis itu ingin membuat jarak dengannya. Tapi sebelum ia berpikir lebih jauh, Sarah dan karyawati lainnya sudah keluar meninggalkan ruangan manajer.

__ADS_1


Sarah sudah bersiap-siap akan pulang karena waktu kerjanya telah habis, ketika sebuah suara mengagetkannya.


“Selamat sore, Sarah.” sapa Edward yang telah keluar dari ruangan manajer.


“Selamat sore, Tuan Edward. Apa ada memerlukan sesuatu?” tanya gadis itu hormat.


“Ya mungkin. Karena kamu salah seorang leader team di sini, ada yang ingin saya ketahui dari kamu.” ucapnya dengan nada tegas.


“Maaf, Tuan. Tapi jam kerja saya sudah berakhir sejak tiga puluh menit yang lalu.” ucapnya sambil melihat jam tangannya. Rekan satu timnya telah pulang dari tadi.


Edward meringis. Ia merasa menjadi orang yang tak professional karena ucapannya tadi. Atau mungkin seperti orang bodoh? Ia sadar kalau profesionalitas dan waktu sangat dijunjung tinggi di Zafora. Tapi entah mengapa, hati kecilnya merasa ia ingin mengenal karyawannya itu.


“Oh ya? Maaf saya tidak ingat.” ucapnya sambil berlagak melihat jam tangannya juga.


“Karena kamu sudah bebas tugas, bagaimana kalau kita mengobrol di kafe, sambil minum kopi mungkin?” ajaknya kemudian.


Tapi saat melihat ada keraguan di mata Sarah, pria itu segera mempertegas ajakannya.


“Kita tidak harus membicarakan masalah kerja. Kita sekarang berada di bawah payung yang sama , jadi tak ada salahnya kalau kita saling mengenal.”


Saling mengenal. Tapi Edward sendiri sebenarnya tak yakin dengan pernyataannya itu.


“Maaf Tuan, tapi anda seorang laki-laki dan saya seorang wanita. Saya segan jika kita harus pergi bersama.” ucap Sarah.


Edward mengernyitkan dahinya.


“Tapi jika anda membutuhkan saya untuk pekerjaan anda, besok pagi kita akan bertemu lagi di sini. Sekali lagi maafkan saya, Tuan. Selamat sore.” ucap Sarah memohon pamit ke pria itu.


Sementara Edward hanya bisa termangu menatap kepergian gadis itu. Ini bukan kali pertama ajakannya ditolak oleh seorang wanita. Ia tak merasa kecewa. Pasti ada alasan mengapa gadis itu menolak ajakanku, pikirnya.

__ADS_1


Edward sudah bersiap-siap akan meninggalkan outlet untuk kembali ke hotel, saat Purnomo mengajaknya makan di tempat yang tak jauh dari plaza tempat outlet mereka berada. Sebuah kawasan kuliner malam di jalan Kesawan yang terkenal di kota ini.


__ADS_2