
Edward menyadari kalimat Mikaila agak bergetar. Dilihatnya mata wanita itu berkaca-kaca. Dan sebelum air matanya menetes, dengan cepat ia rengkuh wanita itu. Mikaila terisak dalam dekapan pria itu. Ia tumpahkan semua tangisannya di dalam dada Edward. Wanita yang selama ini dilihat Edward sangat percaya diri, kali ini terlihat lemah dan rapuh.
“Aku akan siap mendengar ceritamu jika itu bisa sedikit meringankan bebanmu, Mikaila.” ucap Edward.
“Untuk apa?” tanya wanita itu masih dalam dekapan Edward.
“Agar aku juga bisa merasakan apa yang sedang kau rasa, Mikaila. Kita sama-sama perantauan dari Eropa. Kita sama-sama tak ingin saling terikat. Mungkin masih ada lagi persamaan di antara kita.”
“Apa yang ingin kau tahu tentang diriku, Ed?” tanyanya lagi.
“Apa saja, Mikaila. Mungkin tentang ibumu yang sekarang engkau sendiri tidak tahu di mana.” jawab Edward.
“Kita memang punya masa lalu yang sama, Ed.”
“Maksudnya, Mikaila?’
Wanita itu menarik napas dalam, seakan-akan ingin mengumpukan oksigen yang banyak ke dalam paru-parunya, agar ia kuat untuk bercerita. Mikaila mengatakan kalau asal-usul dirinya sama seperti Edward. Terlahir dari kedua orang tua yang berbeda bangsa. Ayahnya asli Rusia, sedang ibunya berasal dari Cina. Kedua orang tuanya bertemu saat ayahnya bertugas di Burqin, sebuah daerah di Cina yang berbatasan dengan Rusia.
“Keluarga ibuku sangat miskin, makanya kakekku sangat senang ketika ayahku ingin menikahi ibu dan membawa pulang ke Moskow. Karena itu artinya beban kakekku akan berkurang. Apalagi kakek mendapat uang dari ayah sebagai kompensasi anaknya akan dibawa pergi”
“Dan akhirnya ibumu dinikahi ayahmu dan dibawa ke Moskow?” tanya Edward yang dibalas anggukan wanita itu.
Ibu Mikaila berharap nasibnya akan berubah setelah menyeberang ke Rusia. Tapi mungkin sudah menjadi takdir ibunya, jika penderitaannya itu tak pernah berakhir. Ia memang keluar dari lubang kemiskinan keluarganya, tapi masuk dalam penjara kekejaman Dimitri, suaminya.
“Tapi setelah sampai di Moskow, ia baru tahu kalau suaminya seorang yang kasar dan temperamental. Ayah sering memukuli ibu hanya karena hal kecil. Ibuku kurang lancar berbahasa Rusia, jadi komunikasinya dengan lingkungan sekitar terhambat. Mungkin itu salah satu pemicunya."
"Dan perilaku ayah semakin menjadi-jadi saat adik perempuanku lahir.”
Mikaila menghentikan ceritanya. Sekarang ia kembali menangis. Edward makin erat memeluknya.
“Pernah suatu hari ibu dipukul dengan sepotong besi oleh ayah. Karena perbuatan itu, ibu tak sanggup lagi berdiri. Ia harus merangkak saat ke kamar mandi. Aku hanya menangis melihat itu tanpa bisa membantunya. Karena ayah mengancam akan mengusirku jika melakukan itu.” Mikaila menjelaskan di sela-sela isaknya.
Edward menuntunnya untuk duduk agar lebih tenang. Ia sendiri mengambil kursi satunya, kemudian duduk di hadapan wanita itu.
__ADS_1
“Sampai kapan ibumu bertahan.” tanya Edward sambil mengenggam tangannya.
Pandangan Mikaiala menerawang jauh seakan sedang mengingat hari-hari terakhir bersama ibunya.
“Aku masih ingat, saat itu musim gugur tahun 1995. Umurku masih sepuluh tahun. Ibu mengatakan kalau ia akan pergi jauh bersama adikku.”
“Saat itu aku sadar kalau kedua orang tuaku telah bercerai. Mungkin ibu merasa kalau tubuhnya sudah tak sanggup lagi menahan siksaan ayah.”
“Tapi mungkin ibumu bisa bertahan selama itu karena engkau, Mikaila. Ia akan pergi setelah dirimu cukup besar dan mengerti masalah orang tuanya.”
“Ia. Kau benar, Ed.” ucap Mikaila. “Ibu memang sangat sayang padaku. Dan ayah tak mengizinkan, kalau ia membawaku pergi.”
“Bagaimana dengan adikmu?” tanya Edward.
“Ibu membawanya pergi. Ayah tak mencegahnya karena ia tak menyukai adikku.”
“Mengapa?”
“Karena ia sama sekali tak mirip ayah. Dia lebih mirip ibuku.” ucapnya membuat Edwrad tercenung.
“Jadi apa kau pernah mencari keberadaan mereka?”
“Aku sangat yakin kalau ibu kembali ke kampung halamannya di perbatasan. Saat aku akan berangkat ke Munchen, aku sempat meminta alamat tempat ibu dulu tinggal. Tapi ayah tak pernah mau memberitahukannya. Aku tak tahu terbuat dari apa hati orang tua itu.” ucapnya.
Mikaila terdiam sejenak sambil menghapus air matanya.
“Saat tidur aku sering bermimpi tentang mereka, Ed. Dalam mimpiku ibu dan adikku berjalan melintasi padang Siberia yang dingin dan sunyi. Mereka terseok-seok, tersesat, kebingungan, dan kedinginan.” ucap Mikaila di sela-sela tangisnya.
“Mungkin karena kau sangat merindukan mereka hingga terbawa mimpi. Mudah-mudahan mereka sekarang telah hidup tenang.” ucap Edward mengusap-usap punggung Mikaila untuk menguatkannya.
Setelah kepergian ibu dan adiknya, Mikaila tinggal bersama ayahnya yang kejam itu. Ia memang tidak pernah mendapat perlakuan kasar dari Dimitri. Tapi secara psikis, orang tua itu telah menyiksanya lebih kejam dibanding ketika ia memukuli istrinya dulu. Dimitri selalu mendikte hidup putrinya, sehingga Mikaila merasa dirinya hanyalah boneka ayahnya yang selalu diperlakukan sesuka hatinya. Semua keputusan yang Mikaila ambil harus atas persetujuan Dimitri.
Edward bertanya, apa keputusan hidupnya yang bukan atas keinginannya sendiri tapi karena perintah ayahnya.
__ADS_1
“Ketika aku kuliah mengambil jurusan sains, itu juga atas perintah ayahku. Padahal sesungguhnya jiwaku tak di situ. That’s not my passion.”
“Jadi apa cita-citamu?"
“Tahukah kau, apa sebenarnya cita-citaku dari kecil, Ed?" tanyanya memandang Edward.
"Aku ingin menjadi seorang pianis. Aku selalu mengimpikan bergabung dengan sebuah orkestra besar dan tampil di hadapan ribuan penonton. Tapi ayah tak mengizinkanku.”
Saat dirinya telah lulus dari kuliah dan mendapatkan gelar Bachelor of Science dengan predikat cumlaude, bukan berarti ayahnya sudah merasa puas. Ia merekomendasikan putrinya ke sebuah perusahaan farmasi di Jerman. Dan sialnya Mikaila, ia diterima di perusahaan tersebut. Setelah itu, Mikaila selalu menghabiskan sepanjang waktunya di ruang lab yang dingin dan sepi. Berkutat dengan tabung-tabung berisi bahan kimia terkadang sampai larut malam.
“Jadi untuk apa aku kembali ke sana, kalau hanya untuk menemui pria kejam dan ambisius yang dengan sengaja ingin membuangku?” ucap wanita itu beretoris.
Edward hanya terdiam.
“Tak ada kenangan indah di sana yang bisa kuceritakan padamu, Ed. Tak seperti orang-orang yang mengunjungi Continental Club itu.”
“Tapi berkat ayahmu, kau mempunyai pekerjaan yang bagus, Mikaila. Kau bisa memiliki mobil dan apartemen. Dan suatu saat nanti kau bisa menaikan karirmu.”
“Tapi apa artinya semua itu kalau aku tak bahagia, Ed?”
Edward hanya terdiam. Ia tak menyangka kalau wanita yang berparas cantik, pintar, dan sukses dalam karir itu ternyata menyimpan kesuraman dalam dirinya.
“Karena itu, Ed. Aku tak ingin membuat komitmen dengan pria manapun. Aku tak ingin tersakiti seperti ibuku karena sebuah ikatan.”
“Kau tak harus melakukan itu jika hatimu memang tak ingin, Mikaila.” ucap Edward.
“Ed..” panggil Mikaila.
“Ya?”
“Maukah kau tetap di sini malam ini?”
Edward tak menjawab. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum dengan pertanyaan Mikaila. Edward mengerti kalau emosi wanita itu telah habis terkuras setelah ia memberi pengakuan tadi. Mikaila butuh tidur di dalam dekapannya agar lebih tenang. Lagi pula hasrat dalam diri pria itu juga sudah lama tertahan.
__ADS_1
Angin dari teluk bertiup terasa lebih kencang, melintasi gedung-gedung, hingga akhirnya tiba di balkon mereka. Bintang di langit pun tiba-tiba menghilang. Sepertinya sebentar lagi Jakarta akan diguyur hujan.
“Kita pindah ke dalam ya. Di sini udara sudah mulai dingin.” ajak Edward berbisik ke Mikaila. Dan tanpa menunggu persetujuannya, pria itu sudah membopong tubuh Mikaila masuk ke kamar.